Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2=Istriku Yang Hilang>> Kaget Mau Bulan Madu


__ADS_3

Tak kupedulikan mas Adit lagi, yang kini sudah beranjak memasuki kamar mandi. Pintu terus diketuk dan harus segera membukanya.


Ceklek, pintu kubuka.


"Maaf lama. Ada apa ya, Ma?" tanyaku yang sudah menemui beliau.


"Gak ada apa-apa, Nak. Cuma nyuruh kalian segera turun untuk sarapan. Hidangan sudah siap semua, tinggal menunggu kalian," jelas beliau.


"Iya, kami akan segera turun."


"Ooh ya, mana Adit? Sudah bangunkah dia? Kok Mama tadi seperti dengar ribut-ribut, apa yang kalian lakukan didalam tadi?Terdengar seru banget," Kecurigaan Mama.


"Ooh itu, Ma. Biasa tadi nyuruh mas Adit bangun dan mandi, tapi dia malas sekali untuk melakukannya," jawabku malu dengan mengosok-gosok tengkuk leher.


"Ooh, ya sudah kalau begitu, kalian cepetlah turun, sebab papa sudah menunggu untuk makan," Peringatan beliau.


"Baiklah kami nanti secepatnya akan turun, tapi Ana nunggu mas Adit dulu selesai mandi."



"Iya, Ana."


Setelah mas Adit mandi, dan menyiaplan bebarapa pakaian kantornya, kini kami berdua segera turun. Dan ternyata mama sama papa mertua, sudah menyantap makanan tanpa menunggu kami lagi.


Hidangan mewah, tapi masih mengedepankan bahan sayuran. Mertua selalu menyiapkan empat sehat lima sempurna. Lauk tempe dan tahu tidak pernah ketinggalan. Kadang susupun juga ikut disajikan.


"Ayo Ana, sini ... sini!" panggil Mama untuk menyuruh segera duduk dimeja makan.


"Iya, Ma."


Mas Adit hanya mengikutiku dari belakang, tapi ketika mau duduk dengan cekatan dia membuka kursi untuk segera kududukki.


"Terima kasih, Mas."

__ADS_1


"Hmm, sama-sama, sayang."


Suami sudah ikutan duduk, yang berdekatan papanya. Aku juga didekatnya namun dibarisan kedua.



"Aliya mana, Ma?" tanyaku clingak-clinguk.


"Dia sedang sama suster dalam kamarnya. Kamu makanlah dulu, biar nanti bisa secepatnya menemui dia."


Mulai kububuhkan nasi, begitu pulak dipiring suami. Laukpun tak lupa kuambilkan. Sebagai istri tetap harus melayani dengan baik, walau dimeja makan sudah tersedia semuanya dan tinggal mengambil sendiri. Bapak selalu mengingatkan, sesibuk dan serepot apapun kita kalau suami minta makan harus segera dilayani, jangan dibiarkan mengambil sendiri karena lelahnya dia dalam bekerja, akan merasa senang jika ada sambutan baik dari diri istri.


"Iya, Ma."


Selalu menjadi ritual kami sebelum menyantap diharuskan berdoa dulu, sebagai rasa syukur sebab sampai sekarang diberi kesempatan menikmati hidangan yang ada dibumi.


"Ooh ya Ana, Adit! Mama ada hadiah untuk kalian," Mama mulai mengeluarkan amplop putih panjang.



Tangannya menerima, lalu menyobek memanjang amplop itu dibagian ujung.


"Ini hadiah untuk kalian berbulan madu berdua," terang Mama.


Uhuk ... uhuk ... uuhuk, suara batukku tersedak nasi, akibat terkejut atas hadiah yang diberikan mertua.


"Duh, hati-hati sayang."


Uhuk ... uhuuk, kutepuk-tepuk dada, dengan maksud menghilangkan rasa tersedak itu.


"Kamu gak pa-pa 'kan?" tanya Mas Adit dengan cepat menyodorkan air.


"Uhuk ... uhuk, aku gak pa-pa, Mas!" jawabku sambil menerima sodoran air, dan meminumnya sampai tandas habis.

__ADS_1


"Kamu beneran baik-baik saja, Ana?" tanya Papa mertua.


"Aku baik-baik saja, Pa! Cuma tersedak saja tadi akibat kaget," alasan yang bikin malu saja.


"Maafkan Mama ya, kamu jadi tersedak dan kaget."


Ada rasa penyesalan dari beliau. Kenapa batuk saja bikin semua orang khawatir? Kasih sayang yang berlebihan mulai ditunjukkan.


"Gak pa-pa, Ma! Ana saja yang lebay, mendengar gituan saja sampai kaget dam tersedak," ucapku tak enak hati.


"Syukurlah, kalau kamu gak pa-pa."


"Ooh ya, ini tiket honeymoon kalian ke Singapura. Semua Mama sudah atur termasuk kamar hotelnya."


Mertua yang antusias. Kok aneh, beliau terlihat gembira sekali.


"Tapi, Ma! Kayaknya kita tidak perlu honeymoon. Lagian Ana sudah lama menikah sama Mas Adit, dan Aliya harus Ana rawat dan jaga," ujarku mencari alasan untuk menolaknya.


"Gak pa-pa, Ana! Kalian sudah lama terpisah, dan tidak pernah refresing berduaan saja. Cuci matalah kalian. Sedangkan masalah Aliya serahkan saja pada mama, pasti akan kurawat dengan baik cucuku itu," Mertua yang tak mau menyerah.


Duh, alasan apa lagi biar hadiah itu tidak terlakukan.


"Benar Ana, carilah hiburan yang menenangkan jiwa dan pikiranmu. Kamu pasti tertekan sekali akibat kejadian-kejadian yang menimpamu kemarin-kemarin," papa mertua yang ikut berbicara.



Kakiku sudah berkali-kali menyenggol kaki mas Adit dibawah meja makan, yang tak diketahui mertua, yang mana aku berusaha meminta bantuan padanya untuk membatalkan rencana mertua, tapi pada kenyataannya usahaku sia-sia saja, sebab mas Adit hanya terseyum-senyum manis dengan mulut penuh makanan, seperti mendukung semua rencana orang tuanya.


Karena akupun kesal pada mas Adit yang tak membelaku, tanganpun terulur menuju perutnya untuk segera mencubit, tapi lagi-lagi hanya kesia-siaan belaka, sebab mas Adit hanya melototkan mata secara sayang ke arahku, tanpa ada bantuan sama sekali darinya.


"Benar-benar suami yang tak mendukung istrinya, mau enaknya saja." Kekesalanku dalam hati merasa marah.


"Awas saja nanti. Bakalan remuk semua tulangmu, lihat saja bakalan apa yang kulakukan. Dasar tidak mau menolak."

__ADS_1


__ADS_2