
Kaki akhirnya sudah sampai ditempat rapat tadi dengan keadaan ruangan yang sudah sepi, mungkin sang empu yang mengajak kerjasama sudah pergi akibat dilayani oleh Bayu dengan baik.
"Heeeh ... heeh. Wah, gila kamu bos. Lari kenceng amat, sampai aku tak bisa mengejar," keluh Bayu.
Ocehannya tak kupedulikan, sebab kini aku hanya ingin mengurusi layar monitor yang menampakkan sebuah sosok yang kuduga adalah Karin.
"Pak, perlihatkan gambar yang tadi sempat diputar dilantai dua," suruhku pada pegawai.
"Baik, bos."
Dengan perlahan-lahan dan hati-hati, kini layar sudah menampakkan beberapa gambar, dan pada akhirnya sampailah pada sosok wanita itu, yang sedang memakai baju berwarna biru bercampur putih.
"Perlahan-lahan pak, untuk memutarnya. Tolong sekarang perbesar gambarnya sedikit," suruhku.
"Iya, bos."
Deg, betapa kagetnya diri ini saat wanita yang kucurigai itu Karin, kini benar-benar nyata adalah dia, saat tak sengaja wajahnya sedang menoleh kebelakang seperti sedang dipanggil seseorang.
"Ya Allah, ternyata itu beneran kamu Karin. Alhamdulillah, ternyata kamu masih hidup," guman hati yang kini syok, sedih, sekaligus bahagia.
Braaak, dengan secara kuat meja memanjang untuk rapat telah kugebrak, akibat emosi mulai merajai jiwa.
"Kenapa tadi bisa kecolongan Karin tidak ada, saat aku datang kesana? Kenapa ... kenapa, aaahh?" ujarku penuh emosi.
"Lihat ... lihat, Bayu. Tadi itu beneran Karin, lihat! Dia ternyata benar-benar masih hidup, tapi kenapa aku masih saja dihalangi oleh takdir yang tak bisa bertemu dengannya?" cakapku sendu pada sang sekertaris.
"Kamu sabar, bos. Dan yakinlah bahwa kalian pasti akan dipertemukan. Mungkin dia tadi sudah keburu keluar duluan, akibat bos telah terlambat memberi perintah pada kami," jawab Bayu mencoba menenangkanku.
"Iya, Bayu. Aku tetap percaya bahwa diriku bakalan ketemu sama Karin, tapi sampai kapan? Sudah sekian tahun diri ini bersabar, namun belum juga membuahkan hasil bertemu dengannya," keluhku lagi.
"Bos, tenang saja. Nanti aku akan tetap bantu kamu, sampai kalian benar-benar dipersatukan kembali. Oh ya, ngomong-ngomong bukankah Karin kesini pasti ada sebabnya? Emm, namun apa itu? Kenapa dia datang keperusahaan dengan berpakaian seperti itu?" ucap keheranan Bayu menunjuk ke arah monitor.
"Benar juga, Bayu. Kita harus mencari tahu kenapa Karin bisa ada dalam perusahaan?" jawabku setuju atas perkataan Bayu.
"Coba, lihat? Perhatikan baik-baik baju yang dipakai Karin, bukankah itu seperti seragam. Tapi seragam apa yang dia pakai? Dan pasti itu akan menjadi pr kita untuk mencari tahu," ujar cemerlang Bayu.
"Benar-benar, Bayu. Kita harus mencari tahu," jawabku setuju.
Dengan keyakinan penuh bahwa pasti kami akan dipertemukan, sehingga semua anak buah dan para karyawan kukerahkan agar mencari tahu. Semuanya jika mendapatkan informasi, maka akan mendapatkan imbalan besar jika informasi yang didapat akurat atas kebenaran.
"Maaf, bos. Anak kecil yang aku asuh tadi tidak sengaja ketemu sama mamanya, jadi sekarang dia sudah pergi dari perusahaan kita," ucap pegawai yang sempat kuserahkan untuk membantu mengasuh Aya.
"Iya, ngak pa-pa," jawabku lesu saat duduk termenung masih diruang rapat.
"Kenapa aku tak ada kesempatan lagi untuk ketemu pada kamu, Karin. Padahal rinduku sudah tak tertahan lagi, hingga diri inipun sampai tak mengenali diri sendiri," rancau hati yang kesal.
Berkali-kali semua karyawan perusahaan telah dikumpulkan jadi satu, untuk diperlihatkan sebuah video yang ada Karin, sebab siapa tahu dari salah satu mereka ada yang mengenalinya, namun semua hanya sia-sia saja saat tidak ada satupun yang mengenal. Lelah mencari dan menunggu terus saja memuakkan hati, yang sudah tak sanggup menahan segala hati yang tertunda.
"Bos ... bos, sini ... sini?" panggil sekertaris Bayu, saat diri ini hanya memandangi kaca perusahaan.
"Ada apaan, sih? Kayak heboh banget manggil saja," ketusku merasa heran.
"Akhirnya ada berita baik untuk kamu, bos!" jawab antusias Bayu kelihatan gembira sekali.
__ADS_1
"Berita baik apa?" tanyaku yang kini duduk dikursi kebesaran.
"Ada kabar baik, bahwa Karin itu memakai seragam apa dan dari mana?" cakap Bayu cepat menyampaikan.
"Apa? Benarkah itu?" ujarku tak percaya. Sampai-sampai habis terkejut, kini langsung cepat bangkit dari duduk.
"Iya, bos. Ayo cepat-cepat, kita akan menemui karyawan yang bisa menginformasikan tentang Karin," ajak Bayu tak sabar.
"Iya ... iya, ayo."
Karena tak sabar, sampai-sampai langkah sudah kuperlebar-lebar, hingga Bayu sampai kewalahan mengimbangi dan dia terpaksa harus berlarian kecil.
"Apakah kamu beneran tahu siapa wanita itu?" tanyaku pada karyawan, menunjukkan kearah layar monitor.
"Iya, bos. Saya tahu, sebab aku memesan roti padanya untuk makan siang tadi," jawabnya santai.
"Roti?" tanyaku tak percaya.
"Iya, bos. Wanita itu bekerja ditoko roti dan aku adalah pelanggan tetapnya. Wanita itu sering kali datang kesini mengantarkan pesananku," jawab pegawai perempuan yang didepanku saat kena interogasi.
"Benarkah? Kalau begitu kamu pasti bisa memanggil dia kesini 'kan?" tanyaku mencoba meminta bantuan.
"Bisa, bos. Tapi--? Tapi, kita harus memesannya awal-awal lagi, kalau begini kadang dia sibuk tak bisa mengantarnya, dan yang kemungkinan bisa orang lain mengantikan mengantar," jelas si karyawan.
"Ooh, begitu rupanya. Tapi kali ini aku benar-benar minta bantuan sama kamu, sebab wanita itu sangatlah penting bagiku, jadi kali ini aku mohon pesanlah roti itu dengan yang mengantar adalah wanita itu sendiri. Kalau bisa harus dia, jangan orang lain. Bisa 'kan? Aku akan memberi imbalan lebih sesuai sayembara kami tadi. Gimana?" tanyaku menawarkan.
"Emm, gimana ya bos. Aku kurang yakin dia akan bisa kesini mengantarnya. Gimana kalau aku coba dulu," Ide karyawan yang menjadi penghubung akan bertemu dengan Karin.
"Oke, silahkan kamu coba dulu."
Pegawai sudah menyingkir dari hadapanku, untuk menelpon apa yang aku pinta. Dia menelpon agak menjauhi posisiku dan Rudi, dan terdengar lama sekali dia mencoba membujuk.
"Gimana?" tanyaku penasaran saat pegawai selesai menelpon.
"Beres, bos. Akhirnya dia tadi mau, sebab dengan alasan ada yang salah atas pemesanan kue yang baru saja kubeli," jawab pegawai menyampaikan berita baik.
"Bagus. Kamu sekarang boleh ambil bonus dua kali lipat pada sekertaris Bayu. Kamu urus dia Bayu, sebab aku akan segera urus Karin yang sebentar lagi akan kutemui dia setelah sekian tahun kami berpisah," perintahku pada sekertaris.
"Baik, bos. Ayo, saya akan kasih bonusnya," jawab Bayu setuju.
Akhirnya apa yang kuingikan terjadi juga. Semoga saja kali ini tak gagal dan Karin tidak merasa curiga atas rencana yang tak terpikirkan olehnya.
"Akhirnya kita ketemu lagi, Karin. Sungguh aku tak sabar ingin bertemu kamu. Semoga saja kamu tak akan takut jika melihatku. Semoga saja pertemuan kita ini akan menjadi langkah awal atas hubungan kita, yang sempat terputus akibat kelicikan Yona. Aku sangat berharap jika kamu bisa kembali kepelukanku dan kita bisa merajut bahagia seperti dulu, yang akan berubah status menjadi suami istri bukan keluarga lagi," rancau hati yang tak sabar ingin bertemu.
Setengah, satu jam lamanya diri ini sudah menunggu didalam ruangan kerja, namun orang yang kutunggu-tunggu tak kunjung jua datang. Hati terus saja disemayani rasa gelisah, takut, dan tak sabar akan kehadiran wanita yang kurindukan.
Tok ... tok, sebuah ketukan tangan telah berhasil membuat diri ini mulai berdebar-debar.
Cekleik, secara perlahan-lahan pintu dibuka, sebab aku tak serta merta langsung menjawab ketukan itu.
"Permisi ... permisi, mbak ... mbak permisi. Ini kue yang sempat anda minta, kini kubawakan untuk segera ditukar," ucap suara seorang perempuan mencoba memanggil karyawanku.
__ADS_1
Lampu sudah kumatikan, hingga ruangan begitu gelap tak terlihat sama sekali, sebab jika dinyalakan pasti Karin akan kabur dan tak mau bertemu denganku.
"Permisi mbak. Dimana kamu? Kenapa kok gelap gini, ya? Apa kamu benar-benar ada diruangan ini?" tanyanya yang ragu antara masuk keruanganku apa tidak.
"Ya tuhan, ini beneran suara kamu, Karin. Oh, wanitaku, sungguh tak sabar aku ingin mendekatimu," guman hati yang masih tak percaya.
Tanpa banyak membuang waktu, kaki kini berjalan cepat menghampiri Karin yang masih berdiri tepat ditengah-tegah pintu. Dengan cekatan kini kutarik kuat tangannya.
Bhuhh, suara benda jatuh, yang kemungkinan adalah kotak kue.
"Eee'eeh, kamu siapa? Apa yang kamu lakukan?" Keterkejutan Karin saat aku tiba-tiba menarik paksa tangannya.
Bhuugh, dengan sedikit kasar tubuhnya sudah kubanting kuat ke tembok dinding, dan sekarang mencoba mengunci kedua tangannya agar tak bisa kabur.
"Hei, siapa kamu. Tolong ... tolong, ada orang aneh yang ingin mencelakaiku, tolong ... tolong," teriak Karin.
Suara kencangnya yang meminta tolong tak kuperdulikan, sebab diri ini mencoba menghirup aroma tubuhnya yang menguar wangi, setelah beberapa tahun ini tak kutemui. Berkali-kali tangan Karin sudah meronta- meronta, namun sekuat tenaga diriku berbalik mengkuncinya.
"Kamu tak payah berteriak meminta tolong begitu, sebab aku adalah orang yang kamu kenal," ucapku yang akhirnya buka suara.
"Maksud kamu apa? Kita kenal? Kamu jangan macam-macam sama diriku, atau kamu akan menerima akibatnya sesuatu yang lebih, atas apa yang kau lakukan padaku sekarang," ancamnya yang terdengar mulai ketakutan.
"Lakukanlah, sebab aku tak akan melepaskan kamu mulai hari ini sampai seterusnya," jawabku tak menyerah.
"Aaaah, lepaskan aku. Siapa kamu sebenarnya dan apa yang ingin kamu lakukan? Aku tak kenal kamu, jadi sekarang lepaskan ... lepaskan diriku," pintanya yang terus meronta-ronta.
"Jangan kamu katakan kita tak kenal, sebab kamu lebih mengenal diriku lebih dari siapapun," tekanku menjawab.
"Aaahhhh, aku benar-benar tak tahu siapa kamu sebenarnya, jadi aku mohon lepaskan aku sekarang," gertaknya melengkingkan suara, disaat Karin terasa sudah emosi.
Cetiik, dengan sekali jentikan jari, semua lampu akhirmya telah hidup seperti sedia kala, hingga menampakkan rupa wajah kami masing-masing.
"Kak Adrian. Astagfirullah, apa ini kamu beneran kak Adrian?" ucapnya tak percaya.
"Kenapa? Apa kamu masih tak percaya, jika aku lebih mengenal kamu dari siapapun," jawabku memberikan seutas senyuman sinis namun penuh arti.
"Lepaskan aku, kak. Tidak ada gunanya kita ketemu seperti ini," jawab Karin lemah, yang sudah memalingkan wajah kekanan tak ingin melihat mukaku.
"Kenapa engkau berpaling? Apakah kau tak merindukanku?" godaku bertanya.
Tak ada jawaban sama sekali dari Karin.
"Aku ingin sekali memelukmu, membelai, apalagi merasakan kehangatan seutas kerinduan setelah sekian tahun berpisah. Apa kamu tak membutuhkan itu?" tanyaku mesra penuh godaan.
"Kamu jangan kurang ajar, kak. Aku bukan wanita murahan yang seperti engkau pikirkan sekarang. Jadi lepaskan aku ... lepaskan," pintanya memohon.
"Tak akan," bentakku mengkuatkan suara.
"Terserah apa yang akan kamu lakukan sekarang, yang jelas aku sekarang sangat-sangat membenci kamu dan semua kenangan tentang kita sudah kubuang jauh-jauh. Ingatlah, apa yang pernah terjadi dimasa lalu tak akan pernah bisa kembali seutuhnya, karena gelas yang pecah tak akan kembali utuh, seperti itu pula atas kehidupanku yang sudah engkau hancurkan, jadi lepaskan aku sekarang," ujarnya yang membuat hati kini begitu pilu mendengar.
"Benarkah apa yang kamu katakan?" tanyaku tak percaya.
__ADS_1
Karin hanya diam tak serta merta menjawab semua pertanyaanku, hingga sebuah emosi telah muncul, kerena jawabannya begitu pedas tak enak sekali didengarkan oleh telinga.