
Rasanya hati begitu gondok sekali, saat kak Adrian membawa paksa diri ini untuk ikut dalam mobilnya. Entah apa yang dia inginkan sekarang, yang jelas aku kini hanya bisa pasrah dengan segudang ketidaksenangan.
"Biarkan aku pergi, keluarkan ... keluarkan aku sekarang," rengekku yang menarik-narik kuat lengan baju kak Adrian.
"Diam kamu. Jangan berharap akan bisa keluar," bentaknya yang mengagetkan.
Diri ini hanya bisa mendengus kesal, saat orang yang dulu kuhormati, sekarang telah berani-beraninya membetak tanpa ada rasa bersalah.
"Apa yang kamu inginkan sekarang, kak? Apa maksudnya kamu membawa paksa diriku seperti ini?" cakap kesal saat dalam mobilnya.
"Nanti kamu akan tahu setelah sampai dirumah," jawabnya santai.
"Dirumah? Enggak ... enggak, aku tak mau kembali kerumah itu lagi. Pokoknya kak Adrian harus turunkan aku sekarang, atau kamu akan melihatku terluka akibat melompat dari sini secepatnya," ancamku.
"Silahkan kalau kamu bisa, sebab mobil ini sudah kukunci rapat-rapat agar kau tak banyak ulah," Tekan jawabnya.
"Huueeh, apa sih yang sebenarnya kakak ingin dariku?" tanya padanya ingin mengajak berdebat.
"Aku tak menginginkan apa-apa selain cinta kamu, paham!" ujar tegasnya.
"Sudah kubilang aku tak mencintai kamu, sebab dihatiku sudah ada orang lain," ucapku menjelaskan.
"Itu tidak bisa, sebab kamu selamanya harus jadi milikku," jawabnya serius.
"Hahhhh, susah sekali ngomong sama kakak. Cinta itu tidak bisa dipaksakan, tahu!" teriakku menjawab.
"Memang cinta tak bisa dipaksakan, namun jika kekuh ingin mendapatkannya hal apapun bisa dilakukan, termasuk dengan cara kasar sekalipun," kekuh jawab kak Adrian.
"Terserah. Selamanya aku tak akan mencintai kakak sampai kapanpun itu, titik!" jawabku kesal yang kini menyedekapkan tangan.
"Tidak masalah. Pokoknya aku tak akan menyerah untuk mendapatkan kamu," tegas ucap kak Adrian dengan percaya dirinya.
"Semoga saja kak Adrian tak melakukan hal-hal aneh padaku, saat dia kini telah membawaku dengan cara menculik," guman hati yang resah.
Selamanya aku akan kalah ucapan, saat pria yang ada disampingku dari dulu selalu saja mengutamakan ego pada dirinya sendiri, tanpa memikirkan bagaimana perasaan orang lain. Mulutku hanya diam tak ada kata-kata bantahan lagi, sambil netra terus saja berpaling menatap kearah kaca mobil, yang menampakkan pemandangan jalan raya sudah ramai berlalu lalang kendaraan.
Hanya ada suara deru mesin mobil yang mengiringi perjalanan kami. Entah mengapa dari mulut kami masih saja sama-sama diam, tak ada topik pembicaraan. Sampai pada akhirnya rumah yang menjadi saksi bisu antara kebahagiaan dan kehancuran hidup, kini akan kembali kupijakki.
"Kamu keluarlah sekarang," tegas ucapnya yang sudah membukakan pintu mobil.
Dengan wajah sewot, akupun menurut saja apa yang barusan dia perintahkan.
"Sekarang ikutlah masuk kedalam," suruhnya yang sudah menarik tanganku paksa.
"Sebenarnya ada apaan sih, kak? Kamu kalau ada urusan penting bisa bicara baik-baik, jangan main kasar begini," keluhku saat tangan begitu kuatnya ditarik.
__ADS_1
"Tidak usah bawel, ikut saja. Lagian ini rumah kamu juga. Kenapa harus selalu mengeluh tak suka, mau bertandang kesini saja," jawabnya ketus.
Lagi-lagi diri ini hanya bisa pasrah, saat kak Adrian akan mulai mengajakku untuk masuk ke dalam kamar mama.
Praang ... preng, suara sebuah benda telah jatuh.
Kak Adrian yang awalnya memegang tanganku kini terlepas seketika, saat kakinya telah berlari langsung masuk ke kamar orangtua angkat yang telah terbuka.
"Ada apa, bik?" Suara tanya kak Adrian khawatir.
Aku begitu tersentak kaget, saat melihat keadaan mama yang wajahnya pucat dalam kondisi pakaian dan rambut acak-acakkan.
"Astagfirullah, apa yang terjadi sama kamu, ma? Kenapa kondisi kamu begitu kacau begini?" guman hati yang bertanya-tanya ketika melihat kondisi beliau, dengan makanan sudah tercecer berantakan dilantai.
"Biasa tuan. Nyonya lagi-lagi tidak mau makan dan untuk ganti pakaian," terang pembantu yang berpakaian seragam serba putih.
"Ya sudah, biar saya saja yang urus semuanya. Kamu bersihkan makanan yang jatuh itu saja," ucap kak Adrian yang santai.
Akupun hanya bisa mematung melihat kondisi wanita yang ketika dulu sangat menyayangiku, kini telah berubah dratis dengan kondisi yang memprihatinkan.
"Mama kenapa tidak makan? Jangan tidak makan, ma! Nanti akan sakit, dan papa akan sangat khawatir sekali atas keadaan kamu yang seperti ini," cakap suara serak kak Adrian.
"Biarkan ... biarkan aku tidak makan. Aku tidak mau makan ... tidak mau. Karin ... karin mama ingin makan sama kamu. Mana Karin ... mana Karin, aaahhh!" ucap teriak-teriak beliau.
"Tenang ma ... tenang," cakap kak Adrian yang kini memeluk beliau.
Deg, betapa kagetnya diri ini saat nama yang terucap dari mulut beliau telah menyebutku. Diriku yang tak percaya akibat terkejut, sampai tak sadar kini telah menitikkan airmata secara tiba-tiba.
"Apakah mama mau makan, jika Adrian membawa Karin," tawarnya.
Hanya anggukan lemah seperrti anak kecil yang beliau tunjukkan, tanda bahwa setuju apa yang jadi penawaran kak Adrian. Pelukan sudah terlepas, dan kini pria yang selalu memberi rasa sakit sekarang menghampiriku yang masih terpaku tak bisa berkata-kata lagi.
"Lihatlah, Karin. Mama begitu sayangnya pada kamu, hingga dia telah sakit parah sebab kau telah meninggalkannya tanpa jejak. Setiap waktu dan detik, hanya nama kamulah yang terus-menerus beliau panggil. Sudah beberapa cara kami usahakan untuk menyembuhkan beliau, namun semua itu hanya sia-sia saja, karena yang diiginkan cuma dirimulah muncul dihadapan beliau. Maafkan aku yang telah memaksa kamu datang kesini, sebab semua jawabannya adalah ini, untuk memperlihatkan kondisi mama yang sudah depresi merindukan kehadiran kamu," terang kak Adrian pilu.
Aku yang mendengar penuturannya, tanpa terduga mulai menangis dengan lelehan airmata yang tak terbendung lagi. Sungguh tak tega sekali melihat kondisi beliau yang linglung dengan sorot mata menatap kosong, yang berkali-kali suara beliau hanya menyebut namaku saja. Dengan segera kini kudekati beliau, dan langsung mengenggam erat tangan yang dulu lembut, kini mulai terasa kasar tak terawat lagi.
"Ma ... Mama, apakah kamu baik-baik saja sekarang?" ujarku berbasa-basi.
Tak ada jawaban yang pasti dari mulut beliau, hanya sebuah lontaran jawaban nama Karinlah yang terus saja baliau sebut.
"Mama, lihatlah kesini, Ma. Ini Karin, Ma. Apakah kamu tidak merindukanku?" Ulang tanyaku.
Sorot mata yang awalnya kosong menatap kearah lain, kini beralih melihat seksama ke arah wajahku.
"Karin? Karin?" ucap beliau.
"Iya, ma. Ini Karin anak kamu yang hilang," jawabku yang terus saja menangis sesegukan.
__ADS_1
"Benarkah kamu Karin anakku? Benarkah kau anakku?" tanya beliau tidak percaya, yang kini ikut mengeluarkan lelehan airmata.
Anggukan secara kuat yang dapat kuberikan, saat mulut sudah kelu tak bisa berkata-kata lagi, sebab rasa sesak dada karena menangis telah menghalangi.
"Ya Allah, ya Tuhanku. Benarkah Engkau sekarang telah membawa anakku kembali pulang? Karin ... Karin, mama sangat merindukan kamu," tutur pilu beliau, yang kini menguatkan suara isak tangisan.
"Iya, ma. Karin juga rindu kamu."
Kami berdua telah terhanyut dengan tangisan yang kian pecah tak terbendung lagi. Pertemuan yang menyayat hati begitu mengusik jiwa, saat orang yang kusayangi kini sakit, akibat terlalu dalamnya ibu angkat menyayangiku melebihi anaknya sendiri. Mungkin karena tak tahan melihat kesedihan kami, kak Adrian kini juga ikut menangis memeluk menangkup kami berdua.
Entah berapa menit kami terbuai akan pertemuan yang menyedihkan ini, sebab yang jelas mama kini sudah terlelap tidur akibat kelelahan terhanyut kesedihan tadi, mungkin.
"Maafkan aku yang sudah merepotkan kamu, dengan mengajak paksa kesini," cakap kak Adrian tak enak hati.
"Tidak apa-apa, kak. Mungkin memang seharusnya inilah waktu kami bertemu, jadi kamu tak payah merasa bersalah begitu," jawabku mulai santai.
"Sekarang antarkan aku pulang dulu, nanti kalau ada waktu luang pasti akan kujenguk mama lagi," pintaku menyuruh.
"Aku akan mengantarkan kamu pulang, tapi jawab dulu pertanyaanku yang selama beberapa hari ini menjadi beban pikiran," balik jawab kak Adrian kini menatapku penuh selidik.
"Kenapa kau menatap tajam begitu? Memang ada yang aneh pada diriku?" tanyaku yang kini sudah mulai salah tingkah.
"Bukan itu yang aku selidik, tapi ... tapi ada hal yang menganjal yang benar-benar ingin kutanyakan padamu," jelasnya.
"Apa itu? Kalau aku bisa jawab pasti akan kujawab."
"Bukankah dulu aku pernah menodai kamu, jadi seharusnya anakku sekarang sudah besar. Tapi kenapa kelihatannya kamu tak besama anak yang kumaksud, jadi kemanakah dia?" tanya kak Adrian yang mengejutkanku.
"Anak? Apa maksud kamu?" Kepura-puraanku bertanya.
"Justru akulah yang bertanya, apa maksud kamu tak tahu dan paham yang kuucapkan?" tanya kak Adrian yang kebingungan.
"Pertanyaan kamu itu aneh. Anak dari mana? Kakak memang sudah pernah menyentuhku, tapi bukan berarti aku langsung punya anak," jelasku yang kini ingin berlalu pergi, mencoba menghindari semua pertanyaan kak Adrian lagi.
"Tunggu. Kamu jangan bohong, Karin. Aku tahu sebelum kau kabur dari sini, tubuhmu sudah berbadan dua. Jadi jangan mencoba menghindari pertanyaanku itu," cegah kak Adrian yang kini berdiri tepat didepanku untuk menghalangi laju kaki.
"Kamulah yang seharusnya jangan bercanda dan mengada-ada mengenai masalah itu."
"Aku tahu kamu kabur karena kehamilan yang kemarin sudah datang, dan kamu kecewa sebab mendengar pertunanganku dengan Yona. Sekarang katakan dimana anak kandungku sekarang?" tanyanya yang kelihatan mulai kesal.
"Sudahlah, kak. Aku pusing sekali menghadapi kamu. Sekarang biarkan aku pergi. Aku cukup lelah dan lelah sekali sekarang," cakapku yang mulai tak senang.
"Tapi, Karin. Aku perlu kejelasan semuanya. Apa jangan-jangan kamu sudah ab*rsi dia?" tebaknya berkata.
Suaranya yang terus bertanya-tanya, kian lama kian memuakkan jika mendengarnya, hingga akupun membalas hanya diam tidak memberi jawaban.
__ADS_1
Saat mengantar diriku kembali ketempat kerjapun, tak henti-henyinya menyudutkan pertanyaan yang sama, namun mulut ini diam seribu bahasa tak menanggapi.
"Maafkan aku, kak. Bukan bermaksud aku menghalangi pertemuan kamu dengan anak kandung, tapi aku tak mau kamu terus-menerus mengejarku dengan alasan anak sebagai senjata, saat hati ini sudah terpaut kepada orang lain," guman hati yang menyesal, saat mobilnya telah melesat menjauh pergi dari pandangan.