
"Buka dan lihat sendiri."
Tangan kini sudah mulai membuka isi di dalam paper bag, dan ternyata isinya adalah sebuah gaun, sepatu hak tinggi, serta beberapa alat rias.
"Untuk apa semua ini?" tanya tidak mengerti.
"Tidak usah banyak tanya. Cepetan kamu mandilah! Benar-benar berantakan sekali kamu sekarang ini!" suruhnya saat melihat penampilanku.
Wajah yang lelah akibat pekerjaan, sehingga membuat muka kini sedikit kusut dan acak-acakkan begitu berantakan.
"Mau kemana sih kita, Mas! Harus pakai dandan segala!" tanyaku penasaran.
"Ikut bersamaku ke pesta peluncuran produk baru perusahaan," penjelasan Mas Adit.
"Kenapa juga aku harus ikut, sih! Kenapa tidak ajak orang lain saja," Kata-kataku ada penolakan.
"Ayolah, Ana! Kamu adalah istriku, jadi mulai detik ini kemana-mana harus ikut. Dan sekarang cepetlah mandi dan membenahi diri," suruhnya.
"Iiich, selalu saja banyak alasan, selama ini sendirian pergi tanpa diriku, bisa! Kenapa sekarang aku yang selalu direpotkan," Ngedumelnya mulut sedang mengeluh sambil melangkah ke kamar mandi.
Rasa kesal sudah menghampiri, sebab sekarang Mas Adit selalu saja merepotkan, tapi disebalik itu semua rasa kebahagiapun datang. Di waktu dulu-dulu, dia tidak pernah sedikitpun untuk mengajak ke pesta manapun. Jangankan ke pesta, menemani belanja atapun ke mall untuk shoping saja, tidak pernah ada kata penawaran agar bisa belanja bersamanya.
Tanpa menunggu lama, kini aku sudah berubah menjadi wanita cantik. Tubuh sudah dibaluti dengan gaun putih diatas lutut, yang diiringi rambut yang tergerai lurus, tapi diujung rambut dibuat sedikit bergelombang. Dan wajahpun tak lupa kurias dengan mengoleskan make up tipis-tipis, yang kian manambah keanggunan kecantikanku saja.
Panggilannya membuatku tidak bisa berlama-lama untuk berdandan.
"Wah, ckkck. Sekarang kamu begitu cantik sekali!" pujinya.
Matanya sudah menatap takjub, saat diriku baru saja keluar dari ruang ganti baju, ketika tak sengaja langsung melangkah berdiri dihadapannya.
Cuup, sebuah ciuman didaratkan dipipiku.
"Mas Adit!" pekikku tak senang.
"Sedikit saja. Boleh 'lah."
"Dih. Dasar!" Tangan mencubit perutnya dengan penuh kegenitan.
"Aw ... aaw sakit, Ana!"
"Rasain, biar kapok."
"Habisnya kamu cantik, sih! Jadi Mas kagak tahan ingin segera mencium kamu," cakap mengakui kelakuan nakalnya.
"Masak sih! Perasaan dulu dengan sekarang wajahku datar-datar begini saja yaitu masih sama," jawabku.
"Sama, tapi lebih cantikan sekarang," Rayuan gombalnya.
__ADS_1
Muka sudah memerah tersipu malu-malu, akibat ucapan manis dan pujian suami.
"Ayo, kita berangkat sekarang. Takutnya malah terlambat nanti."
"Hmm."
Hampir setengah jam lebih perjalanan. Akhirnya kami sampai juga di pesta yang diadakan perusahaan. Terlihat para pengusaha dan teman-teman Mas Adit sudah memenuhi gedung mewah, yang berhiaskan bunga-bunga bermacamkan bentuk dan warna. Serta tak ketinggalan banyak sekali makanan, dan minuman kelas atas yang terhidang berjejer rapi dimeja.
Tangan sudah digenggam erat oleh Mas Adit.
"Fiiiuhhh, tenang ... tenang. Jangan sampai terlihat memalukan akibat grogi," Hati berguman berusaha menguasai keadaan diri sendiri.
Rasanya tangan sudah mulai berkeringat dingin, karena baru pertama kali memasuki pesta.
Sambil menyapa para tamu teman dan para pengusaha, semua mata kini sudah tertuju ke arah kami, seperti sedang menatap aneh padaku. Entah karena kagum sebab aku cantik, atau mereka tak suka akibat aku dari kalangan bawah, yang kelihatan tak pantas bersanding dengan Mas Adit.
"Ana, sini ... sini!" Mama mertua memanggil.
Langsung kuhampiri beliau, yang sedang mengobrol dengan seseorang.
"Waah, menantu mama tambah cantik saja nih sekarang!" pujian mertua.
"Terima kasih, Ma."
"Oh..ya Ana, kamu disini dulu sama Mama. Aku ada sedikit perlu dan ingin menyapa dengan pengusaha lain," Izin suami dengan melepaskan tangan.
"Iya, silahkan"
"Jaga Ana dulu, Ma! Adit ada perlu sama klien-kilen yang lain," pesan pada mamanya.
"Oh iya, pergilah."
"Kamu tunggu disini baik-baik. Aku akan segera kembali."
"Iya. Pergilah."
Langkahnya sudah kilat saja saat melenggang pergi. Tubuh sudah tak nampak lagi disela-sela kerumunan para tamu.
Hanya diam saja yang kulakukan sekarang, disaat mertua tengah asyik mengobrol dengan seseorang. Tidak bisa ikut menyela sebab tidak kumengerti maksud dan arah pembicaraan mereka.
"Ma, Ana kesana! Mau ambil makanan dulu!" pamitku pada mertua.
__ADS_1
"Oh ... oh, iya, Ana! Pergilah. Maaf Mama tidak bisa menemani."
"Iya, ngak pa-pa. Ana, bisa sendiri, kok."
"Ok 'lah. Hati-hati."
"Iya."
Mata begitu terpesona dengan berbagai macam lauk makanan yang terhidang. Rasanya air liur tak henti-hentinya ingin sekali menetes saat melihatnya. Dengan sigap tangan mulai mengambil lauk yang nampak lezat.
Perut yang sempat kelaparan tadi, sekarang sudah begitu kenyangnya, dengan lauk rendang dan sate ayam yang mengiringi makanku barusan.
"Ke mana Mas Adit, yah? Kok lama sekali! Dari tadi nunggu kok belum kembali?" Kegelisanku mencari.
Mata kini sudah mulai clingak-clinguk melihat ke kanan dan kiri, berusaha mencari keberadaan Mas Adit yang tak kunjung jua menampakkan batang hidungnya.
"Huuff. Benar-benar tega mas Adit meninggalkan aku sendirian disini. Awas saja kamu, Mas. Akan kubuat perhitungan denganmu jika bertemu," Kekesalanku berucap dengan menghembuskan nafas kasar.
Disela-sela para tamu yang sudah berkerumunan penuh sesak, kaki terus saja melangkah berkeliling mencari keberadaannya.
Karena tak kunjung jua menemukan dilantai bawah, kini langkah kaki mencoba untuk mencari dilantai atas. Selangkah demi selangkah, kaki mulai menaiki anak tangga yang begitu banyaknya, sekarang membuatku sedikit ngos-ngosan dan merasakan pegal dikaki, sebab sedang memakai sepatu hak tinggi. Langkah masih saja terus mencoba menaiki tangga, diiringi dengan tangan memegang jus jeruk, yang belum sempat habis saat habis makan tadi.
Praaaannk, suara gelas secara kilat terlepas dari tanganku.
Mata mas Adit sudah melihat tajam ke arahku, dengan mukanya yang begitu terkejut. Aku begitu terperangah mematung tak bisa menggerakkan badan, akibat menangkap basah apa yang dia lakukan sekarang.
Secepat kilat pula dia melepaskan pelukan, dan ciuman bibirnya yang sudah saling mengatup bertemu dengan perempuan yang tak kukenal.
"A--n-aaaana!" ucapnya kelu berusaha mendekati.
Aku terus saja mundur-mundur satu langkah, saat Mas Adit juga telah maju satu langkah. Sengaja untuk menghindarinya ketika dia berusaha mengapaiku dengan cara lebih mendekat.
"Ana, tunggu. Ana ... ana, berhenti kamu!" panggil saat aku sudah pergi meninggalkannya.
Tak kuendahkan suaranya memanggil. Kakiku terus saja melangkah cepat, agar secepatnya biss selesai menuruni anak tangga.
"Ana tunggu, Ana! Kubilang tunggu Ana, berhenti, Ana ... berhenti," panggilnya yang terus mengejarku.
Semua orang sudah melihat heran kearahku, yang terus saja berjalan tergesa-gesa sedikit ada larian kecil. Tanganpun tak lupa terus saja mengusap deraian bulir-bulir airmata, yang mulai mengalir membasahi pipi.
"Ana, tolong berhenti. Tunggu, Ana!" panggilnya sekali lagi, sebelum diri ini benar-benar keluar dari gedung.
Hingheels sudah kulepas, agar memudahkanku untuk secepatnya berlari menghindari Mas Adit, yang masih saja terus ingin mengejar.
Tangisanku yang kian pecah. Tak terhindarkan tangan terus sibuk menghapus pipi yang basah.
Berlari terus yang kulakukan. Tidak tahu ke arah mana berlari. Terpenting sekarang, kalau bisa sejauh mungkin tidak melihat wajah suami yang berperasaan.
Bhuuugh, suara tubuhku jatuh di aspal jalan akibat tersandung sesuatu.
__ADS_1
"Aaaaahhhhhhhh," teriakku sekencang-kecangnya dengan deraian airmata.
Betapa kecewanya hati sekarang. Selalu saja disakiti oleh orang yang sama, ditambah sekarang tanpa bersalahnya mas Adit begitu tega mencium seorang perempuan, yang bukan mukhrimnya.