
Seharusnya sejak awal aku harus membatasi kedekatanku dengan Salwa, bahkan seharusnya menolak semua keinginannya, sehingga rasa cinta yang hilang tak akan hadir lagi untuknya, dan dapat menyakiti hati Ana. Tapi nasi sudah menjadi bubur yang mana semuanya sudah terjadi, dan semua ucapan yang terlontar keluar tak bisa diperbaiki lagi.
Aku melihat wajah Ana begitu tertekan tidak ada senyuman lagi, dan begitu jelas menyiratkan kesedihan dan luka yang mendalam, dimana dia berusaha sembunyikan. Sungguh aku kini begitu gelisah atas sikapku yang kasar padanya, dan rasa dosa itu terus saja menghantuiku.
Benar kata orang, kedekatan yang salah antara pria dan wanita, pasti akan melibatkan perasaan ada yang tersakiti, dan itu terjadi pada Ana sekarang. Ya, aku melibatkan perasaan karena kebaikan dan perhatiaan Salwa, padahal itu membuatku semakin terjerumus akan kesalahan.
"Kenapa juga aku harus dengan Salwa saat perasaanku sedang kacau seperti ini," gumanku dalam hati.
"Bertemu dengannya pasti akan selalu membuat perasaanku kacau dan tak karuan?" batinku terus saja merancau ada penyesalan.
Mata terus saja merenung di balik kaca perusahaanku, memikirkan bagaimana lagi nasib cinta selanjutnya. Apakah akan bersatu dengan Ana atau tidak? Atau jangan-jangan akan berakh-?.
"Aah tidak mungkin!" aku terus saja mengeleng-geleng kepala dengan kuat.
"Kenapa pikiran sampai ke sana? Apakah aku sudah menentang cinta takdir? Dan sampai kapan semua akan begini, dan bisa terkuak serta berakhir?" tanyaku yang terus saja gelisah atas perasaan sendiri.
"Bos nanti siang ada rapat di mall xxx!" ucap Rudi sudah masuk dalam ruangan kantorku.
"Eeem."
"Kok emm doang, memang gak mau lihat apa yang ada daftar rapat nanti?" gerutu Rudi menjelaskan.
"Taruh saja disitu, nanti akan kulihat." suruhku.
"Kenapa lagi, Bos? Wajah kamu akhir-akhir begitu kusut, tidak ada ceria lagi seperti dulu" tanya Rudi.
"Gak ada apa-apa, Rudi!."
"Kalau gak ada apa-apa, kenapa memasang wajah lesu dan binggung begitu?" tambah Rudi.
"Entahlah Rudi," jawabku malas.
"Memang ada apaan lagi sih, Bos? Serius. Jangan bilang ini tentang Ana lagi?" tebak sekertarisku.
"Kamu memang sahabatku yang paling mengertikan diriku," pujiku atas tebakannya.
__ADS_1
"Benarkah itu?" tanyanya tak percaya.
"Heeem."
"Kamu memang tepat sekali, Rudi. Aku benar-benar pusing memikirkan Ana, entah apa yang harus kulakukan lagi padanya. Kemarin-kemarin diri ini telah banyak menyakiti dan mengecewakannya dengan sikap dan semua ucapanku. Entah mengapa aku seperti dikejar-kejar oleh sebuah rada dosa," keluhku dalam kebingungan.
"Kamu melakukan itu pasti sedang tak sadar, lagi pula kamu 'kan lagi hilang ingatan," sahut Rudi.
"Benar katamu, tapi kata-kataku kemarin benar-benar keterlaluan, dan bagiku tak pantas sekali Ana memaafkan semua hinaanku," Merasa putus asa.
Sepertinya tidak akan ada jalan lagi untuk memperbaiki semuanya.
"Kamu yang sabar, pasti semua akan ada jalannya. Cinta yang suci dan kuat takkan hilang walau badai menerpa, semua serahkan kepada Sang Pemilik Hati yaitu Allah. Pasti akan ada waktunya semua akan berakhir dengan indah, semangat untukmu kawan," Rudi berusaha memberi dukungan dengan menepuk-nepuk bahuku.
Hanya bisa mringis, tidak tahu lagi apa jawaban akn kuberikan pada Rudi.
"Pasti kamu melakukan itu semua, akibat terpengaruh dari ucapan Salwa."
Obrolan makin serius. Ada sedikit ghibahin Salwa, namun pantas kami bicarakan sebab akan berpengaruh sekali atas masa depan.
"Benar Rudi, aku terlalu terhanyut oleh semua ucapan Salwa, tanpa mendengarkan lagi perkataan Ana dan keluarga," sahutku membenarkan.
Saran sekertarisku ada benarnya. Tidak salah jika mencoba.
"Baiklah Rudi aku akan berusaha menuruti perkataanmu," timpalku menyetujui.
"Kuharap Bos tidak akan terjerumus lagi. Ana adalah wanita baik, salah besar jika kamu terus menyakitinya. Dia begitu tulus mencintaikamu."
"Benarkah itu? Semoga apa yang kamu katakan adalah benar. Aku sangat ingin kembai ke masa mengenal Ana, tapi kenapa kenangan kami tidak bisa kuingat sama sekali. Sampai kapan ini akan terjadi? Bathinku begitu tersiksa."
"Yang sabar, Bos. Pelan-pelan saja. Tidak ada yang instan. Semua butuh proses."
Mata begitu kosong. Banyak beban pikiran yang kini terus saja menguasai kepala. Tidak tahu lagi tindakan apa yang harus dilakukan mengenai masalah rumah tangga yang kemungkinan tidak susah diselamatkan.
"Iya, Rudi. Semoga saja hubungan kami akan baik-baik saja. Kalau benar Ana adalah istriku yang pastinya tidak ingin menyia-nyiakan dia."
"Tentu saja, Bos."
"Semoga saja semua ini akan berakhir. Aku tidak ingin kehilangan wanita yang sudah mengisi hari-hari yang penuh kebahagiaan."
__ADS_1
"Amin, sabar, Bos. Semua ada jalan, tinggal kita mencari celah untuk menyelesaikannya."
Tok ... tok, pintu ruanganku diketuk.
"Masuk saja," suruhku.
"Pak ini ada tamu!" ucap pegawai yang ada diluar.
"Langsung suruh masuk saja dia."
"Baik, Pak. Saya permisi dulu."
"Iya."
Mataku dan Rudi sudah menatap kosong ke arah jalanan, berusaha sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Permisi, ini Pak tamunya?" ucap pegawaiku lagi.
"Oh ya. Suruh masuk saja," jawabku yang sudah sadar dari lamunan.
"Ana, kamu?" Kekagetanku tak menyangka bahwa dia akan datang ke perusahaan.
Cukup heran. Kalau Ana memang orang lain pasti tidak akan tahu dimana tempat perusahaanku.
"Tumben kamu ke sini?" sambutku antusias dengan gembira.
Ada rasa senang, ternyata Ana mulai luluh dan ingat akan diriku.
"Aku tidak ingin berbasa-basi dan terlalu bermuluk-muluk berada disini," ketusnya Ana berbicara.
Mata memicing sebelah, atas maksud arah pembicaraannya.
"Kedatanganku ke sini hanya menyerahkan ini," ucapnya dengan menunjukkan map merah.
Plaak, sebuah kertas berbungkus map, dilemparkan Ana diatas meja kerjaku.
"Apa ini?" tanyaku binggung.
"Ini adalah surat cerai yang baru dibuat dan sudah kutandatangani, tinggal kamu saja yang menandatanganinya," ujar Ana menjelaskan.
"Apa?" ucapku tak percaya.
__ADS_1
Tangan mulai mengepal. Ucapannya kemarin ternyata tidak main-main. Diluar dugaan dan tidak menyangka jika Ana akan mengajukan surat perceraian duluan seusai janjinya.