Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2= Istriku Yang Hilang >>> Kegrogian bersama suami masa lalu


__ADS_3

Beberapa detik demi detik hingga menitpun telah berlalu, namun ciuman mas Adit masih tidak mau lepas dari bibirku. Tidak bisa bebas saat tangan ini terus dikunci, sehingga akupun hanya menerima kepasrahan saja.


"Bos ... Bos?" seseorang sedang memanggil Mas Adit.


"Bos? Kamu dimana, sih!" Teriaknya lagi, yang secara tiba-tiba orang itu sudah berdiri tepat didepan pintu kamar mandi.


"Uuuupss!" Sekertarisnya terkejut, melihat adegan yang tak pantas dilihatnya.



Seketika ciuman kami berhenti, dan merubah posisi yang sempat menegangkan yang barusan terjadi.


"Hehehe, maaf ... maaf banget, Bos!" ucapnya sambil membalikkan badan, lalu secepatnya melengang pergi.


Sekertaris itu hanya cegegesan tak jelas menyiratkan mengejek


"Hei tunggu ... hei!" panggil pada sekertaris Mas Adit, untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi.



"Kami tidak ngapa-ngapain, hei tunggu!" ujarku mencoba menjelaskan.


Muka rasanya semakin bersemu memerah karena tak enak banget rasanya, disebabkan oleh adegan yang bagiku sudah sangat memalukan barusan saja terjadi.


Kupanggil-panggil sekertaris Mas Adit tapi kenyataannya percuma saja, karena dia sudah hilang dari hadapan kami secepat kilat.


Mata kini melirik kearah mas Adit, terlihat sekali wajahnya sumringah tersenyum-senyum melihatku, akibat adanya ukiran tanda kemenangan.



"Lanjutkan saja, Bos! Jangan kasih kendor," ucap sang sekertaris, yang muncul kembali dengan kepala sedikit menyembul di pintu.


"Hei, bukan itu yang kami lakkku--?" Kelu ingin menjelaskan saja.


"He ... he ... he. Lanjut terus, oke! Tidak usah sungkan-sungkan begitu, hahahaaaa!" senyuman mengejek namun penuh arti, untuk melanjutkan apa yang kulakukan dengan bosnya.



"Iiiiih, dasar. Kurang asem banget kamu," jawab suamiku sambil tangan mencipratkan air ke arah sekertarisnya, yang masih mengintip akibat kepo.


Tanpa kuhiraukan candaan mereka, langsung saja kaki melangkah berjalan keluar dari kamar mandi, sebab dingin sudah mulai menusuk tubuh, yang pastinya sudah disusul Mas Adit berjalan dibelakangku.


"Ya sudah. Bye ... bye, takut ganggu!" pamit sang sekertaris melambaikan tangan mengejek.


"Hemm, huuuus ... huus!" usir candaan suami.


Kedua tangan sudah mendekap tubuh sendiri, sedangkan Mas Adit entah pergi ke mana lagi.


"Ini gantilah pakaianmu, nanti kamu bisa masuk angin!" perintah Mas Adit kepadaku.


Mas Adit menyodorkan sehelai pakaian kemeja putih, dengan bawahan celana hitam yang longgar, yang kemungkinan kepunyaan miliknya.



Dalam kantor ruangan suami, selain ada kamar mandi terlihat ada ruangan ganti pakaian yang berada di sebelahnya, mungkin karena jarak rumah yang jauh dapat menyita waktu, sehingga mengganti pakaian dan mandipun bisa dalam kantornya.

__ADS_1


"Terima kasih."


Secepatnya mungkin langsung saja kuambil pakaian yang diberikan Mas Adit, dan langsung saja aku pergi berjalan kedalam toilet.


Sebelum pintu kamar mandi benar-benar kututup, dapat terlihat diwajahnya terukir indah senyuman manis, sebab melihat tingkah yang konyol akibat gugup mengakibatkan wajah terus saja bersemu kemerahan.


Tubuh terasa lemas, dengan tulang-tulang rasanya ingin terlepas dari persendian, dan langsung saja diri ini merosot terduduk bersandar dipintu kamar mandi ketika lantainya masih basah.


Kini pikiran membayangkan orang yang selama ini telah kubenci, baru saja telah berhasil mencuri bibir yang selama ini belum tersentuh siapapun.


Kutepuk-tepuk pipi menggunakan tangan, supaya bayangan tadi cepat hilang. Sesekali tangan meraba-raba bibir yang sudah ternodai, sebab dicium oleh suamiku sendiri.


Bayang-bayang wajah Mas Adit serta adegan ciuman yang telah kami lakukan beberapa menit yang lalu, sekarang mengisi seluruh otakku membayangkan betapa manis dan m*sumnya kejadian itu, dan begitu bodohnya diriku tadi hanya diam saja tanpa ada memberontak lebih kuat lagi.


Tok ... tok, pintu kamar mandi diketuk.


"Ana, apakah kamu belum selesai ganti bajunya?" suara Mas Adit bertanya.


"Ana ... Ana?" panggilnya sekali lagi, karena aku tak kunjung menjawabnya.


"Eeh, iya Mas, tunggu sebentar. Ini sedang ganti," jawabku yang tersadar dari lamunan.


Suara mas Adit yang memanggil, kini sudah membuyarkan lamunanku, yang masih memakai baju basah terduduk dilantai, sebab dari tadi otak dipenuhi bayang-bayangan Mas Adit sehingga baju basahpun belum sempat kuganti.



Setelah mengganti pakaian seragam pegawai kebersihan yang basah, sekarang tubuhku sudah terbalut dengan kemeja putih dan celana hitam. Rasanya sungguh aneh akibat sedikit longgar, tapi tak apalah daripada mati kedinginan.


Pintu kamar mandi sudah kubuka, sambil kepala sedikit menyembul keluar, untuk mengintip dari pintu kamar mandi yang sedikit terbuka. Mata mencoba melihat ke kanan kiri, melihat suami masih menungguku atau tidak.


Selangkah demi selangkah diriku mulai berjalan cepat, untuk segera keluar dari kantor ruangan Mas Adit.


"Fiuuuuh, alhamdulillah bisa lolos."


Sebelum benar-benar keluar tadi, dapat kulirik diruang sebelah kamar mandi ada bayangan seseorang didalamnya, kemungkinan besar Mas Adit sedang berganti bajunya juga yang sempat ikut basah.


"Huuuf ... uuff ... aman ... aman," ucapku mengambil nafas dalam-dalam sebab sudah cukup merasa lega.


Posisi sudah sedikit jauh dari ruangam utama suami. Berkali-kali masih mengintip, takut jika dia akan mengikuti.


"Aah, bodohnya kamu, Ana!" Tangan memukul kening.


"Kenapa bisa lupa, sih?" Sudah teringat sesuatu yang kutinggalkan dalam ruangan suami yaitu sebuah troli kebersihan.


"Gimana, nih? Apa iya aku harus kembali ke ruangan itu lagi," Hati bergukat sebab ada keraguan.


Sekarang aku hanya bisa mondar-mandir, didepan pintu ruangan mas Adit dengan perasaan antara dua pilihan, yaitu ingin masuk dan tidak masuk. Terlihat beberapa karyawan menatapku aneh, dikarenakan terus saja mondar-mandir didepan ruangan bosnya.


Masuk, tapi tidak ingin bertemu Mas Adit, tapi jika tidak masuk bu Nur kepala kebersihan akan marah besar, jika troli kebersihan tidak ada ditangan sebab bisa menghambat pekerjaanku.


"Masuk ... enggak ... masuk ... enggak!" Jari-jariku berhitung antara masuk dan tidak, yang kaki terus saja mondar-mandir ke kanan kiri.


"Masuk saja, ah! Kalau terjadi apa-apa urusan nanti," gumanku dalam hati.


Akhirnya nekat juga masuk, walau masih ada keraguan dan takut bertemu dengan mas Adit sebab dia masih ada didalam.

__ADS_1


Dengan tekad sudah bulat, aku secepatnya mencoba ingin masuk kedalam, dan harus bersikap tetap tenang seandainya bertemu dengan suami.


"Huuffff. Bismillah!" tarikan nafasku dalam-dalam.


Ceklek, pintu kubuka pelan-pelan, agar suara tidak membuat suami kedengaran.


"Ana? Apa yang kamu lakukan?" ucap Mas Adit kaget, yang mana dia ternyata juga berdiri sama sepertiku didepan pintu.


Aku juga terkejut, saat tangan memegang ganggang pintu untuk membukanya, ternyata Mas Adit juga mau membuka pintu.


"Maaf, ada yang ketinggalan dan aku mau mengambilnya!" ketus perkataan.


Tanpa mengindahkan Mas Adit yang berdiri mematung, langsung saja kaki kulangkahkan untuk lebih masuk ke ruangannya.


Ekspresi mukanya tak bisa kubaca lagi akibat terkejut, apakah dia senang sebab aku telah kembali keruangannya, atau bisa juga dia marah karena tadi tidak pamit padanya.


Langkah langsung saja mengambil troli yang sempat kutinggalkan. Kini troli kudorong perlahan-lahan dengan kepala tertunduk tak berani menatap Mas adit, yang masih terdiam membisu dengan tatapan keanehan.


Selangkah demi selangkah, terus saja kudorong troli untuk segera menuju pintu keluar.


"Tunggu, Ana!" perintah Mas Adit, dimana tangannya mencekal tanganku supaya langkah terhenti.


"Maaf, aku harus pergi."


Tanpa permisi dan persetujuan dariku dulu, kini suami sudah mencuri memeluk dari belakang, sehingga tangan yang memegang troli kini terlepas begitu saja akibat lemah dalam keterkejutan.



"Ana, kenapa kamu meninggalkanku? Bagaimana kabarmu sekarang? Mengapa engkau menjauh dariku? Apakah kau tak rindu padaku? Ana, aku sangat merindukanmu?" Banyak sekali pertanyaan yang keluar dari mulut Mas Adit secara bertubi-tubi.


"Mas, jangan begini! Lepaskan aku dulu," perintah yang berusaha melepaskan diri dari pelukan.


Tak memperdulikan permintaanku, mas Adit semakin memperkuat pelukannya, ditambah sekarang kepalanya disandarkan dibahuku. Sebab enam tahun tidak bertemu, mungkin ada keriduan yang teramat mengebu dalam diri Mas Adit, sehingga dia tak sabar sekali ingin memeluk tubuh ini.


"Aku tidak akan melepaskanmu lagi, Ana! Cukup enam tahun saja diriku melepaskanmu dan kehilangan. Kali ini berjanji, akan tetap terus mengenggam erat tanganmu lagi, dan selamanya takkan kulepaskan. Tahukah engkau, aku akan terus memelukmu, disetiap kerinduan ini datang menerpa. Izinkan diriku memperbaiki kesalahan-kesalahan masa lalu ketika telah menyakitimu, maaf ... maafkan aku, Ana!" ucap Mas Adit terdengar penuh rasa penyesalan.


"Mas Adit kumohon. Mas Adit jangan begini!" perkataanku yang agak sedikit terhanyut atas ucapannya.


Sepertinya dia sangat menyesal dan merindukanku.


"Tidak Ana ... tidak! Aku mohon Ana, tetaplah dalam pelukan. Aku benar-benar sangat merindukanmu," tolaknya halus.


"Maafkan aku, yang telah menorehkan luka dalam hatimu," imbuhnya berucap.


"Tapi mas, aku mohon kamu jangan begini," jawabku yang sesekali meyakinkan bahwa tindakannya sekarang salah.


"Gak ada tapi-tapian, aku mohon maafkan kesalahan yang dulu dan kembalilah padaku," Terdengar suara parau Mas Adit memilukan.


Tak kuasanya diri ini melihat dan mendengarkan suami yang dulu kucintai, kini sudah menangis sedih sehingga membuat bajuku sedikit basah oleh tetesan airmatanya.


Tanpa terasa mataku kini juga ikut memerah. Ada sebuah tetesan air bening yang memaksa menyeruak ingin keluar, yaitu sebuah airmata yang tak bisa terjelaskan apakah airmata bahagia karena Mas Adit menyesal, atau karena kasihan melihat kondisi Mas Adit yang sekarang begitu merindukanku.


*******


Kakak yang baik hati, yang sudah mampir dikarya author ini, jangan lupa like dan komentar😊Sebab itu akan membuat semangatku untuk terus menulis. Saya ucapkan terima kasih, jika ada yang mampir. Semoga kalian dimurahkan rezeki dan sehat selalu, amiiin.

__ADS_1


__ADS_2