
Rencana belum tersusun untuk mencoba menguak, apa yang sebenarnya yang diinginkan kak Nola, sebab sampai hati dia ingin menjatuhkan perusahaanku, padahal niat hati sangat baik untuk membantu memajukan perusahaannya juga.
"Gimana ini, Bos?" tanya Rudi.
"Aku ngak tahu lagi Rudi, apa yang harus kulakukan sekarang. Rasanya begitu tak percaya atas perlakuan kak Nola. Padahal dia dulu adalah wanita baik-baik, dan sekarang tidak nyangka saja dia telah berubah drastis ingin menghancurkanku," tuturku binggung.
"Aku tahu Bos, kamu sangat kecewa padanya, tapi kita harus cepat menyelesaikan masalah ini, biar dia tidak semakin menjatuhkan perusahaanmu," tegur Rudi mengingatkan.
Hembusan nafas kasar menderu keras. Masalah yang terjadi membuat kecewa. Sampai hati orang yang dekat telah menusuk dari belakang.
"Memang kamu ada rencana jitu?" tanyaku padanya.
"Kalau aku sih belum ada ide! Tapi untuk sementara ini, kita mulai dulu menghentikan pemasukan kain, supaya para pekerja tak menjahit dan menjadikan pakaian jadi," usul Rudi.
"Baiklah kalau pendapat kamu itu baik, aku serahkan pada kamu semuanya, sambil kita berpikir untuk mencari ide, bagaimana cara menguak permasalahan ini," jawabku lesu.
Sama-sama buntu cara. Kami hanya bisa berpusing ria dengan permasalahan yang kian menjadi-jadi.
"Baik, Bos! Kamu harus tetap semangat, jangan menyerah begitu saja. Walaupun Nola adalah teman baik kamu, tapi jangan beri ampun siapa saja yang telah berani menggangu perusahaan kamu. Apalagi gara-gara masalah ini, Ana telah mengalami keguguran, dan menurutku semua harus terbalas sesuai apa yang telah dia lakukan," ucap Rudi sudah ada bara api dendam.
"Aku tahu Rudi. Aah ... ahh, entahlah! Aku juga binggung harus gimana lagi," jawabku pasrah.
"Sabar Bos, dan harus yakin kita bisa keluar dari masalah ini."
"Baiklah aku akan pergi dulu. Ingatlah aku selamanya berada disisimu, siap untuk selalu membantu, sampai masalah ini selesai," ucap Rudi pamit.
__ADS_1
"Iya, Rudi. Terima kasih."
Benar juga apa yang dikatakan Rudi, aku tidak boleh membiarkan orang lain menghancurkan, walaupun dia adalah teman baik sakalipun.
Otak terus saja berputar-putar mencari ide, bagaimana menjatuhkannya secara halus, namun bisa membuat dia skatmat.
[Panggilkan Edo ke ruanganku]
Suruhku pada pegawai perusahaan, melalui telepon kantor.
[Iya pak, akan kusampaikan]
[Terima kasih]
Otak terus saja berpikir, namun sudah berputar-putar tidak ada satupun yang nyangkut idenya.
Tok ... tok, pintu ruangan telah diketuk.
Ceklek, pintu telah terbuka lebar, dan ternyata itu adalah Edo.
"Ada apa, Pak Adit? Katanya kamu telah memanggilku?" Edo langsung menghampiriku yang tegah duduk di sofa.
"Benar aku memangilmu, sebab ada hal penting yang ingin kubicarakan padamu."
"Baiklah. Ada apa sebenarnya?"
"Kamu adalah karyawan bagian pemasaran yang bisa kupercayai, sebab kamu adalah teman Ana, yang mana dia juga telah mempercayaimu. Aku minta tolong kamu urus semua dibagian pemasaran yang sedang ada masalah sekarang, kalau bisa kamu selesaikan, dan ganti semua baju yang telah memakai bahan yang tertukar. Untuk kain yang sudah disetor dari perusahaan musuh, kalau bisa kamu timbun dulu jangan digunakan, dan akan kugantikan dengan kain dari perusahaan lain. Pokoknya kamu atur sedimikian rupa, jangan sampai musuh mengendus rencana ini. Biar nanti Rudi sekertarisku akan membantumu, sebab jika ada kesulitan kamu boleh menanyakan padanya," terangku meminta bantuan pada Edo.
"Tapi Pak, apakah ini tidak terlalu berlebihan, tanggung jawab telah diberikan pada saya? Takutnya nanti ada omongan yang tidak enak dari karyawan lain," jawab Edo sedikit menolak perintahku.
__ADS_1
"Kamu tidak usah khawatir tentang itu, sebab ini hanya sementara, dan hanya kamulah yang bisa membantuku sekarang ini," jelasku.
"Baik Pak, jika menurut kamu aku bisa melakukan ini semua."
"Sebentar, akan kupanggilkan Rudi dulu."
"Baik, silahkan."
Tut ... tut, suara telephone kantor berbunyi.
[Ke ruanganku sebentar]
[Ok, siip]
Tak butuh waktu lama Rudipun sudah datang.
"Ada apa, Bos?" tanyanya langsung.
Langkahnya sudah dipercepat mendekati kami.
"Kamu bantu Edo mengurus masalah kain yang tertukar. Sementara aku akan mencoba mencari tahu tentang kak Nola, siapakah sebenarnya dia dan mau apa?" jelasku.
"Baik, bos."
"Jalankan rencana ini secara diam-diam, biar para karyawan tidak mengaduh tentang masalah ini, dan cukup kita saja yang mengetahui permasalahan ini," peringatanku.
"Siap dah, Bos! Kami akan tutup mulut rapat-rapat, dan akan menyelesaikan perintahmu dengan baik. Ya sudah, kami mau pergi dulu, mau mengurus semuanya dengan segera," izin Rudi.
__ADS_1
"Emm. Hati-hati."
Setelah kepergian Edo, akupun berusaha mengundang kak Nola untuk datang ke perusahaan.