Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Memberikan makanan pada tawanan, Bagian 2


__ADS_3

Aku tetap berusaha memberikan makan pada Karin, agar dia tetap bisa hidup.


"Makan ... cepat ... makan!" pekikku dengan memaksanya, berusaha menjejalkan nasi ke dalam mulut Karin.


"Bruuuusss!" Wajahku sudah terkena semburan nasi dilakukan oleh Karin.


"Emm, sial."


"Haiiich dasar. Ternyata bisa kurang aj*r juga kamu," kekesalanku yang sedang membuang nasi dari wajah.


Plak ... plak ... plak ... plak, bertubi-tubi tamparan telah kulayangkan dipipi Karin disebelah kiri dan kanan, sehingga membuat ujung bibirnya sedikit pecah dan sudah ada sedikit mengeluarkan darah.


"Kamu sudah berani-beraninya melawan, hah!" pekikku yang sudah naik pitam.


Braaak ... praaang, kaki sudah menendang piring nasi yang sempat kuberikan pada Karin.


Nasi beserta lauk sudah berserakan kesembarang arah yang berada dilantai.


Akibat amarah yang sudah tersulut, kaki kini melangkah mencoba mengambil balok kayu, yang sedang tergeletak berada disudut ruangan.


"Dasar tak tahu diri, sudah dikasih hati agar bisa kenyang perut kamu itu, tapi berani-beraninya kamu ingin melawanku, dasar!" Kemarahan yang sedang berada dipuncaknya.


Bhuuugh ... bhuug, sekarang tangan berkali-kali melayangkan pukulan ke badan Karin.


"Aaa ... aww. Bhugh, hentikan Yona, aa'aa," Suaranya yang mulai mengerang kesakitan.


"Aku tidak akan berhenti, bhuugh ... dasar perempuan j*lang. Bhuug ... bhugh ... bhuug. Ini akibatnya kalau kamu berani melawan," bentakku yang terus saja bertubi-tubi memukulnya.


"Maafkan aku, Yona. Aaa'aa, maaf ... maaf!" Permohonannya yang sudah menangis, diiringi mengerang menahan sakit.


Rintihan Karin terdengar memilukan dan kesakitan.


"Dasar perempuan br*ngs*k. Aaaaah!" Kekesalanku yang sudah berteriak.


"Heeh ... hhhh," Hembusan nafas ngos-ngosan akibat kelelahan pada diri sendiri, sebab terlalu kuat memukul Karin.


Braang ... kluntaang, balok kayu yang kupakai memukul sudah kubuang ke sembarang arah.

__ADS_1


Karin kelihatan benar-benar lemah tidak berdaya sekarang. Rasanya puas sekali, saat kali ini menghajarnya tanpa ampun.


"Inilah akibatnya jika kamu telah menentangku, jadi kamu itu hanya boleh diam dan mengikuti permainanku saja, oke! Kalau kamu tidak menjadi orang yang penurut, akan kupastikan melakukan sesuatu yang lebih dari pada ini!" ancamku yang masih kesal yang langsung menyumpal mulut Karin lagi.


"Sekarang kamu baik-baik disini, dan jangan kabur, mengerti! Sebab aku ingin segera menemui pujaan hatiku, hahahhaha!" Gelak tawaku puas, yang sudah memamerkan pertemuanku bersama Adrian nanti.


"Semoga saja dengan kamu menghilang, dia akan kembali padaku, plok ... plok." Kutampar pelan pipi Karin.


"Eem ... emm," Suaranya tertahan dengan badan sedikit meronta, mungkin tak setuju akan tindakanku yang ingin bertemu Adrian.


"Awas saja kalau kamu kabur, maka nyawalah yang akan melayang," ancamku sekali lagi sebelum benar-benar melangkah pergi.


Braaak, pintu kututup secara kasar dan mengkuncinya dari luar. Meninggalkan Karin sendirian, yang sedang meringkuk lemah tak berdaya sama sekali. Tak kupedulikan lagi rasa sakit ditubuh Karin yang telah habis-habisan kupukul barusan, yang terpenting sekarang rasa sakit hati ini sudah puas dan terbalaskan dengan cara menyiksanya.


Sekarang langkah kaki sudah masuk ke dalam kamar, untuk segera berdandan yang cantik. Tak sabarnya diriku menginginkan kekasih hati beralih memandangku saja, akibat kesal kemarin-kemarin yang gagal sempat menolakku.


Karena sudah beberapa hari tidak bertemu, sehingga hari ini aku harus membuatnya tertarik dan terpana, biar hatinya kian luluh dan tertambat hanya padaku.



Gaun putih diatas lutut kini sudah membalut tubuhku dan betapa anggunnya diri ini sekarang, yang ditambah lagi oleh wajah yang sudah kupoles tipis-tipis dengan make up, sehingga menambah aura kecantikanku keluar. Tubuh sudah terpantul di kaca, dan berkali-kali kubolak balik ke kiri dan kanan bertanya pada diri sendiri apakah aku sudah cantik apa belum?.


Tidak ingin membuang waktu, langsung saja kaki sudah melangkah ketempat mobil yang terparkir dihalaman rumah.


******


Mobil sudah terparkir rapi didepan rumah Adrian. Disini aku akan berpura-pura mampir bersilaturahmi, sebab tak mau ada yang curiga atas kedatanganku yang tiba-tiba. Aku sengaja datang ke rumahnya, sebab Adrian pasti sedang binggung mencari Karin yang sudah dua hari kuculik.


"Hai Naya yang cantik!" kepura-puraanku menyapa anak Adrian saat digendong Chris.


"Yona, kamu?."



"Mau ngapain kamu ke sini?" ketus Chris menyambutku.


"Kamu ngak usah ketus begitu, kenapa! Kedatanganku ke sini cuma mau bersilahturahmi pada Adrian saja. Lagian aku sama Karin dan Adrian sudah lama berteman baik dengan mereka, jadi ngak usah berburuk sangka dulu, iya 'kan Adrian?" Penjelasanku dengan berbalik menjawab secara ketus.

__ADS_1


"Berteman? Dengan Karin? Gak salah itu!" ucap Chris lagi yang sedang tidak percaya.


"Sudah ... sudah, Chris! Biarkan Yona disini. Mungkin benar yang dia katakan, niatannya memang sedang berkunjung saja. Yang terpenting sekarang adalah kita harus memikirkan Karin. Dimana keberadaannya sekarang?" Perkataan Adrian yang sudah membelaku.



"Yes, tenyata Adrian masih peduli padaku," Kegembiraan dalam hati.


"Memang ada apa dengan Karin? Emm, kok tumben-tumbennya kalian berkumpul begini?" Kepura-puraanku bertanya.


"Kami semua sedang kebingungan, sebab sudah 2 hari Karin telah menghilang, dan sampai sekarang kami tidak tahu keberadaannya," simbat Mama Adrian yang tiba-tiba menghampiri kami saat tengah asyik berbincang.


"Ya ampun, astaga. Malang sekali nasibnya," sahutku yang pura-pura tak mengetahui dengan wajah kupalingkan ke kanan, akibat tak tahan menahan senyum.


"Kenapa, Yona? Sepertinya kamu tidak ada rasa bersedih. Emm, kelihatannya seperti sedang tersenyum begitu," Kecurigaan Chris.


"Gak kok, Chris. Aku memalingkan muka sebab ingin bersin saja," alasan kobohoganku.


"Ooh."


Tatapan Chris sangat tidak enak dilihat, saat bola matanya begitu tajam menatap ke arahku berdiri.


"Aku benar-benar turut bersedih sekali terhadap keadaan Naya sekarang, yang sudah dua hari tak bertemu ibunya," Kepura-puraanku yang sudah menangis tanpa mengalirkan airmata.


"Aduh kasian sekali kamu sayang," imbuhku sambil mentoel pipi anak Karin yang pipinya chubby


"Sini biar Ayah gendong," ujar Adrian yang berusaha merebut Naya dari gendongan Chris.


"Kamu yang sabar ya, Adrian! Aku yakin pasti Karin akan segera ditemukan," Perkataanku yang berusaha menghibur.


"Terima kasih ya, Yona! Kamu sekarang sudah berubah drastis, menjadi baik hati dan peduli. Terima kasih, ya!" Puji Adrian yang membuat hatiku senang bukan kepalang.


"Yess ... yes, ternyata Adrian sekarang mulai mempercayaiku. Satu langkah rencana telah berhasil lagi," Kegiranganku dalam hati yang bersorak ria.


"Oh ya, kamu kemarin-kemarin ada ketemu sama Karin ngak, Yona?" tanya mama Adrian yang sudah mimijit pelipisnya, mungkin sudah merasakan pusing.


"Gak tante, kemarin aku ngak ada keluar kemana-mana, cuma seharian penuh dirumah saja." Kebohonganku menjawab.

__ADS_1


"Ooh, ya sudah."


Semua orang sudah dibuat binggung dan pusing kepala, akibat mencari keberadaan Karin. Sementara diriku hanya menatap penuh kebahagiaan dan biasa-biasa saja, saat semua orang berusaha sibuk menelpon ke sana-sini, serta tak lupa mereka sampai menghubungi pihak kepolisian juga. Sikapku memang kubuat sewajarnya saat bersama mereka, sebab tidak mau ada yang curiga.


__ADS_2