
Tangan begitu mengepal kuat, saat sudah berada diluar toko tempat kerja Karin. Patah hati yang begitu mengiris hati, yang kini telah kurasakan.
Setelah sekian tahun mencari, kutelah menemukan dia yang ingin kumiliki. Namun setelah berjumpa, bagaikan sembilu begitu mengiris badan. Ya, itulah yang kini terjadi, saat ribuan jarum pulak sedang menghujam jantung berisikan cinta.
Untuk kesekian kali aku tersakiti lagi.
Sungguh ini sakit, begitu teramat sakit.
Jujur saja hati begitu tak rela melepaskan.
Namun bila memang dia pantas penganti diriku.
Mungkin patut kau cintai dia seperti yang kau mau.
Mungkin cukup diriku saja yang menerima sakit ini.
Saat selalu saja menerima patah hati, dengan segudang tetesan embun menyeruak, akibat merindukan kehangatan cinta.
Kepuraan-puraan dalam ketegaran, semakin membuat diri ini lebih dalam lagi atas rasa sakit itu, tapi nak berkata apa saat semua orang telah memperhatikan dan jadi saksi bisu.
"Mungkinkah aku harus bahagia untuk mendoakannya? Saat semua berakhir dengan luka. Namun jika menyakitiku bisa membuat kamu bahagia, mungkin mulai dari sekarang aku akan ikhlas untuk segera melepaskanmu, Karin. Mungkinlah ini cara agar diriku bisa belajar ikhlas mencintaimu, namun harus bisa belajar ikhlas juga untuk kehilanganmu," guman hati sedih, saat kepala mulai pusing bersandar dikemudi mobil.
Dengan api kemarahan, kini mobil telah kulajukan dengan kecepatan penuh, yang tak peduli lagi jika mobil ini saling bertubrukkan dengan mobil yang lain, sebab yang jelas rasa emosi ini bisa hilang saja, bagiku sudah bisa menghempaskan seutas rasa kekecewaan.
Sesampainya dirumah, tanpa banyak kata kaki langsung melangkah menaiki anak tangga dengan cepat, tanpa peduli tatapan orangtua yang melihat kearahku begitu aneh.
Aku begitu kekurangan oksigen, hingga untuk menghirup udara segar saja terasa begitu sesak. Senyumannya yang sumringah menerima lamaran tadi, kini begitu membayangi dan hantui diriku yang tergolek terlentang lemas didalam kamar.
"Aah, sial ... sial. Kenapa kamu tak bisa kudapatkan, Karin? Apakah Chris memang pria yang lebih baik dariku, hingga kamu tak ada sedikitpun membuka hati untuk diriku masuk. Kejam sungguh kejamnya dirimu, Karin. Aku begitu tulus mencintaimu juga, namun kenapa kau tak melirikku sama sekali" ucapan hati yang kesal.
__ADS_1
"Sayang, janganlah kau pergi, sebab aku tak bisa berbuat apa-apa lagi tanpa kau disisiku. Mungkin kau juga merasakan gelora cintaku ini kian mengebu, namun ternyata api telah kau nyalakan, hingga kini aku terus saja terbakar. Padahal aku bersedia melakukan apapun untukmu, tapi mengapa kau tak peka mengenai itu. Oh Karin, bagaimana aku bisa membuatmu jatuh cinta lagi padaku? Kini tak ada yang tersisa lagi diantara kita, tapi mengapa aku terus saja berharap kalau kamu jatuh hati padaku lagi. Oh, sungguh malang-malangnya kisah cintaku ini, saat tiada lagi wanita yang kucintai disisi ini," Kesedihan hati terus saja marancau tak terima.
Mengapa kuterus memimpikanmu
Mengapa aku menangis untukmu
Mengapa kuselalu tersakiti
Mengapa aku berharap padamu
Jelas-jelas kau tak memikirkan aku
Jelas-jelas kau tak menginginkan aku
Jelas-jelas Kau tak pernah menganggapku
ada.
Oh, mungkinkah ini yang terbaik untukku
Namun tak kuasa aku bila terus-terus begini
Aku tak sunggup, sungguh aku tak sanggup
By Band Sauqy
******
Mentari pagi telah menyapa dengan meninggikan sinarnya yang kian terang benderang, namun kemalasan untuk bangkit membuatku terus saja bergulung dalam selimut bersembunyi. Rasa pusing dikepala kian berdenyut tak tertahan lagi, namun semua itu masih bisa kutahan, sebab rasa sakit yang didalam hati begitu kuat mengalahkan semuanya terutama sakit kepala.
Tok ... tok ... tok, suara pintu kamar diketuk seseorang.
__ADS_1
"Masuk saja, tidak dikunci!" suruhku.
Ceklek, suara pintu dibuka perlahan.
"Kamu kok belum bangun juga dari pembaringan sih, Nak! Ada apa? Ini sudah siang lho, apa kamu tidak berangkat kerja?" tanya Mama.
"Tidak, Ma. Adrian malas untuk kerja dan hari ini mau bermalas-malasan seharian dikamar saja," jelasku.
"Tumben-tumbennya kamu begini, ada apaan nih? Kamu ngak lagi galau 'kan?" tebak ucap beliau.
"Dibilang galau, emm .. antara iya dan tidak," jawabku santai.
"Kok bisa begitu?" Keanehan Mama bertanya lagi.
"Iya nih, Ma. Adrian lagi galau ingin mengejar cinta Karin, namun harus terhalang oleh rasa sakit hati, saat Karin kemarin menerima lamaran orang lain. Heeh, langkah apa yang harus Adrian lakukan mengenai Karin ini, Ma? Mama tahu sendiri kalau Naya sangat membutuhkan kasih sayang kami, namun jika Karin sudah menjadi milik orang lain, maka pasti suatu hari nanti Naya akan semakin jauh dari Adrian. Inilah yang selama ini kutakutkan," keluhku lagi merasa sedih.
"Kamu tenangkan diri dulu, Adrian. Mama tahu atas rasa kekhawatiranmu itu. Sabar dan tetap teruslah berdoa, agar Allah memberikan petunjuk dan jalan bagaimana hubungan kalian nanti, sebab hanya pada Allah 'lah semua masalah yang kau hadapi akan menemukan jalannya. Memang tak mudah dalam menghadapi kesabaran, namun percayalah bahwa semua ini pasti akan berakhir. Jadi jangan putus-putusnya untuk terus berdoa," Ceramah Mama menasehati.
"Iya, Ma. Kamu benar, mungkin dengan cara berdoa adalah jalan terbaik bagi Adrian menjalani hidup kisah cinta yang rumit ini. Terima kasih, Ma. Adrian kini sangat sadar, dan hampir saja berbelok menyalahkan pada Sang pencipta hati, yang padahal bahwa kekuasaanNya begitu Agung bisa membolak-balikkan hati manusia," ucapku yang kini sudah merasa agak tenang.
"Iya, Nak. Kamu jangan terlalu larut dalam kesedihan ini, sebab semua cobaan pasti tepat sasaran pada hamba yang kuat menjalaninya, dan mungkin Allah tak salah memilih kamu. Teruslah bahagia agar Naya anak kamu bisa terurus dengan baik, oleh segudang kasih sayang yang engkau berikan. Walau Karin tak bisa kau dapatkan, namun ingatlah ada Naya yang harus kau cintai juga, yaitu sampai dia tumbuh dewasa menjadi anak baik dan sholehah nanti," imbuh pesan Mama.
"Iya, Ma. Terima kasih, atas semua nasehatnya."
"Sama-sama, Nak."
Kasih ibu sepanjang masa, tak akan pernah putus-putus untuk memberikan kasih sayang. Semua orangtua pasti tak ingin melihat anaknya terlalu sedih. Nasehat beliau yang bijak, kini telah membuka mata dan hati yang sempat terpuruk. Sungguh semua ucapan beliau benar adanya, agar aku tetap bangkit walau Karin tak bisa kumiliki, sebab ada Naya yang harus diperhatikan.
"Ayah akan tetap menyayangi kamu, nak. Walau bunda tak bisa bersama dan miliki, semoga hubungan kita tak putus akibat adanya orang ketiga yang masuk. Tunggu ayah, Naya. Pasti ayah akan datang membawa segudang kebahagiaan kepadamu, dan semoga saja tak ada halangan lagi," guman hati yang berjanji pada Naya.
__ADS_1