
Rasa hati yang sedih atas penuturan mas Adit, benar-benar membuat tetesan yang tersimpan disudut pelupuk mata, telah menyeruak mengalir begitu saja, dan aku tak tahu lagi penyebabnya, apakah kasihan pada si Putri itu atau tak percaya saat nama Adit yang dipanggil Putri kemarin, kalau seandainya ternyata benar bahwa dia adalah Suamiku.
"Kamu kenapa, sayang!" tanya Mas Adit menghampiriku, dengan sejuta embun terus mengalir.
"Aku gak kenapa-napa, Mas!" ucapku memungkiri.
"Kamu pasti bohong, Ana! Gak mungkin kalau kamu baik-baik saja, sampai mengeluarkan airmata begini."
Elusan tangan besarnya mengusap airmataku. Tubuhnya lebih didekatkan sambil memeluk.
"Jujurlah, aku janji takkan marah padamu. Janganlah engkau buat khawatir lagi padaku," jelasnya.
"Baiklah, tapi janji Mas ngak akan marah," pintaku.
"Janji."
"Huffffff!" Hembusan nafas berat ingin bercerita.
"Berat bangetkah?"
"Tidak tahu. Semoga saja pikiranku meleset saja."
"Ok, ceritalah."
__ADS_1
"Aku tadi tidak sengaja ketemu kak Nola dijalan, yang sedang dihajar oleh suaminya, dan saat diri ini merasa kasihan, langsung saja kuhampiri dia. Setelah kejadian pemukulan, kami mencoba mengikuti kemana suaminya pergi, sebab katanya ada bau-bau sebuah perselingkuhan," terangku serasa berat akan melanjutkan lagi.
"Terus kenapa? Apa yang terjadi dengan kalian dan Bowo selanjutnya?" Kekepoan mas Adit bertanya.
"Hhhhhhh," Hembusan nafasku secara panjang.
"Ternyata suami kak Nola tidak sedang menemui selingkuhan, tapi ... tapi menemui adiknya," cakapku pelan penuh kelesuan.
"Apa maksud kamu? Bukankah Putri sedang diluar negeri?" respon Mas Adit terkejut kecil diiringi tak percaya.
"Enggak, Mas. Putri ternyata sedang ada di Indonesia, dan dia sekarang sedang sakit! Awalnya aku juga tidak percaya ini," jelasku menundukkan kepala sambil menangis.
"Lha ... terus kenapa kalau dia sedang di Indonesia, bukankah itu bagus. Tapi kenapa kamu kelihatan sedih dan menangis begini, disaat menceritakan Putri?" respon Mas Adit yang binggung.
"Karena Putri sedang sakif, Mas!" tangisanku yang kian pecah.
"Sudah ... sudah, kamu ngak usah menangis lagi. Tidak baik jika kamu bersedih begini, sebab Mas nanti akan ikut-ikutan bersedih juga," cakapnya yang sudah memeluk mencoba menenangkanku.
Lama sekali airmataku tumpah dalam pelukan Mas Adit, dan dia hanya bisa mengelus-elus pelan belakang punggungku. Setelah dirasa aku puas menumpahkan segala tetesan airmata, Mas Adit langsung melepaskan pelukan, sambil mengusap-usap kembali tetesan embun yang tersisa dipipi.
"Memang Putri sedang sakit apa?" tanyanya penasaran.
__ADS_1
"Dia tak sakit yang membahayakan, tapi sekarang dia telah dirawat di RSJ," jawabku memancarkan kesedihan lagi.
"Apa?" Kekagetan mas Adit.
"Itulah yang berat ingin kukatakan."
"Benarkah apa yang kamu katakan?" tanyanya.
"Iya, Mas."
"Hehhh, aku benar-benar tidak percaya atas penuturan kamu, sebab selama ini kupikir Putri sudah bahagia dinegeri orang, tapi dari keterangan kamu itu pasti benar juga, sebab kamu orangnya selalu jujur, selain itu juga Bowo sudah lama sekali tak membicarakan maupun menampakkan adiknya itu," ungkapan Kekagetan mas Adit.
"Bener Mas, aku sama kak Nola saja sempat tidak percaya. Dan lebih parah lagi, dia sering kali menyebut nama orang, yang sama persis dengan nama kamu, Mas!" jelasku.
"Apa?" responnya kaget lagi.
"Iya, Mas. Putri hanya menyebut nama Adit terus, dan aku tak tahu apakah yang di maksud Putri itu adalah kamu atau bukan. Dari keterangan Mas tadi, yang diwaktu dulu kamu telah akrab dengannya, itu sangat menyedihkank sebab takut saja kalau penyebab Putri sakit itu adalah dirimu," uraiku sedih lagi.
"Kamu ngak usah cemaskan itu, sebab kemungkinan namanya saja yang sama persis denganku. Lagian aku tixak pernah mencelakai maupun berbuat aneh-aneh pada Putri, mungkin dia sakit begitu oleh sebab-sebab hal lain," terang mas Adit yang membuatku lega.
"Syukurlah kalau ternyata bukan kamu, Mas! Aku begitu khawatir sekali kalau itu benar-benar kamu. Seandainya mas Adit yang melakukan, pasti kamu juga yang harus bertanggung jawab untuk membantu menyembuhkannya. Sebab itulah aku khawatir sekali, jika suatu saat nanti waktu kamu akan tersita untuknya bukan untukku," ungkapku.
"Kamu terlalu berlebihan berpikir, sayang. Kamu jangan takut atas rasa cintaku padamu, walau pikiran dan tubuhku sedang bersama orang lain, tapi hati yang terdalam ini hanya ada namamu saja yang terukir. Kamu jangan khawatir atas rasa yang jika suatu saat nanti akan hilang, pasti Allah akan selalu mengembalikan cinta Mas kepadamu, seperti contohnya kemarin saat Mas kehilangan ingatan. Kamu percaya 'kan akan kuasa Allah, bahwa cinta yang hakiki selamanya takkan bisa tergantikan oleh siapapun. Sekarang ini pinta Mas hanya satu, kamu itu jangan terlalu kepikiran yang aneh-aneh lagi, mengerti!" jelas Mas Adit memberitahu.
"Iya Mas, terima kasih. Kamu memang lelaki yang selalu mengertikan diriku," balik jawabku.
__ADS_1
"Iya sayang, sama-sama."
Kamipun saling berpelukan, melepaskan semua kegundahan dan kekhawatiran dihati.