
Dalam sebuah hubungan, kita pasti pernah merasakan namanya sebuah perpisahan. Walaupun hal ini sebisa mungkin harus dihindari dan lebih untuk memperjuangkan hubungan tersebut dengan baik. Tetapi bila memang perpisahan menjadi sebuah jalan keluar yang terbaik untuk keduanya, maka kalian harus mempersiapkan hati serta jiwa raga untuk kuat. Ada banyak hal untuk tetap kuat, salah satunya dengan membaca kata-kata ikhlas untuk melepaskan seseorang yang disayang sebagai sebuah nasihat atau motivasi.
Ditinggal oleh seseorang yang disayang memang membuat hidup terasa berantakan dan terasa seperti tidak ada gunanya. Tentu saja bersedih itu boleh dilakukan, namun tidak boleh berlarut-larut. Kalian harus kembali menjalani hidup dengan baik lagi, dan tunjukkan bahwa kalian sudah bisa bangkit dan mengikhlaskan semuanya. Tentu hal ini bukan hanya baik untuk kalian, namun juga bisa memberikan kalian kebahagiaan baru.
"Melepaskanmu bukan artinya aku melupakan semua hal yang terjadi di antara kita. Ini artinya aku menerima apa yang terjadi, dengan ikhlas, dan melanjutkan hidupku. Semoga kamu akan selalu bahagia bersamanya, Karin?" Kegalauan hati.
Perjalanan menuju kerumah sedikit lagi akan sampai. Wanita yang pernah sempat kupuja, kini harus terlepaskan sudah, saat tahu dia akan bahagia bila bersamanya.
Merelakan bukan berarti menyerah, tapi menyadari bahwa ada hal yang tidak bisa dipaksakan.
Semua orang pernah kehilangan sesuatu yang berharga. Kehilangan kesempatan, kemungkinan, dan perasaan yang tak akan pernah kembali lagi. Itulah bagian yang membuat kita benar-benar hidup.
"Setelah kamu pergi, aku menjadi sadar bahwa yang baik akan bersanding dengan orang baik pulak."
Setiap akhir sebuah cerita, akan selalu menciptakan awal cerita baru, begitu juga dengan perpisahan. Aku tidak akan mengejar seseorang yang telah pergi. Percaya jika dia ingin aku di hidupnya, pasti dia akan tetap disampingku. Jika melepaskan adalah pilihan, maka cinta mengajarkan kita arti bertahan dan merelakan.
Walau sudah didepan halaman rumah. Sikap masih saja duduk termenung dalam mobil. Cukup menyesakkan juga mencintai seseorang tapi tak terbalaskan.
Suara tawa anak telah membuyarkan lamunan. Segera turun dari mobil dan mencoba masuk rumah.
"Assalamualaikum!" salamku.
"Waalaikumsalam," Terdengar suara Mama mengema menjawab.
"Kamu tidak tidur, nak?" tanyaku saat melihat jam tangan sudah menunjukkan pertengahan siang.
"Tadi mau tidur. Pa. Tapi masih mau main sama Oma," celoteh si buah hati.
__ADS_1
"Ya, sudah. Sekarang mainnya berhenti dulu. Waktunya kamu istirahat. Pasti capek 'kan habis pulang sekolah tadi," Posisi sudah jongkok sejajar dengam tubuh anak.
Rambutnya yang lurus keules-elus.
"Iya, Pa. Bye ... bye 'lah kalau begitu." Si kecil sudah mencium pipi sebelum dia pergi, ikut suster yang sedang berdiri menjemputnya.
"Hmm, bye ... bye juga." Lambaikan tangan terjadi padanya.
Mama menatap dengan penuh curiga dan introgasi ke arahku. Risih dan cukup tahu apa yang ingin beliau inginkan yaitu mengajak berbicata serius.
"Kamu dari mana, Chan?" Kenyataan saat beliau mengintrogasi beneran.
"Biasalah, Ma."
Lelah rasanya harus membuatku terduduk sejenak, agar segera mengistirahatkan otot-otot dikursi ruang tamu.
"Mama, jangan sembarangan gitu kalau berbicara. Karin miskin-miskin gitu, anaknya baik dan beda dari wanita lain," Sedikit kesal atas pertanyaan beliau.
"Iya, tahu. Tapi apa kamu tidak malu jika suatu saat beneran sama dia."
"Hhh, Mama kalau berbicara suka mengada-ngada."
"Terus? Apa maksudmu itu?" Wajah beliau sudah berkerut, nampak penasaran atas kedekatan kami.
"Kami hanya berteman saja, Ma. Kami sama-sama membutuhkan, disaat anak-anak kami ingin sama-sama merasakan kasih sayang dari orangtua yang sudah meninggal."
"Oh, tapi kamu kelihatan banget begitu dekat sama Karin. Kalau orang melihatpun kalian sudah ada hubungan serius."
"Mereka semua saja salah menerka. Tapi kalau tebakkan kalian itu memang sedikit benar, kalau aku sebernarnya ada rasa sama Karin."
__ADS_1
"Kan benar."
"Sebentar dulu, Ma. Aku belum selesai berbicara. Jangan main potong dulu 'lah."
"Hm, ok ... ok. Lanjutkan kalau begitu." Beliau sudah duduk tepat disampingku. Kelihatan sekali antusias dan ingin mendengarkan penjelasan yang bikin penasaran beliau selama ini.
"Intinya aku memang suka Karin, tapi tidak mau memaksa kehendaknya untuk berbalik mencintai Chandra. Dihatinya sudah ada orang lain, mungkin sebagai orang yang sedang didekatnya, anakmu ini hanya bisa memberi semangat saja. Mama selama ini terlalu salah sangka. Dia wanita baik dan tidak pernah membuat susah, Chan. Karin terlalu sempurna sebagai wanita. Selain baik, dia wanita yang selalu menjaga sikap dan tidak pernah sombong."
"Benarkah itu? Apa yang kamu katakan benar 'kan?" Beliau masih tidak percaya. Tatapan begitu menyelidik.
"Iya, Ma. Tidak ada gunanya berbohong. Nanti lihat saja kalau Karin akan bersanding sama orang lain." Pemberitahuan agar beliau tambah percaya.
"Jadi selama ini Mama sudah salah sangka dan berbuat jahat, dong."
"Mungkin."
"Duh, berarti Mama harus meminta maaf sama dia. Kenapa kamu tidak dari awal-awal menjelaskan sama Mama. 'Kan jadinya tidak enak sudah salah sangka dan berbuat jahat."
"Sekarang Mama cukup memperbaiki keadaan. Minta maaf sama Karin. Tidak salah kalau yang tua meminta maaf duluan, karena memang Mama yang salah kemarin."
"Iya, Nak. Tapi Mama takut kalau Karin tidak mau menerima permintaan maaf yang sudah berbuat kasar kemarin."
"Karin bukan wanita seperti itu. Dia baik, dan percayalah dia akan memaafkan Mama, walaupun perbuatan itu sekalipun sudah parah."
"Hhh, syukurlah kalau memang anaknya baik seperti itu. Mama bisa lega mendengarnya."
"Iya, Ma. Sekarang kita cukup dukung, doakan dan kasih semangat dia. Hidupnya lebih hancur dan parah dari anakmu ini. Banyak kejadian yang menerpanya, dan mungkin jika orang lain yang kena pasti tidak akan kuat. Karin beda dari yang lain."
"Iya, Nak. Syukurlah kalau kamu dikelilingi oleh orang baik."
Tubuh beliau kupeluk dari samping. Wajah kami sudah sumringah, membayangkan semua keadaan sekarang terasa damai. Mama memang kadang suka jahat, tapi sejahat-jahatnya orang pasti ada sisi baik yang terpendam.
__ADS_1
Semua sudah terluruskan. Kami hanya bisa berdoa, agar kebahagiaan terus datang kepada Karin. Wanita itu berhak mendapatkan semua, setelah semuanya tidak bisa tergapai dan hancur. Orang baik, pasti bakalan mendapatkan kebaikan lebih pulak.