
Aku hanya bisa termenung dangan menarik nafas lemah. Kemarahan didada tadi bagai sudah menyengat jiwa dan telah menghanguskan ego, yang lai dan lagi marah padanya. Namun semua begitu hilang saat dia menyirami kata-katanya yang jujur tentang hubungan kami, sehingga membuatku sedikit terkoyak perasaan.
Entah mengapa ingatan tak ada kenangan sama sekali tentangnya, namun semua ucapannya samar-samar seperti pernah kulakukan semuanya, sayang beribu sayang aku benar-benar tak mengingat lagi apa yang telah terjadi diantara kami, bahkan ingatan hubungan tentang suami istripun tak bisa kuingat-ingat sama sekali.
Mengapa pernyataan dalam penjelasannya membuat dadaku berdenyut nyeri, seakan-akan semua ucapannya benar adanya. Tatapannya yang marah dan sedih memunculkan desiran halus dihatiku yang kian aneh rasanya. Sungguh aku benar-benar pusing tak bisa meterjemahkan dengan baik keadaan kami yang sebenarnya seperti apa?.
"Apakah apa yang dikatakan wanita itu benar? Tapi kenapa aku tidak ingat sama sekali. Aaah, kenapa dadaku nyeri sekali atas perkataannya tadi."
"Ada apa, Adit?" tanya Salwa yang membuyarkan lamunanku.
"Ee'eh, iya."
"Kamu baikkan? Kelihatannya kamu sedang memikirkan kata-kata wanita yang mengaku sebagai istrimu tadi," kecurigaan Salwa.
"Sedikit sih! Tapi semua itu tidak akan berpengaruh sama sekali, sebab hatiku masih mencintaimu," rayuku biar Salwa tak banyak bicara lagi.
"Benarkah itu, sayang?" Kegembiraan Salwa berucap.
Tangannya terus bergelayut manja. Aku hanya diam dan tidak merespon. Telinga rasanya sudah dipenuhi oleh suara pilu wanita bernama Ana tadi.
"Iya," singkat jawabanku.
"Kalau begitu ayo kita lanjutkan jalan-jalannya, dan antarkan aku ke toko pakaian. Stok pakaian baru habis nih! Semua sudah pernah aku pakai semua, 'kan malu jika pakai yang itu-itu saja," kemanjaan Salwa yang sombong.
"Oke! Kita akan meluncur ke sana," jawabku lemah menyetujuinya.
Hati rasanya begitu sedih sekali ketika teringat kembali akan kata-katanya. Wajahnya kini sudah memghantuiku dan tak pernah hilang dari ingatan.
__ADS_1
Kami terus berjalan menuju toko yang diiginkan Salwa. Dia terus menarik tangan agar bisa secepatnya menuruti keinginannya.
Sambil menunggu Salwa memilih baju, jari-jari terasa gatal sekali ingin memeriksa gawai yang beberapa hari ini belum kusentuh sama sekali. Betapa terkejutnya aku saat melihat digalery kumpulan foto. Disitu sudah beratus foto telah rapi berjejer antara fotoku dan Ana, dan hati mulai merasa sudah sesak ketika melihatnya.
"Aah, apakah aku telah keterlaluan dengan sikapku tadi? Apakah aku telah keterlaluan menghinanya tadi? Ah ... aaah, apakah dia benar-benar istriku?" Hati terus saja merancau merasa bersalah.
"Adit, gimana menurutmu pakaian yang ini?" Salwa mencoba menunjukkan padaku.
Gaun merah merona cocok sama kulitnya. Terlalu sexy dan terbuka namun bagi Salwa akan biasa saja.
"Bagus!" jawabku yang tak melihatnya.
"Tapi kayaknya agak kebesaran dech! Kalau yang ini gimana?" tanyanya lagi saat mataku malas untuk memperhatikannya.
Kini gaun putih dia tunjukkan.
"Aku coba dulu ya!" Salwa mencoba mengajakku berbicara lagi.
"Heem."
Sekitar lima menitan Salwa kembali. Dengan tangan memegang gantungan baju. Beberapa setelan pakaian dia tunjuk dengan melekatkan dibadan.
"Kalau ini gimana?" tanyanya lagi.
"Aah Salwa! Dari tadi kamu nanya terus, kalau kamu suka ambil saja semuanya biar aku yang bayar. Kalau perlu tokonya sekalian kita beli." Nada marahku dengan melengkingkan suara.
"Adit, iiiiih! Kamu kok gitu sih!" ucapnya dengan memasang wajah cemberut
__ADS_1
Suara hentakan terdengar nyaring. Higheelsnya berkali-kali dia katukkan dilantai. Sepertinya Salwa akan marah besar.
"Ehh, maaf ... maaf, kamu jangan marah, ok!" ujarku menghampirinya berusaha membujuk.
Bahunya kupegang. Berusaha membujuk biar tidak merepotkan. Wanita kalau sudah ngambek terasa akan menyulitkan, maka dari itu dari pada kewalahan lebih baik berkata manis agar dia tidak marah lagi.
"Kamu sudah keterlaluan membentakku tadi," Manjanya sudah tak suka seperti ingin menangis.
"Maafkan aku tadi, ya! Sebab aku lagi tidak mood banget ini. Bawaannya rasa dalam hati lagi ngak enak saja. Kamu pilihlah yang kamu suka, nanti semuanya akan kubayar," suruhku.
"Banarkah? Apa benar aku boleh ambil yang mana saja?" jawabnya dengan gembira.
"Iya, apa sih yang enggak buat kamu. Walau kamu ambil semua baju ditoko ini, hartaku takkan habis begitu saja," Kesombongan memamerkan.
"Terima kasih ya, sayang!" ucapnya yang langsung memelukku.
"Iya. Tapi habis bayar nanti kita langsung pulang, rasanya kepalaku sakit dan aku ingin istirahat," Alasanku pada Salwa sebab ingin sendirian berpikir.
"Baiklah," jawabnya dengan sifatnya yang centil.
Ternyata mudah juga membujuk Salwa, cukup diiming-imingi apa yang dia sukai pasti marahnya akan hilang..
Cukup lelah juga mengantar Salwa. Apa yang dilihatnya dan dia sukai pasti merengek minta dibelikan. Sudah kepalang mengajak dia jalan-jalan, ya terpaksa harus keluar kantong banyak. Hobbynya dari dulu adalah shopping. Semua yang dilihat pasti akan dibelinya walau harga selagit sekalipun.
Kini aku sudah sampai rumah, yang sebelumnya sudah mengantar Salwa pulang duluan.
"Huuuuf," Tarikan nafasku kasar akibat hati sedikit merasa kacau.
__ADS_1
"Ya Allah, apakah kelakuanku benar-benar salah telah mengkasari Ana tadi. Kenapa pikiranku tak mengingat kenangan-kenangan manis kami? Apakah ini tanda bahwa dia bukan jodohku, Aah, tapi jika dia memang jodohku kembalikanlah ingatanku tetangnya, biar aku bisa merajut bahagia barsamanya lagi," doaku dalam hati sudah ada rasa penyesalan.
Rambut berkali-kali terjambak. Mencoba mengingat kenangan bersama Ana tapi kenyataannya tetap tidak ada sama sekali kenangan itu. Frustasi membuat kepala harus berpusing ria.