
Tangannya yang mungil tapi panjang, sudah kusuruh untuk berpegangan dipergelangan tanganku yang terlingkar. Kami bagai pasangan muda-mudi. Dengan percaya diri tinggi, masih merasa abg untuk menjalankan ritual kencan.
Tempahan duduk sudah terpesan diruangan khusus pelanggan vip, yang sudah tak peduli lagi berapa uang yang kukeluarkan, yang terpenting sekarang kebahagiaan Ana lebih penting dari pada harta yang kumiliki.
Tangan sudah sibuk memotong-motong steak yang kami pesan, dan Ana hanya menunggu tingkahku yang sedang membantunya, sebab dia tak terbiasa makan ditempat yang mewah ini, jadi dia meminta bantuan untuk kupotongkan steaknya.
"Ini!" sodoranku.
"Terima kasih."
"Mas Adit?"
"Heem. Ada apa?" Menatap lekat ke arahnya.
Air putih dalam cangkir kuteguk. Wajah polos itu kelihatan ingin menanyakan sesuatu.
"Apa Mas, ngak sayang dengan uang untuk menyewa tempat ini?" tanyanya.
Netra itu melihat ke sekeliling keadaan restoran. Siapapun yang dibawa ke sini akan terkagum-kagum, bahkan bisa jadi terharu sebab terlalu gemerlap kemewahan.
"Dalam duniaku tak akan sayang atas harta, sebab melihat seyuman kamu yang bahagia adalah harta terindah dari segala yang Mas miliki," terangku.
"Terima kasih, Mas. Aku tak tahu lagi apa yang harus kukatakan, kamu sungguh sangat pengertian dan perhatian sekali terhadapku. Dulu aku begitu tak percaya diri, sebab bagaikan orang yang tak pantas untuk memilikimu. Dulu sangat takut sekali jika Mas bakal malu punya istri sepertiku, yang miskin dan tentunya wanita yang kurang menarik. Dulu aku sangat minder sekali, jika cintamu tak bisa tertancap padaku. Dulu aku sangat dihantui rasa gelisah, sebab telah gagal mendapatkan cintamu. Dulu aku begitu tersiksa bahwa kasih sayangmu telah tercurah untuk orang lain, dan itu sangat mematahkan hatiku, sehingga akupun kabur begitu saja, tanpa meninggalkan satu pesanpun untukmu," simbatnya dengan lelehan airmata sudah menyeruak keluar.
"Maafkan aku, Ana. Aku dulu juga sudah gagal telah menyakitimu, maafkan ya sayang!" tuturku yang langsung berdiri dan memeluknya, dimana Ana dalam keadaan masih diam duduk dan aku telah berdiri.
"Aku adalah pria bodoh, yang selalu menyakitimu dan membuat kamu mengeluarkan airmata. Tuhan telah adil pada kita, sebab telah menyatukan kisah cinta ini, walau jarak dan waktu telah memisahkan kita. Sungguh angung kuasa Allah, saat hatiku sudah buta oleh cinta orang lain, tapi telah kembali ke cinta yang hakiki dan suci dari istri yang baik hati seperti kamu. Tak tahu kata-kata apalagi yang bakal kuucapkan, yaitu selain ucap syukur kepada Allah yang telah mempersatukan kita kembali," tuturku yang kini sudah bersimpuh dihadapannya, sambil mengenggam erat tangan Ana.
"Iya, Mas. Terima kasih atas hatimu yang sudah tulus terbuka untukku."
"Iya, sayang. Sama-sama."
Kuusap airmatanya yang mengalir terus, sebab terhanyut atas ucapan demi ucapan, dari masing-masing mulut kami.
__ADS_1
Akhirnya tak ada lagi kata-kata yang membuat kami terkenang kesedihan, dan kami terus melanjutkan acara makan direstoran.
Perut rasanya sudah bengas kenyang sekali, sehingga makanan yang dipesanpun sampai ada yang tak termakan.
"Mubazir sekali makanan yang tak termakan ini, Mas!" keluh Ana, sambil mulut masih sibuk mengunyah makanan.
"Biarkan saja, takkan mau dibungkus dibawa pulang? 'Kan malu seandainya dibawa pulang, masak makan di tempat VIP mau membungkus makanan."
"Bukan gitu maksudku. Seharusnya Mas tadi tidak usah pesan banyak-banyak, 'kan sayang ngak termakan semua."
"Oke, lain kali ngak usah pesan banyak-banyak."
"Kamu sudah selesai 'kan makannya? Ayo kita pulang saja, sudah larut malam nih!" imbuhku mengajak.
"Siip."
Bon makanan sudah ada, yang telah ditaruh dimeja, yang langsung saja kubayar memakai kartu ATM. Sekarang langkah kami berdua sudah melenggang pergi, untuk keluar dari ruang VIP.
Bruuughk, suara tubuhku menabrak seseorang yang mana aku tak melihatnya, sebab tengah asyik ngobrol sama Ana.
"Maaf," ucapku langsung.
"Kak Nola!" Kekagetanku menjawab.
"Kamu?" tunjukku pada seseorang, yang kini telah bergandengan tangan dengan seseorang yang kukenal.
"Wah ... wah, ternyata dunia itu tak selebar dengan daun kelor. Aku tak menyangka telah bertemu denganmu disini, wahai kawan lama. Bagaimana kabar kamu sekarang?" ucap lelaki didepanku, dengan tangan sudah terulur mengajak saling menjabat.
"Aku baik," jawabku sambil menyambut tangannya.
Mata teman lamaku yang bernama Bowo terlihat tajam menatapku, dan rasanya itu sungguh tak nyaman bagiku, seperti ada sesuatu yang aneh atas tatapan itu.
"Aku tak menyangka kita akan bertemu, setelah sekian lama tak saling tahu tentang kabar dari masing-masing. Kabar kamu sekarang juga baik 'kan, Bowo?" tanyaku balik menyapanya.
"Aku baik, seperti yang kamu lihat."
__ADS_1
Dia sedikit memamerkan tubuh yang segar bugar.
"Syukurlah, kalau baik. Lama tidak melihatmu."
"Hahahha, betul ... betul kita sudah lama tak bertemu, hahahaha!" gelak tawanya yang aneh.
"Ini istrimu? Cantik juga seperti artis, boleh dong aku kenalan?" cakap Bowo mengulurkan tangan.
"Benar, dia adalah istriku," jawabku geefak cepat untuk melindungi Ana, yang langsung berdiri didepannya.
Anapun kelihatan takut, terlihat dari caranya mengenggam erat lenganku, mungkin takut atas sikap dan tatapan tajam Bowo pada Ana.
"Ohh, salam kenal ya," ucap Bowo nampak ramah.
"Kalian kok bisa bersama-sama disini?" tanyaku pada Bowo dan kak Nola, sebab merasa aneh.
"Ya ... iyalah, kami bisa bersama. Sebab dia dulu adalah mantan istriku, dan sekarang aku mulai ingin rujuk kembali padanya," jawab Bowo menerangkan.
"Benarkah itu? Wah ... selamat ya kak Nola, kamu telah kembali menemukan kebahagiaan yang ternyata dulu sempat hilang," ucapku pura-pura baik.
"Makasih, Adit!" Kak Nola menjawab sangat lemah.
"Ya sudah, kami akan pulang sekarang, dari restoran ini! Jadi maaf ya, kami ingin permisi dulu," Berusaha pamit.
"Eeh ... kalian kok buru-buru amat! Kita baru saja bertemu lho. Apa tidak sebaiknya kita pesta makan-makan nih?" tawarnya.
"Maaf ... maaf sekali, kami baru saja habis makan, jadi maaf ya tidak bisa menerima ajakanmu," jawabku santai.
"Ooh ... ya sudah, gak pa-pa, mungkin lain kali saja kita makan-makan bersama," jawab Bowo.
"Kami permisi dulu," pamitku.
"Iya ...ya."
Kami berduapun telah melenggang pergi, dari hadapan mereka berdua. Otak sudah berpikir keras atas pertemuanku dengan Bowo tadi, bahwa tak menyangka kak Nola telah menikah sama teman akrab waktu SMA dulu yaitu Bowo.
__ADS_1
Kami dulu sangat dekat berteman, tapi entah mengapa tiba-tiba tak mau lagi berteman denganku. Dulu walau kami satu sekolahan, kami tak saling bertegur sapa sampai sekarang, dan baru kali ini dia mengajakku berbicara waktu pertemuan tadi. Pikiran telah menduga-duga apakah Bowo ada kaitannya dengan perusahaanku, tapi kenapa?.