Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2=Istriku Yang Hilang>>Menyusun Rencana


__ADS_3

Tak tahu lagi apa yang harus kukatakan, tentang penyamaran pesta nanti malam, sebab diri ini kurang yakin apakah bisa berhasil dan sukses menjalankan semuanya, tanpa diketahui oleh mas Adit.


Kerjaanku sekarang hanya melakukan tugas membersihkan lantai, dengan tangan sibuk mengepel, tetapi pikiran melayang-layang kepikiran atas rencana pesta.


Sret ... sret, tangan masih saja sibuk bekerja.


Dari kejauhan terdengar suara orang yang kukenal, dan saat melihatnya ternyata dia adalah Edo, sedang berjalan saling bercakap bersama teman sesama pegawai mas Adit.


Plak ... kupukul bahu Edo secara tiba-tiba, dan dia begitu kaget, dengan memasang muka terperangah.


"Hai Edo!" sapaku dengan suara sengau, sebab wajah sedang tertutupkan oleh masker.


Edo tak langsung menjawab, dia hanya tertegun diam, mungkin binggung siapakah yang mengejutkannya.


"Aku duluan."


"Iya," jawab Edo.


Setelah temannya pergi, maskerpun langsung kubuka.


"Ya ampun, Ana. Kamu?" ucapnya tak percaya.



"Hehehe, maaf mengagetkanmu!" ucapku cegegesan menjawab.


"Gila! Apa yang kamu lakukan disini? Barusan aku benar-benar terkecoh tak mengenalimu ," jelasnya.


"Iyakah?" tanyaku tak percaya.


"Iya."


Jadi malu sendiri, sebab teman sampai tidak mengenali.


"Kamu ngapain sih disini? Pakai muka ditutup masker segala?" tanyanya bingung.


"Sini ... sini! Aku jelaskan disana," jawabku.


Tangan sudah mengajak Edo menepi, mencari tepat yang sepi, sebab karyawan mas Adit yang lalu lalang sudah memperhatikan kami, dan akupun takut jika penyamaran ini akan terbongkar.


"Kenapa sih, Ana? Kamu kayak ketakutan gitu?" ujar Edo bertanya diiringi kebingungan.


"Shuuuuut," suruhku agar Edo memelankan suaranya.


"Aku akan jelaskan, tapi pelankan suaramu sebab bisa brabe nanti, jika ada orang yang mendengarkannya," cakapku padanya.


"Iya ... iya. Beres dah!" jawabnya pelan.

__ADS_1


"Aku dalam tahap penyamaran."


"What?" responnya terkejut, dengan nada keras.


"Shuuuut .... uuut, diam-diam Edo. Bisa ketahuan nanti." pintaku.


"Uppps. Maaf ... maaf," jawabnya sambil clingak-cliguk menatap, takut jika ada orang lewat.


"Maksud kamu apa?" tanyanya.


"Iya. Aku sedang menyamar, sebab ada wanita yang sedang ingin mendekati mas Adit, dengan cara melakukan perjanjian dengan perusahaan, dan aku tak menyukai itu. Dia adalah orang yang sangat akrab sama mas Adit, sebab dia adalah kakak kelasnya dan itu sungguh menyulitkanku, sebab mas Adit lebih mempercayai wanita itu dari pada istrinya sendiri," penjelasan panjang lebarku.


"Ooh. Wah itu tidak bisa dibiarkan begitu saja. Kamu benar-benar harus menyamar, biar wanita itu tak merebut pak Adit, seperti Salwa kemarin. Disebalik itu kamu hati-hati padanya, kelihatannya dia bukan lawan yang mudah ditaklukkan, dan apabila kamu butuh bantuanku langsung bilang saja. Kapanpun aku akan siap siaga membantumu. Semangat!" ucapnya memberi dukungan.


Senang rasanya ada orang memberikan semangat. Ternyata orang baik akan selalu diikuti kebaikan juga


"Terima kasih, Edo. Maaf ya, jika aku selalu saja merepotkanmu," ucapku tak enak hati.


"Tak apa-apa, Ana. Kita adalah teman, kamu gak usah sungkan-sengkan begitu. Kapanpun kamu butuhkan, aku akan hadir secepatnya," tuturnya yang baik hati.


"Heem, makasih ya."


"Iya. Sama-sama, Ana."


"Ya sudah, aku kembali bekerja dulu, takut kena semprot atasan nanti," ucap Edo berusaha pamit.


"Oke!."


Setelah kepergian Edo, akupun melanjutkan aktifitasku bekerja, yaitu mengepel lantai.


Dert ... kring ... dert ... kring, gawai telah berbunyi, dan nama mas Adit sudah bertengger ingin menelpon.


[Halo, Ana. Assalamualaikum]


[Wa'alaikumsalam. Ada apa, mas?]


[Aku malam ini pulang terlambat, jadi tidak usah menunggu sampai aku pulang, dan kalau kamu takut bisa menginap dirumah mama]


[Memang mas mau kemana?]


Aku bertanya, berpura-pura tak tahu.


[Mas ada janji sama teman, mau ketemu sama beberapa pengusaha]


[Semacam bisnis 'kah itu?]


[Enggak, cuma mau kenal pada pengusaha-pengusaha, yang sesama bidang diperusahaan mas saja]

__ADS_1


[Bener 'kah itu? Kenapa harus malam? Bukankah kalau siang bisa kenalan sama mereka?]


[Gak bisa, sayang! Sebab acaranya memang malam]


[Apa aku gak boleh ikut?]


[Enggak boleh. Bukannya gak boleh ikut sih! Tapi ini acara khusus pengusaha, jadi n..gak sembarangan orang bisa masuk]


[Ooh]


"Dasar kamu ini mas, bilang aja kamu sudah ada temannya, yaitu si janda bahenol Nola itu. Pakai muter-muter pembicaraan lagi, sungguh kamu sekarang pandai ngomong," kekesalanku berkata dalam hati.



[Tapi aku pengen ikut lho, mas! Mas Adit jarang sekali mengajakku ke tempat kayak gituan]


Diri ini mencoba membujuk, agar suami mau mengajak.


[Gak bisa, Ana. Ini beneran hanya orang penting saja]


[Aah ... kamu memang banyak ngelesnya, mas! Bilang aja kamu mau pergi berduaan sama kakak kelas kamu itu]


[Apa?]


"Ya ampun, Ana. Kenapa mulut kamu bisa keceplosan," ucapku pada diri sendiri, yang langsung menutup mulut.


[Kamu kok bisa tahu, kalau aku akan pergi sama kak Nola. Apa jangan-jangan kamu sudah memata-mataiku?]


Tuduhnya yang membuatku mati kutu, tak bisa mencari alasan.


[Enggak! Siapa juga memata-matai kamu, kayak gak ada kerjaan lain saja. Aku asal nebak saja, sebab kamu sekarang 'kan lagi dekat sama wanita itu. Jangan main nuduh sembarangan orang, lama-kelamaan males banget ngomong sama kamu, mas!]


Klik, gawai langsung saja kumatikan.


Diriku sudah berpura-pura marah, sebab tak ingin mas Adit merasa curiga lebih dalam.


Dert ... kring ... dert ... kring ... dert .... dert, dua tiga panggilan telah dilakukan mas Adit, dan aku sengaja tak mengangkatnya, biar mas Adit merasa bersalah atas tuduhannya.


Walaupun benar atas semua tebakannya tadi, tapi hati sudah dongkol kesal saja, saat dia masih saja menyembunyikan kepergiannya ke pesta nanti.


Lama sekali gawai terus berdering dan berbunyi, dan lagi ... lagi mas Adit masih gencar menghubungiku.


Kling, gawai berbunyi menandakan ada pesan masuk, dan langsung saja kubuka, sebab penasaran atas isi yang sedang dikirimkan mas Adit.


[Ana, angkat teleponnya! Mas ingin bicara sama kamu, jadi tolong angkat sekarang. Kalau gak diangkat lagi, aku akan nyamperin kamu ke rumah]


"Wah ... bisa gawat kalau mas Adit beneran nyamperin," guman hati ketakutan, atas ancamannya.

__ADS_1


__ADS_2