Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2= Istriku Yang Hilang>> Memata-matai


__ADS_3

"Tunggu, Bos. Tunggu!" Suara Rudi memanggil saat dia kesusahan berjalan.


"Cepetan apa jalannya, lelet amat!" keluh kesah tak suka.


"Bos juga, sih! Mendadani aku pakai rok mini pakai higheels pulak, jadinya susah sekali untuk jalan," Kekesalan Rudi.


"Iya ... iya. Cepetan ke sini!" ucapku menunggunya dengan menghentikan langkah.



Akhirnya langkah kami terhenti juga menemui orang suruhan, yang kini masih saja sibuk mengintai Ana.


"Gimana pengintaiannya?" tanyaku pada orang suruhan.


"Baik dan aman-aman saja, Bos! Mereka sedang makan di warung pojok makanan itu!" Tunjuk tangan orang suruhan di warung penjual bakso.


"Bagus sekali kerja kalian. Ini ambilah!" sebuah amplop berisi uang kuberikan pada mereka.


"Terima kasih, Bos."


"Sama-sama."


"Kalau begitu kami permisi dulu."


"Heeem."


Sekarang aku dan Rudi sedang mengintai Ana dan temannya dari kejauhan, dan untung saja tadi sudah meletakkan alat penyadap suara di tas Ana dilakukan oleh teman sesama pegawai kebersihan kemarin, sehingga bisa mendengar jelas percakapan mereka nantinya. Harus banyak akal biar rencana bisa berjalan dengan baik.


(Mila, kamu beneran ngak ada serius hubungan sama bos besar 'kan?)


(Gimana ya, Edo! Dibilang ada hubungan tapi kami sedang pisah ranjang, dibilang tidak ada hubungan kami belum resmi bercerai)


(Ooh begitu. Boleh ngak aku ... a-aaa-ku?)


(Maaf, mbak! Ini pesanannya!)


(Oh, iya mbak)


Suara pegawai warung menyodorkan makanan. Edo yang tadi berbicarapun jadi terputus tidak bisa melanjutkan lagi.

__ADS_1


(Terima kasih)


"Telepon ... telepon Ana, Bos!"


"Hah, memang kenapa?"


"Pakai nanya juga. Cepat ... cepatan, sepertinya ada gelagat aneh dari temannya. seperti mau mengungkapkan perasaan gitu," suruh Rudi buru-buru.


"Wah, benarkah itu?"


Tanpa kata lagi langsung kutelpon gawai Ana.


[Halo ... halo, Ana! Kamu sekarang berada dimana? Aku ingin bertemu kamu sekarang, bisa tidak?]


[Aku tidak bisa datang, Mas! Sebab sekarang sedang berada diluar rumah]


[Keluar ke mana? Sama siapa? Apakah sepenting itukah kamu berada diluar?Sehingga menolak untuk bertemu denganku]


[Bukan begitu, mas! Aku sekarang benar-benar jauh dari rumah, dan secepatnya tidak bisa menemui mas Adit. Jika nanti sudah pulang, diriku berjanji pasti langsung menemui kamu]


[Janji]


[Oke 'lah]


Tut ... tut, nada panggilan kuakhiri.


(Dari siapa Mila? Apa itu dari bos besar?)


(Iya, itu dari dia)


(Apakah ada keperluan penting , sehingga dia menelpon? Kalau penting kita bisa pulang sekarang!)


(Gak kok, dia hanya ingin bertemu]


[Oh, ya sudah]


[Oh iya. Tadi kamu mau bilang apa?)


(Ooh, yang tadi. Gak jadi ah, aku sudah lupa mau bilang apa tadi)

__ADS_1


[Masak baru sebentar sudah lupa mau bilang apa?]


[Iya, beneran itu, Ana]


[Ya, sudahlah. Siapa tahu nanti bisa ingat lagi]


"Yes ... yes, rencana kita berhasil Rudi. Ayo tos dulu kita. Ternyata kamu sigap juga memberitahuku untuk mengagalkan ungkapan perasaannya," tutur dalam kegembiraan.


"Plaak, siapa dulu Rudi gitu loh!" jawabnya, sambil menerima sambutan tanganku.


Akhirnya mereka menyudahi juga drama makan-makannya. Saat mengikuti langkah mereka, Ana selalu saja menengok ke arah belakang, lebih tepatnya ke arah kami. Dan ketika matanya menatap tajam, diri inipun secepatnya berpura-pura berpelukan mesra bersama Rudi.


(Ada apa, Ana?)


Tanya Edo temannya, masih terdengar dari penyadap suara.


(Ada yang aneh pada pasangan yang berada di belakang kita! Sepertinya dari tadi mengikuti kita terus)


Kecurigaan Ana berucap.


(Masak sih! Mungkin perasaan kamu saja, atau memang mereka kebetulan berjalan searah dengan tujuan kita)


(Mungkin juga sih! Tapi gelagatnga aneh banget dari tadi)


Ucapan Ana yang masih melihat ke arah kami, dengan penuh kecurigaan.


"Kamu dengar ngak percakapan mereka, Rudi! Kita harus lebih mesra lagi kayaknya, biar Ana tidak curiga," ucapku berbisik-bisik.


"Siip, Bos. Aman kalau masalah itu." Jawab Rudi pelan.


Kami berdua berusaha berakting dengan mesra, yaitu saling merangkul tangan, dimana tangan Rudi sudah melingkar dipinggangku, dan akupun berbalik membalasnya dengan mesra. Biar tidak dicurigai lagi, kami berusaha berjalan cepat ingin mendahului langkah mereka.


"Ayo sayang, kita mencari tempat yang nyaman untuk berduaan," ujarku memanjakan Rudi.


"Oh, tentu dong, sayang. Apa sih yang enggak buat kamu." Balik Rudi mesra.



Terdengar menjijikkan, namun demi kelancaran memata-matai harus sekuat tenaga kutahan drama yang mengelikan ini.

__ADS_1


Mata Ana sungguh tajam menatap dengan penuh keheranan ke arah kami, mungkin akibat melihat kengerian kami yang terlalu mesra sebagai kekasih pura-pura. Kini kami berdua sudah berhenti di bangku taman, dan Ana sudah berlalu melewati kami, yang sepertinya ingin menaiki bebek kayuh dalam kolam buatan.


__ADS_2