Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Kebingungan melamar


__ADS_3

Bulan demi bulanpun telah berlalu, hingga tanpa terasa kini sudah tujuh bulan lebih Karin telah setia bekerja padaku. Karena perutnya yang kian lama nampak membesar, membuatnya tak bisa lagi bekerja, hingga pada akhirnya dia berpamitan untuk berhenti kerja sementara. Katanya setelah melahirkan dia bisa berkerja kembali, hingga aku mengabulkan permintaannya itu. Bukan maksud apa-apa aku mengizinkan pintanya kembali bekerja, sebab rasa kasihan terhadap dirinya yang keras menjalani hidup membuat diri ini sungguh tak tega.


Bu Fatimah yang awalnya hanya digantikan Karin saja, kini benar-benar tak bisa kembali bekerja, sebab suami beliau telah melarang akibat penyakit yang diderita tak memperbolehkan beliau untuk mengerjakan pekerjaan yang berat lagi. Usia beliau yang sudah memasuki tua, membuat tubuh kian lama semakin lemah untuk melakukan perkerjaan berat sebagai prt.


"Aku harus menemui Karin, untuk melihat keadaannya masih baik-baik saja apa tidak?" guman hati yang khawatir saat sibuk menyetir mobil menuju rumahnya.



Walau sudah hampir dua minggu karin tak bekerja dirumahku lagi, aku masih tetap baik menyambangi, yang kadang hanya untuk sekedar mengetahui kedaannya. Bagiku kehamilan Karin membuat hati merasa iba, saat masa-masa sulit tidak ada pria yang bisa menemaninya.


Perlahan-lahan mobil telah berhasil memasuki area sekitaran perkarangan rumahnya. Saat mesin kuusahakan mati dan membuka sedikit jendela, tak sengaja mata menatap fokus ibu-ibu yang sedang berbelanja sayuran di mamang pejual sayur dalam gerobak, yang posisinya tepat didepan rumah bu Fatimah. Dan tanpa sengaja diri ini telah berhasil menguping pembicaraan mereka.



"Eeh ... ehhh, kalian tahu ngak sih anak bu Fatimah yang bernama Karin itu? Aneh ngak sih, kian hari perutnya kok kian membesar sekali? Apa jangan-jangan gosip tetang dia yang sudah berisi memang benar adanya?," tebak salah satu Ibu-ibu yang memakai daster.


Terlihat sekitaran ada lima Ibu-ibu yang sedang asyik berbelanja, dengan tangan sibuk memilih sayuran yang akan dibeli, tapi mulut mereka juga ikut sibuk bekerja mengosipkan orang.


"Iya ... ya, bener-bener itu Ibu-ibu. Apa kalian ngak merasa bahwa dia itu masih muda tapi kok bisa berbadan dua gitu? Apa jangan-jangan dia itu adalah wanita nakal? Lihat saja, dia kalau kerja berangkat pagi-pagi dan pulangnya agak malaman dikit," saut jawaban ibu-ibu berambut keriting.


"Betul sekali itu. Masak kalau bekerja mengarah yang lain, pulangnya malam terus," simbat ibu berdaster.


"Aneh betul bu Fatimah ini. Masak anak nakal seperti itu mau saja dipelihara, bikin malu saja. Dasar anak tak berbakti, yang bisanya nyusahin orang saja. Sudah untung diadopsi bu Fatimah sekeluarga, tapi kini durhaka telah mempermalukan keluarga itu," Nyinyir simbatan Ibu-ibu yang lainnya.


Aku yang mendegar itu, hanya bisa mengepalkan tangan kuat dalam mobil, untuk menahan segala amarah yang full emosi sudah bersemayam dalam dada.


"Tapi benar 'kah Ibu-ibu, jika anak bu Fatimah itu beneran hamil? Kalian jangam asal tebak menfitnah begitu saja, tak baik itu. Mungkin Karin kelihatan membuncit perutnya akibat badan gemuk saja kali," tanya ibu yang memakai hijab.


"Ibu kok ngak percaya, sih. Sudah jelas-jelas kelihatan besar perut si Karin itu. Kalau badan gemuk saja tak akan sebuncit kedepan begitu," saut jawab ibu berambut keriting.


"Heeh, iya ... iya, bu. Saya percaya!" Kepasrahan ibu berkerudung menjawab.


"Iya, bu. Harus itu. Anak tak tahu malu itu namanya. Lihat! Kalau dia bukan wanita nakal, pasti sudah ada suaminya. Umur yang masih muda begitu, pasti suka sekali sama hal yang berbau pergaulan bebas. Zaman sekarang anak perempuan kalau tak diawasi, ya bakalan kayak gitu, bisa mudah terjerumus oleh pergaulan bebas," imbuh ucap ibu berambut keriting.


"Benar-benar itu," simbatan yang lain yang hanya menjadi pendengar saja.


Aku yang geram atas ucapan mereka, rasanya ingin sekali segera turun, untuk kusemprot para Ibu-ibu itu dengan balasan kata-kata. Rasanya aku tak rela sekali Karin dikatain yang enggak-enggak. Sabuk pengaman sudah kulepas, dan kini berusaha untuk segera turun dari mobil.


Bhak, dengan kencangnya kututup pintu mobil, hingga para Ibu-ibu itu melihat kearahku dengan tatapan yang aneh atas kaget dan heran.


"Hallo, Ibu-ibu. Lagi belanja 'kah?" sapaku pura-pura ramah pada mereka.


"I-iii-yaa?" jawab salah satu orang yang kelihatan gugup, yang kemungkinan grogi akibat disamperin cowok ganteng sepertiku.


"Wah asyik sekali nih, belanja sambil gosipin orang," Singgungku pada mereka.


"Maksudnya apa ya, cogan?" Suara manja tanya emak-emak berambut keriting.


"Tadi aku sedikit mendengar pembicaraan kalian lho, didalam mobil," terangku.


"Ooh, maksudnya yang barusan kami bicarakan itu?" saut jawab ibu berdaster.


"Yaapp," jawabku singkat.

__ADS_1


"Kami bukan sedang gosip kok, tapi itu adalah kenyataan, bahwa anak angkat bu Fatimah memang sedang hamil yang tak ada suaminya. Sungguh memalukan sekali itu," simbat jawab ibu yang berambut keriting.


"Ayo Ibu-ibu, cepetan belanjanya. Kalian ini ngomog terus, tak langsung cepat-cepat ingin membeli sayuran yang saya jual. Aku 'kan ingin berjualan keliling ketempat yang lain juga," Ketidaksenangan mamang penjual sayur.


"Iya ... ya, mang. Sebentar kenapa! Kami jarang sekali bertemu untuk saling berbicara kayak gini," jawab ibu-ibu yang lain.


"Oh ya, benarkah apa yang kalian katakan tadi, jika perempuan didalam hamil dan tak ada suaminya?" tanyaku berpura-pura tak tahu.


"Iya, cogan."


"Sekarang dengarkan baik-baik ya, Ibu-ibu. Jangan sekali-kali mengosipkan Karin yang tidak-tidak, jika kalian tak ada buktinya sama sekali. Kalian bisa kutindak kepihak yang berwajib, yaitu atas tuduhan pencemaran nama baik, gimana?" ancamku geram sebab sudah keterlaluan ulah mereka.



"Memang kamu siapa? Berani sekali mengancam kami. Kami itu bukan pengosip, tapi memang kenyataannya itu ada," saut salah satu dari mereka nampak marah.


"Benar-benar itu. Dateng-dateng main ngancam segala," simbatan yang lain pulak.


"Gimana ngak ngancam, jika kalian ucapannya keterlaluan begitu. Karin itu adalah anak baik dan tak pernah menjadi wanita nakal seperti dugaan kalian. Dia adalah korban sebuah kecelakaan, hingga dia hamil begitu. Selama ini dia berkerja jadi prt sampai pulang larut malam, bukan menjajakan tubuh seperti tuduhan kalian itu. Dan asal kalian tahu, bahwa dia itu bukan tak punya suami, tapi dia sedang dalam proses menuju palaminan, yaitu yang boleh dikatakan akulah yang akan menjadi suaminya sekarang," jelasku berbohong lagi.


"Apa? Benarkah itu?" Keterkejutan salah satu dari mereka.


"Kalau ngak percaya ya sudah, nanti kalian akan percaya sendiri dan melihat bahwa akulah memang suaminya. Oh ya, mang. Semua dagangan kamu hari ini akan aku beli, untuk menyumpal mulut emak-emak yang ember ini," Kekesalanku berucap, yang langsung memberikan beberapa lembaran uang merah kepada penjual sayur.


"Terima kasih, Cogan. Atas kebaikan kamu yang membeli semua dagangan saya hari ini" teriak Mamang saat aku melangkah pergi menjauh.


"Ya. Ambil semua sayurannya."


"Dasar Ibu-ibu kurang kerjaan, sukanya hanya ngomongin orang saja. Kamu tak sepantasnya dihina begitu, Karin. Aku akan melindungi kamu sekuat tenaga, agar kamu tetap bahagia dalam mengarungi kehidupan kamu. Sungguh sedih rasanya melihat penderitaan kamu kini. Benar kata Ibu-ibu tadi, bahwa kamu hamil tanpa suami, jadi kali ini aku akan menolongmu lagi. Sungguh salut atas ketabahan kamu, yang selalu sabar menelan pil pahit penderitaan kehidupan ini. Aku akan terus berjuang membahagiakan kamu juga. semoga saja itu bisa," rancau hati yang berjanji.


Tok ... tok, pintu rumah Karin kuketuk.


Ceklek, pintu sudah dibuka lebar.


"Eeh, ada nak Chris. Ayo masuk-masuk, silahkan," ucap suami bu Fatimah ramah.


"Iya, pak. Terima kasih.


Kaki kini melangkah masuk, yang langsung saja duduk dikursi ruang tamu.


"Karinnya ada, pak?" tanyaku.


"Ada tadi, tapi sekarang lagi sibuk bantu-bantu masak ibu didapur untuk makan siang," jawab ramah pak Samsul.


"Oh, ya. Tumben-tumbennya bapak dirumah? Apakah tak pergi mengajar?" tanyaku berbasa-basi.


"Hari ini cuma setengah hari saja mengajar, sebab guru-guru tadi mengadakan rapat penting, hingga murid-murid dipulangkan setengah pelajaran saja," jelas beliau.


"Ooh."


"Karin .. Karin, buatkan minuman. Ini ada tamu tuan Chris," teriak pak Samsul menyuruh.


"Iya, pak. Sebentar, Karin akan buatkan segera," simbat Karin berteriak kembali.

__ADS_1


Aku yang duduk santai kini diam seribu bahasa, saat hati tengah berkecamuk memikirkan sesuatu keputusan, yang ingin kubicarakan pada keluarga bu Fatimah ini.


"Aah, Apakah mereka mau menerimaku? Atau jangan-jangan Karin sendiri yang nanti akan menolakku? Huufff, Aku hanya ingin membahagiakan kamu saja, Karin. Semoga saja keinginanku kali ini kamu mau menerimanya," guman hati yang binggung.


Karin yang kini sudah nampak sekali atas kehamilannya, tengah sibuk membawa nampan berisikan minuman. Bu Fatimah hanya mengiringi dari belakang tubuh Karin, dan saat beliau mendekatiku tanpa basa-basi langsung kucium tangan pungung dengan penuh ketakziman.



"Silahkan diminum, tuan!" perintah Karin.


"Iya, terima kasih."


"Oh ya, tumben-tumbennya tuan mampir kesini? Apakah tak ada kerjaan, hingga menyempatkan waktu untuk mampir datang kesini?" tanyanya heran.


"Kebetulan lagi kosong job kerja. Aku kesini mau menyambangi dan melihat keadaan kamu, apakah baik-baik saja apa tidak. Selain itu, sebenarnya ada hal penting yang ingin kubicarakan pada bapak, ibu, dan terutama kamu Karin," ucapku malu-malu pada mereka.


"Cakaplah, tuan Chris. Kami akan mendengarkan dengan senang hati," jawab pak Samsul ramah.


"Maaf sebelumnya, jika ucapan saya nanti lancang. Karena kondisi Karin yang kian lama kehamilannya kian membesar, jadi maksud dan tujuan kedatangan saya kesini adalah ing-ingg-ingin melamar dia!" ucapku serius diiringi terbata-bata.


"Apa? Beneran apa yang tuan katakan tadi?" Keterkejutan Karin tak percaya.


"Iya, Karin!" jawabku meyakinkan.


"Gimana, pak, bu?" tanyaku pada orang tua angkat Karin.


"Kami tak bisa memberikan keputusan sepenuhnya, sebab semua ini adalah hak Karin untuk menjawab keputusan itu. Kami sebagai orangtua angkatnya hanya bisa mendukung saja, agar dia bisa bahagia atas musibah yang menimpanya," jawab suami bu Fatimah tak tahu dalam kebingungan juga.


"Iya, tuan Chris. Semua tergantung pada Karin. Sebab dialah yang akan menjalani rumah tangga nanti," simbatan bu Fatimah memberikan jawaban.


"Gimana, Karin?" tanyaku gamblang.


"Aku tak bisa memutuskan sekarang, tuan. Sebab ini terlalu mendadak bagiku, untuk menerima semuanya. Aku adalah wanita hina bagi orang diluaran sana, yang kemungkinan tak pantas untuk kamu. Lagian aku hamil anak orang lain, apakah tuan akan menerima dengan ikhlas dan akan menyayanginya? Jadi pikirkanlah baik-baik atas ucapan kamu barusan," terang Karin antara menolak dan menerima.


"Baiklah, aku akan menunggu jawaban kamu. Maafkan aku jika lancang meminang kamu mendadak begini. Insyaallah, aku akan menyayangi anak yang kamu kandung, walaupun aku bukan ayah biologisnya. Rasa sayangku padamu, semoga bisa membuat rasa sayang itu hadir juga untuk anak kamu nantinya," balik jelasku.


"Aku bukannya menolak atas kebaikkan tuan. Tapi aku juga harus memikirkan semua ini, agar semua orang nanti tak mencemo'oh dan menghina tuan, akibat menikahi wanita yang hamil duluan sepertiku," imbuh ucapnya pilu.


"Jangan katakan itu, Karin. Masalah cemo'oh dari orang lain, kalau bisa kita dengarkan dari telinga kiri dan kita langsung buang dari telinga kanan saja, maksudnya tak usah pedulikan itu. Kalau kita mengikuti omongan orang, kita sendiri tak akan merasa bahagia dan rasa-rasannya akan terus terkengkang oleh gosip yang semakin memperburuk keadaan kita," nasehatku.


"Jadi bagaimana?" imbuh ucapku meyakinkannya.


"Entahkah, tuan. Aku benar-benar tak bisa memutuskan sekarang. Yang jelas aku masih butuh waktu untuk memikirkan semua ini," jelasnya.


"Baiklah. Akan aku tunggu jawaban itu, sebab jika berlama-lama tak baik juga, untuk keadaan kamu yang sudah berbadan dua ini yang semakin membesar," jawabku setuju.


"Iya, tuan. baiklah."


"Benar itu, tuan Chris. Biarkan Karin memikirkannya dulu. Lagian jangan terburu-buru dalam mengambil tindak keputusan, sebab nanti bakalan tak baik untuk kedepannya," simbatan ucap pak Samsul.


"Iya, pak. Saya mengerti."


Aku sendiri tak tahu apa yang barusan kutanyakan, dalam menawarkan kebaikan untuk menikah dengan Karin. Entah mengapa yang awalnya niat hati ingin berkunjung, tiba-tiba saja ada niatan hati ingin menikahi Karin. Mungkin saja ini akibat gosip yang sudah beredar sangat menyakitkan bagiku, hingga rasanya aku tak tahan atas melihat dan mendengar penderitaan Karin.

__ADS_1


__ADS_2