
Kebahagiaan yang tak terperi, dapat mengobati rasa kesedihan yang kurasakan sekarang ini.
"Ya Allah, terima kasih Engkau telah mendengarkan keluh kesahku, untuk menghadirkan mas Adit dalam proses persalinan dan menyambut kelahiran anak kami, sungguh kuasaMu Maha Besar sekali," doaku dalam hati yang dipenuhi rasa gembira.
Berkali-kali aku terus saja mengucap syukur, walau mas Adit masih tak mengingatku, tapi dia cukup membuat hatiku lega atas kehadirannya. Tak lupa tetesan embunpun sempat menyelimutiku yang mana ada rasa kebahagiaan, yaitu saat detik-detik untuk pertama kalinya dia mengendong anak kandungnya, tapi disebalik itu semua ada rasa kasihan juga menghampiri, sebab sebentar lagi kami akan resmi bercerai. Sakit rasanya hati, tapi aku tak mau dicap sebagai wanita yang tak menepati janji, sehingga setelah kelahiran anakku surat cerai harus segera terlaksana untuk menandatanganinya.
"Wuiiih, tenyata si kecil sudah hadir," ucap Edo yang tiba-tiba datang.
"Bagaimana keadaan kamu sama si kecil?" tanya Edo yang sudah berjalan ke arahku.
Ada sebuah kantong kresek yang dibawa Edo. Nampak tembus pandang didalamnya, sehingga memperlihatkan beberapa buah-buahan yang dibawanya.
"Alhamdulillah kami baik."
"Syukurlah kalau begitu."
"Wah ... wah, ternyata cantik juga wajah si dedek mungil ini," puji Edo.
"Siapa nama kamu, sayang?" Edo mencoba mengajak bicara anakku.
Jempol itu mengelus pelan pipi anakku. Wajah Edo terpancar kebahagiaan. Merasakan juga rasa syukur kehadiran si buah hati.
"Namanya Aliyana putri pratiwi," jawabku.
"Waah, cantik sekali nama kamu, secantik dengan wajahmu yang imut dan mengemaskan ini," puji Edo dengan menatap lekat wajah yang masih polos itu.
Senang rasanya ada orang mengunjungi.
"Bagaimana proses persalinannya? Lancar-lancar saja dan tidak ada halangan 'kan?" tanya Edo.
"Alhamdulillah semuanya lancar dan baik-baik saja."
"Syukurlah kalau begitu."
"Maaf ya, baru hari ini aku bisa menjenguk kamu. Dihari-hari kemarin, banyak sekali orderan dari pelanggan minta diantar," penjelasan Edo.
"Gak pa-pa, Edo. Kamu datang ke sini menjenguk saja aku sudah senang," timpalku.
Edo orangnya sangatlah baik, selalu saja menyempatkan untuk menjenguk dan melihat keadaanku, yaitu disela-sela waktunya yang sibuk bekerja. Sungguh rasa tak enak hati terus saja menghampiri, sebab saking seringnya Edo berkunjung.
"Kamu sendirian disini?" tanyanya.
__ADS_1
"Tadi ada bapak, tapi beliau lagi pulang ke rumah untuk mengambil beberapa pakaian gantiku," terangku.
"Ooh."
"Mukanya cantik seperti kamu, Ana!" puji Edo berkali-kali.
"Benarkah itu?."
"Ya iyalah. Masak gak cantik, kalaupun ganteng pastinya cowoklah," ujar Edo mengajak bercanda.
"Iiih, dasar."
"Hahahah, enggak ... ngak, Ana. Beneran dech putrimu sungguh cantik seperti kamu!" tambah dia memuji lagi.
Tawa dan obrolan terus terjadi. Rasa nyaman bisa curhat dengannya bikin kagum saja atas diri Edo yang termasuk orang penyabar.
Ceklek, pintu telah terbuka tiba-tiba. Sesosok orang yang kukenal tekah datang. Tangannya tak lupa membawa sesuatu, tapi entah apa isinya itu..
"Kamu?" Edo berusaha melangkah menghampiri Mas Adit.
"Kenapa kamu disini? Mau ngapain? Mau menghina Ana lagi?" ucap Edo sudah ada kemarahan.
Edo nampak mau menantang.
"Sudah ... sudah, kalian bisa diam ngak? Kalau mau berantem di luar aja, anakku lagi tidur. Kalian keluar sana!" kini gantian diriku yang emosi.
Tangan mencoba menepuk-nepuk pelan paha anak. Mencoba menenangkannya saat ada suara-suara penganggu.
"Kamu sih main ngajak emosi saja, jadinya suaraku jadi keras," gerutu mas Adit menyalahkan Edo.
"Kamu juga ngapain ke sini! Sehingga akupun emosi jadinya suarakupun ikut keras juga," balik simbatan Edo.
"Euk ... uek ... uek," suara tangisan anakmu yang sudah melengking keras.
"Shhuuut ... shhuuut," Jari telunjuk melkat dibibir agar mereka bisa diam
"Maafkan aku, Ana!" Suara mas Adit dan Edo secara kompak, tapi mata saling melotot seperti tak suka satu sama lain.
"Kalau boleh aku minta kalian keluar sekarang!" suruhku dengan halus.
"Baiklah," jawab mereka secara kompak lagi.
__ADS_1
Aah, entah apalagi maksud mas Adit datang ke sini, aku tak begitu mengerti lagi akan sikapnya sekarang ini. Kemarin-kemarin dia begitu menghina dan membenciku, tapi sekarang setelah anakku lahir, sikapnya begitu terbanding terbalik, dan hatiku sedikit agak goyah akan sikapnya.
"Ana maafkan aku!" ucap mas Adit memasuki ruanganku lagi tanpa Edo.
Aku hanya bisa diam seribu bahasa, tanpa menjawab ucapannya.
"Tak tahu lagi apa yang harus kuucapkan, aku benar-benar tak mengingat kenangan-kenangan diantara kita berdua. Aku tak tahu lagi atas tindakanku sendiri, dan sudah sekuat tenaga mengingat semuanya, tapi sungguh aku tak bisa teringat apapun. Jadi aku sekarang benar-benar minta maaf, atas ucapanku yang kasar kemarin-kemarin," ujarnya terasa ada penyesalan.
Aku masih saja diam. Malah sibuk menenangkan.
"Dan atas masalah perceraian, kalau bisa kita tunda dulu, sebab aku masih ingin mengingat kembali kenangan tentang kita dan memperbaiki ucapan tajamku," tawarnya yang masih sibuk mengajak bicara.
"Kamu gak usah banyak ngomong begini begitu, aku tak mau menerima lebih sakit hati dari hari kemarin-kemarin. Jadi masalah perceraian kita akan tetap dilanjutkan, bagiku sudah tidak ada gunanya kita bersama lagi," penjelasanku.
"Tapi Ana, itu-?."
"Aku tahu ini adalah murni kesalahanku, tapi aku benar-benar memohon agar kamu mengurungkan semua niatmu itu, sebab diriku sangat berharap kita bisa bersama, dan memperbaikki rumah tangga kita lagi akibat hilangnya ingatanku," usulnya memberi tawaran.
"Maafkan aku mas, rasanya hatiku sudah mulai tertutup akibat mulutmu yang kejam itu, jadi sekarang aku mohon keluarlah dari ruanganku, sebab bagiku tak ada hal yang penting lagi dibicarakan," suruhku mengusir secara halus.
"Tapi Ana."
"Gak ada tapi-tapian, mas. Aku tidak ingin mencari masalah dan gara-gara lagi dengan Salwa. Aku dulu sudah merebut kamu darinya, dan sekarang aku akan mengembalikan kamu padanya," penjelasanku dengan mata sudah berkaca-kaca.
"Aku tahu itu. Tapi tidak bisakah kamu menunda perceraian itu sebelum benar-benar ingatanku pulih kembali," bujuknya lagi masih berusaha ingin kembali bersama.
"Sudah ... sudah, Mas. Sekarang kamu cepetan pergi. Pusing rasanya aku memikirkanmu," tambahku berkata.
"Baiklah kalau begitu, aku akan keluar."
Tangisanku mulai pecah saat mas Adit sudah keluar dari ruanganku.
Bagiku cinta dihati bisa saja terjaga, tapi bukan utuk memiliki selamanya, sebab cinta mungkin akan indah bila dikenang saja.
Segala sesuatu yang kita alami akan terhapus keseluruhan, karena itu memang fitrahnya pikiran, dan sudah menjadi tugas otak kita untuk menyimpan memory paling bahagia, bahkan bisa menyakitkan sekalipun. Tapi semua orang punya pilihan untuk membiarkan memory itu hanya sebatas kenangan, ataupun menyimpannya didalam hati.
Ingatan akan percakapan kami di hari-hari kemarin, semakin membuat dada berdenyut nyeri, serta sesak hati yang tak berkesudahan. Kini kurasakan saat harapan-harapan kami yang terencana akan mulai berakhir, yaitu kenangan tentang harapan rumah tangga akan bahagia dengan canda tawa keceriaan anak-anak kami, namun sepertinya semuanya terlihat akan hancur untuk membina rumah tangga yang bahagia, terasa sekali yang akan kami ciptakan hanya angan-angan kosong belaka.
Tanpa terasa airmata kembali menetes, kala netra menatap anakku yang telah tertidur lelap tanpa ada dosa, harus ikut menanggung kepedihan orangtua nantinya.
Jika dia sudah pergi meninggalkan kami, hati sudah mantap untuk tidak mengingat-ingatnya lagi, karena bisa menghambat jalannya masa depan kelak, tapi kenangan-kenangan lama pasti akan sangat menghantuiku.
__ADS_1
Mungkin benar kata Edo, aku harus fokus terhadap masa depan bersama anakku, tak perlu lagi kembali ke masa lalu yang sangat menyakitkan bagiku.