
Entah mengapa setelah anakku lahir, kini sifat mas Adit bertambah membaik dan tidak kasar lagi. Walau ingatannya belum kembali sepenuhnya, tapi bolehlah tak sekasar kemarin-kemarin, dan itu cukup membuatku merasa bahagia. Tapi disebalik itu semua aku tidak berharap lebih kepadanya, karena aku tersadar bahwa hubungan kami masih dalam posisi yang rumit, dan itu jugalah yang sering kali membuatku menghela nafas kesal dan berat.
Inilah kisah cintaku yang tidak ada habis-habisnya menemukan titik terang, dan entah sampai kapankah diri ini akan melabuhkan kisah ini agar cepat usai.
Hati cukup merasa senang dan tenang akibat mas Adit selama ini masih baik. Disisi lain hati begitu sedih gundah gulana, akibat akan takutnya rasa kehilangan benar-benar terjadi, tapi semua tetap kutanamkan optimis dalam dada, bahwa semua tak akan terjadi dan semua akan tergantikan dengan kebahagiaan.
"Hai, Ana?" sapa Mas Adit bersama sekertarisnya Rudi.
"Hemm."
"Ada apa kalian kesini? tumben banget?" Keherananku.
"Masak kami mau mampir makan saja tidak boleh?" ketus Mas Adit.
"Bukan ngak boleh mampir. Tapi biasanya Mas Adit ke sini itu pasti ada hal-hal yang tak diinginkan," beberku atas tindakannya selama ini.
"Maksud kamu?" selanya bertanya.
"Masak gak ngerti sih," jawabku kesal.
"Beneran gagal faham."
"Biasanya mas Adit ke sini tuh pasti ada apa-apanya! Maksudnya ada tujuan terselubung. Bukan datang untuk makan saja, tapi ada niat yang tak mengenakkan, paham!" sahutku membenarkan tindakannya.
"Aah, kamu tahu aja, hahahah!" balasnya dengan gelak tawa puas.
"Ciiih, dasar manusia aneh." sahutku merasa sebal.
"Mana Aliya?" tanyanya.
"Dia sedang tidur."
"Boleh tidak, sebentar saja aku mau ketemu dengannya?" tambahnya meminta izin.
"Boleh ... boleh saja. Tapi jangan sampai ganggu dia apalagi membangunkannya, sebab dari tadi dia rewel terus. Kerjaan mencuciku saja dari tadi belum kelar-kelar," jelasku merasa kecapekan.
"Ooo. Siiplah"
__ADS_1
"Mau kubantu mencuci 'kah?" tawarnya.
"Memang mas Adit bisa? Perasaan selama ini tidak pernah. Kemarin-kemarin saja bukankah bajunya sering dilaundry? Sekarang mau bantu mencuci pakai tangan! Aneh bener dech. Bukan lagi kerasukan 'kan," sahutku sudah merasa keheranan.
"Hehehee, sebenarnya ngak bisa, sih! Cuma basa-basi ingin dekat kamu saja," cegegesan mas Adit, dengan tak malu dia bercerita tentang keinginannya.
"Bener itu Ana. Ini saja belum waktunya makan siang. Dari tadi bos Adit menarik-narikku supaya ikut kesini! Mau cari alasan saja, dan apesnya akulah yang jadi korban, bilang saja sedang ingin ketemu sama Ana!" Rudi membeberkan, sedikit merasa kesal.
"Hehehe. Yang pastinya sebab tidak ada alasan lagi mau ketemu sama kamu!" selanya menjelaskan.
"Aku? Apa tidak salah dengar?"
Kekagetanku dengan mimik wajah sudah terperangah. Apa sudah kepentok lagi kepala tuh orang. Semakin aneh saja sikapnya. Cukup berbeda jauh dari kemarin.
"Iya kamu," ucapnya tanpa malu-malu lagi.
"Kenapa juga harus aku? Bukankah kita akan bercerai!" jawabku mengingatkan.
"Bercerai?" ucapnya tersenyum ramah, diiringi mendekatkan wajahnya ke mukaku.
"Apa yang ingin kamu lakukan, Mas! Jangan aneh-aneh, ya. Banyak pelanggan bapak yang lihat," kegrogianku atas sikapnya.
Bola matanya sudah bergerak ke kiri dan kanan, seperti sedang lamat-lamat memperhatikan mimik wajahku. Sedikit berdebar. Rudi seperti menutup mata saja. Sangat acuh atas sikap kami berdua.
"Iiih, udah aah. Gak malu apa?" ucapku sambil mendorong tubuhnya.
"Hahahah, lucu juga kalau wajahmu gugup begitu," candaan Mas Adit, seakan-akan tahu betul bahwa aku begitu groginya sekarang.
"Jangan terbuai dan terpesona akibat rayuannya, Ana! Dia itu memang pandai bersilat lidah, dari dulu sukanya memang rayu-rayu cewek. Ketok pakai palu sekalian. Biar sadar apa yang dilakukan," sewot Rudi.
"Iyakah? Wah, baru tahu aku. Patut kayak santai saja berbicara hal romantis."
Tersenyum heran sambil melihat ke arah wajah mas Adit. Ada semburat malu yang sudah nampak.
"Ciih, bukankah terbalik itu! Kamu itu yang lebih parah dariku, sukanya selalu mengoda cewek-cewek, dan kenyataannya sudah hampir tiga puluh cewek lebih kamu rayu, tapi gak ada satupun yang lengket, malah lari kabur semua, hahahah! Takut mungkin sama wajahmu yang garang seperti biawak," gelak tawanya yang riang.
__ADS_1
"Isssh ... issh, Bos ini. Pria tampan gini dikatain biawak. Tapi tak apalah, yang penting belum dikandang jadi masih bisa bebas lirik sana sini. Betul ngak?" Dengan entang dan mudah Rudi menjawab.
"Dasar playboy yang tak tahu malu, ngatain orang lain tapi dianya tak mau mengaca pada diri sendiri," imbuh balik ejek mas Adit pada sekertarisnya.
"Haahhaha, tahu aja kamu itu, Bos! Jelek-jelek gini masih laku dan diperebutkan nona manis. Malah pada nempel. Jadi bisalah biawak cari mangsa berikutnya," jawab gelak tawa Rudi puas.
"Ciih. Mau enaknya saja. Kalau sedang kesusahan akibat kena tabok para cewek itu, aku juga pastinya akan terlibat. Parah dan ujung-ujungnya tekor akibat minta ganti rugi dengan materi."
"Heheh, maaflah, Bos. Sekali-kali bantu teman yang kesusahan tidak apa-apa 'lah."
"Dih, kesusahan yang kamu buat sendiri. Kesusahan apa'an kayak gitu. Diuber-uber cewek matre. Dasar, ngak sadar diri. Sudah kelakuan kayak biawak, tambah menjelma jadi buaya saja. Makin menjadi-jadi playboynya." Mas Adit terus saja mengeluh.
"Hihiihi, kita damai, Bos. Peace. 'Kan yang tersayang, jadi harus mengutamakan aku dulu 'lah."
"Dasar. Getok nih."
Kebahagiaan terasa di hatiku, akibat melihat keceriaan mas Adit sedang bercanda ria dengan sekertarisnya. Bahkan tawa kecil disudut bibirnya, bikin hatiku tergelitik. Wajah yang sangat aku rindukan, tapi saat ini tidak bisa tergapai dengan mudah.
"Kalian mau makan apa?" tanyaku mencoba menawarkan.
"Aku tidak mau makan, mau melihat aliya saja, boleh 'kan aku menengoknya sekarang?" Izin lagi.
"He'em, masuk saja ke kamar. Tahu 'kan tempatnya," anggukanku menjawab.
"Pasti tahu 'lah."
Dia sudah bangkit dari duduk. Melewatiku yang tengah berdiri menghadap tempat mereka tadi. Aroma itu sangat menguar. Menusuk hidung sampai membawaku terbang ke langit. Sudah sedikit jauh, tapi angin terus saja membawa aroma tubuhnya. Hanya bisa mematung sambil menahan debaran yang ingin sekali mwndekapnya dari belakang. Kalau bukan ada masalah, pasti aku akan bermanja ria dan memeluk erat penuh kehangatan.
Langkah kaki mas Adit kini sudah pergi ke kamarku, mungkin sudah terlalu rindu pada Aliya anakku.
"Kalau kamu mau apa, Rudi? Biar aku siapkan makanannya?" Mengalihkan semua dengan bertanya.
"Nanti saja. Aku mau pergi dulu, untuk membelikan sesuatu untuk pacarku," ujarnya.
"Ooh, baiklah."
"Salamkan pada bos Adit, kalau aku pergi keluar sebentar, takutnya dia akan mencari," suruhnya memberi pesan.
__ADS_1
"Baiklah."
Setelah Rudi pergi aku langsung bergegas masuk ke kamar, untuk menyusul mas Adit yang sudah terlebih dahulu ke sana.