
"Nah, kelincinya tinggal 2~".
POV: Sky
Dengan tergesa-gesa, aku menyelesaikan penelitian bomku yang belum sempurna ini. Karena aku terus berada di dalam kamar, aku jadi tidak tahu apa yang terjadi di luar sana. Mulai dari petir yang menyambar, hingga suhu udara yang menjadi lebih dingin. Bahkan aku bisa menghirup sedikit racun pelemas dari udara.
"Ayolah ... tunjukkan reaksi sedikit saja!" ucapku sambil menyandarkan kepalaku ke meja, sembari melihat botol kimianya yang kutetesi zat lain agar berubah warna.
Psssh.
"Akhirnya!" teriakku sambil melompat kegirangan. Dengan cepat aku langsung mengambil botol kimia tadi, dan memasukkannya dalam kapsul kaca berukuran mini, mungkin besarnya sekitar satu ruas jari tangan. Jika botol kimia tadi berukuran cukup besar, maka harusnya ini cukup untuk dimasukkan ke dalam 15 kapsul kaca.
Crack! Kletek!
Aku melemparkan jas putih laboratoriumku dan menggantinya dengan jas berwarna hitam. Ya, ini adalah jas khusus yang kugunakan untuk bertarung.
Brak!
Aku membuka jendela kamarku, lalu melompat keluar.
DEG.
Jadi ini asal kabut beracunnya? Lelehan es ya?
Aku terdiam sejenak saat melihat begitu banyak gumpalan es tajam dan besar yang berwarna ungu. Kabut ungunya juga ternyata memang benar keluar dari lelehan es tersebut. Tapi diantara banyaknya es, aku melihat satu es yang berbeda.
Es itu begitu jernih dan biru seperti kristal, dan di dalamnya ada Valeria.
VALERIA?! DIA DIBEKUKAN?! ASTAGA! APA INI? AKU SEDANG TIDAK MEMBAWA RAMUAN API! APA YA?! ADUHH!
Glek.
Aku menelan ludahku dengan gugup, sementara tanganku meraba ke arah dadaku lewat kerah baju.
Terpaksa, aku harus menggunakan senjata baruku yang kedua. Ugh ... aku tidak cukup mahir ... maafkan aku Val, kalau sampai jarimu hilang satu ... nanti aku ganti pakai jari karet saja ya?
Kling.
Aku mengeluarkan sebuah gantungan berbentuk liontin yang menggantung di leherku, dengan sedikit tenaga, aku memutuskan kalungnya.
"Ayo kita mulai. Hades."
***
POV: Author
BLARRR!
"APA LAGI ITU?!" Nick berteriak melongo, melihat Sky yang terbakar dalam api berwarna merah menyala. Dengan jas hitam panjang yang berkibar, serta mata kuningnya yang tampak sayu.
Sebuah sabit yang panjang dengan pegangan hitam, muncul di tangan kanan Sky. Semua api yang tadinya berkobar, perlahan meresap masuk ke dalam sabit itu.
__ADS_1
Dalam bentuk senjata, biasanya itu disebut dengan schyte.
Sky menarik nafasnya perlahan, lalu menghembuskannya. Matanya menatap lurus ke arah Valeria yang dibekukan. Sky mulai memasang kuda-kuda, dia menarik kaki kirinya ke belakang, dan membentang schytenya secara horizontal.
...[Teknik sabit Hades: nomor 1, Lorong Neraka.]...
WUSH! BLARR!
Sky memutar schytenya seperti kincir angin. Kobaran api mulai menguar, seirama dengan gerakan Sky, api itu menerjang lurus ke arah Valeria seperti ular tanpa kepala dan badai yang tertidur.
WHUSHHH! PSSHHHH!
Asap ungu itu mulai menjadi lebih banyak karena dicairkan secara paksa. Terlihat jelas bahwa Chris dan Nick terlihat panik akan situasi ini. Ditambah lagi ... dengan Valeria yang lepas dari belenggu es.
KRAK!
"AKHIRNYA! BRRR! AAAA PANAS! INI API SIAPA?!" teriak Valeria begitu keluar dari dalam es, tapi langsung disuguhkan oleh teknik Sky. Valeria berusaha membebaskan kakinya dengan cepat, lalu segera merangkak untuk pergi ke tempat aman.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Sky begitu melihat Valeria merangkak ke arahnya. Valeria tersenyum dan mengangguk dengan cepat. Matanya menatap ke arah senjata bazokanya yang terjatuh jauh darinya.
"Sky! Sudahi teknikmu! Cepat lari sebelum Seas melihatmu!" ucap Valeria sambil meninju lengan Sky pelan. Sky langsung berhenti memutar senjatanya, lalu menatap ke arah Valeria dengan bingung.
"Memangnya kenapa dengan Seas? WHOAA!" Belum selesai Sky bicara, Valeria langsung menyeretnya untuk meninggalkan medan pertempuran. Tangan kirinya memegang bazoka, dan tangan kanannya memegang kerah Sky. Valeria membawa kedua untuk bersembunyi di balik sebuah pohon yang setengah hangus.
"Kau lihat saja sendiri," ucap Valeria lalu menunjuk ke arah kabut tebal berwarna ungu itu.
JLEB!
WUSHH!
Chris yang tertusuk dagger Seas, langsung berusaha meloloskan diri sambil keluar dari dalam kabut. Pada saat tertusuk, barulah Chris merasakan sesuatu yang aneh.
Tubuhnya terasa sangat berat, dan bahkan rasanya panas seperti terbakar. Bintik-bintik merah mulai muncul di lengan dan lehernya, lalu menjalar ke seluruh tubuh.
"Ada apa ini? Rasanya ada yang salah! Harusnya kita bisa mengalahkan mereka dengan mudah!" ucap Chris tak terima dengan kekalahannya melawan Seas seorang diri.
Tap ... tap ... tap.
"HAHAHAHAHA!" Dari balik kabut ungu itu, muncul bayangan Seas dengan satu dagger yang tersisa di tangannya, karena dagger satunya telah menancap di perut Chris.
"Kelinci ... paling enak dibakar bukan?" gumam Seas yang perlahan-lahan memunculkan wujudnya. Saat Seas keluar dari kabut, barulah Sky menatap wujud Seas yang terkena kutukan darah Veldaveol.
"I-i-itu Seas?" tanya Sky tergagap sambil menutup mulutnya. Valeria mengangguk dengan pelan, lalu menekan sebuah tombol di bagian belakang bazokanya.
CREK CREK CREK!
Bazoka itu mulai berubah menjadi bentuk lainnya. Dia berubah menjadi sebuah senapan sniper yang panjang.
"Bersiaplah." Valeria mulai membidik.
"Bersiap untuk apa?!" tanya Sky panik. Dia takut untuk melihat Seas.
__ADS_1
Mata hitam yang terus mengeluarkan darah, telinga, hidung, bahkan mulut yang tak henti-hentinya mengucurkan cairan merah. Rambutnya berwarna putih kini ternodai darah merah musuhnya, bahkan jari kuku Seas ikut berubah menjadi hitam.
"Setelah membunuh pria dengan senjata pelontar itu, Seas akan tumbang." Valeria mulai membidik ke arah kabut yang bahkan tidak bisa ditembus oleh mata.
ZRASH!
Pluk.
SRAKK!
Seas menatap kepala Chris yang menggelinding dengan senyuman iblis. Setelah itu dengan brutalnya dia menarik dagger di perut Chris, hingga ada beberapa usus yang masih tersangkut.
..."[Teknik pedang bulan: nomor 1, bulan sabit yang terang.]"...
CRINGG!
WUSH!
Kabut itu terbelah rapi menjadi dua. Dar tengah kabut ungu yang terbelah, muncul sebuah goresan dengan cahaya kuning keemasan. Itu adalah teknik milik Nick.
Sedari tadi, Nick menunggu kesempatan ini untuk bisa membunuh Seas dengan pasti.
"Sekarang. Sky!" teriak Valeria sambil membidik ke arah teknik Nick.
...[Teknik mata-mata: peluru bayangan.]...
...[Teknik sabit Hades: nomor 1, Lorong Neraka.]...
WUSH!
BLARRR!
Peluru Valeria menerjang lurus, melewati tubuh Seas yang terdiam kaku menatap teknik Nick. Sementara kobaran api Sky, berputar bagaikan tornado yang melesat ke arah Nick.
PRANG!
Teknik Nick pecah seperti kaca karena peluru Valeria.
TRINGGGG!
Tapi Nick juga berhasil membelah kobaran api Sky dengan pedang di tangannya.
Melihat Nick yang masih berdiri kokoh, tubuh Seas langsung merespon dan hendak menerjang ke arah Nick.
BUAGH!
"Cukup, Seas."
TBC.
Jangan lupa like dan komennya ya guys!
__ADS_1