Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2=Istriku Yang Hilang>> Disiksa Lagi


__ADS_3

Berpindah tempat yang lebih luas dan bersih. Sepertinya ini adalah kamar Salwa. Pandangan menyapu satu persatu tembok yang sudah berjejer rapi foto mesra suami dengan Salwa. Ternyata banyak kenangan yang mereka abadikan. Wajah yang dipenuhi keceriaan. Tidak salah jika Salwa sekarang tidak rela jika mas Adit jatuh ketanganku.


"Sial, siapakah itu?" umpat Salwa marah.


"Bukankah itu mobil, Adit!" tebak Salwa.


"Aakh, sial betul. Kenapa Adit bisa mengintaiku. Aakgh ... aaah." Kekesalan Salwa dengan mengebrak jendela kamar.



Dia mengintip dibalik tirai. Lama memperhatikan keadaan luar. Berkali-kali tangannya meremas gorden. Mungkin Salwa sedang kesal.


"Aku tak akan menyerah begitu saja Adit, sebab diriku akan melakukan sesuatu yang lebih sadis pada istrimu ini, hahahaa." Kegilaan Salwa yang muncul lagi dengan tertawa puas.


"Maksud kamu apa, Salwa?" Memberanikan diri bersuara.


"Rahasialah. Mau kepo saja jadi orang. Ciih!"


"Aku berhak tahu sebab ini menyangkut diriku. Kalau kamu berulah menyiksaku lagi, tolong hentikan ini semua! Apa yang kamu lakukan adalah salah, jadi sadarlah!" Meminta mohon.


"Diam kamu! Ada hak apa kamu melarang-larangku. Asal kau tahu, ini semua adalah ulahmu," pekiknya marah.


"Aku tahu. Tapi apakah kita tidak bisa bicara baik-baik mengenai masalah ini. Kami akan mencoba mengalah dan memahami kamu."


"Mamahami? Dengan cara apa kamu memahami, sedangkan tentang perasaanku yang sangat mencintai Adit saja tidak kau pahami. Dengan kejam kau malah merebutnya dariku."


"Aku paham kami telah banyak salah sama kamu. Tapi tidak seharusnya kamu melakukan kekejaman padaku, sebab kamu akan berurusan dengan pihak berwajib. Hentikanlah, maka kita akan berdamai dan lupakan masalah ini."


__ADS_1


"Cuiih, jangan sok pintar. Aku tidak akan melepaskanmu, titik! Rasa sakit dihatiku akan kubalas dengan menyakitimu. Hahahah!" Ternyata susah juga membujuk Salwa.


Amarah sudah semakin jauh mengrogoti anggota tubuh Salwa. Jika orang tedekat mengenalnya sekarang, pasti banyak yang tidak menyangka jika bisa sejahat itu, sebab banyak orang bilang dia itu wanita anggun dan beribawa, jadi aneh saja bila hampir seratus persen berubah total jadi kejam.


"Hahahaha, jangan berharap banyak, Adit. Kamu bisa membuat sakit hati padaku, maka aku akan berbalik membalas dengan membuat sakit hati padamu juga, dengan cara melukai istri si*l*n kamu ini, hahaha!" Kegembiraan Salwa berucap merasa menang.


Diri inipun tak mengerti lagi atas sikap Salwa sekarang. Mas Adit sudah berusaha menyelamatkan dengan cara mendatangi rumah ini, tapi anehnya Salwa bukannya menyerah, malah terlihat kegirangan tanpa ada ketakutan sama sekali.


"Aku tidak akan mengalah begitu saja, Adit!" ujar Salwa yang kini duduk tenang dipembaringan.


"Kalian pikir aku takut. Justru semakin kalian menentang maka semakin asyik untuk bermain dengan kalian."


Rancauanmya semakin aneh dan mengerikan. Apakah dia sekarang sedang tidak waras? Tapi apakah hanya gara-gara tidak terbalas cinta jadi mengacaukan pikiran dan hatinya.


Tidak dapat disembunyikan, ada guratan kegelisahan yang tertera di garis-garis wajah Salwa. Banyak kemungkinan kalau dia mulai ketakutan. Mas Adit pintar juga tidak serta merta meninggalkan rumah ini, jadi Salwa tidak ada celah untuk membawaku kabur.


"Ya Allah, apakah aku akan benar-benar mati ditangan Salwa? Kalaupun aku mati, maka ampunilah semua dosa-dosaku selama ini! Jikalau Engkau masih memberi kesempatan untuk hidup, maka selamatkanlah diri ini," doaku yang sudah begitu tegang akibat ketakutan.


Lagi-lagi harus pasrah atas keadaan yang tidak mendukung sekarang. Jika tidak diselamatkan berarti diriku akan berakhir ditangan Salwa. Perempuan satu ini susah segalanya dari arah manapun. Diajak baik tidak mau, kalau dijahati malah akan menjadi-jadi bahkan tidak sayang sama nyawa sendiri.


"Kamu harus kupindah. Tapi bagaimana caranya? Sedang Adit saja berpatroli ada dibawah. Hhh, benar-benar sial. Seharusnya aku tidak menyekap kamu disini. Benar-benar bego, dah!' Salwa terus saja berbicara pada diri sendiri.


Dia bangkit lalu terduduk. Menatap ke arahku dengan wajahnya yang garang. Mulai berjalan ke arahku yang meringkuk dilantai. Dinginnya kuacuhkan, toh sudah kebal merasakan kesakitan akibat sakiti.



"Sini kamu. Ayo ikut aku sekarang!" Paksanya yang sudah menjambak rambut.


Bagaikan tercabut maka harus ikuti ucapannya. Wajah mendongak. Wajah lebar Salwa begitu menakutkan atas mata melotot ingin meloncat keluar.

__ADS_1


"Mau kau apakan aku lagi?"


"Jangan banyak b*cot. Sekarang ikut."


Bangkit berdiri dengan paksa. Berjalan duluan. Sedangkan salwa mengikuti dari belakang sambil memberi dorongan.


"Astagfirullah ... astagfirullah ... Allahu akbar," istighfarku menyebut nama Allah, saat ketakutan mulai mengusai diriku.


Ternyata Salwa memindahkan tempat ke dalam kamar mandi yang lembab dan basah.


Bhugh, sekali dorong terjungkal ke lantai.


"Astagfirullah, Salwa."


"Apa? Jangan banyak protes."


Nyegir Salwa. Tangan sibuk sdang memutae kran air shower. Dengan hitungan detik tetesan air keluar begitu deras.


"Sini kamu," Salwa menarik tubuhku.


Air dingin berhasil membasahi tubuh.


"Hahaha, gimana? Apa enak hampir beberapa hari kamu tidak mandi."


"Hentikan ... hentikan, Salwa!" Keluhku yang sudah gelagapan tidak siap menerima guyuran air.


Sepertinya hati Salwa sudah mati. Diri ini yang dia siksa malah jadi tontonan yang asyik sampai dia tertawa puas. Tubuh yang gemetaran akibat kedinginan tidak dia hiraukan.


"Rasakan itu. Emang enak marasakan dingin. Makanya jangan suka bermain dengan Salwa. Inilah akibatnya jika kamu mengusik kehidupan percintaanku," lagi-lagi Salwa masih tidak terima mas Adit telah kuambil.

__ADS_1


__ADS_2