
Secepatnya kakiku berlarian kecil, untuk mengejar Ana yang kelihatan sudah semakin ngambek, terlihat sekali dari wajahnya yang sudah memonyongkan bibir.
.
"Tunggu, sayang!" cegahku dengan mencekal tangannya.
"Sudah, balik sana."
"Kamu kenapa, sih? Akhir-akhir ini kok kayaknya sensitif banget," tanyaku yang ingin tahu.
"Lepaskan aku, Mas!" ujarnya yang sudah membanting tanganku agar cekalan terlepas.
"Aduh, sikap kamu ini kenapa?"
"Aku gak kenapa-napa, cuma lagi males saja," imbuhnya yang langsung ingin melenggang pergi lagi.
"Ya salam, apa yang terjadi dengan Ana sekarang. Kenapa dia terasa begitu kesal dan marah padaku?" Hati merancau kebingungan.
__ADS_1
Sungguh tidak tahu menahu apa yang terjadi. Kalau tidak ada penjelasan dari dia, ya mana kutahu asal muasal dia kemarin kabur dan sekarang tambah ngambek.
"Tunggu ... kubilang tunggu, ya tunggu!" ujarku lagi yang berusaha mencegahnya.
"Aku bilang lepas ... ya lepas," ucapnya meronta-ronta agar aku melepaskan tangannya.
Tidak sabar ingin tahu alasan. Kalau dibiarkan maka membuat hubungan semakin jauh tidak jelas, akibat rahasia yang tidak dia ceritakan.
"Aku tidak akan melepaskanmu. Ayo ikut Mas sekarang!" suruhku berusaha menarik tangannya.
"Lepaskan, Mas! Aku tidak mau ikut denganmu. Ayolah, lepaskan aku sekarang ... lepaskan Mas," Usahanya yang terus meronta-ronta, agar cekalan tanganku terlepas.
"Aku ngak mau ikut! Kalau mas ingin pergi ... pergi saja sendiri, dan aku tidak mau ikut denganmu," kekuhnya.
"Heeh ... hhhh. Ya Allah, kamu kenapa sih?" tanyaku heran.
"Aku bilang ya gak kenapa-napa ... ya memang gak ada apa-apa," jawabnya yang sendu.
"Kamu ngak usah bohong, aku tahu kamu masih marah atas ucapanku semalam. Jadi baiklah! Sekarang Mas benar-benar minta maaf atas kejadian semalam, ok!" tuturku sudah sedikit kesal lagi.
__ADS_1
"Aku sudah memaafkan kamu dari semalam. Tapi tolong juga, izinkan aku agar tidak ikut denganmu, sebab hari ini aku benar-benar malas sekarang," pintanya.
"Kamu harus ikut! Ini perintah dari suami kamu, jika menolaknya 100 dosaku akan kualihkan padamu," kekuhanku menjawab.
Makin lama makin emosi terpancing lagi. Dia masih tidak jujur atas segala sikapnya yang aneh.
"Ciiiih, memang ada yang seperti itu? Bisa beralihkan dosa segampang itu. Pokoknya aku tidak mau ikut, diriku ingin bermalas-malasan dikamar," jawabnya yang masih tak mau.
Sebab tak ingin Ana banyak bicara lagi, tanpa banyak kata langsung kugendong tubuhnya, untuk kuculik membawanya pergi.
"Mas, apa yang kamu lakukan? Turunkan aku ... turunkan Mas. Ya Allah ... lepaskan Mas, malu tahu!" cerocosnya yang sudah menutup wajahnya dengan tangan, dan kepalanya dilekatkan didadaku yang bidang.
"Ayolah Mas, turunkan aku. Lihat! Semua orang sudah memperhatikan kita," imbuhnya memohon dengan nada pelan sedang berbisik-bisik.
Tak kuhiraukan permohonanya lagi, yang terpenting sekarang Ana tidak membatah lagi pada ucapanku, itu sudah membuatku cukup lega. Diri ini tidak peduli lagi, atas tatapan orang-orang yang heran melihat kearahku, yang terus saja mengendong Ana untuk segera keletakkan tubuhnya ke dalam mobil.
"Kamu diam disini! Ini adalah honeymoon kita, jadi aku tidak mau membuatmu kecewa. Jadi harus nurut dan diam disini, karena aku akan membawamu ke tempat yang takkan pernah kamu lupakan, mengerti!" ucapku tegas pada Ana, yang sudah duduk diam tak berkutik didalam mobil sewaan.
__ADS_1