Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2=Istriku Yang Hilang>> Kecurigaan Yang Hadir


__ADS_3

Mas Aditpun sudah melenggang pergi, dan kerjaanku sekarang hanya duduk anteng di sofa, sambil main handphone melihat baju-baju yang dijual lewat online, sebab siapa tahu bisa menarikku untuk membeli.


Tok ... tok, pintu ruangan Mas Adit diketuk seseorang.


"Masuk?" jawabku santai.


Ceklek, pintu telah terbuka, dan ternyata yang datang adalah Kak Nola lagi, tapi perubahan pakaiannya sedikit membuatku terheran, sebab hari ini dia agak tertutup dengan mulut telah ditutupi masker.


"Hai, Kak Nola?" sapaku berbasa-basi.


"Hai juga, Ana?"


"Adit sedang tidak ada 'kah?" Suara kak Nola sengau bertanya.


"Ada, tapi lagi pergi ke ruangan sekertarisnya. Penting sangat 'kah? Kalau penting akan kupanggilkan Mas Adit sekarang?" tanyaku.



"Eeh ... enggak kok Ana, cuma mau membicarakan bisnis kami saja," jelasnya.


"Ooh, ya sudah kalau begitu. Ayo duduk Kak! Sampai lupa aku mempersilahkan kamu, akibat kita baru saja keasyikan ngobrol," suruhku.


"Oh iya Ana, terima kasih."


Mata terus saja memandang heran, atas apa yang ada di Kak Nola sekarang. Pakaian atas dan celana jeansnya berbahan panjang semua, tak seperti hari-hari kemarin yang selalu saja sexy.


"Kamu kenapa, Ana? Seperti sedang heran melihatku?" ungkapnya yang merasa risih saat aku menatapnya.


"Ga ada apa-apa sih, Kak! Cuma heran saja sama perubahan kamu sekarang, begitu drastis yang begitu alim berpakaian tertutup semua," terangku.


"Oh masalah baju ini! Aku hanya ingin memakai yang sopan saja, sebab sudah bosan memakai yang sexy melulu," alasannya.


"Oooh."


Ceklek, pintu ruangan mas Adit dibuka lagi, yang ternyata pegawai mas Adit yang sedang membawa minuman, untuk disuguhkan pada kami.


Ternyata pelayan khusus mengantar minuman tak butuh waktu lama untuk


membawanya ke kami, setelah baru beberapa detik saja pemesananku lewat telepon kantor.


"Ini Nyonya, silahkan!" ucap pelayan itu.


"Iya terima kasih," jawabku sumringah.


"Silahkan diminum, Kak! Maaf hanya ini yang bisa disuguhkan," suruhku.


"Iya, terima kasih. Ngak pa-pa, kok."


"Aaa ... panas," ujarnya saat meminum teh yang masih mengepulkan asapnya.

__ADS_1


Blaaanghk, minuman teh yang telah terpegang kak Nola, tiba-tiba terlepas dari tangannya, dan seketika teh itu tumpah membasahi baju kak Nola.


"Aaa ... panas!" keluhnya saat baju basah semua.


"Astagfirullah, kamu gak pa-pa, Kak?" tanyaku kaget.


"Duh, kamu kok tidak hati-hati sih."


Menghampiri untuk mencoba segera menolongnya.


"Aku gak pa-pa ... gak pa-pa," jawabnya saat tangan sudah sibuk mengambil tisu, untuk mengelap bajunya.


Karena kasihan melihatnya basah kepanasan, akupun mencoba membantunya.


"Aaaaaa," Suara kak Nola kesakitan, saat aku memegang bahunya.


"Eeh, maaf ... maaf, Kak."


"Aaaa ... sakit Ana itu?" ujarnya saat kuulangi yang kedua kali memegang bahunya.



Sebab aku merasa penasaran atas keanehan kak Nola, akupun tanpa permisi darinya, langsung menarik masker yang dipakai kak Nola. Mata begitu melotot terkejut, saat mendapati wajah kak Nola yang sudah membiru seperti bekas pukulan dan tamparan.


"Apa yang sedang terjadi padamu, Kak?" tanyaku yang sudah mencengkram pipinya, dan berusaha membolak-balik ke kiri kanan.


Semakin dibuat penasaran. Dia terus saja menyingkirkan tangan ini.


"Kamu bohong!" jawabku yang kini sudah memegang bahunya lagi.


"Aaaa ... ahhh," Kesakitan kak Nola lagi.


"Ada apa lagi ini? Kenapa bahu kamu setiap aku pegang terasa kesakitan?" Keherananku bertanya.


"Aku bilang, baik-baik saja!" jawab kak Nola yang sudah merebut maskernya dari tanganku, dan kini sudah berdiri seperti ingin melenggang pergi.


"Maafkan aku Ana, tak bisa menjawab pertanyaan kamu itu," ujarnya yang kini sudah melangkah pergi.


"Tunggu!" cegahku.


Tanpa banyak kata, langsung saja kutarik kuat tangan kak Nola, dan berusaha mengajaknya masuk keruang ganti baju punya Mas Adit.


"Ana ... lepaskan ... lepaskan tanganku Ana," pintanya.


Aku yang penasaran akut, tak memperdulikan lagi permintaannya, dan tangan kak Nola terus saja kutarik.


Braaak, pintu langsung kututup kuat.


"Buka bajumu sekarang?" perintahku tegas.

__ADS_1


"Aku gak mau, Ana! Aku bilang sekarang baik-baik saja," kilahnya yang masih tak mau jujur.


Wajahnya tertunduk. Mata itu berkaca-kaca. Tidak mungkin baik-baik saja, jika banyak keluhan ada rasa sakit.


"Kamu bohong, Kak! Kalau kamu ngak sakit, tidak mungkin bahu kamu waktu kupegang tadi merasa terus kesakitan," jawabku masih ngotot.


"Aku mohon, izinkan aku keluar," protesnya yang kini mencoba melarikan diri, saat aku menghadang didekat pintu.


"Tidak bisa."


"Aku mohon, Ana. Ayo, lepaskan aku!" pintanya yang sudah mengeluarkan airmata.


"Aku akan melepaskan kak Nola, jika permintaanku kamu kabulkan," tekanku.


Tanpa henti kak Nola kini sudah menangis dengan sedih, dan akhirnya dia mengalah juga untuk mau membuka bajunya.


Satu-persatu tangan kak Nola sudah mulai membuka kancing baju, dan sekarang dia telah berbalik memunggungiku. Mata begitu terkejut saat mengetahui apa yang sedang terjadi, yaitu ada bekas luka memanjang memerah dan sedikit membiru, telah berhasil terlukis dipunggung putih kak Nola.


"Sekarang aku sudah menunjukkan padamu, jadi lepaskan aku sekarang! Tapi berjanjilah, jangan pernah bilang ke siapapun," ucapnya masih dalam kepiluan menangis.


"Baiklah, aku janji."


"Baiklah, kupegang janjimu. Awas kalau sampai bocor kepada siapapun itu," Kata-kata yang terdengar sedang ketakutan.


"Aku belum bertanya kenapa bisa seperti ini? Apa yang terjadi padamu? Apakah ini semua yang melakukan adalah suami kamu?"


Gelengan kepala kuat terus terjadi.


"Bohong. Aku menebak pasti dia. Iya 'kan!"


Kali ini kepala Kak Nola tertunduk, seperti mengisyaratkan jawaban kalau dia yang melakukan.


"Lalu kenapa kamu bisa dihajarnya sampai luka babak belur begitu? Bukankah kalian saling mencintai?" tanyaku bertubi-tubi, sebab rasa iba datang dan mulai tersulut amarah.


Kak Nola hanya terdiam menangis tersedu-sedu, dan mulutnya seakan terasa berat untuk berucap.


"Iya Ana, ini semua ulah suamiku. Semalam aku telah dicambuknya memakai ikat pinggang, dan bertubi-tubi ditendang dan dipukulnya, akibat aku telah melakukan satu kesalahan saja," terangnya yang masih tersedu-sedu.


"Sudah ... sudah, Kak! Kamu jangan menangis lagi, aku ada disini akan membantu kamu, jadi kamu tidak usah terlalu takut dan bersedih begini," ucapku berusaha menenangkannya, dan kini telah memeluk tubuh kak Nola.


"Terima kasih Ana," Tangisannya yang semakin pecah.


Lama sekali Kak Nola menumpahkan airmata, sampai baju yang kukenakanpun basah oleh tetesan airnya. Setelah dirasa tenang, akupun menelpon pegawai mas Adit untuk membawakan airputih, agar kak Nola bisa meminumnya supaya lebih tenang.


[Hallo Mas, kamu segeralah kembali keruangan kamu, disini ada kak Nola yang dalam keadaan kacau, dan sekarang aku butuh sekali batuan kamu, kalau bisa secepatnya, Mas]


[Iya ... iya, aku akan segera kesana]


Kekhawatiran begitu menelusup hatiku, sehingga tanpa ragu aku meminta bantuan mas Adit untuk menyelesaikan masalah Kak Nola, sebab suaminya bagiku sudah keterlaluan, dan aku tak mungkin membantunya dengan menghadapi masalah ini sendirian.

__ADS_1


__ADS_2