Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Proses menyambut si kecil


__ADS_3

Hari-hariku kini penuh dengan ketegangan sebab hari waktu akan persalinan akan tiba. Aku begitu dilanda rasa was-was dan cemas, sebab takut-takut semuanya tak akan berjalan dengan baik. Karena ini pengalaman pertama, jadi aku begitu takut dan gelisah, yang ditambah tak ada suami yang bisa mendampingi.


"Ya Allah, kuatlah aku nanti dalam proses melahirkan buah hatiku ini. Aku begitu takut jika proses ini tak berjalan sesuai keinginanku, jadi berikan aku semangat untuk menjalani ini semua. Semoga semuanya berjalan baik-baik saja dan lancar, amin!" doaku dalam hati.


Entah mengapa ketakutan akut ini begitu melandaku, dan ibu selalu saja menenangkanku yang seakan-akan tahu sekali jika aku begitu khawatir atas anak yang akan segera lahir ini.



"Kamu kenapa menangis, nak?" tanya ibu saat aku tengah bertelungkup berbaring.


"Karin, ngak pa-pa bu!" jawabku sambil menghapus airmata dan membenahi tubuh untuk segera berposisi duduk.


"Ibu tahu betul apa yang kamu rasakan sekarang, jadi jangan terlalu bersedih begini. Ada bapak dan ibu yang akan membantu dan menyayangi kamu," ujar beliau sambil mengelus rambutku pelan.


"Karin begitu takut atas nasib anakku nanti, bu. Bagaimana aku bisa membesarkan dia dengan baik, sedangkan aku mengurus diriku sendiri saja tidak becus. Bagaimana jika suatu saat dia akan menanyakan ayah biologisnya, yang sementara aku tak mau kembali ke masa lalu yang penuh kehancuran itu. Apakah anakku akan tubuh dengan baik saat aku telah gagal menjalani hidupku sendiri? Aku sangat menyayangi anakku, tapi apakah dia akan menyayangiku juga, saat telah tega memisahkan dia dari ayahnya. Aku takut sekali, bu. Ketika orang lain disaat hamil selalu dimaja suaminya, aku harus berkerja keras untuk mempertahankan kehidupan kami. Aku sangat dilanda rasa cemas jika persalinan ini tak berjalan baik, saat orang yang kubutuhkan tak ada disisi," ucapku dengan lelehan airmata mulai deras membasahi pipi.


"Kamu tak payah memikirkan itu. Semua sudah diatur sedemikian rupa dan menjadi kehendak Allah. Kamu adalah wanita kuat dan selalu sabar, hingga Tuhan selalu memberikan kamu cobaan demi cobaan tanpa henti, sebab kamu wanita hebat yang selalu bisa melewatinya dengan baik. Kamu jangan berpikiran yang aneh-aneh, dan tanamkanlah semua kejadian yang baik-baik saja. Tuhan itu maha adil, maka kamu jangan berlebihan memikirkan atas kehidupan anakmu nantinya. Pasrahkanlah atas semua keadaan ini, maka kamu akan bisa melalui semuanya dengan tenang. Ibu tahu sekali kamu begitu takut, sebab tak ada pria yang menemani kamu disaat hari-hari menegangkan ini. Bukankah ada kami yang siap membantu kamu, jadi jangan khawatirkan hal-hal yang semakin memperburuk keadaan kamu saja," tutur lembut nasehat ibu, yang langsung memeluk tubuhku.


"Iya bu. Terima kasih. Mungkin aku tak tahu lagi atas kehidupanku sekarang, jika bapak waktu itu tak menolongku. Kalian sungguh baik, yang padahal aku bukanlah siapa-siapa kalian. Balas budi terima kasih dan balik menyayangilah yang hanya dapat kuberikan," balas jawabku pilu.


"Iya, Karin. Tidak apa-apa, kami ikhlas merawat dan menyayangi kamu, jadi jangan berpikir yang aneh-aneh. Yang penting sekarang pikirkan yang baik-baik saja, untuk masa depan anak kamu," jelas ibu.


"Iya, bu."


Kami berdua telah terhanyut menangis atas nasib yang kuderita sekarang. Nasib malang yang sedang berpihak, seakan-akan telah menjadi kendalaku untuk terus maju hidup kedepannya, tapi berkat kekuatan anakku yang selalu menemaniku diatas suka dan duka, akhirnya aku bisa bangkit kembali atas semua ini.


Makan siang untuk keluargapun mulai kusiapkan, dengan dibantu ibu untuk menyiapkan segalanya yaitu menata piring, sendok, nasi dan lauk makan. Hari ini adalah hari minggu, jadi bapak libur untuk mengajar dan berada dirumah sekarang.


Preng, suara piring tiba-tiba kujatuhkan.



"Astagfirullah, ada apa Karin?" tanya ibu yang tengah memergokkiku sudah terduduk memeganggi perut.


"Aaaaa ... sakit bu, sakit!" keluhku pada perut yang mulai mules.


"Ayo bangun," suruh ibu biar aku duduk dengan benar.


"Ngak bisa, bu!' keluhku menolak.


"Ada apa ini, bu?"


"Ngak tahu, pak."


"Apakah kamu akan segera melahirkan? Tapi bukankah masih sekitar beberapa minggu lagi?" tanya bapak yang tiba-tiba ikut datang sebab kaget atas suara piring jatuh.


"Mungkin saja, pak. Gimana ini? Sepertinya Karin benar-benar akan melahirkan sekarang," ucap panik ibu yang sudah binggung atas diriku, yang kian meronta sakit dengan lelelehan airmata mulai mengalir.


"Ayo kita bawa ke rumah sakit saja" ucap usul bapak.


"Iya, pak. Benar ... benar, ayo pak, cepetan!" Tak sabarnya ibu berucap.


"Baiklah, kalian tunggu disini sebentar. Bapak akan coba menyewa mobil tetangga saja, biar nanti memudahkan membawa tubuh Karin," jawab bapak ikutan binggung.


"Iya, pak."

__ADS_1


Wajahku sudah mringis kesakitan tak tertahan lagi, akibat perut terasa diaduk-aduk mules sekali. Pinggangpun terasa sakit sekali tak tertahan, hingga berulang kali ibu mengelus pelan bagian itu, sambil menunggu kedatangan mobil yang dimaksud bapak. Airmata telah kering tapi masih ingin menangis, saat menahan rasa sakit itu yang tak bisa kutahan lagi.


"Ayo, bu. Ayo, cepat ...cepat!" suruh bapak yang sudah datang bersama orang yang menyewakan mobil.


"Iya, pak!" jawab ibu yang kini mulai membantuku berdiri.


"Pelan-pelan, nak."


"Sakit, bu!" keluhku tak tahan.


"Sabar dan tahan sebentar," imbuh ucap ibu.


Karena tak kuat berjalan, akhirnya akupun diangkat bapak yang dibantu sang sopir mobil yang disewa, sedangkan ibu hanya mengiring kami dari belakang dengan tangan membawa tas yang ada perlengkapan bajuku dan bayi yang dibutuhkan.


Dengan secepat kilat mobilpun sudah dijalankan. Ibu dan aku duduk dibelakang mencoba menenangkanku dengan cara terus menyuruh melepas dan menghirup nafas pelan-pelan.



Dert ... dert, tiba-tiba gawaiku yang dipegang bapak telah berbunyi.


[Hallo, assalamualaikum]


Terdengar suara seorang pria tengah menelpon, yang sepertinya adalah suara Chris


[Walaikumsalam, pak. Oh ya, kemana kalian? Kok pintu rumah ditutup dan dikunci]


[Kami sekarang sedang membawa Karin kerumah sakit, sebab sepertinya dia mengalami kontraksi dan akan melahirkan]


[Benarkah? Kalau begitu saya akan secepatnya menyusul kesana. Berikan alamatnya, pak]


[Iya nak, Chris. Kami menuju rumah sakit Kasih bunda xxx, Jln. Melati, No. 115]


[Baik, kami akan tunggu]


Tut ... tut, panggilanpun telah selesai dilakukan.


Rasa sakit diperut akan perih, mual, mules benar-benar sudah terasa di aduk-aduk menjadi satu. Karena dari tadi pagi belum sempat sarapan, akibat rasa malas sembari pagi merasakan sakit pada area perut, hingga kini menjadi sakit beneran dan terasa asam lambung mulai naik.


Dengan tergesa-gesa akupun lagi-lagi diangkat oleh dua orang untuk masuk ke area rumah sakit. Sambil manahan rasa sakit yang tak tertahan lagi, kini aku berbaring lemah dengan tangan sedang dipasang infus akibat badan tak kuat lagi. Muka begitu pucat, yang berkali-kali sudah muntah.


"Ibunya tahan dan sabar, ya. Ini belum waktunya melahirkan sebab masih pembukaan lima, jadi tunggu bebarapa menit lagi menunggu proses persalinan nanti," terang ucap suster.


"Iya, suster. Terima kasih!" jawab ibu ramah.


Bapak telah sibuk mengurus surat-surat proses persalian ini, hingga ibulah yang harus sendirian menungguku.


"Aaah ... aaaa, bu sakit. Tolong bu," rontaku kesakitan lagi.


"Apakah sudah sakit beneran ini?" balik tanya ibu panik.


"Iya, bu. Aku sudah tak tahan, aaaaah!" jawabku yang terus merancau kesakitan.


"Iya ... iya, tunggu disini, ibu akan panggil dokter dulu. Kamu tenang disini dulu," Kepanikan ibu yang kini sudah berlari tergopoh-gopoh meninggalkanku.


Akhirnya dokter dan suster sudah datang segera, hanya beberapa detik saat ibu memanggil. Ternyata benar saja, waktu yang ditunggu dan menegangkan akan segera dimulai.

__ADS_1


"Mana suaminya? Sang ibunya nanti akan butuh dukungan saat proses persalinan?" tanya dokter.


Ibu langsung saja terdiam tak bisa menjawab atas pertanyaan itu, sedangkan akupun tak bisa berkata-kata juga sebab dalam kepalaku hanya bisa memikirkan rasa sakit saja.


"Hallo, buk ... ibu, dimana suami adek ini?" Ulang tanya dokter.


"Suaminya sedang bekerja ditempat jauh, jadi tidak bisa menemani proses ini," jawab ibu berbohong.


"Ya sudah, ngak pa-pa. Biar ibu saja yang menemani adek ini," terang dokter perempuan, yang umurnya kemungkinan sudah setengah abad.


"Baik, dok."


Selang infus masih terpasang, dengan kondisi mulut semakin parah sudah muntah-muntah terus. Kepala mulai pusing dengan badan kian melemah akibat berkali-kali mengeluarkan tenaga.


"Aaah ... sakit, bu. sakit ... sakit," rancauku tak tahan.


"Istigfar nak. Astagfirullah ... astagfirullah," tutur ibu menuntunku.


"Tapi, bu. Aku ngak kuat," jawabku kesakitan.


"Jangan katakan sakit, tapi ucaplah istigfar!" imbuh ucap ibu mencegah saat aku terus mengeluh tak tahan.


Tok ... tok, tiba-tiba ada suara ketukan saat ditengah prosesku dalam perjuangan.


"Maaf menganggu, saya ingin menemani istriku," ucap Chris yang sudah datang yang tiba-tiba nyelonong masuk tanpa disuruh.


"Oh, iya silahkan ... silahkan," jawab ramah dokter.


Chris langsung menghampiriku dan memegang erat tanganku.



"Kamu temani dia baik-baik, ibu hanya bisa doakan semoga ini cepat berakhir dan Karin kuat menjalaninya" ucap ibu sebelum pergi dan digantikan oleh Chris.


"Iya, bu. Terima kasih sudah mengizinkan.


Peluh keringat telah membanjiri seluruh tubuhku, dengan tangan terus mengenggam kuat tangan Chris.


"Aku sudah ngak kuat Chris," ucapku manangis tapi tidak bisa mengeluarkan airmata, saking kuatnya menahan sakit.


"Kamu yang sabar tahan. Ambil nafas dalam-dalam dan keluarkan secara perlahan," jawab Chris mencoba menenangkanku


"Iya, dek. Kamu harus tahan rasa sakit ini, ambil nafas dalam-dalam dan hembuskan perlahan," ucap dokter ikut memberi arahan.


Dengan sekuat tenaga apa yang dikatakan dokter terus aku ikuti. Chris berkali-kali mencium pipiku yang telah mengeluarkan airmata, dan tangannya terus saja mengelap peluh keringat dikening. Begitu sabar dan telatennya dia menemaniku, saat detik-setik proses melahirkan antara kehidupan dan kematian dalam perjuangan.


Suara tangisan bayipun akhirnya mengema keras sekali, setelah perjuangan menahan sakit selama hampir setengah jam lamanya. Bayi yang mungil masih bersimbah darahpun kini telah digedong Chris, sebab suara gema adzan telah dia kumandangkan segera ditelinga bayi mungilku. Tanpa henti-hentinya lelehan airmatapun terus mengalir deras, atas apa yang dilakukan Chris sekarang.


"Andaikan kamu adalah kak Adrian, aku tak mungkin sesedih ini. Kamu begitu baiknya telah menerima anakku yang padahal bukan darah dagingmu sendiri. Terima kasih Chris, engkau telah mengemakan adzan untuk anakku, saat pertama kalinya dia melihat dunia ini," ucapku menitikkan airmata menatap nanar aksi yang dilakukan Chris.


Senyuman Chris tak henti-hentinya terpancar bahagia, saat anak yang dia gendong barusan, dapat dia rasakan sentuhan kelembutan kulitnya. Entah mengapa sekelebat pemandangan telah nampak menyedihkan didepanku, yaitu saat Chris juga menitikkan airmata, tapi secepat kilat juga dia hapus sebab mungkin malu.


"Selamat ya, dek. Akhirnya setelah perjuangan yang melelahkan anak yang kamu kandung kini telah lahir dengan jenis kel*m*n perempuan," ucap dokter ingin menunjukkan anak yang sudah keuperjuangkan.


"Iya, dok. Terima kasih."

__ADS_1


Rasa bahagia terus juga terpancar oleh kedua orangtua angkat, namun tak terasa bahagia bagiku, sebab sedih akibat pikiran dikuasai oleh rasa pilu saat ayah kandungnya tak bisa melihatnya.


"Aah, kenapa kamu terlalu berharap pada kak Adrian yang sudah menyakiti kamu, Karin. Lupakan dia Karin, pikirkanlah masa depan anakmu saja sekarang. Bukankah sekarang ada Chris yang bisa membahagiakan kamu, jadi buanglah pikiran tentang kakak kamu yang br*ngs*k itu," guman hati yang kembali berpikiran aneh-aneh.


__ADS_2