Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2=Istriku Yang Hilang>>> Aksi Gila Menyiksa


__ADS_3

Tanpa ada orang yang mengetahuinya termasuk pembantuku, kini tubuh Ana yang masih pingsan kupapah, dengan kakinya yang sudah menyeret di tanah sebab masih tak sadarkan diri. Diri ini berusaha membawanya ke gudang belakang rumah, yang sudah lama tak terpakai lagi.


Kuikat erat kedua pergelangan tangannya mengarah ke belakang tubuhnya, yaitu menggunakan lakban perekat memutar berulang-ulang kali, dan kakinya kuikat dengan tali secara kuat. Sekarang aksiku tak berhenti sampai disitu, tubuhnya kini sudah kuseret-seret ke sudut gudang rumahku. Kugeletakkan tubuh perempuan si*lan ini dengan cara menghempaskannya kuat-kuat, serta tak lupa jua mulutnya sudah kusumpal dengan kain.


Kuambil potongan balok kayu jati yang tergeletak dalam gudang, dan sekarang kuarahkan kayu itu ke tubuh Ana untuk dipakai menghajarnya.


Bhuuugh ... bhug ... bhuuugh. suara tubuh Ana kuhajar dengan bengisnya.


"M*mpus kau, Ana. Rasakan itu!" Kepuasan menyiksanya.


Dengan kuat dan sekencang-kencangnya, kini kupukulkan kayu balok itu disembarang arah tubuh Ana. Tak hanya cuma sekali kayu itu menimpa kepala Ana, tapi bagian tubuh yang lainpun berkali-kali kupukul sekenanya saja.


Amarah sudah tidak bisa dikendalikan, akibat kebencian padanya yang terus saja menumpuk dan terpendam. Terdengar dia mulai mengerang kesakitan dengan lirihnya, serta darahpun mulai mengalir keluar dari pelipisnya, yang mana sudah ada yang menetes di ubin keramik.


"E'eeeeh ... emm," Suaranya lemah dengan sedikit meliuk-liukkan badan.


Hatiku sudah dingin, bahkan mungkin sudah membeku bagai kerasnya batu, akibat sakit hati yang dibuat perempuan si*lan ini. Hari ini akan kubuat dia merasakan akibatnya, sebab telah merebut Adit dariku.


Dengan tubuh masih terikat, kulihat wajah Ana sudah mulai pucat dengan tubuh terkulai lemas. Matanya sudah mulai terbuka, dengan tubuh sudah kuat sedikit meronta-ronta.


"Eemm ... eemm," sepertinya Ana ingin mengeluarkan suara.


"Matilah kau, Ana. Makanya jangan main-main sama yang namanya Salwa. Kau ini hanya semut kecil yang mudah aku lindas, makanya jangan sok suci tahu segalanya tentang cinta. Rasakan akibatnya telah menyalaka api kemarhan dalam diriku. Kau patut merasakan ini sesuai apa yang kau lakukan padaku," Hati yang menyimpan kekesalan.


Berkali-kali mengeliat. Namun kuacuhkan saja permintaannya, kini kerjaanku hanya menatap kegirangan, saat wajah Ana mulai sendu akibat penyiksaanku.


Pergi meninggalkan dia begitu saja. Rasa iba sudah mati. Didalam hanya ada dendam yang terus berkecamuk.


Takut ketahuan atas ulahnya yang ekstrim, berkali-kali menengok Ana, mau memastikan kalau dia masih hidup. Takut juga kalau dia keterlauan kusiksa nanti sudah tidak bernafas lagi.


Langkah kaki kini sudah mengahampiri Ana lagi, matanya menatap sayu seperti sedang memohon untuk minta dilepaskan. Darah merahpun sudah mulai agak mengering, yang tadinya sempat mengalir diwajahnya, dan itu membuatku semakin gambira bukan kepalang.

__ADS_1


"Eeem ... emmm," Untuk kesekian kalinya Ana meronta, untuk minta dibuka bekapan.


Karena penasaran langsung kutarik paksa dan kasar sumpalan kain, yang masih sempat menutup mulut wanita yang menurutku br*ngs*k tersebut.


"Bukakan ikatanku juga, Salwa?" pintanya .


"Cuuuuih, dasar manusia tak tahu diri dan malu, kamu benar-benar wanita si*lan," umpatku marah-marah padanya dengan meludah di lantai.


"Ayolah Salwa lepaskan aku." Ana mulai mengiba sambil menangis.


"Jangan harap," Mataku menatap geram padanya.


"Ayolah, Salwa."


"Ogah."


Rasa sakit yang kemarin-kemarin selalu tertahan, kini sudah mencapai batas maksimalnya.



"Aku berjanji tidak akan mengatakan pada siapapun, jika kamu melepaskanku. Dan yang terpenting semua keinginanmu akan kupenuhi semuanya," ujarnya yang kian tersedu-sedu menangis.


"Jangan harap. Memang kamu itu pantas menyandang wanita tak tahu malu. Dulu kamu telah merebut Adit, tapi itu bisa kumaafkan. Sekarang ketika kami berencana ingin menikah, lagi-lagi dengan kejamnya kamu merebut dia kembali, dan kali ini betul-betul tidak bisa dengan gampangnya kumaafkan, mengerti!" ucapku menjelaskan, sambil menjambak rambutnya dengan kuat.


"Tapi, Salwa. Apa kamu tidak sadar kalau takdir sedang tidak berpihak padamu."


Ana masih saja mengoceh.


"Buls*t itu semua. Yang kuinginkan hanya Adit, paham!" Kepalanya mendongak ke atas.


Tangisannya kian pecah. Muak lihat drama airmata.

__ADS_1


"Sekarang akan kubuat semuanya berakhir, dan yang pastinya kamu akan merasakan yang namanya tersiksa, seperti sakitnya hatiku yang sudah tersiksa akibat ulahmu," bentakku sambil terus menatapnya tajam, seperti cepat-cepat ingin menghabisinya.


"Maafkan aku, Salwa. Jangan lakukan itu. Kasihanilah aku. Kamu tahu 'kan aku ada anak," Permohonannya lagi.


"Maaf ... maaf, bagiku semua itu sudah terlambat. Dan amarahku sekarang tak bisa turun lagi, sebelum benar-benar membuatmu tersiksa. Masa bodoh dengan anak maupun kehidupanmu," Jelasku penuh amarah dendam.


"Bukakan ikatanku dulu, aku benar-benar akan mengabulkan permintaanmu, apapun itu, jadi kumohon lepaskan aku sekarang, ya ... ya!" tawarnya berusaha bernegosisasi lagi.


"Dengan apa kamu bisa mengabulkan permintaanku, sedangkan Adit sudah membenciku dan mencintaimu," Percakapan yanng mulai bersedih. Kini gantian diriku menangis.


"Aku bisa meminta cerai dengannya, dan masalah penculikan ini tak akan kubilang pada siapapun. Aku berjanji," ungkapnya memberi solusi.


"Itu mustahil terjadi, sebab Adit tak akan bisa melakukan perceraian padamu dengan mudahnya. Pasti dia tak akan tinggal diam, dan akan mencari sebab musabab kamu minta cerai," Penjelasanku dengan mengusap airmata.



"Tapi beneran Salwa, aku akan mengabulkan semua permintaan kamu, tapi dengan syarat lepaskan aku dulu," kekuhnya yang masih terus berbicara.


"Aaaah, b*lsit. Aku tidak mau semua itu! Apakah selama ini kamu pernah berpikir, kalau cintaku lebih besar dari pada kamu, tapi karena ulahmu Adit menjauhiku. Yang terpenting sekarang adalah aku akan terus bermain-main denganmu, hahahahaha!" gelak tawaku puas.


"Jangan ... jangan, Salwa!" Mengiba lagi.


"Jadi persiapkanlah tubuhmu ini! Hahahhaah, Siap-siaplah apa yang akan kulakukan selanjutnga," Kegiranganku yang terus saja merasa senang.


Entah mengapa rasanya aku sudah tidak punya rasa iba lagi, hatiku terasa perih dan sakit seperti pisau telah menusuk dan menghujamnya. Ditambah lagi Adit sudah kembali atas ingatannya, rasa sakit itu berubah menjelma menjadi kekuatan dendam, yang kini kian hari menjadi bertambah membara.


"Apakah lebih baik kuhabisi saja nyawanya sekarang?" hati sudah berbisik-bisik, untuk melakukan sesuatu yang lebih.


"Aah, kupikir memang keinginanku selama ini, yaitu menyingkirkan Ana. Emm, apakah aku harus membunuhnya sekarang, biar kami bisa berduaan lagi? Hahhaah, mungkin iya, aku ingin dia sekarang mati, tapi harus kubuat di sekarat perlahan-lahan dulu, " Kepala terus saja berputar-putar berpikir.


Rasa iba rasanya sudah mati dalam hati, dan semuanya sudah terkubur didalam jiwa. Ana sudah merusak semuanya, jadi hanya bisa menyuruh merasakan akibatnya sekarang.

__ADS_1


__ADS_2