
Namaku adalah Salwa, yang dulu pernah menjalin asmara dengan CEO yang bernama Adit. Sebenarnya cintaku sungguh kuat padanya, tapi gara-gara kebodohan yang kubuat sendiri, sehingga percintaan kami talah putus dijalan.
"Adit, kamu masih mencintaiku 'kan?" tanyaku.
"Tentu dong, Salwa. Kapan sih aku gak mencintaimu. Sampai kapanpun cintaku tak akan berubah untukmu," responnya.
"Betulkah itu?" Kepura-puraanku bertanya.
"Iya beneran."
"Kalau kamu betul-betul mencintai, buktikan padaku," Perkataan yang sedang bermesraan duduk disofa rumahnya.
"Memang kamu mau bukti apa?" tanyanya.
"Menikahlah denganku," sahutku manja.
"Menikah?" sambungnya seperti terkejut.
"Iya menikah."
"Kenapa mimik wajah kamu seperti mengekspresikan keterkejutan begitu?" terangku merasa aneh.
"Gak ada apa-apa sih! Cuma aku sedikit ragu dengan sikap mama, kayaknya beliau tidak akan setuju dan suka padamu," ungkapnya menjelaskan.
"Aah, masalah mama kamu itu gampang. Jika kamu ngotot terus membantah beliau, pasti dia akan kalah juga apa yang kamu inginkan, sehingga beliau mau tak mau pasti akan menyetujui pernikahan kita. Lagian kamu adalah anak satu-satunya, beliau pasti takkan menolak dan tega meninggalkan kamu," Kata-kataku berusaha mencuci otak Adit.
"Bener juga apa yang kamu katakan. Baiklah kalau begitu, kita secepatnya akan melaksanakan pernikahan," jawabnya menyetujui.
"Yes, akhirnya aku bisa menguasai kamu," Hati yang gembira.
"Betulkah itu?" tanyaku lagi sebab tidak percaya.
"Betul Salwa, tapi--?" Suaranya tertahan.
"Tapi apa, Adit?" Dibuat penasaran.
"Tapi bagaimana dengan perempuan yang mengaku sebagai istriku itu?" urainya binggung.
"Aah, itu gampang. Tinggal berikan dia surat perceraian saja, 'kan beres jadinya," ide busukku yang mulai muncul.
"Bener juga katamu. Baiklah aku akan segera menceraikannya, lagian 'kan aku tidak mencintainya. Kalau dia benar-benar istriku tetap ogah bersamanya, sebab cintaku hanya untukmu seorang," ucapnya yang membuat hatiku kian berbunga-bunga.
"Makasih, sayang."
"Asalkan kamu bahagia, pasti semua keingiananmu akan kupenuhi," imbuh Adit berucap.
"Terima kasih, Adit. Kamu benar-benar lelaki yang selama ini menyenangkan hatiku, aku sangat mencintaimu," Kemanjaanku dengan centilnya, sudah semakin mengeratkan pelukan padanya.
"Aku juga mencintaimu."
"Yes ... yes, sungguh awal yang membahagiakan. Ternyata mudah sekali aku meluluhkan hatimu kembali, tanpa mengotori tanganku untuk mencelakai istrimu Ana," Kegirangan berucap dalam hati.
Suasana sudah terasa hening, tidak ada ucapan yang keluar dari mulutnya lagi, dan semua bertukar terasa agak dingin, yang mana Adit tengah mendiamkanku walau tubuh kami begitu dekat Terlihat sekali wajahnya sedang ada yang dipikirkan, yaitu saat matanya terus saja memandang ke sebuah foto yang masih melekat didinding, sehingga akupun menghela nafas berat, kemudian menghembuskannya kembali.
"Adit ... Adit?" panggiku yang berusaha membuyarkan lamunannya.
"Eeh, oh iya, Salwa. Ada apa?" Syukur deh dia tersadar dari lamunan.
"Kamu kok diam saja, apa yang sedang kamu pikirkan?" ketusnya pertanyaanku.
"Gak ada apa-apa, cuma lagi binggung saja sama perempuan yang tak tahu malu itu, bisa-bisanya dia kok mengaku menjadi istriku. Aku agak sedikit binggung, apakah dia benar-benar istriku yang sudah sah, tapi--?."
__ADS_1
Wajahnya memang nampak kebingungan. Harus mencari alasan agar Adit bisa menghilangkan rasa penasarannya pada wanita sialan itu, agar tidak merebut kekasih yang selama ini kudambakan.
"Aah, kamu gak usah memikirkan dia lagi, tidak ada gunanya memikirkan dia. Bukankah kamu tak mencintainya. Lagian seharusnya yang kamu pikirkan sekarang itu adalah orang yang didepanmu ini!" Cemberutnya aku berucap.
"Iya Salwa, sayang. Maafkan aku, kamu jangan marah lagi, oke!" Usahanya membujuk.
Wajahnya kini sudah semakin didekatkan dengan wajahku, bibirnya yang merah dan sexy tak tahan rasanya ingin sekali aku ******* habis akan manisnya.
"Aku merindukanmu, Adit!" ucapku yang sudah mengelus pipinya.
"Aku juga merindukan dan mencintaimu, Salwa," ujarnya.
Ketika berucap terus saja dia mendekatkan wajah kepadaku, yang tanpa menyisakan jarak lagi diantara kami. Wajahku kini sudah benar-benar merona merah, akibat wajahnya yang semakin dekat ... dekat ... dekat ... dan--?.
Ceklek, pintu rumah Adit tiba-tiba terbuka.
"Adit?" Lengkingan suara Mamanya.
"Mama?" Terperanjatnya Adit, sehingga dia kini secepatnya duduk menjahuiku.
"Apa yang kalian lakukan sekarang?" teriaknya seperti sedang ada api kemarahan.
"Kami gak ngapa-ngapain, Ma."
Kesel lihat Adit yang lembek menjawab, seperti orang yang takut saja sama orangtuanya sendiri.
"Betul kata Adit, Tante. Kami lagi gak ngapa- ngapain, kok. Apa ngak lihat kami sedang duduk-duduk aja," ketusku berucap.
"Kalian pasti bohong. Dan ngapain perempuan pelakor ini bisa berada dalam rumah kamu?" cecar Mamanya.
"Pelakor? Apa yang kamu bilang tadi, Tante? Pelakor?" protesku tak percaya.
"Iya, pelakor. Kenapa? Kamu tidak suka?"
"Ciiih," decihku tak suka.
"Lihat, Adit. Mama kamu seperti sedang ingin marah padaku," Kecentilan memeluk lengan Adit.
"Kalau saja bukan calon mertua, pasti dia sudah kalah kujambak rambutnya," gerutuku dalam hati marah.
"Jelaskan Adit? Ada apa ini semua?" protesnya dengan nada seperti kesal.
"Kami benar-benar ngak ngapa-ngapain, Ma!."
"Jangan bohong. Mama masih belum buta lagi melihat kalian tadi."
"Hadeh, Mama."
"Dan kamu Salwa, kenapa juga kamu dengan mesranya memeluk Adit, dasar perempuan ganjen. Lepaskan dia!" suruhnya yang langsung menarik tanganku dan membantingnya.
"Sudah ... sudah, Ma. Apa yang kamu lakukan?" Adit berusaha membelaku.
"Apa yang kamu katakan, Adit?" Mamanya kebinggungan.
"Udah 'lah, Tante. Kamu ini datang-datang langsung main memarahi kami saja, seperti tak tahu sopan santun," cerocosku yang menghinanya.
"Dasar kamu ini, ya!" Kemarahannya yang berusaha ingin melawan dengan langkah sudah maju.
"Sudah ... sudah. Hentikan. Kalian ini apa-apa'an sih," teriak Adit marah.
"Dasar, nenek ... nenek."
"Apa yang kamu bilang tadi."
"Ngak ada."
__ADS_1
"Kemana Ana? Dan kenapa dia ada disini? Siapa yang mengizinkannya?" cerocos nenek lampir terus saja bertanya.
"Ana sudah kuusir, dan Salwa aku yang mengizinkan dia ada disini!" pembelaan Adit.
"Apa?" Kekagetan Mamanya.
"Kamu jangan gila Adit, Ana adalah istri kamu," protes beliau.
"Dan Salwa ini adalah orang yang sudah menjadi duri dalam rumah tanggamu, tak pantas si pelakor ini masuk ke dalam rumahmu?" ucap mamanya kekuh aku yang bersalah.
"Sudah, Tante. Kamu itu gak usah banyak ngomong. Adit sekarang sudah sangat mencintaiku, dan lupakanlah menantu kesayanganmu itu, sebab sebentar lagi Adit akan menceraikannya, jadi kamu tidak perlu membelanya lagi!" ucapku melawan dengan penuh berani.
Plaaak, tamparan sudah terdarat dipipiku.
"Mama, apa yang sedang kamu lakukan?" Adit berusaha membela.
"Diam kamu!" berbalik Mamanya marah.
"Apakah benar yang dikatakan pelakor ini barusan?" tunjuknya ke arahku dengan nada marah.
"Iii-ii-yya, Ma!" jawab Adit tercekat dan terbata-bata.
Plaaak ... plak, dua tamparan sudah terkena pipi Adit.
"Dasar laki-laki tixak berguna. Dari dulu kamu selalu saja menyakiti Ana. Kurang apa kebaikan Ana padamu, dia sudah menelan kehidupan pahit atas kelakuanmu bersama Salwa," Intonasi nada tingginya akibat sudah dikuasai emosi.
Adit hanya bisa tertunduk dan tidak berkata-kata lagi.
"Mama benar-benar kecewa sama kamu Adit," imbuhnya sebelum melenggang pergi.
"Ma, bisa aku jelaskan semuanya. Tunggu ... tunggu, Mama!" Adit sedang berusaha mengejar, yang berhasil mencekal tangan Mamanya.
"Lepaskan Adit. Mama berjanji pasti akan membuat perhitungan sama kamu dan Salwa, ingat itu!" ancam beliau.
Aku hanya bisa menyaksikan drama yang bikin emosi. Ingin kurem*s mulut itu. Kalau bukan Mama Adit saja sudah bengkak semua itu bibir.
"Tunggu, Ma ... tunggu."
Adit masih saja mencoba mengejar.
Aku tidak sabar dan tinggal diam, kini sudah mencekal tangan Adit biar tidak mengikuti Mamanya lagi.
"Sudah Adit ... sudah. Percuma saja kamu mencegahnya sekarang, sebab Mama kamu sedang dalam kemarahan."
Emosi juga lihat Adit terlalu ingin membujuk.
Rasanya hatiku greget sekali ingin mencakar-cakar si nenek lampir itu. Untung saja sudah pergi kalau enggak pasti kuhancurkan mukanya.
"Tapi 'kan, Salwa. Aaah, sudah 'lah."
Ternyata sekarang bertambah lagi musuhku, yang berusaha menghalangi hubunganku dengan Adit. Tak akan kubiarkan mereka-mereka mengagalkan semua impian kami, yang pastinya sudah merencanakan akan menikah. Kalau sampai ikut campur dan mengagalkan semuanya, dengan cara kotorpun pasti aku akan menghentikannya.
Sungguh dada rasanya sakit sekali, saat dia menampar wajahku barusan. Pasti akan kubuat perhitungan lebih jika aku sudah menjadi menantunya. Akan kupastikan hidupnya takkan tenang jika aku benar-benar masuk dalam keluarga mereka.
"Kamu gak pa-pa, Salwa?"
Akhirnya Adit khawatir juga. Ini yang kumau.
"Aku baik-baik saja kok, sayang"
"Maafkan mamaku tadi, mungkin dia sedang terkejut saja dengan kejadian yang menimpa wanita yang bernama Ana itu. Heeh, mungkin Ana harus segera menjauh dariku," Kelebaian yang terdengar memuakkan.
"Benar itu Adit, kamu secepatnya harus menyingkirkan Ana dari kehidupanmu, supaya tidak menghalangi hubungan kita," Usulku berusaha mencuci pikirannya kembali.
"Baiklah, Salwa. Secepatnya pasti aku akan menyikirkannya, yaitu dengan cara menceraikan dia," jelas Adit yang membuatku gembira yang tak terkira lagi.
"Bagus Adit. Sekarang otakmu mudah sekali untuk kucuci dan dihasut. Ternyata amnesia kamu sangat menguntungkan juga. Aku akan terus menjejali pikiranmu, dengan hal-hal yang membuatmu untuk terus menjauhi istri kamu yang br*ngs*k itu. Semoga saja kamu benar-benar akan jauh dan melupakan Ana," gumanku dalam hati kesal bercampur gembira.
__ADS_1
Dengan ocehan ternyata Adit jadi orang penurut. Semoga ini akan berlangsung lama dan tidak ada halangan yang terbentang