
Tak tahu lagi apa yang harus kukatakan, saat Karin sudah membingungkan menjawab, bahwa anak yang sempat aku curigai dia kandung kemarin, kini masih hidup apa tidak. Mata telah kosong menatap lurus kearah halaman sekolah Aya, dengan isi kepala berpikir segudang pertanyaan dan keanehan yang terjadi.
"Bagaimana aku mendapatkanmu, Karin? Apa yang harus kulakukan? Informasi apa yang harus kukorek lagi, agar bisa mendapatkan semua kejelasan itu?" rancau hati yang binggung.
Lagi-lagi waktu luang, kusibukkan untuk menjenguk si cantik Aya disekolahan.
"Om ... om ganteng, kenapa? Kok dari tadi Aya lihat melamun terus?" Kepolosan pertanyaannya.
"Ngak apa-apa kok, sayang!" jawabku memberikan senyuman termanis.
"Gimana, enak ngak es krim rasa Vanila, strawberry, dipadukan sama coklat ini?" tanyaku.
"Enak, om. Terima kasih."
"Iya, cantik."
Kami berdua sudah menikmati rasa dingin es krim, dalam satu cup taper ware dimakan berdua. Saat rasa sedih dan ada suatu masalah, entah mengapa saat bersama si cantik Aya hati mulai terangsur melupakan segalanya.
Pikiran yang lagi semrawut alias kusut, tak bisa terurai lagi saat teka-teki masih belum terpecahkan. Apakah aku harus membiarkan semua ini dijawab oleh waktu, atau hanya sekedar sabar dan pasrah atas jalanan alur kehidupan. Tapi pada kenyataannya aku hanyalah manusia biasa, yang tak tahan lagi menunggu semua agar cepat-cepat selesainya semua masalah.
"Om ... om, kenapa kamu masih disini?" tanya suara anak kecil saat aku tengah melamun.
"Eeh, kamu Aya? Sudah pulang sekolahnya?" tanyaku ketika melihat semua murid-murid sudah keluar berhamburan dijemput orangtua mereka.
"Iya, Om. Kenapa Om ganteng ada disini? Aya pikir tadi Om sudah pulang, ketika Aya sudah masuk kelas?" celoteh tanyanya heran.
"Awalnya Om tadi memang berencana mau pulang, tapi rasanya malas sekali mau bangkit," jelasku.
"Ooh."
"Kamu kenapa masih disini?" tanyaku.
"Lagi nunggu jemputan nenek. Tapi kenapa dari tadi nenek belum datang, apakah masih disawah, ya?" cakapnya yang sudah menatap seksama ke arah gerbang.
"Oh begitu. Ya sudah, Om akan temani kamu nunggu nenek. Kalau masih tak dijemput, biar Om antar kamu saja," jelasku.
Semenit, dua menit, hingga hampir setengah jam menunggu, namun belum ada tanda-tanda si cantik Aya ada jemputan.
__ADS_1
"Kayaknya nenek kamu tidak menjemput kamu hari ini, jadi biarkan Om saja yang antar kamu pulang sekarang, ayo!" ajakku.
"Baiklah. Mungkin nenek sedang lupa, atau pihak sekolah terlalu awal menyuruh para murid pulang," Setujunya jawaban Aya.
Pintu mobil sudah kubuka, agar memudahkan Aya segera masuk mobil. Namun belum sempat menutupnya, tiba-tiba ada teriakkan suara yang memanggil Aya.
"Aya ... Aya, sini ... sini, nak!" suruh suara nenek Aya.
"Nenek?" Keterkejutan Aya berucap, yang kini sudah turun dari mobil dan menghampiri beliau.
"Sini, sayang!" Sambut beliau merentangkan tangan, agar siap memeluk si manis Aya.
"Nenek kok lama sekali tidak jemput-jemput Aya tadi," celoteh keluh Aya.
"Maafkan Nenek, sayang. Tadi nenek sudah jemput kamu, tapi tiba-tiba ban sepedanya bocor, jadi kini terpaksa sepeda itu nenek tinggal, sebab takutnya Aya akan menunggu lama. Maaf ya sayang," terang beliau.
"Iya, Nek. Ngak pa-pa, untung saja ada Om ganteng yang menemani Aya," jelas si bocah itu, menunjuk tangannya ke arahku.
"Terima kasih, ya. Tadi sudah repot-repot menjaga dan menemani Aya cucu saya," ucap beliau tak enak hati.
"Iya, Nek. Ngak pa-pa, kok. Lagian saya tadi lagi tidak ada kerjaan. Emm, Nenek sama Aya sepertinya pulang akan berjalan kaki, gimana kalau saya antar saja kerumah, sebab kasihan sama Aya jika harus kepanasan berjalan kaki nanti," tawarku.
"Ngak pa-pa kok, Nek. Saya tidak merasa direpotkan."
"Emm, baiklah kalau begitu."
Tangan sudah sibuk memegang kemudi mobil untuk mengantar Aya. Ternyata Aya begitu pintarnya berceloteh pada nenek, dengan segudang pertanyaan keinginantahuannya.
"Om ganteng, boleh minta tolong tidak? Aya kangen mau ketemu sama bunda, jadi antarkan Aya ketempat kerja bunda saja, boleh tidak?" Permintaan si bocah manis itu.
"Kok Aya aneh-aneh minta sama Om ganteng, 'kan nanti ngak enak kalau ngerepotin dia," cegah neneknya.
"Iya, nek. Maaf!" jawab Aya lesu yang kelihatannya menerima kekecewaan.
"Om, akan antar kamu kesana, jadi jangan bermuka masam gitu. Senyum dong, sayang!" ucapku membujuk.
"Tapi, nak."
"Tidak apa-apa, Nek."
"Terima kasih kalau begitu, sudah mau direpotkan."
__ADS_1
"Iya, sama-sama Nek."
Netra begitu merasa heran dan aneh, saat mobil kini telah berbelok menuju halaman sebuah toko roti, yang sempat aku datangi kemarin saat ada Karin disana.
"Aneh? Kenapa Aya harus datang kesini, yang ada Karinnya? Aah, mungkin perasaan ini saja yang agak binggung. Mungkin saja bunda Aya tak sengaja sedang bekerja disini juga," rancau hati bertanya-tanya.
Wajah Aya begitu girangnya berjalan, saat jari-jariku begitu kuat ditarik Aya untuk mengikuti langkah kakinya, yang sudah berjingkrak-jingkrak melompat kecil.
"Ayo ... ayo Om, masuk!" tarik Aya agar aku mengikuti perintahnya segera.
"Hei, bunda?" panggil Aya kepada seorang perempuan, yang sedang membersihkan meja.
"Hei, juga sayan---?" jawab kaget perempuan itu, saat berbalik badan melihat kedatangan kami.
Prang, sebuah gelas telah jatuh saat Karin mundur-mundur melangkah, dan tanpa diduga menabrak kuat meja yang sempat dia bersihkan, dengan beberapa gelas diatas meja sudah berhasil disenggol memakai tangannya.
"Kamu?" ucapku tak percaya.
"Bunda? Apa maksudnya ini? Kenapa Aya tadi memanggil Karin dengan sebutan bunda? Apakah Aya anakku? Aaah, tidak ... tidak, ini tidak mungkin?" guman hati bertanya-tanya menatap selidik Aya yang tersenyum manis kearahku.
"Ada apa, Karin?" tanya seorang pria datang menghampiri Karin.
Netra dibuat terkaget-kaget lagi, saat pria yang namanya Chris ternyata ada disini juga.
"Kamu?" ucapnya kaget juga saat melihatnya.
"Mau apa kamu disini? Belum cukup kamu kemarin berulah disini?" tanya pria itu menghampiriku masih terpaku, saat tak percaya atas semuanya, yang mana masih berdiri tepat disamping Aya.
"Terserah aku mau datang kesini apa tidak, ini adalah toko makanan jadi siapapun boleh datang kesini," jawabku lantang penuh berani sudah ada sorotan emosi.
"Iya, siapapun boleh masuk sini, tapi tidak buat kamu," jawabnya yang emosi pulak.
Bhuuugh, secara tak siap Chris telah melayangkan tinjuan. Karena aku tak terima, kini wajah menatap tajam penuh amarah kearahnya, dengan tangan sudah mengepal siap tonjok juga.
Bhuuugh, tanpa basa-basi akhirnya wajah Chris kudaratkan bogeman juga, setelah kemarin sempat tertunda akibat halangan dari Karin.
Tanpa diduga kami berdua sudah saling baku hantam, saling memukul wajah berulang kali. Tempat meja toko Rotipun menjadi berantakan, akibat tubuh kami sempat oleng tak bisa menahan tubuh, kerena kena pukulan hingga sering menubruk keras.
__ADS_1