
Pesawat sudah melesat menuju kota kelahiran. Kerinduan yang hadir tak bisa terbendung lagi, bagaikan air bah ingin tertumpahkan semua jika ketemu dengan pujaan hati.
"Semoga pertemuan kita bisa menahan gejolak rasa akan hati, biar aku tidak tersiksa lagi akan cinta yang tak bisa kau genggam!" guman hati yang mulai gelisah saat menaiki pesawat.
Hawa Ac yang menyala membuat jaket tebal bisa tembus. Netra hanya bisa menatap awan putih, yang nampak dari kaca ukuran mini milik badan pesawat. Kepala berusaha kusandarkan dibadan kursi, dengan tangan terus mendekap badan sendiri yang mulai mengigil. Nampak semua para penumpang memejamkan mata, yang beda sekali dengan diriku yang tidak ada rasa ngantuk sama sekali, sebab pikiran terus melayang-layang membayangkan pertemuan dengan Karin nantinya.
Mungkin akan jadi kado buat Karin ataukah petaka bagiku? Setelah sekian bulan kami tidak saling bertatap muka. Walau bukan spesial, bolehlah untuk mengejutkan dia nanti, karena kepulangan kali ini tidak ada memberitahunya terlebih dahulu.
...Dalam sepinya hidup hanya kaulah hidupku....
...Dalam kegelapan kaulah penerang jiwaku....
...Dalam kesendirian kaulah penyemangatku....
...Dalam kehampaan kaulah keceriaanku....
...Dalam hati hanya engkaulah cintaku....
...Dalam kesedihan hanya dirimu penguat cinta....
...Dalam kerinduan hanya tawamu yang kubutuhkan....
...Dalam keterpurukan kaulah penerang lentera jiwa....
Lelah jiwa dan pikiran hanya duduk menunggu termangu. Akhirnya pesawat lepas landas sampai ketujuan utama. Banyak penumpang mulai melepaskan sabuk pengaman. Ada yang mulai berdiri mengambil tas dibagasi atas kepala. Ada yang masih duduk santai menunggu dan mendengarkan suara pramugari yang sedang berbicara.
Sikap santai, sambil melihat pemandangan pesawat yang sedang berjejer. Tak bisa dipungkiri kalau hati begitu gelisah membayangkan nanti. Berharap-harap agar semuanya lancar.
Tangan terus menyeret koper yang tidak banyak berisi pakaian. Didepan pintu keluar, terlihat sopir pribadi tengah menanti, dengan tatapan sedang clingak-clinguk memperhatikan para penumpang yang sudah ngantri keluar. Lambaian tangan terus terjadi, saat beliau sudah melihat diriku.
"Alhamdulillah, tuan akhirnya melakukan perjalanan dengan selamat."
"Iya, Pak."
"Sini, biar Bapak yang bawa kopernya."
"Terima kasih."
"Iya, Tuan."
Langkah mengikuti beliau dari belakang untuk menuju parkiran.
Cukup lelah perjalanan yang memakan waktu berjam-jam itu. Kepala bersandar dengan menengadah ke atap langit-langit mobil.
"Sebelum ke rumah, bisakah kita mampir dulu ke toko roti kita," pinta yang lemah.
"Iya, Tuan. Bisa-bisa. Kita akan langsung berangkat kesana."
"Terima kasih, Pak."
__ADS_1
"Sama-sama."
Lama tidak merasakan jalanan kota kelahiran sendiri. Sedikit macet dan terasa panas. Banyak antrian mobil yang berjejer. Kasihan sama pengendara motor yang membawa anak kecil, nampak mereka begitu kepanasanan karena memang terik matahari sekarang begitu menyengat.
"Sekian tahun aku selalu menunggumu, apakah kau akan tetap sama akan hatimu itu?" rancau hati yang kembali gelisah.
Dudukpun rasanya tidak tenang, pikiran terus saja berpusat tentang pertemuanku nanti pada Karin. Apakah akan bahagia atau menelan pil kepahitan? Sungguh bikin hati berdebar-debar tak karuan.
Jarak antara bandara dan toko kue lumayan tidak jauh, sehingga mobilpun sudah perlahan-lahan berganti tepat didepan toko. Kelihatan cukup ramai kendaraan yang terparkir, sehingga kamipun sempat kebingungan ingin terparkirkan dimana?.
"Aku turun disini saja, Pak. Sebentar saja mau ke dalam, jadi Bapak tunggu saja disini."
"Oh, iya Tuan. Kalau begitu mobil akan saya parkirkan dipinggiran jalan disana!" tunjuk beliau dekat pohon mangga.
"Iya, Pak. Silahkan."
Dilanda grogi yang kurasakan sekarang. Berkali-kali hembusan nafas terlakukan. Tangan kugesek-gesek dan teraupkan diwajah, dengan maksud agar bisa meredakan rasa tak percaya diri ketemu pujaan hati.
"Bismillah. Semoga langkahku kali ini benar, yang ingin menemui kamu, Karin."
Dengan seuntaian doa, mencoba memberanikan diri. Semoga saja tidak ada kekecewaan yang menghampiri lagi.
"Hei ... hei, apa kabar kalian?" sapaku mengeraskan suara menyapa para pegawai.
"Astagfirullah, Tuan. Kapan datangnya?" Tanya salah satu karyawan.
"Baru saja dan kebetulan langsung mampir ke sini."
"Iya. Gimana kabar kalian, baik-baik saja? Dan selalu menjaga toko ini dengan baik 'kan?" tanya sok akrab.
"Iya, Tuan. Alhamdulillah semuanya lancar dan baik-baik saja."
"Syukurlah kalau begitu, Alhamdulillah."
Wajah menatap ke arah kanan kiri, namun sosok yang ingin kutemui tidak nampak batang hidungnya.
"Tuan, sedang mencari siapa?"
"Ahh, masak tidak tahu. Pasti Tuan sedang mencari mbak Karin."
"Hehehe, kalian ini bisa aja."
"Ya tahu 'lah. Kami ini 'kan karyawan setia."
"Iya ... ya."
"Kemana bos kalian?"
"Ooh, Mbak Karinnya tadi sedang ada urusan sebentar diluar. Katanya akan balik cepat kesini nanti."
__ADS_1
"Oh, gitu."
"Nah 'kan, yang kita ghibahin orangnya sudah datang. Itu ... tu? Benar-benar berumur panjang," tunjuk salah satu karyawan.
Wajah seketika menoleh ke arah pintu utama toko.
Deg, syok yang kulihat sekarang.
Apa yang terlihat sekarang begitu mengejutkan, sehingga tidak bisa diungkapkan lagi, bahkan sampai dada terasa mulai sesak.
"Jangan bilang kalau aku datang ke sini!" suruhku pada semua karyawan.
"Tapi, Tuan---?"
"Shuuuuuutttttt."
Seketika aku berlari. Menyembunyikan tubuh dibalik tembok dekat tanaman hias berupa daun saja, sehingga aman bisa menutupi seluruh tubuh.
^^^Sekian tahun ingin menghapus semua kenangan.^^^
^^^Mencoba terus tetap melangkah walau harus melupakanmu.^^^
^^^Kini kau sayatkan lagi luka lama.^^^
^^^Begitu lelah hatinya melihat semua sikapmu itu.^^^
^^^Tidak bisa terbaca lagi jalan pikiranmu.^^^
^^^Keraguan mulai muncul, hingga lelah menjelajahi.^^^
^^^Tak mungkin diriku tetap beftahan, demi dirimu yang mengabaikan.^^^
^^^Perlahan-lahan mimpi hilang, namun terus saja menganggu.^^^
^^^Wahai pujaan hati, kucoba terus-menerus menjauh.^^^
^^^Entah mengapa keinginan hati terus saja menghampiri.^^^
^^^Bertahan untuk lanjutkan hidup, walau harus melihatmu bahagia tidak mencintaiku.^^^
^^^Engkau segalanya, sudah bagaikan separuh nyawaku.^^^
^^^Kepergianku, mungkin bukan tempat untuk memaksa hentikan langkahmu.^^^
^^^Hanya satu kata, yaitu usai sudah semua ini.^^^
^^^Biarkan semua berlalu tentang kisah kita.^^^
^^^Biarkan takdir menghapus semua kenangan itu.^^^
__ADS_1
^^^Melepaskan segalanya, mungkin jalan satu-satunya.^^^
"Tawanya menyiratkan kalau kau sekarang bahagia. Aku tidak tahu apakah pria yang bersamamu benar-benar telah mengusai hatimu lagi. Kenapa ... kenapa, hatiku begitu rapuh lagi? Ahhhh, betapa sakitnya hatiku," Tangan sudah meraba-dada dada yang begitu sesak.