Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Konflik! (2)


__ADS_3

"Aku tidak pernah bilang, aku tidak bisa bertarung jarak dekat."


POV: Author


"Ukh!" Cassio merintih pelan sambil memegang erat lututnya yang miring. Dia menatap Valeria dengan posisi merangkak. Dari atas Valeria tersenyum licik.


Valeria mengangkat kaki kanannya, bersiap untuk menginjak wajah Cassio.


"[Teknik tempurung kura-kura: nomor 1, pukulan hitam.]"


WHUS!


Berkat reflek Valeria yang kuat, dia langsung memundurkan tubuhnya dan sedikit miring ke kanan untuk menghindari pukulan Aran. "Apa?! Bagaimana kau bisa melihat tinjuku?!".


Valeria melangkah maju dengan cepat hingga punggung jari kanannya menyentuh dagu Aran. "Teknik asal-asalan: penghancur dagu."


BUAGH!


"Upper cut." Valeria meninju dagu Aran hingga pemilik tubuh itu terlempar ke atas.


"Kau mau tau kenapa aku bisa melihat gerakanmu?" tanya Valeria sambil berjalan mendekati Aran setelah dia jatuh ke tanah. Aran langsung berdiri lagi dan bersiap untuk memukul.


"[Teknik tempurung kura-kura: nomor 2, tinju bayangan.]"


Syut!


Aran melancarkan tinju yang tidak terlihat, seolah-olah tinjunya menghilang. Tapi bukannya panik, Valeria justru terlihat tenang.


BUAGH.


Valeria menangkap tinju Aran dengan tangan kirinya sebelum mengenai wajah. "Alasannya sederhana kok."


Syung.


Valeria menarik tangan kanan Aran yang tadi dia gunakan untuk memukul, dan membuat Aran terpelanting di udara.


"Teknikmu itu cacat. Yang kau lakukan itu mirip dengan milik Seas. Tapi versi lemahnya."


BUAGH!


Sesudah membuat Aran terpelanting, Valeria kembali menarik tangan Aran dan membuatnya terbanting di tanah. Pemilik tubuh itu menggeliat kesakitan di area punggung.


Srek.


Tak berhenti sampai situ. Valeria menarik tangan Aran lagi dan dia lemparkan ke depan tubuhnya. Saat Aran masih ada di udara, Valeria langsung menendang perut Aran dengan kaki kanannya.


BUAGH!


"Agh!"


Bruk!


Aran terjatuh lagi ke tanah sambil memegangi perutnya. Dia mencoba bangun dengan tubuh yang gemetar menahan sakit, bahkan dia tidak bisa menahan air liurnya agar tidak menetes.


SRAK.


Valeria mencengkram kerah baju Aran dan mengangkat tinggi. Aran yang lebih pendek dari Valeria itu dengan mudah terangkat seperti boneka jerami.


Valeria mengepalkan tangan kirinya, bersiap untuk meninju wajah Aran. Tapi gerakan Valeria terhenti saat melihat senyuman mengerikan dari Aran.


"Apakah masih lama? Cassio?"


"Sudah selesai kok."


"[Teknik mata putih: nomor 1, kebutaan.]"


Tatapan mata Valeria yang awalnya sangat tajam, kini berubah menjadi datar.

__ADS_1


Penglihatanku ... hilang?!,-batin Valeria.


BUAGH!


Valeria tersungkur ke tanah karena tertinju di pipi. Valeria tidak tahu siapa orang yang meninjunya. "Trik yang lucu hah? Pantas saja kalian bisa mencapai peringkat pertama di ranking tim," ejek Valeria tanpa menatap mereka berdua.


"Kau banyak omong ya untuk orang yang akan mati?" ucap Aran lalu menendang wajah Valeria.


BUAGH!


Valeria masih diam dan berpikir, apa yang menyebabkan penglihatannya hilang. Dia sudah sama seperti orang buta sekarang.


Apa? Bagaimana? Padahal aku tidak terkena racun apapun. Lalu bagaimana bisa?,-batin Valeria yang masih berpikir.


BUAGH!


Lagi-lagi Aran meninju wajah Valeria lagi. Pertarungan yang awalnya didominasi oleh Valeria, kini sudah berbalik dengan mudah. Valeria seperti bidak catur yang bisa mati kapan saja sekarang.


Sementara itu di sisi lain.


CRAANGGG!


TRANG TRANG TRANG! KRAAANGGG!


Sky dan Van masih beradu jarum dan pisau. Sebagai pengguna seni petir, gerakan Van sangat cepat hingga Sky kesulitan untuk mengantisipasinya. Tapi berkat persiapan Sky yang matang, dia bisa bertahan dari luka fatal.


"Hahahaha! Hanya ini kemampuanmu? Mana sifat sombongmu tadi?" ejek Van sambil menerjang maju dan mengarahkan pisau ke leher Sky. Dengan reflek yang cepat, Sky melemparkan satu jarumnya ke dahi Van.


Hal ini akan memaksa Van untuk menggerakkan tangannya sehingga rencana serangannya batal.


Tang!


Seperti dugaan Sky, Van pasti akan menangkis jarum yang dia lemparkan. Tapi Sky sudah menyiapkan jebakan lain bersamaan dengan jarum itu.


Sebuah benang baja.


"Wah, pak dokter memang sangat pintar ya~," ucap Van sambil terus maju ke depan.


"[Teknik petir: nomor 1, langkah petir.]"


Bzzztt!


Tubuh Van mulai mengeluarkan berapa kilatan petir.


Syush.


Dalam sekejap mata, Van sudah menghilang dari pandangan Sky.


Tapi cahayamu yang terlalu terang, justru membuatmu mudah ditemukan!,-batin Sky.


Sky mengeluarkan jarum lainnya dan hendak menusuk area belakang tubuhnya tanpa melihat.


TRANG!


"Hahahaha! Sangat menyenangkan melawanmu!" ucap Van yang bisa menangkis serangan dadakan Sky. Setelah serangan yang begitu cepat dan intens itu, Van melangkah mundur beberapa langkah.


Sky membalikkan badannya lalu menatap Van.


Pertarungan kecepatan tubuh dan kecepatan otak.


Sebentar lagi, aku harus mengulur waktu sebentar lagi,-batin Sky.


"Nah, haruskah aku serius sekarang~?" Van membuang pisaunya lalu mulai melakukan peregangan jari tangan. Sky memperhatikan hal yang dia lakukan dengan serius.


"Tujuanku adalah mengambil rank pertama, karena itu ... kau dan seluruh rekanmu harus mati hari ini," ucap Van sambil menjilat bibir bawahnya. Van merapikan rambut kuning panjangnya dengan menyelipkannya di telinga.


"[Teknik petir: nomor 1, langkah petir.]"

__ADS_1


Bzzzttt!


Dia datang!,-batin Sky.


WUSH!


CLING.


Bersamaan dengan Van yang menghilang dari hadapan Sky, anak laki-laki itu menutup matanya dan mulai memprediksi gerakan.


"[Teknik petir: nomor 2, telapak lebah.]"


BZZZTTT!


Kanan,-batin Sky.


JREB!!


Sky membuka matanya perlahan, lalu menatap ke arah Van yang telapak tangannya masih tertusuk jarum Sky. Mata kuning Sky menatap tajam mata merah Van.


"Wah~ bagaimana kau bisa tau?" Van tidak menarik tangannya yang masih tertusuk jarum Sky.


"Kunang-kunang memang kecil, tapi cahaya mereka membuatnya jadi mudah ditemukan. Tak peduli secepat apapun dirimu, pada akhirnya kau selalu kelihatan," ucap Sky dengan senyuman.


"Tapi, apa kau yakin akan baik-baik saja jika terus tertusuk? Kau tau aku dokter yang baik bukan?" Sky mengeluarkan satu jarum lagi dari sakunya dan hendak menusuk Van. Tapi Van justru tersenyum lebar.


"Apa kau tau besi itu penghantar listrik yang baik?" tanya Van sambil menangkap jarum Sky di telapak tangannya.


JREB!


Kedua telapak tangan Van sekarang ditusuk jarum Sky hingga tembus. Tapi sang pemilik tubuh justru tersenyum.


"Aku tidak peduli di sini ada racun atau tidak. Aku bisa mengontrol penyebaran racun di dalam tubuhku sendiri," ucap Van sambil menggenggam erat jarum Sky.


"[Teknik petir: nomor 0, kesadaran petir.]"


BZZZTTTT!


Tubuh Van mulai mengeluarkan listrik dalam jumlah yang besar. Karena tubuhnya dan Sky terhubung oleh jarum. Listrik itu dengan mudah ikut menyambar Sky.


"AAAAARGGHHHH!" Sky menjerit kesakitan saat merasakan seluruh tubuhnya terbakar. Setelah beberapa menit tersambar petir Van, Sky melepaskan pegangannya pada jarum.


Bruk.


Pada akhirnya, Sky ambruk dengan tubuh yang setengah terbakar. Van mencabut kedua jarum yang menancap di tangannya dan membuangnya ke samping Sky.


"Hahahaha, apa kau sudah mati?" tanya Van sambil menginjak punggung tangan Sky. Sang pemilik tangan itu tidak berteriak ataupun memberontak, kesadaran Sky sudah sepenuhnya hilang.


BRUK!


"Di sini juga sudah selesai Van! Haruskah langsung kita bunuh?" Aran melemparkan Valeria yang wajahnya sudah dipenuhi darah dan lebam.


"Kerja bagus kalian berdua!" ucap Van senang. Setelah itu dia menarik kerah Valeria dan menyeretnya agar berbaring di sebelah Sky.


"Hm, aku ingin segera membunuh mereka, tapi ... akan lebih baik jika ada yang menonton bukan?" ucap Van dan hendak menengok ke arah Seas yang masih lemas.


Tapi Seas sudah tidak ada di sana.


Van dan seluruh rekannya terdiam. Mereka melihat ke kiri dan kanan, mencari dimana keberadaan Seas.


"Sepertinya nyawa kalian ada banyak? Berani sekali kalian mengusik temanku."


Cring.


Seas muncul dari punggung Aran dan langsung mengarahkan daggernya ke leher pria pendek itu.


"Jawab aku, bangs*t!"

__ADS_1


TBC.


__ADS_2