
Banyak kerjaan yang menumpuk dikantor. Berkas tidak habis-habisnya terus kuteliti satu persatu dan tanda tangani. Beginilah kalau jadi, bos, hari-hari bergulat dengan tumpukan kertas.
"Bos..bos?" panggil Rudi tiba-tiba.
"Ada apaan sih! Teriak-teriak," ujarku sudah merasa aneh.
"Huuf ... huffff. Hheh ... heh," Nafas Rudi tersengal-sengal.
"Ini minumlah dulu," Kusodorkan minum.
"Hehehe, terima kasih, Bos!."
"Sekarang katakan, kenapa kamu kayak habis dikejar hantu saja. Pakai ngos-ngosan begitu."
"Gawat, Bos. Gawat ... gawat, itu anu ... anu, Ana!" jawabnya tidak lancar bercakap.
"Ada apaan, sih! Ngomong yang bener," suruhku tidak sabar.
"Itu ... itu, istri Bos!"
"Iya. Itu kenapa? Ngomong dengan jelas, issshh."
"Itu loh, Bos. Dia benar-benar mau janjian sama temennya yang pegawai kebersihan itu," penjelasan Rudi.
__ADS_1
"Apa?" Kekagetanku.
"Iya, Bos. Suer, aku tidak bohong."
"Aku percaya, kok. Wah ... wah, dia itu benar-benar bernyali besar, mau mengajak Ana keluar. Awas saja dia!" Kekesalan mulai emosi.
"Kasih dia pelajaran saja, Bos."
"Itu masalah gampang. Kamu besok ikut aku?" ucapan memerintah pada Rudi.
"Ikut gimana? Bos saja yang pergi sendirian," tolaknya.
"Kalau kamu ngak mau ikut dan menuruti perkataanku, berarti siap untuk potong gaji," ancamku.
"Tidak ada." Tegas ucapan.
"Baiklah kalau bos menyuruh, tapi ada syaratnya!" Rudi mencoba memberi penawaran.
"Apapun syaratnya pasti akan kupenuhi, asalkan jangan yang aneh-aneh saja, mengerti! Cepetan katakan apa syaratnya?" nada ketusku padanya, tak sabar ingin mendengar atas permintaannya.
"Naikkan gajiku 20x lipat."
"What ... what? Waaah, itu namanya pemerasan bukannya mau menolong," Suaraku tak setuju.
__ADS_1
"Ya ampuun, sekarang Bos gak asyik, nih! Tadi katanya syarat apapun akan dipenuhi, sekarang kok pelit amat," jawabnya dengan nada kecewa.
"Haduh. Iya ... iya, kalau bukan sedang genting saja, tidak mau membayar kamu dengan gaji segede itu, minta gaji hampir 150 juta lebih dalam seminggu."
"Hihihihi, Sekali-kali bantu teman kenapa? Maklum cicilan lagi numpuk nih!" ujarnya merasa tak berdosa.
"Cicilan numpuk bukan tidak bisa bayar! Sebab kamunya saja yang boros, shoping sana-sini memanjakan para cewek-cewek kamu."
"Good tebakanmu, Bos."
"Heeehhh, kalau bukan kawan dan sekertarisku saja, pasti kamu sudah kujebloskan dalam penjara dengan tuduhan pemerasan," Nada pasrahku tapi dongkol
"Sekarang Bos bener-bener menjadi orang yang paling terkejam, masak teman sendiri mau dipenjarakan, ckckkck." decaknya penuh keheranan.
"Kamu itu ngak bosan apa, gonta-ganti cewek melulu? Nih, tiruin bos kamu ini, hanya terpatri pada satu cewek saja," diri sendiri berucap sudah merasa bangga.
"Hehehehhe, maklum bujang ganteng. Puas-piasin dulu masa muda," Santai merasa tidak bersalah.
"Jangan lama-lama membujang, nanti bisa- bisa menjadi bujang lapuk baru tahu rasa kamu," Nasehat dalam pesan.
"Wah, doa Bos kejam sekali."
"Biarlah! Tambah kudoakan jodoh kamu lari semuanya, dan tidak akan ada yang mau sama kamu untuk dinikahi, hahaha." Gelak tawaku puas, sebab berhasil mematahkan omongan Rudi.
"Ckckck, betul kata Ana yang kemarin. Bos itu orangnya memang kejam dan tak berperikemanusiaan," Tatapan heran Rudi saat kekejamanku datang.
__ADS_1
"Dih, kalian ini ternyata sengkongkol."
Rasa kesal dan cemburu dalam hati, membuat kemarahan kini sudah melebihi batas ubun-ubun. Ternyata teman pria Ana, benar-benar nekat ingin mendekati Ana, tanpa memperdulikan status Ana itu seperti apa sekarang. Pasti kalau ketemu dia, akan kubuat perhitungan lebih padanya agar tidak mendekati lagi istriku itu.