Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2=Istriku Yang Hilang>>Kwalitas Produk Yang Ditukar


__ADS_3

Mataharipun sudah menyapa, dan kini Mas Adit sudah mengantar diriku ke rumah mertua, untuk mengambil Aliya yang sempat kutitipkan pada mertua. Semalam telah lupa untuk menjemputnya, sebab kejadian memata-matai telah gagal.


"Assalamualaikum," Salamku yang sudah masuk ke rumah mertua.


"Walaikumsalam," balik sapa Mama mertua.


"Tumben-tumben kamu mau mengantar Ana pagi-pagi begini? Biasanya jam segini kamu masih molor, dan malas untuk berangkat kerja," celoteh Mama mertua menanyai, sambil membuka rahasia Mas Adit.


"Mama tahu aja kalau Adit suka bangun siang. Ini ... nih Ana! Pagi-pagi sudah bangunin Adit, katanya cepat-cepat mau ketemu Aliya sebab kangen," jawab mas Adit.



Kami bertiga langsung duduk santai dikursi ruang tengah


"Kok Ana yang disalahin, seharusnya Mas Adit yang salah. Kalau semalam ngak buat masalah, pasti Aliya semalam sudah tidur sama kita," Mulutku yang nyolot main jawab saja.


"Huuuiist," perintah Mas Adit untuk diam, mungkin tak enak hati ada mertua.


"Memang semalam kalian kenapa? Gak bertengkar 'kan?" tanya beliau curiga.


"Heemm, enggak kok, Ma! Kami adalah sepasang keluarga yang rukun, aman, dan damai, jadi ngak bakalan ada pertengkaran," jawab mas Adit sambil cengegesan.


Dia berusaha menutupi. Apapun yang terjadi dalam rumah tangga kalau bisa dirahasiakan dulu, sebab tak baik jika diumbar-umbar dan efek pasti berujung ada gosip dahsyat.


"Syukulah kalau rumah tangga kalian baik-baik saja. Mama akan ikut bahagia, kalau kalian tak akan pernah bertengkar apalagi berpisah," ucap beliau senang.


"Iya, Ma!" jawab kami kompak.


"Kalian sudah makan?" tanya beliau.



"Belum, Ma!" jawab mas Adi jujur.


Selesai mandi langsung


"Ya sudah, kalau begitu kalian sarapan disini saja!" tawar beliau.


"Iya."


Kamipun akhirnya makan bersama, yang tanpa ditemani papa mertua, dikarenakan beliau sudah berangkat memeriksa toko-toko showroom mobil milik keluarga mas Adit.

__ADS_1


"Ooh ya, Ana. Nanti ikut Mama jalan-jalan berbelanja pakaian Aliya. Mama sudah lama nih! Tak membelikan pakaiannya," ajak beliau.


"Iya Ma, tapi kalau mas Adit mengizinkan," sindir ucapku.


"Kapan aku tidak mengizinkanmu? Semua terserah kamu, mau pergi ke mana! Asal tak sama pria lain saja," sindirnya balik.


"Ciiiih, aku mah gak pernah keluar sama cowok, ngak seperti kamu yang bebas-sebebasnya pergi sama perempuan lain," Sengaja menyinggungnya.


"Ehemm ... heem," dehemannya mencoba menghindari tuduhanku.


Sekarang tidak bisa berkutik, kalau pada kenyataannya memang ada.


"Sudah ... sudah, kalian tidak usah ribut lagi, makanlah yang kenyang-kenyang. Tidak baik ngomong terus didepan makanan. Ini sudah mulai siang, apa kamu ngak jadi ke kantor sekarang Adit ?" Mama sudah melihat jam tangan.


"Iya Ma, sebentar lagi, tapi setelah kulanjutkan makan."


"Ya udah, nanti hati-hati saja berangkatnya."


Sarapan pagipun sudah selesai. Dan diriku langsung mengantar Mas Adit didepan rumah untuk melihat dia berangkat kerja.


Pakaian sudah kuganti serapi-rapinya, untuk menerima ajakan mama jalan-jalan ke mall. Aliya sudah kupangku duduk didepan, sedangkan Mama mertua sedang sibuk mengemudikan mobil.


Aliya sedang tidur nyenyak, jadi tidak akan menganggu aktifitasku.


"Iya Ma, gagal. Sebab ketahuan sama mas Adit. Tapi masalah memberi pelajaran pada Nola, sangat ... sangatlah sukses sekali.


"Duh, kok bisa sih."


"Penyamaran tidak hati-hati. Hhihihi, dan akupun membayangkan kejadian tadi malam dia kena jahilanku, sungguh lucu sekali. Andai mama melihatnya, pasti akan ikut tertawa puas," jawabku.



"Benarkah? Wah, Mama jadi penasaran bagaimana dia kalah sama kamu," respon beliau menjawab, sambil tersenyum-senyum.


"Pokoknya Mama pasti akan tertawa, sayang banget tidak ada yang videoin," balik jawabku.


"Pasti seru banget itu."


Tanpa terasa, perbincagan kami telah membawa ke mall dengan cepatnya. Aliya sudah kudorong pakai kereta bayi, sedangkan Mama sudah berjalan disampingku.


"Oh ya Ana, disini banyak toko mall yang mengambil pakaian dari perusahaan Adit, dan ada juga toko asli milik perusahaannya. Gimana kalau kita mampir kesana saja? Siapa tahu ada pakaian yang cocok sama kita maupun Aliya," ajak Mama.

__ADS_1


"Wah, boleh banget itu, Ma!" jawabku menyetujui.


Satu persatu toko sudah kami datangi, sungguh pakaian dari perusahaan mas Adit benar-benar berkualitas tinggi. Akupun yang tak tahu tentang itupun, sekarang jadi tahu bahwa perusahaan mas Adit harus diacungi jempol atas mode-mode pakaian bagus, ternama, maupun kwalitas yang memakainya akan terasa nyaman.


"Aku ngak mau tahu, pokoknya minta ganti rugi atas bahan pakaian yang kalian berikan," Suara perempuan marah-marah pada pelayan toko, dan terdengar oleh telinga kami.


"Ada apa sih, Ma! Kok terdengar ada ribut-ribut dan banyak sekali orang berkerumunan didepan?" tanyaku penasaran.


"Gak tahu, Ana. Ayo kita lihat saja!" ajak mertua.


"Baik, Ma."


Kamipun mendekati seorang perempuan yang sedang marah-marah, sambil menunjuk-nunjuk baju yang dia beli. Dari tangkapanku pembeli itu seperti tak puas, atas bahan pakaian yang dia beli.


"Ada apa ini?" tanya Mama mertua pada pegawai toko.


"Ini, nyonya! Nona pembeli ini marah-marah, akibat kainnya tak sesuai dengan keinginan beliau," jawab pegawai toko yang mengenal mama.


Ternyata Mama terkenal juga atas toko-toko yang memberikan stok pakaian pada mereka.


"Iya, Bu. Masak toko ini katanya kainnya bagus-bagus dan berkualitas dan ternama pulak namanya. Tapi kenapa yang saya beli kainnya kasar, panas, dan warnanya sedikit luntur. Uang saya sudah keluar banyak, untuk membeli semua pakaian ini! Dan selama menjadi pelanggan tetap disini, aku tidka pernah menemui hal seperti ini. Baru kali ini, membeli pakaian bahan dasarnya begitu tidak bagus. Semua pegawai toko disini, saya mintai pertanggung jawaban, dengan menyuruh menelpon manager mereka untuk datang kesini, tapi mereka tidak mau," Penerangan pembeli.


"Sini biar kuurus semua, sebab tuan toko ini saya mengenalnya. Dan anda bisa minta ganti rugi semuanya, dan pilihlah yang anda mau, tapi dengan syarat jangan bocorkan kejadian ini!" tutur beliau menjawab.


"Tapi, nyonya," jawab pegawai toko ragu.


"Gak pa-pa, biar aku yang tanggung jawab."


"Nah gitu dong dari tadi, Ngak perlu ribet dan marah-marah. Kalau begini 'kan, pelanggan akan senang," ucap nona pembeli sumringah gembira.


"Iya, Mbak. Maafkan kami yang kurang memberikan pelayanan yang baik."


"Tidak masalah, yang penting ada tanggung jawab dan mau menyelesaikannya."


Akhirnya pelanggan dibawa menepi pegawai toko untuk memberikan layanan terbaik lanjutan. Banyak mata yang melihat, maka kami harus berbicara empat mata agar tidak merusak nama toko dan perusahaan penyetok. Mama juga mengajakku menepi berbicara.


"Lihat, Ana!" ucap Mama mertua, menunjuk pakaian.


"Iya, Ma. Aku melihatnya."


Terlihat dari baju yang berlebel, memang dari perusahaan mas Adit, dan diri ini begitu terkejut atas bahan dari kain itu. Benar saja atas keluhan pembeli itu, bahwa kain bahannya memang kasar, dan kelihatan telah luntur. Akupun jadi aneh atas kejanggalan semua ini, sebab hati mengatakan bahwa ada orang, yang ingin menjatuhkan nama perusahaan mas Adit. Diri ini harus membantu menguak, siapakah dalang dibalik semuanya.

__ADS_1


__ADS_2