Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Pulang?


__ADS_3

..."Kita akan pulang. Ke Underworld School."...


POV: Seas


Akhirnya, hari ini aku bisa pulang. Ini adalah hari yang aku tunggu-tunggu! Aku bisa pulang dan tidur di kasurku! Walaupun setiap aku bangun selalu ada pisau yang menancap, walaupun aku tidur dengan AC beracun, kasurku surgaku. Dan, aku bisa bertemu dengan Venom lagi!


"Seas! Jangan melamun! Kau akan tertinggal loh!" Dev tiba-tiba ada di sampingku. Aku segera tersadar setelah mendengar suara Dev.


"Ack! Kau benar! Aku pergi dulu! Sampai jumpa, Dev!" ucapku lalu berlari pergi sambil melambaikan tangan. Sekarang aku sedang mengejar ketertinggalanku karena sibuk melamun. Untungnya, aku tidak perlu pulang dengan mobil lagi. Di negara Evagiria ini, mereka punya portal yang mengantarkan tamu ke mana saja!


Aku terus berlari melewati kerumunan yang padat ini. Hari ini adalah penobatan Ron sebagai Kaisar baru. Bersamaan dengan penobatannya, kami akan pulang hari ini. Sungguh skenario terbaik untuk para pembunuh.


"Hadiah dari Ron, sangat unik ya," gumamku sambil mengingat-ngingat senjata yang aku terima dari Ron. Dia bilang bahwa senjata itu hanya bisa digunakan olehku, dan selamanya hanya akan jadi milikku. Jika aku mati, senjata itu akan ikut hilang bersama dengan nyawaku.


Unik sekali, seperti bawahan yang setia dengan tuannya.


"Kau lama sekali!" teriak Valeria dari kejauhan. Aku melihat ke sekelilingku. Di sini sangat sepi, pasti karena semua rakyat pergi ke halaman istana. Di depanku, portal itu terbuka lebar. Bentuknya seperti lingkaran yang sangat besar tanpa pintu. Dan dalamnnya seperti pusaran air yang tercampur dengan listrik.


"Maaf! Tadi aku memikirkan sesuatu!" ucapku sambil tersenyum saat sudah sampai di depan mereka.


"Tidak ada yang tertinggal? Kita akan masuk sekarang," ucap X sambil menatap kami bergantian, dimulai dari Sky, Valeria, lalu giliranku.


"Tidak ada, X," sahut kami bertiga bersamaan. Setelah itu kami mulai berjalan masuk ke dalam portal. Sedikit demi sedikit, aku merasakan kakiku yang terangkat dari tanah seiring aku berjalan maju. Pusaran itu juga terlihat seperti menyerapku masuk ke dalam, mengikuti arus waktu mereka.


"SEMUANYA! BERI HORMAT!"


SRAK!


Aku terkejut saat mendengar teriakan itu. Suaranya sangat mirip dengan Dev. Dengan perlahan, aku mulai memutar tubuhku ke belakang, begitu juga dengan Valeria maupun Sky.

__ADS_1


Dan apa yang kami lihat, sungguh di luar dugaan kami.


Dev, bersama dengan para pembunuh lainnya, memberi hormat pada kami. Mereka menundukkan wajah serta menaruh tangan kanan mereka di dada. Dan di tengah barisan itu, Ron berdiri tegap sambil tersenyum. Dia ikut memakai jubah yang sama dengan anggota para pembunuh.


"Tunggu?! Bagaimana dengan penobatannya?!" teriak X saat sadar bahwa itu adalah Ron. Sementara orang yang disebut hanya tertawa sambil tersenyum cerah.


"Ada orang yang menyamar menggantikan diriku. Mana mungkin aku bisa diam saja saat kalian sudah menyelamatkan nyawaku?" ucap Ron dengan wajah sendu. Perlahan-lahan wajah Ron mulai memudar, sepertinya aku sudah memasuki perpindahan dimensi ruang.


"Ini adalah perpisahan kita! Aku harap kita bisa bertemu lagi di masa depan! Seas! X juga!


KALIAN ADALAH, PAHLAWAN BAYANGAN EVAGIRIA!" teriak Ron.


WUSH!


BRUAK!


"ADUH! KENAPA KITA JATUH DI ATAS ATAP?!" teriak Valeria yang jatuh lebih dulu.


"Jangan tanya aku, mungkin memang koordinatnya di sini," ucapku sambil membenarkan posisi ranselku. Aku melihat Sky dan X yang jatuh dengan wajar, mereka bisa mendarat dengan aman.


"Tadi, sebelum kita berpindah tempat ... Ron bilang apa ya?" ucapku sambil mencoba mengingat-ingat.


Sepertinya dia bilang sesuatu yang penting. Tadi ada kata ... pahlawan mungkin? Dan bayangan? Apa dia tau tentang seni milikku? Ah lupakan, ngomong-ngomong, kita dimana? Aku yakin kita sudah berada di daerah Underworld School. Tapi ini di sebelah mana?


"X, ini di mana?" tanyaku sambil melihat jalanan yang gelap dan licin. Sepertinya hujan baru saja turun di sini.


"Hm, dari lokasi yang kita punya ... sekarang kita berada di bagian Barat paling ujung. Aku akan menelpon agar mereka menjemput kita dengan kendaraan." X lalu menelpon seseorang, sedangkan aku dan Sky langsung melompat turun.


"Sebelah Barat? Hmm, kau pergi saja duluan! Aku akan mencari tempat pewarnaan rambut!" ucapku lalu menggandeng tangan Sky dan berjalan pergi. X dan Valeria kelihatannya tidak terlalu mempermasalahkan aku pergi duluan atau tidak. Yang pasti, aku tidak suka bahwa warna hitam di rambutku semakin banyak.

__ADS_1


"Kau ingin mewarnai rambutmu lagi?" tanya Sky sambil memperhatikan sekeliling. Underworld School memang seluas kota. Hanya saja penduduk di sini terlalu sedikit. Mungkin tidak sampai 2000 orang? Masih ada begitu banyak rumah dan lahan yang kosong.


Yah, kalau lahan kosong sih mungkin wajar. Tidak ada sinar matahari yang bisa menembus awan gelap di sini. Tentu saja tumbuhan akan sulit hidup di tempat ini.


"Oh? Bukankah itu tempat potong rambut?" ucap Sky sambil menahan tanganku agar aku tidak melangkah lebih jauh. Aku kemudian menoleh ke arah yang dilihat oleh Sky.


"Kau benar! Ayo ke sana!" ucapku lalu pergi ke sana dengan semangat.


***


"Nah, aku lebih suka model dan warna ini!" ucapku senang setelah memotong dan mewarnai rambutku.


"Hahaha! Dasar kau ini, sudahlah! Ayo kita kembali ke tempat X dan Valeria!" ucap Sky lalu berjalan lebih dulu. Aku mulai mengekori dirinya sambil memperhatikan tempat yang cukup ramai.


"Kenapa di sekitar sini agak ramai ya?" tanyaku dengan nada pelan pada Sky.


"Oh? Di sini adalah tempat terdekat dengan papan pengumuman. Jadi kita bisa melihat misi apa yang mau kita minta nanti," ucap Sky berusaha menjelaskan padaku. Aku hanya mengangguk saja sambil terus memperhatikan kerumunan itu. Karena selama ini aku sudah tinggal di pusatnya. Aku jadi tidak pernah memikirkan bagaimana tentang keadaan yang lainnya.


"Ngomong-ngomong Seas, mereka ... apa kau baik-baik saja?" tanya Sky dengan nada pelan dan khawatir, lirikan matanya yang ragu-ragu dan penuh kecemasan itu tertangkap jelas oleh mataku.


"Hah? Apa maksudmu?" tanyaku dengan nada bingung. Sky mencekal tanganku agar aku berhenti berjalan, kemudian dia mendekatkan wajahnya padaku lalu berbisik.


"Mereka terus-menerus membicarakanmu, rubah putih, iblis mata ungu, dan setan yang tersenyum," bisik Sky padaku. Aku sedikit terkejut setelah mendengarnya, karena selama ini kukira rumor yang beredar hanyalah seperti aku adalah simpanan si tua Rex, atau mungkin om-om lainnya.


"Yah itu lebih baik, aku tidak harus ambil pusing tentang hal ini kan?" ucapku cuek lalu lanjut berjalan pergi. Tapi tiba-tiba ada orang dengan masker aneh bergambar pelangi serta anting yang berat sebelah, dia menghadang jalanku.


Apa-apaan ekspresi itu? Menjijikkan sekali.


..."Jadi, apa kau yang bernama Seas? Atau harus kusebut ... Si Rubah Putih?"...

__ADS_1


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!


__ADS_2