Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Tim Ruo!


__ADS_3

"... Tinggalkan saja?"


POV: Author


Ruo dan Cedrik terdiam dan saling mengamati, mata mereka tertuju pada bocah berambut kuning, yaitu Sky yang terkapar tidak berdaya di tanah pasir yang panas ini.


"Sepertinya dia rekan Seas, bagaimana kalau kita bawa saja?" tanya Cedrik dengan tatapan datar. Ruo berpikir sejenak, lalu kembali menatap ke arah Cedrik.


"Kau saja yang bawa dia, tanganku penuh," ucap Ruo dengan senyuman sambil menunjukkan Seas yang sedang dia gendong. Cedrik menghela nafas kesal, bukannya menggendong Sky, dia malah menyeret kaki Sky.


"HEI! NANTI HIDUNGNYA KEMASUKAN PASIR! ANAK BODOH! APA KAU TIDAK TAU HIDUNG ITU ADA LUBANGNYA?!" geram Ruo saat melihat Cedrik menyeret Sky. Cedrik yang terkena teguran Ruo, jadi makin kesal tapi dia tetap menuruti Ruo. Dia menggendong Sky di pundaknya lalu mulai berjalan keluar.


"HEI! KALIAN MAU KEMANA?! APA KALIAN PIKIR BISA LOLOS DARI TEMPAT INI?!


KALIAN SUDAH MENGACAUKAN PERTANDINGAN YANG KUBUAT SEPENUH HATI! DAN KALIAN ... KALIAN! DENGAN GAMPANGNYA MENGHANCURKAN ARENA INI?!


APA KALIAN MEREMEHKAN DUNIA GELAP?!" tanya pengacara itu dengan pakaian yang acak-acakan. Melihat pria paruh baya di depannya yang marah, Ruo dan Cedrik masih terdiam dengan tatapan datar.


"Paman~ kalau kau bicara sepatah kata lagi, aku yakin gigimu akan rontok setelah ini~ bukankah paman tau bahwa besi lebih kuat dari tulang?" tanya Ruo sambil menunjukkan knuckle yang masih dia pakai.


"Kami tidak meremehkan dunia gelap.


Bukankah paman yang terlalu meremehkan Underworld School?


Sekarang ganti aku yang bertanya.


Apakah paman pikir, Underworld School lebih lemah dari dunia gelap?" tanya Cedrik dengan tatapan mata yang tajam. Pembawa acara itu terdiam, mulutnya seperti tercekat tidak bisa mengeluarkan suara.


Ini adalah salah satu kemampuan normal pembunuh, hasrat pembunuhan. Mungkin orang di dunia gelap sudah terbiasa mempermainkan manusia, tapi Underworld School adalah sekolah yang mempermainkan nyawa.


Jika kebanyakan dari mereka berpikir bahwa Underworld School hanyalah bagian dari dunia gelap, maka mereka harus menebak bagaimana jika perang pecah kali ini.


Pembawa acara itu menggeram kesal, dia mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga mengeluarkan darah. Matanya melotot hingga terlihat urat-uratnya, rahangnya yang mengeras membuat pria itu tampak semakin mengerikan.


"Tidak, kalianlah yang meremehkan dunia gelap ini. Jangan harap bisa keluar dari sini hidup-hidup."


Ctik!


Pembawa acara itu menjentikkan jarinya. Seketika lapangan gladiator itu berguncang.


DRKKK! DUAR!


Pasir-pasir mulai berterbangan karena ledakan yang muncul dari dalam tanah. Di tengah guncangan ini, Ruo dan Cedrik masih berdiri kokoh, sambil sesekali mereka saling berbicara.


"Kau tau ini ada apa?" tanya Ruo penasaran.


"Entahlah, mungkin ini semacam wahana permainan?" jawab Cedrik dengan wajah yang polos.

__ADS_1


DUAR!


Lapangan gladiator itu meledak, Ruo dan Cedrik terpelanting ke atas, dari udara, Ruo bisa melihat bahwa lapangan itu kini berlubang di tengahnya.


Dan di tengah lubang itu.


"Loh?! Bukankah itu Remi?!" tanya Ruo kaget saat melihat Remi yang melompat naik bersama dengan Valeria.


"TAPI KENAPA MEREKA DI-IKUTI KADAL?!" tanya Cedrik jijik saat melihat kadal raksasa yang keluar dari lubang lapangan gladiator itu. Remi yang sedang berada di udara, langsung mengeluarkan satu botol cairan berwarna hijau cerah.


"Kalian merepotkan!" ucap Remi dengan nada yang sedikit marah.


PRANG!


Remi langsung melemparkan ramuan itu ke arah kadal di depannya. Detik selanjutnya, ramuan itu mulai bereaksi.


ZRASTTTTTT!


Sebuah batang pohon yang kokoh tumbuh meliuk-liuk, menutup lubang lapangan galdiator yang begitu besar.


Tap!


Remi langsung mendarat lagi dia atas batang pohon raksasa itu, begitu juga dengan Ruo serta Cedrik dan orang yang mereka gendong.


"Ini ... life absorption tipe tumbuhan kayu?" tanya Cedrik saat menatap bangkai kadal raksasa yang mengering. Remi mengangguk perlahan, sambil membantu Valeria agar tidak terjatuh.


Dan ramuan yang barusan Remi gunakan adalah life absorption tipe tumbuhan. Saat ramuan itu mengenai kadal raksasa tadi, ramuannya akan langsung bereaksi dengan sel di kulit kadal, ramuan itu memaksa sel kulit kadal berubah menjadi biji tumbuhan dan langsung tumbuh dengan darah kadal sebagai sumber nutrisi.


Karena itulah, proses penumbuhan tumbuhan ini baru akan terhenti saat target yang terkena ramuan sudah mati kering.


DRKKK DRKKK!


"TUNGGU! KADALNYA TIDAK HANYA SATU?!" tanya Ruo panik. Remi dan Valeria mengangguk.


"Kami juga kaget karena tiba-tiba ada pasir jatuh di atas kepala. Ternyata kita ada di bawah sebuah lapangan aneh," ucap Valeria dengan nada kesal. Tapi pandangan mata Valeria langsung tertuju pada remaja laki-laki berambut kuning yang tertidur pulang di pundak Cedrik.


"Itu ... Sky?" tanya Valeria bingung. Cedrik langsung melirik ke arah laki-laki yang dia gendong.


"Oh? Dia rekanmu?" tanya Cedrik. Valeria mengangguk dengan cepat.


"Bagaimana kalian bisa terpisah?" tanya Cedrik lagi. Valeria menggelengkan kepalanya hingga rambutnya ikut berkibar melebar.


"Tapi kenapa dia pingsan?" tanya Valeria penasaran. Cedrik tidak menjawab dan hanya diam menatap Valeria, untung saja Valeria adalah anak yang cepat tanggap, dia langsung sadar dengan Sky yang tidak memakai jubah laboratoriumnya, ataupun juga lebam yang ada di sekujur lengannya.


"Jadi begitu-."


DRKKKK!

__ADS_1


"AKU TAU KALIAN INGIN NGOBROL TAPI LIHAT KONDISI DONG! INI KADALNYA MAU NAIK!" ucap Ruo kesal lalu mencoba pergi dari tempat itu secepat mungkin. Cedrik dan Remi juga langsung berlari pergi, sedangkan Valeria masih tetap di atas pohon yang hampir rusak itu. Mata coklat Valeria menatap gerombolan kadal raksasa itu dengan tenang, tangannya langsung mengambil sniper yang dia simpan di punggungnya.


"Belmere, wujud 1. Bazoka."


BZZTTT!


Senjata Valeria berubah menjadi bazoka dengan ukuran yang luar biasa. Valeria langsung membidik ke arah batang pohon yang rapuh.


Whus!


Valeria melompat ke belakang.


Klik.


"Aku suka pertempuran, tapi ini tidak menyenangkan saat rekanku terluka."


DOR!


WHUNG!


DUARRRR!


Satu peluru itu, langsung meledak dan membakar seluruh batang pohon yang menghalangi. Kadal raksasa yang awalnya bergerombol ingin keluar, langsung kembali ke dalam tanah karena hawa panas dari api ditambah terik matahari.


Klik.


Kini mata Valeria tertuju pada pembaca acara yang terlihat ketakutan di atas panggung gantung.


"Hihi." Valeria tersenyum miring.


"Kaboom~."


DORR!


Valeria tanpa ragu menembakkan satu lagi peluru bazoka, tapi dia menembakkannya ke arah pembawa acara itu.


"TUNGGU-TUNGGU! KALIAN TIDAK ADIL-."


"Adil? Bagian mananya dari dunia gelap yang adil?" tanya Ruo dengan ekspresi kejam.


DUAARRR!


Bersamaan dengan ledakan yang datang, Valeria berhasil mendarat dengan selamat di samping Remi serta Cedrik.


TBC.


Jangan lupa like dan komennya ya guys! Biar aku makin semangat nulisnya:3

__ADS_1


__ADS_2