
"Lebih baik kamu sekarang pergi dari sini, sebelum muka kau itu lebih bonyok lagi oleh tanganku ini," ancam Chris.
"Cuuuiiih," Ludahan kak Adrian ke lantai, saat ada warna merah darah yang mengiringi.
"Aku tak takut padamu. Jangan mentang-mentang kau sudah memukul wajahku, sekarang tingkahmu begitu songong sok jagoan," cakap kak Adrian yang tak takut.
"Terus mau kamu apa, sekarang? Jangan harap kau itu bisa menyentuh kulit Karin lagi, sebab akulah orang pertama yang bakalan menghajarmu jika secuil kulitnya kau sentuh lagi," ucap Chris yang kini mulai maju untuk menantang lagi.
"Aaah, dasar banyak omong kamu," jawab kak Adrian yang kini mulai maju akan berbalik menonjok ke arah Chris.
Dengan sigap aku langsung berdiri didepan tubuh Chris, agar kepalan tangan kak Adrian yang sudah mengudara siap tonjok, tak jadi terlayang ke arah Chris.
"Hentikan, kak. Urusan kamu hanya padaku, jadi kamu jangan berbuat macam-macam yang bukan-bukan disini. Sekarang silahkan pergi, atau kamu akan kupanggilkan warga sekitaran sini untuk mengusir kamu," ancamku pada kak Adrian, dengan tangan sudah merentang menahan tindakannya.
"Kenapa kamu harus membela ceceguk ini, yang padahal dia bukan-bukan siapa kamu?" tanyanya kelihatan kesal.
"Walau dia bukan siapa-siapa, tapi bagiku Chris adalah orang berharga dan sudah menjadi bagian hidup dalam diri ini. Jadi sekarang pergilah, sebab kita sudah tak ada urusan lagi," usirku kasar.
"What? Orang berharga? Kamu jangan asal bicara, Karin. Bukankah dulu dalam hidupmu akulah orang satu-satunya yang berharga?" cakap kak Adrian tak percaya.
"Itu dulu bukan sekarang. Semuanya sudah berbeda jauh, saat kau tak pernah mengertikan hatiku yang kau sakiti, paham!" ujarku menegaskan.
"Rasa sakit itu bisa diperbaiki, jika aku mau berubah. Sekarang ayo ikut aku, dan akan kita selesaikan semua masalah yang rumit kemarin," ucap kak Adrian yang kini memaksa mulai menarik tanganku lagi.
"Lepaskan ... lepaskan aku," pinta merengek.
"Lepaskan dia, atau muka kamu itu akan hancur," ancam Chris yang sudah mencengkram kerah baju kak Adrian.
Bhuugh, dengan tak siap kini tangan kak Adrian berhasil memukul wajah Chris, hingga tangan Chris sekarang sudah memegang menempel pipinya yang kena tumbuk.
Plaak, secara spontan aku yang kalap, kini menampar wajah kak Adrian. Nampak sekali sorot mata kak Adrian begitu tak suka atas perlakuanku sekarang.
"Sekarang kamu pergilah dari sini!" teriakku sekencang-kencangnya.
"Ciiieh, berani sekali kamu menamparku hanya gara-gara lelaki itu," tutur kata kak Adrian tak suka.
"Lalu kenapa, hah?."
"Kenapa juga kau harus marah saat Chris sudah kubela dan dia adalah belahan jiwaku sekarang. Sudah berapa kali kukatakan, jangan pernah campuri urusanku lagi, sebab kau itu hanya kenangan yang menyakitkan yang perlu dibuang dan dihempaskan jauh-jauh, agar kita tak akan bersama lagi, paham!" Kekesalanku berucap.
"Haaahh, terserah apa yang kamu katakan sekarang, yang jelas aku akan kembali untuk mendapatkanmu dan kuyakin kau akan segera jatuh ketanganku lagi. Ingatlah, sayang! Aku tak akan menyerah begitu saja, cam kan itu," Peringatan kak Adrian memberitahu.
Mungkin karena kesal atau diri ini bertubi-tubi mengusir, akhirnya kak Adrian kini benar-benar telah melenggang pergi. Semburat rasa tenang kini menghampiri, walau hati masih sedikit merasa deg-degkan akibat ketegangan mereka berdua.
__ADS_1
"Kau tidak apa-apa, Chris?" tanyaku yang khawatir saat Chris masih memegang pipinya.
"Aku baik, Karin."
"Maafkan aku atas kejadian ini. Gara-gara masalah dengan kak Adrian kamu sekarang telah terlibat didalamnya," ujarku tak enak hati.
"Tidak apa-apa, Karin. Emm, kalau aku boleh tahu, siapakah dia?" tanya Chris.
"Dia ... dia itu adalah masa laluku dan lebih jelasnya ayah kandung Naya," jelasku sambil menundukkan kepala akibat malu.
"Benarkah, itu? Sungguh pria itu tak tahu malu padamu, akibat setelah sekian tahun mencampakkan dan tak ada tanggung jawab, kini kembali dengan penuh paksaan. Kau harus banyak bersabar jika menghadapinya, karena aku yakin sekali pria itu takkan menyerah supaya dia kembali mendapatkanmu," jelas Chris.
"Benar sekali apa yang kamu katakan, Chris. Sekarangpun aku tak tahu harus bagaimana menghadapi sikapnya, yang kelihatan sekali tak mau menyerah," jawabku lesu.
"Kamu tak payah khawatir, sebab ada diriku yang akan salalu mendampingimu," tutur lembut Chris yang kini memelukku.
"Iya, terima kasih."
Rasa nyaman yang selalu berdekatan dengan Chris, membuat hatiku yang kadang gelisah terasa tentram sekali, bagai beban itu seketika hilang bagai terbawa oleh angin.
Setelah ketegangan tadi, akhirnya kini Chris harus mengantar diriku pulang, dengan cara mulut kami sudah sama-sama terdiam dalam mobilnya. Mungkin pikiran kami telah sama-sama kusut, atas masalah yang akan mulai menghadang pada diri kami masing-masing.
*******
Kepala rasanya sudah pusing saat bayangan demi bayangan kejadian kemarin masih terekam jelas. Kaki perlahan-lahan telah mengayuh sepeda, dengan pikiran sudah dipenuhi oleh masa-masa kedatangan mendadak kak Adrian.
Sheeet, tanpa diduga tiba-tiba ada sebuah mobil, yang kini sudah menghadang laju sepedaku secara mendadak. Aku yang kagetpun, membuat tubuh sempat terbentur disetang kemudi sepeda, karena berhenti secara mendadak.
"Ahh, siapa ini? Kenapa menghentikan mobil mendadak sangat, tanpa melihat diriku yang sedang berkendara juga?" tanya hati yang heran.
Kuperhatikan lamat-lamat siapa gerangan orang yang kini mulai keluar dari mobil, dengan netra telah terpasang acecories kacamata hitam, yang membuat pelaku mobil itu nampak cool dan modis, hingga sampai-sampai diri ini hampir tak mengenalinya.
"Kak Adrian? Apakah itu benarkah dia? Dari bentuk poster tubuhnya memang dia? Ahh, sial. Kenapa aku harus bertemu dengan dia lagi," rancau hati yang mulai panik.
Karena tak ingin bertemu lagi dengan si kakak yang kurang ajar itu, kini kaki berusaha bertengger dipedal sepeda, untuk segera mengayuh kendaraan satu-satunya punyaku ini. Sekuat tenaga aku kini berusaha kabur, agar kak Adrian tak berbuat macam-macam lagi.
"Hei Karin ... hei, kamu mau kemana?" cakap kak Adrian yang tangannya sudah menunjuk kearahku mencoba mencegah.
"Maafkan aku, kak. Bye ... bye, wleeek!" ledekku memeletkan lidah saat melewati tubuhnya yang berdiri binggung.
"Hei tunggu ... hei, jangan kabur kamu!" teriak kak Adrian tak suka.
Nafas mulai ngos-ngosan saat kaki terus saja mengayuh sepeda sekuat tenaga. Netra begitu terheran saat melihat ke arah belakang, ketika mobil kak Adrian ternyata kini telah membuntuti perlahan-lahan. Karena tak senang dan malas bertemu, akhirnya power untuk mengayuh sepeda telah kutambah, hingga nampak mobil yang tadi mengikuti sekarang sudah tertinggal jauh.
__ADS_1
"Heeh ... heeh, akhirnya kamu lolos juga Karin, dari pria itu!" guman hati yang lega.
Keringat yang mengalir terasa mulai bercucuran, ketika kekuatan sudah terkuras habis. Sambil mengayuh, berkali-kali tangan mengelap keringat yang sudah mulai membanjiri kening.
"Hei cewek cantik, boleh kita kenalan?" Suara cakap seorang pria.
"Ya salam, kak Adrian? Aah, kenapa kamu masih saja mengikutiku," guman hati yang tak percaya atas apa yang kulihat sekarang.
"Kenapa lambat mengayuhnya? Apakah sudah lelah untuk mencoba kabur?" tanyanya mengejek lewat kaca mobil yang sudah terbuka penuh.
"Aaah, sial. Apa kamu lupa, Karin. Kak adrian memakai mobil, sedangkan kau hanya makai sepeda, ya pasti kalah 'lah," Kekesalan yang mulai tak senang.
"Kakak, apa-apaan sih ngikutiku melulu? Kurang kerjaan bener, apa tak ada hal lain yang kamu kerjakan, contohnya bekerja?" ketus tanyaku.
"Aku banyak kerjaan, sih. Tapi kerjaan yang kulakukan sekarang ini lebih penting," jawabnya santai.
"Maksudnya?" tanyaku masih fokus melihat jalan.
Sheet, lagi-lagi kak Adrian sudah memotong jalanku untuk mengayuh sepeda, hingga mau tak mau sepeda kuhentikan. Nampak kak Adrian kini mulai berjalan mendekatiku, dengan ekspresi wajah santai namun lebih mengedepankan ada semburat tak suka.
"Ayo ikut aku sekarang," suruhnya kasar.
"Untuk apa aku harus mengikuti perintah kakak. Untung bagimu dan nyesek bagiku," tolakku.
"Aah, tidak usah banyak bicara. Ada hal penting yang ingin kutunjukkan padamu, jadi kamu harus nurut untuk ikut aku sekarang," kekuhnya kak Adrian berkata.
Tangan langsung saja ditarik, hingga badan yang masih sempat bertengger duduk disepeda kini harus kutinggal, dengan posisi sepeda telah terbanting kuat jatuh diaspal jalanan.
"Lepaskan aku .... lepaskan. Kamu jangan memaksa begini, sakit kak. Ayo lepaskan tanganku," Permohonan saat kak Adrian begitu kuatnya menarik.
Saat tangan sudah meronta kuat dan akhirnya berhasil lepas, kini kaki mencoba melangkah untuk kabur menjauh, dengan cara ingin segera berlari.
"Eeiit, mau kemana? Jangan kabur kamu," cegahnya yang lagi-lagi bisa menangkapku.
"Aku tak mau ikut. Tapi kenapa kakak masih saja memaksa," cakapku sudah meronta lagi.
"Diam kamu," bentaknya marah.
Sungguh tak menyangka apa yang kak Adrian lakukan sekarang, saat secara tak malu dijalan raya, dengan percaya dirinya berhasil memanggul tubuhku dibahunya. Aku yang melihat disekitaran area jalanan, sungguh dibuat malu bukan kepalang, saat semua netra pengendara lain melihat kearah kami secara aneh, yang kemungkinan berpikiran aneh kalau kak Adrian telah menculikku.
Bhuugh, secara kasar kak Adrian kini mendudukkan tubuhku didalam mobilnya.
"Kamu jangan macam-macam akan kabur lagi, sebab jika sekali bergerak maka aku akan berbuat kasar, dengan cara yang tak terpikirkan oleh kamu, mengerti!" ancamnya.
Mulut hanya terdiam seribu bahasa, menerima kepasrahan kemauan kak Adrian.
Bhuugh, secara kasar kak Adrian menutup pintu mobilnya, dan kini dia berlari memutari badan mobil dari depan.
__ADS_1