
Akhirnya hati yang direncanakan tiba. Rasanya malas menuruti keinginan semua orang, tapi mas Adit terus memaksa dengan semua rayuan mautnya.
"Jangan nakal-nakal sama Mama ya, Nak! Nanti kalau banyak rezeki akan Papa belikan hadiah yang banyak," pesan mas Adit sebelum benar-benar pergi bekerja.
"Iya, Papa. Hati-hati dijalan."
"Bagus. Anak Papa memang baik."
"Aku pergi dulu. Jaga anak kita."
"Iya, Mas. Hati-hari dijalan."
"Hmm, bye ... bye."
Setelah ritual mencium tangan punggung, tak lupa lambaian tangan ikut mengantar dia yang sudah menaiki mobilnya.
Setelah mas Adit pergi bekerja, kini aku telah disibukkan dengan mengemas pakaian, sebab setelah mas Adit pulang kerja, kami akan segera berangkat ke Singapura untuk rencana bulan madu.
"Gimana? Apakah sudah siap semua, mengemas-ngemas barangnya?" tanya Mama sedang menghampiriku dikamar.
"Sudah, Ma. Tinggal sedikit lagi, sih?" jawabku.
"Maafkan Ana ya, Ma! Selalu merepotkan dan menyusahkan kamu."
Tak enak hati jika menitipkan kembali buah hati. Hanya punya ayah, jadi hanya bisa meminta bantuan sama Ibu suami.
"Gak pa-pa, Ana! Mama baik-baik saja kok. Justru Mama senang jika kamu bahagia. Kamu adalah menantu yang Mama sayang dan selalu ingin kujaga, agar tetap bahagia bersama anak Mama yaitu Adit," penjelasan mama mertua.
"Iya, Ma! Terima kasih selama ini selalu ada dibelakang Ana dan terus mendukung," kupeluk beliau dan langsung kucium pipinya.
Beliau selalu saja ingin mengedepankan menantunya ini, mungkin karena ingin melihat anaknya bahagia bersama orang yang baik dan tulus sepert diriku.
__ADS_1
"Ooh ya, Ma. Kenapa tiketnya mendadak sekali harus hari ini?" tanyaku penasaran.
"Sebab Mama ingin secepatnya meminang cucu lagi!" ucap beliau diiringi senyuman tipis.
"Apa?" ucapku kaget.
"Memang kenapa, Nak?"
"Hhhehe, permintaan yang berat itu, Ma. Maaf ya!" Kepala kugaruk dengan telunjuk.
"Hihihihi, ngak kok, Ana. Mama cuma bercanda saja itu. Mama sudah lama merencanakan ini semua, dan baru kali ini kesampaian, setelah enam tahun kamu berpisah sama Adit. Mama mempercepat rencana ini, biar kamu melupakan kejadian yang tak mengenakkan dihari kemarin," penerangan beliau.
"Oh, gitu. Terima kasih, Ma!" Tak henti-hentinya kupeluk beliau.
"Iya, Nak.
Tidak banyak yang dikemas, tapi Mama malah memberikan sesuatu bekal yang semakin bikin koper sesak saja. Katanya ini itu, biar tidak kelaparan 'lah, biar tidak kedinginan 'lah, dll.
"Ana titip Aliya ya, Ma!" ucapku berpamitan yang akan pergi.
"Iya Ana. Kamu baik-baik disana bersama Adit, dan nikmatilah bulan madu kalian dengan penuh kegembiraan," ujar mama memberi cipika-cipiki pada pipiku.
"Iya, Ma."
"Kamu jaga Ana baik-baik, Adit! Awas kalau terjadi apa-apa sama Ana," ancam Mama saat tangan punggung beliau dicium Mas Adit.
"Beres, Ma. Pasti itu,"
"Hati-hati dan baik-baik kalian disana," pesan Papa mertua ikut mengantar juga.
"Iya, Pa." Jawab kami kompak.
Rasanya berat sekali meninggalkan anak, saat diriku sedang bersenang-senang dengan mas Adit. Tapi apalah dayaku saat mama mertua menginginkan kebahagiaanku. Bakti terhadap mertua dan suami tetap harus kujalankan, sebagai bukti kasih sayangku pada mereka.
__ADS_1
Anak cuma kucium pipinya, sebab dia sedang tidur nyenyak. Sempat ada airmata mengiringi perpisahan ini, namun suami dengan sabar mengusap airmata itu.
Setelah chek-in dan menimbang koper, akhirnya kami berdua memasuki pesawat ruangan VIP. Walau aku sudah menikah dengan orang kaya, baru pertama kalinya aku menaiki yang namanya pesawat terbang.
Tangannya tidak lepas merangkul bahu. Sempat malu dilihat orang lain, tapi menyuruh berjalan biasa saja tanpa kemesraan malah bikin salting mempererat. Mengeluh marah, sebab dia merasa dunia milik berdua saja, tanpa mau tahu jika setiap pasang mata menatap heran ke arah kami.
"Kenapa kamu? Takutkah?" tanya mas Adit saat wajahku berkerut seperti orang ketakutan.
"Kecilkan suaramu, Mas. Kamu tahu sendiri, kalau ini pertama kalinya aku menaiki pesawat," ucapku berbisik-bisik.
"Hahahaha, dasar kuper!" gelak tawanya puas melihat tingkahku.
"Iiicch, orang ketakutan dia malah tertawa," keluhku dengan memasang wajah cemberut.
"Hihihihii, maaf dech my honey sweetyku. Habisnya kamu lucu sih, naik pesawat saja sampai parno ketakutan berlebihan begitu," ledek mas Adit.
"Hina ... hina teruuus. Puas kamu mentertawakan istri sendiri," ujarku sendu.
"Uluh ... uluh, begitu saja kok semakin sewot. Maaf dech ya ... ya, maafkan Masmu yang kurang ajar ini tapi tetap tampan sedunia," bujuk Mas Adit saat mataku mengacuh fokus ke arah jendela.
"Tau ahhh!" jawabku yang masih merasa kesal.
Bhugh, suara tas telah jatuh menimpa tubuh Mas Adit, dan itu membuat kami seketika kaget, dan langsung melihat apa yang sebenarnya terjadi.
"Ooh, maaf ... maaf, Mas!" Suara perempuan yang telah menjatuhkan tasnya barusan.
"Adit!" sapa perempuan itu kaget, saat melihat wajah suami.
"Kamu?" balik sapa Mas Adit yang tak kalah kaget pula.
Bikin mood bakalan ambyar. Sepertinya mereka berdua saling kenal. Harus banyak waspada pada perempuan yang baru saja menyapa.
********
__ADS_1
Terima kasih bagi pembaca setia, ayo dong dukung tulisan author dengan memasukkan ke rak buku.