
"Ngomong-ngomong soal pengurangan umur ... apakah itu benar?"
POV: Seas
Aku bertanya pada X dengan nada yang ragu-ragu, sorot mata X masih sama tajamnya seperti biasa, dia masih diam juga dan tidak berbicara. Aku ganti menatap ke arah Sky yang masih tampak marah, sedangkan Valeria yang masih bengong mungkin karena serangan kejutan yang terakhir tadi.
"Sekarang, kalian pergilah ke pusat Underworld School lebih dulu. Aku akan menjelaskannya padamu jika sudah sampai di sana," ucap X sambil menepuk pucuk kepalaku pelan tapi cukup bertenaga hingga membuat kepalaku sedikit menunduk. Saat tenaganya mulai mengecil, aku hendak mendongak untuk menatap wajahnya, tapi dia malah sudah membalikkan badan lalu melompat pergi ke arah lain.
"Tck dia malah melarikan diri!" umpatku kesal seraya melihat punggung X yang perlahan menjauh lalu menghilang ditelan kegelapan.
Zresshhh.
Lumius berubah kembali menjadi asal darah dan berubah menjadi gelang di kedua tanganku, dan Belmere sepertinya juga sudah kembali menjadi anting, sedangkan Hades sudah kembali jadi kalung. Aku sedikit menundukkan badanku dan mengulurkan tangan pada Valeria yang masih terduduk. "Ayo berdiri," ucapku padanya.
Valeria menatapku sejenak lalu tiba-tiba melompat ke atas.
"ARGHHHHH KENAPA AKU LENGAH TADI?! @(*!28?#(#(#+ AWAS SAJA PRIA ITU! LAIN KALI AKU AKAN MENCOLOK MATANYA DENGAN BOR!" Valeria begitu energik kembali dan mulai marah-marah. Syukurlah, sepertinya dia tidak terlalu shock lagi. Aku ganti menoleh ke arah Sky yang juga sudah lebih baik ekspresinya.
"Benar, tidak ada yang bisa kita lakukan dalam menghadapi peringkat ke 3. Aku bahkan tidak yakin apakah kita bisa mencapai top 10 suatu hari nanti?" gumam Sky sambil terkekeh pelan, aku ikut tertawa dan mulai merangkul pundak Sky.
"Apa kau berniat untuk terus menjadi pembunuh Sky?" tanyaku pada Sky. Dia malah termenung sejenak dan menatapku kaget, baru dia berbicara, "Apa kau tidak berniat untuk terus jadi pembunuh?" tanya Sky padaku.
Aku terdiam, tujuanku sejak awal bergabung di Underworld School adalah untuk menjadi pembunuh yang lebih kuat dari kakakku, dan membunuhnya dengan tanganku sendiri.
Aku ...
Tidak pernah sekalipun terpikirkan, harus melakukan apa setelah aku berhasil membunuh kakakku. Tentu saja jika aku gagal maka aku akan mati, tapi jika aku berhasil ... lalu aku harus apa?
Benar juga ...
AKU HARUS APA YA?! AKU TIDAK PERNAH MEMIKIRKANNYA? MEMANGNYA AKU MASIH BISA MEWARISI KEKAYAAN VELDAVEOL?! SECARA HUKUM, KAKAK YANG MASIH HIDUP YANG BISA MEWARISINYA!
Sial ... apakah aku harus jadi gelandangan nanti? Bagaimana ya?
__ADS_1
Tap.
"AAAAAA?!" Aku berteriak kaget karena tiba-tiba Valeria mencengkeram daguku. Mata coklatnya menatapku dengan tajam dan menyelidik. "Pasti kau bingung harus jadi apa setelah tujuanmu tercapai bukan?".
Deg!
"Wah kau hebat ... apa kau ini sesungguhnya cenayang?" tanyaku dengan nada bercanda. Valeria ikut tertawa dan melepaskan cengkramannya.
"Mungkin saja aku cenayang bukan? Karena tembakanki tidak pernah meleset?" Valeria ikut bercanda, aku dan Sky hanya membalas candaan Valeria dengan gurauan sederhana, tapi Valeria tiba-tiba kembali bicara lagi.
"Seas, pilihan apapun yang kau pilih nanti, kami akan selalu mendukungmu. Jangan berpikir bahwa tidak ada orang lagi yang akan berdiri di sisimu, ada aku dan Sky yang akan terus mendorong pundakmu tanpa lelah agar kau bisa terus maju!" Valeria berkata sambil tersenyum lebar. Sky ikut mengangguk, aku bisa merasakan ketulusan mereka sebagai seorang temanku.
"Nah, sudahlah! Ayo kita ke pusat Underworld School!" ajakku pada Sky serta Valeria sambil merangkul pundak mereka.
***
Dalam 15 menit kami sudah sampai di pusat Underworld School karena kami memang berlari. Pusat Underworld School adalah gedung tinggi yang dulu pertama kali kudatangi untuk mendaftar sekolah di sini, dan di tempat ini juga aku pertama kali bertemu Rex.
"Pssst! Ternyata di sini sudah ada banyak orang yang datang," bisik Sky sambil menarik kerah baju belakangku pelan. Aku segera melirik sekelilingku, dan melihat ada cukup banyak pembunuh tingkat atas yang sedang berkerumun di sini.
Deg!
Aku kaget karena mereka tiba-tiba menyebut nama kakakku ketika melihatku.
Tunggu! Kalau dipikir-pikir, aku belum mengecat warna rambutku lagi! Sialan!
Whus!
Saat aku sedang melamun, sebuah kunai melayang dengan cepat ke arahku. Valeria dengan sigap mengeluarkan pistolnya dan menangkis kunai itu dengan leher pistol.
"Hei dia bukan Arma bodoh! Dia itu adiknya!" ucap seorang agen tingkat atas yang mencegah rekannya untuk menyerangku lagi. Beberapa agen tingkat atas yang tadinya kelihatan marah, langsung membeku dan hanya menatapku kaget.
"... Ah ... jadi dia korban insiden itu ya? Kenapa dia ada di Underworld School?" Agen yang tadi menyerangku kini bertanya pada agen di sampingnya. Aku bingung, apakah Arma juga punya konflik di Underworld School? Kenapa kelihatannya banyak sekali agen yang membencinya?
__ADS_1
"Seas."
Suara ini ... Rex?
Aku menoleh ke samping kiri, dan mendapati bahwa Rex tengah melihatku sambil bersandar di dinding. Mataku bertatapan dengan mata coklat merah miliknya, sorot matanya terlihat begitu serius dan menyeramkan.
"Ada apa Rex?" tanyaku untuk memecah keheningan. Rex segera berdiri, lalu berjalan ke arahku.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Rex sambil memegang kedua pundaku. Aku menganggukkan kepala sebagai jawaban, dan Rex kemudian menghembuskan nafas lega.
"Ayo naik lift, ada yang harus kita bicarakan di kantorku. Begitu juga Valeria dengan Sky, kalian berdua ikutlah juga," ucap Rex lalu dia berjalan lebih dulu. Aku dan Sky saling bertatapan, lalu ganti menatap ke arah Valeria.
"Kira-kira apa yang akan dia bicarakan?" tanyaku bingung. Sky mengangkat bahunya tanda tidak tahu, sedangkan Valeria menggelengkan kepalanya sambil mengisi peluru.
"Lebih baik kita cepat, Rex sudah menunggu," ucap Sky sambil melirik ke arah Rex yang sudah berdiri di depan pintu lift. Aku, Sky serta Valeria langsung berjalan cepat ke arah Rex dan naik lift itu.
WHUS!
Seperti biasa, kecepatan lift ini sangat tidak manusiawi. Dalam beberapa detik, kami sudah sampai di lantai tertinggi gedung ini, lantai 79.
Ting!
Kami sampai, dan langsung di depan pintu yang familiar ini, pintu tempat Rex bekerja. Pintu ini mulai terbuka, menunjukkan ruangan super gelap yang membuat isi ruangan ini tidak bisa terlihat.
Ctik!
Rex menjentikkan jarinya, dalam hitungan detik, tempat lilin yang berisi 5 buah lilin itu menyala dan menerangi ruangan ini. Rex berjalan dan duduk di kursinya, sedangkan kami duduk di sofa yang ada di hadapan Rex.
"... Aku harus menceritakannya dari mana ya ... ini cukup rumit," gumam Rex pelan yang masih bisa terdengar karena ruangan yang sepi.
"Dari mana saja boleh, kami akan mendengarkan," jawabku tenang. Rex menundukkan wajahnya lalu mengangkatnya kembali.
"Ini tentang asal usul tim kalian."
__ADS_1
TBC.
Jangan lupa likenya ya guys!