
..."Wah wah~ kalian sangat brutal ya?"...
POV: Author
Valeria berjalan dengan tenang melewati kobaran api di sekitarnya, ke enam orang di depan mematung, tatapan mereka tidak lepas dari Valeria. Saat mereka menatap ke mata coklat gadis itu, sebuah kalimat terbesit di otak masing-masing.
...(Benarkah dia masih murid kelas 1?)...
"Ayo mulai, Belmere."
BZZZT! JDAR!
Bagaikan petir yang terpanggil, anting kanan Valeria yang berbentuk bintang itu mulai mengeluarkan listrik menyambar-nyambar. Cahaya yang dikeluarkan sangat terang hingga menganggu pemandangan, tapi terlalu indah untuk dilewatkan.
Perlahan, anting kanannya mulai lepas dan menjadi guntur yang sangat dahsyat.
DUAR!
Bersamaan dengan jatuhnya guntur, sebuah bazoka berwana hitam serta perak menancap di atas tanah.
Valeria mengambil bazoka yang terselimuti listrik itu dengan tangan kosong, bagaikan mengangkat bantal, bazoka yang memiliki panjang 2 meter itu diangkat begitu mudah oleh Valeria.
"Kaboom!"
DUAR!
Valeria mulai menembakkan sebuah peluru dari senjatanya, Belmere.
"Tunggu! UHUK! Apa-apaan senjatanya?! Aku tidak melihatnya mengisi peluru!" ucap pria yang membawa bazoka. Valeria melirik ke arah pria itu, dan langsung mengarahkan bazokanya.
"Kalau diadu, siapa yang hancur duluan ya?" tanya Valeria sambil menjilat ujung atas bibirnya.
Cklek.
"Siap?~ DOR!" Valeria langsung menembakan peluru misil yang berwarna biru gelap. Bersamaan dengan itu, pria dengan bazoka tadi juga menembakkan misil hitam dari bazokanya.
DUARRR!
Ledakan besar tak terelakkan, angin berhembus kuat hingga menumbangkan pohon yang kokoh, bahkan gedung tinggi di samping mereka sampai berlubang terkena tekanan angin.
"UHUK UHUK! Apa berhasil?" tanya pria yang membawa pistol.
WHUNG!
Belum sampai sedetik dia berbicara, sebuah misil biru melayang cepat ke depan wajahnya.
DUAR! CRAT!
"... KYAAA!" Seorang perempuan yang membawa tas itu berteriak histeris, melihat jasad temannya yang tanpa wajah.
"HAHAHAHAHA! AYO! BUKANKAH KALIAN YANG MULAI DULUAN?!" Valeria berteriak dengan sangat keras.
***
Sementara di sisi lain, Sky sedang sibuk merapikan beberapa alat laboratorium.
__ADS_1
"Oh ... benar juga, aku selalu penasaran darimana asal peluru senjata Valeria ... coba aku ingat-ingat ... sepertinya dia pernah bercerita," ucap Sky sambil memandang ke arah gelas yang pecah.
"Oh ... aku ingat. Senjata yang Valeria miliki, adalah senjata penghisap daya hidup. Setiap peluru yang dipakai, itu terbentuk dari daya hidup Valeria.
Pffft, mungkin bagi kebanyakan orang, ini adalah hal yang membahayakan ... bahkan lebih berbahaya dari kehabisan darah," tambah Sky sambil tertawa kecil.
Tapi ... ini adalah Valeria loh. Seorang gadis dengan daya hidup tanpa batas. Dia bahkan selamat setelah jantungnya berlubang di sisi kanan. Karena itu, bagi Valeria ... senjata pemakan daya hidup adalah yang paling sempurna.
Itu membuatnya jadi senjata dengan peluru tak terbatas,-batin Sky.
***
DUAR!
PLUK!
Sebuah lengan melayang tanpa tubuh di udara. Potongan lengan itu langsung jatuh dan membentur aspal di sisi jalan.
"Nah ... sisa tiga~," ucap Valeria sambil menginjak potongan lengan itu.
Dari yang awalnya enam orang, kini hanya tersisa tiga orang. Gadis yang membawa tas, pria dengan pistol, serta pria yang membawa gergaji ... mereka jadi korban misil bazoka milik Valeria.
"Jane ... Jane!" teriak sang gadis pembawa granat, matanya terus mengeluarkan air mata saat menatap potongan lengan yang Valeria injak.
"Hm? Oh~ kau mau ini? Nih!" Valeria mengambil potongan lengan itu dan melemparkannya ke arah sang gadis.
"... Kau ... KAU SANGAT KEJAM! AKU ... AKU TIDAK AKAN MEMAAFKANMU!" teriak sang gadis dengan granat di tangannya. Gadis itu tanpa ragu melemparkan 5 buah granat langsung ke Valeria.
"Ayayaya~ kejam? Di dunia yang hanya ada pembunuh ini ... kata-kata itu tidak cocok untuk dipakai."
DUAR!
Ledakan beruntun mengenai tempat Valeria tadi berada. Tanah di sekitarnya sampai hangus berwarna hitam pekat, aspal yang Valeria pihak sudah berubah seperti serpihan roti.
Cklik.
"Belmere, wujud ke 3. Shotgun.
Ditambah ... Teknik mata-mata istimewa: manipulasi kenyataan."
Deg!
DEG DEG DEG!
Gadis pembawa granat itu diam mematung saat merasakan pelipisnya menyentuh besi panas.
"... E ... eh?"
DOR! CRATT!
Darah dari gadis itu membasahi aspal di bawahnya hingga 2 meter ke depan. Di depan jasadnya, Valeria masih berdiri tenang sambil menatap rusaknya taman.
Dia melihat ke kiri dan kanan, lalu menyadari bahwa kedua pria lainnya telah kabur.
"Tck, mereka sangat penakut. Mereka bahkan meninggalkan gadis seperti ini sendirian," gumam Valeria sambil melirik ke arah jasad di depannya. Sesaat kemudian, Valeria beralih menatap langit dengan awan yang gelap.
__ADS_1
***
"HAH HAH HAH!" Seorang pria dengan bazoka terengah-engah di dalam gang kecil. Keringatnya mengucur deras hingga membasahi seluruh wajahnya.
Begitu juga dengan pria yang membawa knuckle, mereka sama-sama kelelahan karena berlari cukup lama.
"Kita ... hah hah ... sudah aman ... hah ... kan?" tanya si pria dengan knuckle.
"Kurasa ... sudah ... hah hah," jawab pria dengan bazoka. Mereka saling memandang lalu melakukan tos dengan tinju yang pelan.
"Kita selamat, tapi kita pasti gagal di ujian kali ini ... lebih baik kita mendaftar lagi saja tahun depan," ucap si pria dengan bazoka yang telah mengatur nafasnya. Pria di sebelahnya hanya mengangguk, dan mulai berjalan keluar dari gang.
"Ayo, kita kemasi barang-barang kita," ajak si pria dengan knuckle.
"Ya! Ayo-."
CRAT!
Si pria yang membawa bazoka mematung, melihat temannya terkapar dengan kepala yang berlumur darah tiba-tiba. Lututnya terasa berat untuk melangkah maju, keringat dingin membasahi wajahnya sekali lagi.
CRAT!
Bruk.
Pria dengan bazoka itu juga langsung terjatuh, tanpa sempat berlari menjauh.
"Belmere, wujud ke 2. Sniper."
Dari atas gedung, dengan jarak lebih dari 4 kilometer, Valeria tengkurap sambil membidik ke arah kedua pria itu. Sebuah senapan dengan lengan yang sangat panjang, serta punya warna yang indah dan elegan. Itulah senjata Valeria, Belmere di wujud ke 2.
"Hahaha, kalian pikir bisa kabur? Lucu sekali~," ucap Valeria sambil menaruh snipernya di atas lantai gedung.
BZZZT.
Sniper itu mulai mengeluarkan listrik dan kembali menjadi anting.
"Hmm~ kira-kira ... Seas dan Sky sudah selesai belum ya?" gumam Valeria sambil memasang anting itu di telinga kanannya. Dia lalu segera berjalan pergi, masuk ke dalam gedung lewat tangga yang gelap.
"Seas ya ... awas saja sampai suratnya direbut, akan kucopot semua giginya nanti."
***
Sementara itu di sisi kota Underworld School. Terlihat sebuah gudang usang yang sangat besar dan tidak terawat. Di dalamnya, ada sekitar 9 orang yang berkumpul melingkar.
"Kau ... yakin anak rambut putih itu ke sini?" tanya pria yang membawa katana.
"Aku yakin! Tadi aku melihatnya masuk lewat jendela!" jawab seorang gadis yang membawa kapak.
"Ekhem~ ujian telah dimulai!"
DEG!
Suara Seas menggema di seluruh gudang ini, hawa mencekam yang awalnya tidak terasa, seketika membuat orang ingin muntah.
..."Jadi ... siapa diantara kalian yang suka main sepak bola?"...
__ADS_1
TBC.
Jangan lupa likenya ya guys!