
Sesibuk apapun pekerjaan tetap saja tiap hari menyambangi anak. Walau kadang lelah untuk bolak balik kerumah orangtua kak Adrian, tetap saja memenuhi kewajibanku sebagai Ibu. Kadang telalu lelah sama tubuh, jadi terpaksa menginap dirumah itu tapi tidak tiap hari, sebab tak enak saja berada didekat mereka terus. Rasa bersalah terus saja membayangi, karena hanya ingin menyelamatkan nyawaku mereka harus kehilangan anak semata wayangnya.
"Karin, mau berangkat dulu, Ma!" pamit ingin pergi.
"Iya, Nak. Hati-hati," jawab Mama kak Adrian sudah melempar senyumannya yang ramah.
"Iya, Ma. Karin titip Naya."
"Tentu saja. Mama akan dengan senang hati menjaganya. Kamu tidak usah khawatir, dia akan aman disini."
"Terima kasih. Karin, jadi tidak enak selalu merepotkan Mama."
"Tidak apa-apa, Karin. Darah Adrian berada dalam tubuh Naya, jadi mama sudah menganggap dia sebagai bagian hidup Mama, karena sempat merasa kehilangan dia," Suara serak beliau.
"Iya, Ma. Maafkan Karin yang sudah membuat kekacauan ini," ucapan sudah tak enak hati, sambil menundukkan kepala.
"Sudah ... sudah. Yang lalu biarlah berlalu. Tidak perlu kita menengok kebelakang lagi, cukup tataplah masa depan yang kini harus terjalani. Kamu tidak perlu memikirkan masa lalu itu, bisa-bisa kamu akan terpenjara terus oleh rasa bersalah itu. Mama tidak ingin kamu terus saja melemah untuk menghadapi masa depan kelak," nasehat panjang lebar beliau.
"Makasih. Mama masih berbaik hati sama, Karin."
"Iya, Nak. Sama-sama."
"Ya sudah, kalau begitu Karin akan berangkat sekarang." Sikap yang terpaku merasa bersalah, kini mulai mengambil tangan beliau untuk segera kucium takzim.
"Iya, Karin. Hati-hati dijalan nanti."
"Emm. Bye ... bye."
Lambai tangan telah hadir. Motor matic segera kunyalakan mesinnya. Tak lupa helm sebagai pelindung kepala harus terpasang rapat. Jarak tempat kerja lumayan jauh, kalau dihitung hampir setengah jam.
Jalanan mudah dilalui sebab masuk ke gang-gang kecil, jadi tidak takut akan terjebak macet. Walau tak ramai kendaraan berlalu lalang, tapi cukuplah ramai juga walau beberapa hijian mesin-mesin motor dan mobil berjalan.
__ADS_1
Tubuh sudah tertutup oleh jaket. Hawa dingin yang menebus kulit dipagi hari cukup membuat badan mengigil juga, maka dari itu harus terlindungi biar nanti tidak kena masuk angin.
Banyak hamparan sawah yang sedang ditamani padi. Sekarang nampak menghijau disepanjang perjalanan. Batang padi masih berdiri kokoh dan masih subur, tanda masih lama sekali untuk para petani panen serentak.
Perlahan-lahan motor mulai mengurangi kecepatannya, saat melewati sebuah sekolah taman kanak-kanak. Satpam sudah memberhentikan beberapa kendaraan yang akan lewat, karena banyak orangtua dan anaknya sedang sibuk ingin menyeberang jalanan. Hanya butuh beberapa detik motor kena stop dan sekarang mulai normal untuk berjalan lagi.
Kecepatan sudah kutambah, agar secepatnya sampai lagi ke tempat kerja. Sinar matahari yang mulai menyengat terkena mata, tanda bahwa hari kian siang saja. Walau aku bos kedua tapi sebagai contoh tidak boleh terlambat, bisa-bisa anak buah akan ikutan jejak bosnya juga nanti.
Cukup pegal juga telapak tangan mengegas motor, sehingga sedikit kukibas-kibaskan agar rasa nyerinya sedikit mereda. Akhirnya tujuan utama sudah tercapai juga. Helm segera kulepas dan menaruhnya dikaca spion. Baju dan rambut memanjang yang sedikit berantakan, segera kubenahi agar terlihat rapi.
Langkah melebar dan sedikit agak berlarian, agar segera membawaku masuk kedalam toko kue.
Sheet, langkah tiba-tiba berhenti mendadak, ketika telinga telah mendegar sebuah tangisan suara anak kecil.
Tapak kaki yang awalnya lurus, sekarang ingin berbelok mencari sumber suara itu. Nampak dari kejauhan anak kecil sedang mengucek mata, duduk tenang namun bersuarakan tangisan meringik pelan-pelan. Karena khawatir segera menghampiri bocah itu.
"Kamu kenapa, Dek?" tanya khawatir.
"Kamu kenapa, sayang? Kok nangis? Mana orantua kamu?" Mendekati sambil mengelus rambutnya yang memanjang berkucir kuda kiri kanan.
Wajahpun telah clingak-clinguk melihat kanan kiri, untuk memastikan apakah ada orang dewasa yang sedang menemani bocah ini, namun sayangnya nihil tak ada siapapun. Seragam khas taman kanak-kanak masih rapi melekat dibadannya. Yang jadi aneh, kenapa dia sendirian menangis tanpa ada orang dewasa yang mendampingi.
"Jangan takut sama, Tente. Sini!" Sikap langsung saja ingin mengambil tubuhnya untuk segera kuangkat, dengan meraupkan tangan dibawah ketiak.
Segera duduk diatas teras toko kue, posisi berada disamping. Bocah yang belum juga menghentikan tangisannya kini sudah kupangku.
"Ayo jawab pertanyaan Tante tadi. Kamu jangan nangis lagi ya, Sayang!" tangan sibuk mengelus rambutnya dan menghapus lelehan airmata yang sudah banjir membasahi pipi.
Wajahnya sangat manis dan imut. Tangisan sedikit mereda, namun terus saja sesegukan menyisakan jejak lelehan airmata.
"Coba cerita sama, Tante. Kamu kenapa menangis sendirian disini?" bujukku dengan perkataan selembut-lembutnya.
__ADS_1
"Rara tadi mau berangkat ke sekolah, tapi pak sopir berhenti ingin membeli sesuatu di supermarket dulu. Tidak sengaja ada orang jualan es krim yang lewat, dan Rara kepengen makan itu, jadi tanpa sepengetahuan pak sopir Rara turun ingin mengejar orang yang jualan itu. Setelah berlari jauh dan dapat es krimnya, Rara lupa jalan yang dilalui tadi. Huaaaah!" Tangisan kian kencang bocah bernama Rara.
"Sudah ... sudah, jangan bersedih lagi. Tante akan membantu kamu, ok!" cakap berusaha menenangkannya.
"Tapi Tante, Rara tidak tahu jalan pulang."
"Iya, sayang. Rara tenang dulu, nanti Tante akan cari jalan keluarnya."
"Benarkah itu, Tante?."
"Iya, sayang. Emm, kalau boleh tahu kamu hafal tidak alamat rumah?" tanya pada Rara.
Mengeleng-geleng kuat kini dilakukan Rara.
"Waduh, gimana ini? Emm, bagaimana aku mau menolongnya, sementara alamat saja tidak punya?" guman hati yang jadi gelisah juga.
"Kalau nomor telephone orangtua Rara, apakah ada atau mengingatnya?" imbuh perkataan.
Lagi-lagi dia hanya bisa mengeleng kepala kuat. Kepala yang tak gatal kugaruk pelan, sebab tidak tahu juga memulai dari mana akan menolong bocah ini.
"Ya sudah. Sekarang Rara ikut Tante saja kedalam toko kue ini. Nanti akan membantu Rara mempertemukan pak sopir maupun orangtua kamu, gimana? Apa Rara mau!" tawar agar dia lebih tenang.
Kali ini kepala hanya mengangguk pelan, tanda dia telah setuju atas usulan barusan.
"Ok, baiklah kalau begitu. Rara akan ikut Tante sekarang, biar aman!" Senyuman manis tercurah untuknya, sambil menghapus air yang masih tersisa mengalir jatuh dipipi.
"Terima kasih, Tante."
"Iya, sayang."
Tubuhnya yang sedikit berat langsung kuangkat, agar memudahkanku berdiri tegak. Tangan mungilnya sudah kugandeng. Wajahnya yang sempat sedih, kini nampak bahagia sambil kaki telah berlompatan kecil.
__ADS_1
Pikiran mulai melayang-layang, mencari jalan bagaimana bisa membantu Rara. Sebuah tantangan kecil tidak ada alamat yang bisa dihubungi, agar secepatnya bisa membawa Rara pulang.