Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2=Istriku Yang Hilang>>Nasehat Bapak


__ADS_3

Tangisanku sudah pecah, tak kuasanya menahan cobaan demi cobaan yang terus datang.


"Kamu jangan begini, Ana. Maafkan anak Mama yang lagi dan lagi telah menyakitimu" ujar beliau sambil memelukku. Airmata beliau tak terbendung juga.


Isak tangisan terdengar memilukan diantara kami berdua.


"Sudah ... sudah, kalian minum ini dulu, biar hati kalian tenang atas ketegangan yang sempat terjadi barusan," sela Bapak membawa teh hangat yang masih mengepulkan asapnya.


Edo hanya bisa diam memperhatikan kami. Semua sedang berkumpul duduk diruang tengah. Nampak risau dan masih menyimpan emosi.


"Sudah Ana, kamu jangan menangis lagi. Untuk sementara kita ikuti dulu permainan mereka. Tak sepantasnya jika kita terus-menerus bersedih, sebab kalaupun kita melawan percuma saja, sebab Adit sekarang sedang tak mengingat apa-apa," imbuh Bapak memberi saran.



Bapak mendekatiku. Memeluk dan mengelus pelan bahu. Tak henti-henti kasih sayang orangtua dan mertua mereka berikan.


"Kamu sama besan tidak usah terlalu larut dan binggung akan semuanya. Kita akan pikirkan bersama dan mencari jalan keluar agar bisa membuat Adit mengingat semuanya. Dan sepertinya cuma kamu saja yang bisa mengembalikan semuanya, Ana!" ujar Bapak mengusap lelehan airmataku.


Tersendat-sendat nafas. Berkat usapan tangan beliau sedikit memberikan ketenangan.


"Benar juga apa katamu, besan!" Mama menimpali.


"Betulkah itu? Jadi kita perlu tenang dan berpikir caranya saja. Jangan sampai ada emosi lagi."


Bapak berusaha meredamkan emosi kami semua.


"Sebenarnya Bapak tidak ingin melihat putri kesayangan Bapak bersedih, jadi kamu harus sabar dan kuat akan semuanya. Pasti bapak akan selalu berada disisimu untuk menemani. Bagaimanapun situasi dan keadaannya sekarang jangan bersedih sebab Bapak akan selalu ada disini," ucap beliau dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Terima kasih, Pak! Maaf, jika sudah merepotkan dan membuat masalah," jawabku yang kian tersedu-sedu akibat tersentuh tindakan dan ucapan beliau.


"Aku juga, Ana. Diriku akan selalu berada disampingmu juga, agar kamu tetap semangat dan kuat menjalani semuanya," sahut Edo ikut-ikutan.


"Terima kasih, Edo. Kamu teman yang terbaik." Sebuah acungan jempol kuberikan padanya.


Ternyata disebalik keputus'asaan, masih saja ada orang-orang yang menyayangi dan memberi semangat untuk membantuku, agar tak bersedih lagi akibat masalah yang menghantam sekarang.


Seandainya saja aku bisa menghentikan waktu, pasti aku akan melakukannya, agar takkan pernah ada kata perpisahan lagi diantara kami.


Kesedihan yang teramat dalam, sungguh susah sekali untuk kembali bersemangat membesarkan bayi yang kukandung sekarang. Tapi untung saja ada bapak yang siap siaga selalu merawat kami, walau beliau sedang sibuk mengurus restorannya.


Kini dalam diri sudah bertekad, jika seandainya perpisahan benar-benar terjadi, aku takkan mengemis cinta lagi pada mas Adit, bagiku sakit hati yang kedua kalinya, sungguh membuat luka itu begitu membekas takkan pernah bisa hilang lagi.


Hari demi hari telah berlalu, dan kini telah bergantikan dengan bulan, yaitu untuk membesarkan anak dalam kandungan sendirian.


Beberapan bahan bumbu yang baru saja dibeli para pegawai beliau telah sampai, dan kini turut untuk membantu memasukkan ke dalam rumah, tapi rupaya ketahuan Bapak dan akhirnya tidak diperbolehkan juga.


"Ini tadi tidak berat, Pak. Makanya Ana angkat." Ngeyel.


"Bandel amat sih. Walau tidak berat sekalipun, tapi ya harus jaga konduisi kamu agar tidak terlalu kecapekan. Perut kamu makin lama makin membesar, jadi tidak salah Bapak larang agar tidak terjadi hal-hal yang diiginkan." cerewetnya beliau.



"Iya, Maaf. Habisnya kasihan sama di mbaknya yang mengangkat sendirian."


"Sudah terjadi, ya sudahlah. Lain kali jangan diulangi. Kalau terjadi apa-apa sama cucu Bapak 'kan bikin susah hati juga nanti."

__ADS_1


"Iya, Pak."


"Oh ya, jangan lupa minum vitamin dan susunya. Bukankah ini waktunya kamu meminumnya?" Netra beliau sudah melihat arah jam dinding.


"Oke, Bapak. Ana akan rutin kok. Biar dedek bisa sehat dan kuat didalam sini," Tangan mengelus-elus perut.


Ingatan kembali terbayang akan suami, yang tidak bisa menjaga dan menemani dihari yang seharusnya akan menjadi keberkahan dan kebahagiaan kami.


"Hatimu sangat lembut dan selalu sabar seperti ibumu." Pengawalan cerita.


Hanya bisa menjadi pendengar setia.


"Apakah kamu tahu, Ana. Ketika kamu masih didalam perut ibumu, kesengsaraan juga datang pada kami. Waktu itu kami berdua hanya tinggal digubuk dengan dinding dari ayaman bambu. Kalau ada angin masuk pasti akan kedinginan sebab sudah banyak berlubang. Apalagi kalau hujan, banyak wadah agar rumah tidak becek akibat air hujan. Banyak cobaan yang datang, tapi almarhum ibumu selalu sabar dan tidak mengeluh sama sekali. Dia bisa mandiri tanpa Bapak temani, sebab demi meraup uang recehan rela pergi merantau."


"Kisah kamu sama Adit tidak jauh berbeda dengn kami, jadi belajarlah seperti ibumu yang menjadi wanita tangguh dan perkasa walau kamu berbadan dua sskalipun."


Salut juga mendengar kisah pilu mereka.


"Iya, Pak. Insyaallah. Apakah Ibu juga secantik diriku?" Kekonyolan bertanya.



"Tentu saja, Nak. Bahkan kamu lebih cantik. Hati kalian berdua juga cantik. Ini adalah perjalan rumah tangga kamu yang harus kamu hadapi dengan sabar. Cobaan datang itu atas kehendak yang diatas. Kamu harus sabar, sebab Bapak tahu kamu kuat menghadapinya. Pasrahkan semua keadaan. Biarkan semua jalan mengalir seperti air," Nasehat beliau.


"Iya, Pak." Rasanya nyaman sekali kepala dielus-elus beliau.


Banyak hal yang belum aku ketahuai. Baru sebesar ini bapak bisa menceritakan semua. Mungkin kehidupan pahit yang beliau lalui tidak ingin anaknya mendengar, sebab pasti akan ada kesedihan dalam diriku mendengarkan kisah kenelangsaan mereka.

__ADS_1


__ADS_2