Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
PROLOG


__ADS_3

POV : ???


Aku berjalan sempoyongan melewati jalanan malam. Sambil memeluk erat diriku, mencoba menenangkan pikiran. Noda darah yang menempel di bahu, membuatku teringat tatapan matanya saat itu.


Aku menggertakkan gigiku kuat, marah, putus asa, benci, sedih. Semua emosi itu berpadu dalam hati.


"HAAAAAA!" Aku berteriak di tengah gelapnya malam. Mencoba melepaskan rasa sakit yang tidak berwujud ini.


"HAH SIAL! SIAL! SIAL! AKU MEMBENCIMU!" Tanganku mencakar aspal jalanan berkali-kali. Tak peduli kuku tanganku yang hancur kali ini. Rasa sakit di hatiku lebih perih.


Aku memejamkan mataku, melihat rentetan kejadian yang berputar kembali seperti film.


#FLASHBACK


Ini adalah malam yang sunyi, tidak ada suara yang terdengar di mansion kami. Bahkan cahaya lampu yang terang ini tak menghidupkan suasana rumah ini.


Aku Seas, umurku 17 tahun. Hari ini adalah hari seharusnya aku mendapatkan hadiah atas ulang tahunku beberapa hari yang lalu.


Iya, itu yang harusnya terjadi ...


Suasana rumah yang sepi ini, kupikir mereka menyiapkan kejutan untukku. Karena aku adalah anak termuda di keluarga ini.


Aku berjalan dengan riang ke arah ruang tengah. Lalu kubuka pintu itu dengan gembira. Hingga seketika ... perasaan itu lenyap.


Tubuhku menjadi kaku, sangat berat rasanya. Bahkan untuk mengedipkan mata saja aku tak sanggup. Pemandangan di depanku.


Genangan darah yang perlahan mencapai ujung sepatuku. Serta Ayah dan Ibuku yang tergeletak di lantai.


'Tunggu ... itu Ayah dan Ibuku? ... '.


Aku melihat ke sekelilingku. Keringat dingin mulai membasahi tubuhku. Bahkan para pelayan juga tergeletak di lantai.


Di tengah lautan darah dan manusia itu. Kakakku berdiri di sana, memegang sebuah cambuk dengan duri di sekelilingnya. Rambut hitam lurus yang berwarna merah karena darah. Bola mata ungu permata yang terlihat sayu tetapi penuh nafsu. Serta jas putih yang merah karena darah.


"Ka ... kak?" Suaraku bergetar. Ini tidak lucu untuk sebuah candaan.


Kakakku menoleh padaku dan tersenyum. Saat itu juga tubuhku lemas. Itu bukan senyuman hangat yang biasa dia berikan padaku. Tapi senyuman penuh nafsu seolah mengatakan 'selamat tinggal'.


Kakakku mendekat padaku dan meletakkan tangan kanannya di bahu kiriku. Tubuhku bergetar hebat, kakakku lebih tinggi dariku jadi aku harus mendongak untuk menatapnya.

__ADS_1


Saat aku melihat matanya, sebuah suara tiba-tiba terdengar di dalam otakku. Tidak...itu bukan suara...itu insting bertahan hidup.


...[Larilah kalau kau ingin hidup!]...


Aku mencoba menggerakkan tubuhku, tapi tubuhku tak bereaksi sesuai keinginanku!


Air mataku mulai menetes, begitu juga dengan darah yang keluar dari mulutku. Iya, aku menggigit lidahku sendiri. Rasa sakit membawaku kembali ke kenyataan.


Aku berlari meninggalkan rumah yang penuh bau anyir darah. Melewati berbagai lorong dengan tumpukan mayat.


Dari luar rumah, aku bisa melihat kakakku sedang berdiri di depan jendela. Menatapku sambil tersenyum.


Senyuman paling mengerikan yang pernah kulihat. Bibirnya mulai terbuka dan mengatakan sesuatu.


..."Benar, teruslah lari dan bertahan hidup. Seperti kecoa."...


Aku berlari lagi dan tidak menengok ke arah sana. Kalimat yang sama terus kuucapkan di otakku.


"Itu bukan kakakku. Itu bukan kakakku. Itu bukan kakakku."


Tapi tak peduli seberapa lama, seberapa kuat aku menyangkalnya. Itu tetaplah fakta bahwa kakakku sudah membunuh Ayah dan Ibu.


Aku membuka mataku perlahan, terasa basah. Ah ... ternyata hujan. Aku tertawa kecil sambil menatap air yang mengalir dari jalanan.


"Terduduk lemas di tengah hujan, benar-benar suasana yang pantas untuk seorang pengecut sepertiku," ucapku letih.


Terbesit keinginan balas dendam dalam hatiku, tapi otakku menyadarkanku bahwa aku adalah seorang kecoa. Lemah dan tidak punya apa-apa.


Tap ... tap ... tap ...


Aku terdiam. Kudengar suara langkah kaki yang kian mendekat. Tapi aku terlalu lelah untuk mengangkat kepala. Air hujan yang membasahi rambut hitamku terasa sangat berat.


Aku masih tak bergeming, dan langkah kaki itu semakin mendekat. Aku berpikir, apakah itu kakakku?


Akhirnya dia menemukanku? Apakah dia akan membunuhku sekarang?


Sepasang sepatu berdiri di depanku. Mataku melebar. Ukuran kaki itu terlalu kecil untuk kakakku.


"Perempuan?" Aku mendongakkan kepalaku. Tetesan air hujan menghalangi pandanganku.

__ADS_1


Tiba-tiba perempuan itu menunduk dan mendekatkan wajahnya tepat di atas wajahku. Kini aku melihatnya dengan jelas.


Rambut panjang hijau keemasan yang bersinar terkena rembulan. Kulit seputih salju dan bulu mata yang lebat. Matanya berwarna merah seperti darah. Dia memakai jas berwarna hitam lengkap dengan sarung tangan dan sepatu boots.


Perempuan itu tersenyum padaku. Dan mengusap pelan pipi kananku.


..."Kau ingin balas dendam?"...


Satu kalimat itu memancing semua amarah dalam diriku. Aku mengeratkan tanganku dan menatap tajam perempuan itu.


"Ya! Aku mau!" Seperti hewan buas yang putus asa. Aku menarik jas perempuan itu dengan kasar. Tapi perempuan itu tetap berdiri kokoh.


"Ikutlah denganku." Perempuan itu memegang tanganku lembut, lalu membantuku berdiri. Tangan yang sedingin es, terlihat indah seperti boneka porselen, tapi juga menakutkan seperti pedang dalam sarungnya.


"Kemana?" tanyaku sambil menatap perempuan yang tingginya hampir sama denganku itu. Perempuan itu berhenti tersenyum lalu membalikkan badannya.


"Ke sekolah. Sekolah untuk para pembunuh," jawabnya santai. Jantungku berpacu layaknya kuda yang berlari di padang rumput.


"Kau orang yang berbakat, ikutlah denganku dan balaskan dendammu," ucapnya sambil menoleh padaku. Mata semerah darah yang terlihat keruh. Membangkingkan nafsu membunuh dalam diriku.


"Sepertinya kau sudah memutuskan. Ikuti aku." Perempuan itu berjalan di depanku. Aku mengikutinya dengan tenang dari belakang. Hingga kita berhenti di sebuah terminal.


"Ini akan menjadi malam yang panjang, karena itu kita obati dulu." Perempuan itu masuk ke dalam toko yang terlihat sepi dan keluar dengan membawa perban dan alkohol.


"Ulurkan tanganmu," ucapnya dengan datar. Aku mengulurkan tanganku dan dia mulai mengguyur jari-jariku dengan alkohol. Aku tidak tau kenapa, tapi aku tidak merasakan sakit sama sekali. Bahkan aku tidak mampu bersuara, seolah pita suaraku membeku.


"Nah, sekarang masuklah ke dalam mobil hitam di ujung sana. Aku akan mengembalikan ini dulu," ucap perempuan itu. Aku mengangguk dan masuk ke dalam mobil. Tak lama kemudian perempuan itu kembali dan duduk di bangku kemudi.


"Aku ... belum tau namamu...," ucapku lirih. Rasanya tenggorokanku sakit karena terlalu banyak berteriak.


"Panggil saja aku Venom," ucapnya lalu menyalakan mobil. Matanya melihatku dari spion tengah mobil.


"Tidurlah, karena ini akan menjadi perjalanan yang panjang. Aku akan membangunkanmu jika kita sudah sampai." Venom mulai menjalankan mobilnya. Aku masih belum tertidur, menatap barisan pepohonan di pinggir jalan.


Aku tidak tau kemana Venom akan membawaku, tapi itu lebih baik daripada mati ditangan kakakku. Setelah itu, aku tidak mengingat apapun, aku tertidur lelap.


TBC.


[Halo guys! Cuma mau bilang, mungkin bagi sebagian orang juga ada yang tidak suka cerita ini, jadi kalian bebas untuk pergi atau memilih untuk lanjut membaca. Untuk yang pergi, terimakasih sudah mau mampir!<3, dan untuk yang memilih lanjut ...

__ADS_1


Welcome to Underworld School! Hati-hati ya! Perjalanan kalian dimulai dari sini!]


__ADS_2