Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Emosi dalam jiwaku.


__ADS_3

Wess...wess, mobil sudah melaju dengan kecepatan tinggi, akibat rasa amarah dan kesal sudah bersemayam dalam diriku.


Tak butuh waktu lama aku sampai dirumah, sebab mobil dengan kecepatan penuh telah kukemudikan. Sesampainya dirumah, langkah sudah tergesa-gesa segera memasukki kamar sendiri.


Bruk, dengan kuat pintu kubanting.


"Aaah, prang ... preng," Kemarahanku dengan melempar barang-barang dalam kamarku.


"Hiiih, awas kamu Adrian. Aku akab buat kamu bertekuk lutut padaku mulai hari ini, saat rasa sakit ini sudah tidak tertahan lagi." Gigi mulai bergemerutuk, saat hati terus saja berbicara penuh emosi.


Prang ... prrrrg, semua benda telah kulempar kesembarang arah, tidak penting apakah berharga apa tidak.


Tok ... Tok, Suara ketukan pintu.



"Non ... Non Yona, tok ... tok," Suara bibi pembantu.


"Prang. Aaah, bruuk ... prang," Emosi yang tadi tertahan kini kian memuncak.


Kini kaca sudah berkeping-keping berantakan, akibat aku yang sudah tak kuasanya menahan emosi, sehingga tanpa pikir panjang kulempar botol parfum ke kaca riasku.

__ADS_1


"Non Yona, buka. Non, brook ...brook," Pintu terus saja digedor-gedor.


Emosi semakin tak terkendalikan, akibat sudah semakin menjadi-jadi memuncak, setiap mendengar ucapan Adrian yang selalu mengedepankan Karin.


Tok ... tok, pintu diketuk lagi.


"Aaaah, kamu diam. Brook ... duoor." Lemparan vas bunga tepat mengenai pintu, akibat terus diketuk.


Akibat kekalapanku yang sedang emosi dalam kemarahan, sekarang pintu yang sempat dikedor kini sudah senyap, mungkin takut dan kaget akibat lemparan barang tadi.


Dada terasa begitu sesak sakit sekali, sebab hati yang terluka kini penuh sekali oleh dendam yang sudah tumbuh.


Kini aku sudah terbungkus dengan sebuah rasa takut kehilangan, dan pada ujung-ujungnya aku harus melawannya lebih keras, agar mendapatkan pria yang kucintai itu kembali.


"Kenapa kamu terus melukaiku, Adrian?" tangisanku pecah akibat mengenang perlakuan Adrian yang kejam dan tidak punya hati.


"Kenapa ... kenapa, Adrian! Apa yang kurang dalam diriku, sehingga kamu lebih memilih wanita si*l*n itu." Ratapanku yang terus saja tak bisa merelakan Adrian menjadi milik orang lain.


"Kamu dulu sudah hampir saja kumiliki, tapi kenapa lagi-lagi aku harus kecewa atas rasa cinta ini? Apa yang harus kulakukan padamu, agar kau bisa kembali?" Kesedihanku yang terus saja mengeluh.


"Karin sudah membuatku begitu dendam, jadi jangan salahkan diriku jika ingin membuatnya menderita dan menghabisi," geram hati berbicara.

__ADS_1


Kini airmata kesedihan sudah kuusap, akibat otak telah menemukan jalan yang sudah mungkin agak gila.


"Apakah aku harus membunuh Karin, agar bisa mendapatkanmu?" Ide gilaku yang sudah dirasuki pikiran kekejaman.


"Aah, mana mungkin aku bisa melakukan pembunuhan, sedangkan membunuh kecoak saja aku takut," guman hati saat otak kembali memutar-mutar cara.


"Eeem, ide apa ya, kira-kira yang bisa memisahkan Adrian dan Karin selamanya?" Pikiran sedang berjalan mencari cara.


"Ahaaa, aku akan membuat kamu menderita dan tersiksa, Karin! Akan kubalas semua lukaku padamu, sehingga aku bisa bersama Adrian lagi. Jangan pikir aku mau melepaskanmu begitu saja Karin, saat kesayangaku kau rebut kembali. Tunggu saja apa yang akan kuperbuat padamu, hahaha!" Kegembiraan yang akhirnya mendapatkan ide.


Walau dibilang ekstrim dan super gila, tapi demi mendapatkan Adrian semua akan kulakukan. Walau nyawapun harus terbayarkan agar bisa bersamanya. Semua harus terjalani dan tersusun rapi, untuk bisa mendapatkan perhatian Adrian dan segera mencelakai Karin.


Sudah lama sekali aku mengurung diri dalam rumah, yaitu semenjak Adrian begitu dekat-dekat lagi pada Karin. Saat tidak sengaja ingin mengunjungi Adrian, aku melihat mereka begitu tidak punya malu berpelukan, sehingga percikan kemarahan kian menyala-nyala ingin membuat menderita Karin.


Hari demi hari kerjaanku hanya didalam kamar, meratapi cinta yang tak terbalas, dan menangisi kekecewaan pada Adrian, setelah perempuan sok kecantikan bernama Karin itu telah berhasil merebutnya. Dendampun kian hari kian mengunung dan semua itu sungguh membuatku tersiksa.


Di masa-masa kemarin aku sudah mencoba mengobati luka dan melupakan Adrian, tapi pada kenyataannya aku tetap tidak bisa, akibat kekuatan cintaku yang terlalu dalam padanya, sehingga tidak bisa dengan mudahnya menghilangkan rasa itu.


Aku akan benar-benar nekat dan sungguh tak menduga semua telah bersemayam dipikiranku.


Rasa kecewa pada wanita itu membuat murka dendamku terus saja naik kepermukaan, akibat memory kejadian tahun-tahun yang lewat terus saja menari-nari dalam pikiran, sehingga sampai sekarang rasa tak senang pada Karin kian memuncak, dan rasanya dendam terus saja bersemayam untuk memberi pelajaran padanya.

__ADS_1


__ADS_2