
Mata si janda Nola begitu tajam menatapku, seperti ingin mengajak permusuhan. Tapi semuanya kutepis agar tak berburuk sangka, sebab tak ingin menciptakan permasalahan padanya, dan kemungkin dia hanya tak sengaja menyengol bahuku.
"Hei sayang, ke sini! Ngapain bengong disitu," panggil Mas Adit.
"Oh iya, Mas! Sebentar," jawabku.
"Tumben siang ke sini? Ada apa? Ada hal pentingkah?" tanyanya.
"Enggak, cuma ngantar makanan saja, sebab aku tahu betul kalau Mas Adit belum makan," jelasku.
"Kamu memang istri the best, selalu memperhatikan keadaan suami walau sekecil apapun itu," pujinya.
Pandai juga memuji apalagi mengambil hati.
"Ya iyalah harus diperhatikan, sebab ini semua demi kesehatan kamu juga, seandainya sakit 'kan Ana juga yang akan kerepotan, apalagi ada Aliya juga yang harus diperhatikan," penjelasanku.
"Heeem ... hmm."
Sudah duduk didekat suami, yang sedang santai selonjoran kaki disofa.
"Ooh ya Mas, kok bisa kak Nola itu ada disini juga? seakan-akan ngikutin kita melulu," kecurigaanku bertanya.
Penutup makanan langsung dibuka. Seperti tidak sabar ingin melahap semua makanan.
"Siapa yang ngikut?" tanyanya dengan mulut penuh makanan.
"Ya ampun, ngak dengar apa yang kukatakan tadi?" Kekesalan atas tanyanya
"Itu si Nola kakak kelas Mas Adit, kenapa dia bisa bareng berada disini juga? Macam tahu saja kalau kita sudah kembali ke Indonesia, seperti seorang mata-mata saja ngikuti kita terus," tuturku yang masih ada rasa curiga.
Langsung to the poin curiga, sebab sudah merasa aneh pada Nola yang sepertinya ada unsur kesengajaan.
"Kamu jangan su'udzon dulu, sayang. Dia ke sini memang Mas yang menghubungi, untuk diajak bekerja sama dalam bisnis. Masalah ngikuti kita, itu ngak ada sama sekali. Dia kemarin sudah pulang duluan daripada kita," jelasnya.
Ternyata salah sangka. Sudah meleset jauh atas semua rasa yang sempat curiga.
__ADS_1
"Kamu itu kenapa sih kok curigaan amat sama dia? Padahal dia itu perempuan baik-baik lho, dan ngak pernah buat masalah dengan kamu," ucap Mas Adit memuji si janda bahenol.
"Ya ... ya, akulah disini yang salah telah mencurigainya, dan dia itu selalu benar dan bagus dimata kamu," jawabku kesal dengan wajah sudah terpasang cemberut.
Pembelaannya seketika membuat mood jadi ambyar. Tidak terima hanya akulah yang terpojok disalahkan.
"Makanan sudah kuantar, dan mata sudah melihat kamu makan, jadi sekarang aku mau pulang ke rumah, sebab banyak hal yang ingin kukerjakan," imbuhku berkata, yang langsung berdiri dari sofa, untuk melenggang pergi.
Saat tangan sedang memegang kenop pintu, tangan mas Adit sudah diatas memegang tanganku, yang diiringi menatap wajahku secara tajam dan aneh.
"Kamu main pergi saja, ngak tanya dulu apa aku mengizinkan kamu," ujarnya tak senang.
"Ya terus harus gimana? Nunggu Mas Adit sampai selesai kerja gitu!" jawab ketusku.
"Gak juga gitu, Ana. Maksudku tunggu Mas makan sampai selesai dulu, gitu. 'Kan ngak enak makan sendirian," jelasnya.
"Itu 'kan urusan Mas, dan akupun lagi ada urusan lain," sewotku yang tak mau kalah.
"Kamu kenapa sih! Kayak marah dan ngak suka sekali sama kak Nola?" balik responnya yang curiga.
"Heeeeh, gak ada apa-apa, Mas. Mungkin perasaan kamu saja, yang melihatku seperti tak suka. Sudah ah, aku mau pulang! Capek rasanya menanggapi omongan Mas itu," Kekesalanku yang berpaling atas tuduhan suami.
"Lepas sebentar, Mas. Aku ngak bisa bernafas nih!"
"Duh, sorry sayang."
"Uuhh ... begitu kuatnya kamu memeluk," alasanku berkata.
"Hahahha, maaf sayang. Habisnya kamu juga sih! Kelihatan marah, dan Mas tidak suka saja kalau kamu marah. 'Kan ngak enak benget itu," responnya.
"Iya ... iya, aku akui kalau aku memang sedikit kesal dan marah. Bukannya kamu membela istri sendiri, tapi malahan membela kakak kelas kamu itu," pengakuanku.
"Tapi aku mencium kemarahan kamu itu pada Mas, bukannya membela kak Nola deh! Tapi lebih mengarah kepada kecemburuan," Kecurigaannya yang membuatku sedikit risih.
"Apa? Cemburu? Hahaa, sama si janda itu? Gak salah mas berbicara? Kalau dilihat bagusan aku tahu, dari pada dia yang selalu sexy dengan gincunya yang merah merekah itu, bukannya cantik tapi kelihatan kayak monster, sudah keriput pulak, memang ngak malu apa?" hinaku.
__ADS_1
"Wah pedes amat, kalau masalah ngatain orang, benar-benar mar kotop dah kamu itu!" respon mas Adit memberikan dua acungan jempol kearahku.
"Ciih, hhhh."
Setelah panjang lebar percakapan kami, dengan terpaksa aku menunggu Mas Adit makan sampai selesai. Kerjaanku sekarang hanya duduk dimeja kebesarannya, dengan berkali-kali membolik-balikkan map-map yang berisikan kertas-kertas yang tak kumengerti maksudnya, dan pada akhirnya tanganku terhenti membalik, sebab sudah membaca sebuah kertas dengan isi perjanjian kerjasama dengan perusahaan Si janda bahenol, yaitu supply atas kain-kain yang akan dijahit diperusahaan mas Adit sebagai pakaian jadi.
"Mas sudah selesai makan, sekarang kamu boleh pulang, kasihan Aliya dirumah." ucapnya yang membuatku tersentak kaget.
Dan seketika itu langsung menutup map, biar tak ketahuan bahwa aku sudah membaca apa yang menjadi penjanjian diantara mereka, sebab diri ini ada sesuatu perasaan yang tak enak dan janggal atas kerjasama mereka.
"Oh iya, Mas. Aku akan pulang sekarang!" jawabku yang secepatnya berdiri dari kursinya.
"Kamu hati-hati saja dijalan, salamkan pada anak kita bahwa ayahnya merindukan dia," pesan mas Adit.
"Baik Mas, akan kusampaikan pesan kamu itu," jawabku yang sudah melangkah, untuk mengambil wadah makanan bekas suami makan.
"Baiklah aku pulang dulu," pamitku.
"Eeeiiit, tunggu! Selalu main pergi saja, dan terburu-buru amat sih!" cegahnya.
"Ada apaan lagi sih, Maaas!."
"Ini ... ini ... nih, ada yang kamu lupakan," tunjuknya kearah pipi untuk dicium.
"Astaga, siang-siang begini minta hal-hal yang romantis-romantis saja."
"Ya ... iyalah, harus itu! Biar nambah semangat kerja tahu."
"Iya ... ya, sini! Cuuup ... cup," Kelakuanku yang sudah mencium pipinya dikiri dan kanan.
"Sudah, yah! Aku boleh pergi sekarang 'kan?" tanyaku lagi, sebab takutnya mas Adit akan menghalangi lagi.
"Oke! Hati-hati dijalan, aku tidak bisa mengantar kamu sampai ke depan, sebab ada kerjaan yang lagi numpuk," alasannya.
"Iya aku paham, Mas, sudah aku pergi dulu. Assalamualiakum," pamitku yang langsung mencium tangan punggungnya.
"Walaikumsalam."
__ADS_1
Otak sedang bekerja, untuk berpikir yang tak karuan lagi. Seandainya kerjasama itu benar-benar terjadi, pasti si janda bahenol itu akan leluasa bebas bisa menggoda mas Adit, dan aku sebagai istrinya yang setia tak akan membiarkan semua itu terjadi. Mata terus saja kosong, sebab pikiran sudah carut marut memikirkan hal yang akan menjadi tantanganku lagi.