Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2= Istriku Yang Hilang >> Kecerobohan bekerja dan detik-detik bertemu suami


__ADS_3

Begitu beruntungnya diriku sekarang, dengan hanya berbekal izasah SMA, dapat diterima sebagai pegawai diperusahaan besar dibidang fashion, yang notabennya hanya orang yang banyak uang bisa membelinya walau hanya sepotong pakaian saja.


Namaku Adriana Carmila biasa dipanggil Ana saja, tapi ditempat kerjaku sekarang memperkenalkan diri sebagai Mila, karena tidak ingin orang tahu identitasku yang sebenarnya. Aku tetap bersyukur dengan pekerjaan ini, walau hanya sebagai pegawai kebersihan saja.



Atasanku namanya bu Nur, orangnya judes dan super cerewet. Walau begitu, tetap harus menjalani pekerjaan itu untuk menyambung hidup.


Para pegawai perempuan disini kelihatan tak suka padaku, dapat terlihat dari cara mereka memandangku seperti orang iri saja. Tapi justru sebaliknya dengan para pegawai laki-laki disini mereka semuanya baik, mungkin dikarenakan oleh wajahku yang memang boleh dikatakan cantik.


Hari ini banyak sekali tugasku, yaitu membersihkan seluruh ruangan dari lantai dua puluh lima sampai tiga puluh.


"Huuuf," Desahku kelelahan mengeluarkan nafas dalam-dalam.


Pekerjaan yang banyak membuatku cukup lelah dan menguras tenaga. Sesekali kepala kugoyangkan ke kiri dan kanan, saat terasa sekali begitu kaku akibat mengepel lantai yang sembari tadi terus menunduk.



Baju sudah kukibas-kibaskan, tanda panas sudah datang akibat pekerjaan. Terasa sekali baju sudah basah oleh peluh keringat sendiri, dan tak lupa sapu tangan berkali-kali kuusap ke wajah, sebab sudah banyak sekali bulir-bulir keringat mulai berjatuhan.


"Mila?" panggil seseorang temanku, yang sama-sama sebagai pegawai kebersihan bernama Edo.


"Eeh, iya. Ada apa, Edo?"


"Belum kelar pekerjaannya?" tanyanya dengan wajah melihat jam tangan.


"Belum nih."


"Waktunya makan siang lho ini!" imbuh Edo berucap.



Mata Edo melihat ke kanan kiri, memeriksa pekerjaanku yang sedang membersihkan sudah selesai atau belum.


"Kamu duluan saja!" perintahku pada Edo.


"Tapi--!."


"Tanggung nich! Sebentar lagi akan selesai kok. Lagian aku tadi membawa bekal makanan, jadi tidak akan bisa makan bersama dikantin," jawabku pada Edo.


"Oh ya sudah kalau begitu. Kamu harus hati-hati dengan barang-barang mahal semua ini, oke! Jangan terlalu kecapek'an," Peringatan Edo dengan telunjuk mengarah ke guci.


"Siip," Tanda aku mengetahuinya.


Edo khawatir jadi memberi tahu. Ruangan yang kubersihkan sekarang adalah ruangan yang berharga, yaitu ruangan penyimpanan barang berharga koleksi bos besar, seperti barang-barang antik berupa beberapa guci dan lukisan.


Setelah kepergian Edo. Aku begitu terpesona dengan salah satu guci, dengan ukiran dan lukisan pemandangan hutan dan hewan.


Langsung saja mendekati. Guci itu berusaha kuelap dengan hati-hati, dengan mulut tak lepas untuk terus meniup-niupnya, supaya debu yang menempel segera hilang.


"Bagus sekali guci ini. Pasti sangat mahal sekali," guman hati yang kagum.


Praanggk, sebuah guci jatuh.


Aku begitu terkejut. Baru selangkah berjalan, tanpa sengaja tangan menyenggolnya sehingga gucipun terjatuh pecah. Sudah berserakan dilantai dengan pecahan kecil-kecil menjadi berkeping-keping.


"Mati aku ... mati ... mati!" Ketakutanku dalam perasaan sudah panik.


Dengan tergesa-gesa langsung mengakhiri pekerjaaan membersihkan, dan segera membereskan semua alat pekerjaan. Kini sudah berlalu pergi untuk keruangan bu Nur kepala kebersihan, untuk melaporkan kejadian yang barusan kulakukan.

__ADS_1


Dalam keadaan cemas, diri ini sudah mondar- mandir didepan pintu ruangan atasanku.


Tok ... tok, pintu kuketuk pelan-pelan.


"Permisi ... bu Nur, bolehkah aku masuk? Ada yang ingin kubicarakan sekarang!" ucapku meminta izin pada atasan.


"Masuk saja!" perintah bu Nur dari dalam ruangannya.


"Permisi. Maaf menganggu, bu."


"Silahkan masuk saja."


"Baik, Bu."


"Ada apa Mila, Pegawai baru?" tanya beliau dengan tatapan penuh tanda tanya, apa yang akan disampaikan pegawainya ini.


"Anu ... anu ... iii ... itu, Bu!" jawabku terbata-bata. Mulut terasa kelu akibat diirigi ketakutan.


"Bicara yang benar."


"Itu ... itu, Bu. Emm, aku telah memecahkan guci bergambar hutan dan hewan yang ada dilantai dua puluh tiga!" Tertunduknya kepala ini sambil berucap, yang sudah tak berani menatap wajah atasanku yang terkenal garang.


"Apa?" Beliau kaget melengkingkan suara.


"Kamu bilang apa? Memecahkan guci milik bos besar?" kekagetan beliau dengan mata mendelik, mungkin masih tidak percaya yang kukatakan barusan.


"Iiii--iiiya, Bu. Maaf."


"Haduh ... duh, habislah kita! Bisa-bisa aku akan kena potong gaji, dan kamu ... kamu--?" Jari Bu Nur menunjuk-nunjuk kearahku.


"Maaf!" Dengan lesunya kepala tertunduk.


Muka beliau sudah merah padam, akibat kemarahan yang disebabkan oleh ulahku. Bu Nur tak henti-hentinya mondar-mandir ke kanan dan kiri, tanda ada kegelisahan yang telah menghampirinya juga.


"Nanti kamu bisa dipecat secara tak hormat oleh bos, tanpa ada pesangon dan gaji!" penjelasan Bu Nur.


"Apa, Bu?"


"Iya, pecat. Sebab terlalu ceroboh."


"Jangan pecat aku dong, Bu! Aku baru saja seminggu kerja disini, masak harus secepat itu dipecat!" ujarku memohon pada atasan dengan kedua tangan bertangkup didepan dada.


"Semua itu bukan keputusanku. Semua adalah keputusan atasan, dan hanya bos besarlah yang bisa mengambil keputusan itu nantinya!" Ketegasan bu Nur berucap.


"Yah, kok gitu." Dengan lemas menjawab.


"Lagian kamu tahu harga guci itu berapa, hah? Mungkin saja gaji kamu berkerja selama 2 tahun disini, tidak akan cukup untuk membayarnya," Kata-kata beliau membuatku sudah terperangah tak percaya.


"Apa, Bu?" Kekagetanku tak percaya.


Beliau hanya mengangkat kedua tangan ke atas, tanda tidak tahu lagi akan nasibku ke depan, apakah akan bertahan atau ketendang dari sini.


"Sekarang kamu keluar 'lah. Pusing lihat wajah kamu. Nanti akan kuurus dan segera kabari," Tangan beliau sudah mengibas-ngibas menyuruh keluar.


"Baik, Bu. Maaf lagi."


>>>>>


Setelah penjelasan diruang bu Nur kini membuatku sedikit frustasi, badan sudah terasa lemah tak semangat lagi untuk sekedar bekerja.

__ADS_1


Aku secepatnya naik ke balkon atap perusahaan ini, yang tanpa pikir panjang langsung kutendang kaki meja akibat kesal yang sudah mendera.


"Aaw ... aaa ... aww," Suaraku kesakitan, yang langsung memegang kaki dan duduk dikursi, seraya memijitnya perlahan-lahan ketika masih terbungkus rapi oleh sepatu.


"Sssst, sakitnya. Aduh ... duh, kenapa tidak berpihak sih kau kursi," Kekesalan berbicara pada diri sendiri.


Setelah kaki agak mendingan, tingkahku yang konyol berlanjut dengan naik diatas meja, akibat pikiran sudah cemas dan takut akan jadi kenyataan dipecat dari pekerjaan.


"Aa ... aaaa," teriakku sekencang-kencangnya.


Mencoba melepaskan beban pikiran, sebab hanya gara-gara sebuah guci kini terancam hilang pekerjaan.


"Bodoh ... bodoh sekali kamu, Mila!" Tangan mengacak-acak rambut, akibat menyesali pekerjaan baru seminggu sudah akan dipecat.


"Akkkhh, kamu memang bodoh, Mila!" runtukku berteriak lagi.


Kerucuk ... krucuk, suara bunyi perut menandakan sudah lapar.


"Aah, perut ini benar-benar tidak bisa diajak kompromi!" Tanganku mengelus-elus perut akibat lapar sudah datang.


Tanpa pikir panjang, langsung melahap bekal yang kubawa, diiringi dengan minuman kaleng yang segera kuminum sampai habis, lalu kubuang dilantai dan menginjaknya sampai setipis-tipisnya, akibat kekesalan yang masih tersisa dalam diri ini.


<<<<<<


Akhirnya masalah yang sempat membebani pikiran, ternyata setelah perut terisi dan berteriak puas dibalkon atap tadi membuat sedikit agak tenang. Tapi pikiran masih saja tetap kacau tentang nasib pekerjaanku nantinya.


Saat melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda, kini akan mulai bersiap-siap melanjutkan kerjaan dengan membawa peralatan kebersihan yang tersimpan rapi digudang lantai dasar.


Tangan membawa troli dengan langkah begitu malasnya. Tiba-tiba dapat kulihat dari kejauhan seseorang yang memakai jas hitam, berjalan didepan sekali yang diikuti dari belakang pegawai laki-laki dan perempuan. Dari tebakan sepertinya yang didepan adalah bos besar.


Semakin lama semakin dekat, para rombongan mendekatiku yang sedang membawa troli. Samar-samar dari kejauhan dapat melihat orang yang berjalan didepan sendiri.


"Astagfirullah, mas Adit? Betulkah itu mas Adit?" gumanku dalam hati tak percaya, bahwa seseorang yang berjalan didepan sendirian adalah suami yang telah kutinggalkan.


"Astaga, apakah beneran dia. Haduh ... duh. Aah, mungkin ini hanya salah lihat saja, semoga."


Ketika berpapasan, mata kami sempat saling mengkunci yaitu sama-sama menatap.


"Oh ... tidak ... tidak, itu beneran Mas Adit." seketika aku langsung menundukkan pandangan terhadapnya.


"Tunggu!" panggilan Mas Adit padaku.



Diri ini tak memperdulikan panggilan itu, dan terus saja berjalan maju untuk mencoba menghindarinya.


"Tunggu, hei kamu ... tunggu!" panggilnya lagi.


"Ya Allah, jangan sampai Mas Adit mengetahui diriku adalah Ana," guman dalam hati, sudah ada rasa cemas dan takut yang menyelimuti.


Beberapa pertanyaan sudah keluar dari mulut Mas Adit. Dia begitu menatapku dari inci demi inci, mungkin untuk mencari kebenaran, bahwa yang diajak bicaranya sekarang adalah diriku Ana. Untung saja tadi memakai masker, sehingga Mas Adit masih tidak mengenaliku.


"Selamat ... selamat. Mas Adit tidak mengenaliku." Rasa syukur yang secepat kilat menjauhinya.


<<<<<<<


Setelah beberapa menit kejadian dilantai dasar, saat tangan sedang mengepel kini pikiran sudah tidak fokus, akibat nasib pekerjaan dan sekarang ditambah pertemuan dengan mas Adit suamiku sendiri, yang ternyata adalah bos besar ditempatku bekerja sekarang.


"Ah, kenapa harus mas Adit sendiri yang jadi bosku," ucapku dalam hati merasa kesal.

__ADS_1


Sapu pel sudah kukorbankan dengan mengetuk-ngetuknya dilantai, tanda bahwa diri ini begitu membenci sekali pertemuan tadi.


__ADS_2