Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Sampai di negara Hyacinth!


__ADS_3

POV: Seas


GRUDUK! GRADAK! JGLEG!


"... INI JALAN APA SIH?! KENAPA KITA LEWAT SINI?!" teriak Valeria emosi. Bagaimana tidak? Aku melihat kepalanya yang berkali-kali terbentur jendela mobil. Sedangkan di tengah, aku melihat Sky yang sudah memasukkan mulutnya ke kantung plastik.


Ya, dia mau muntah.


Bahkan untukku sekalipun. Aku bukanlah anak yang mudah mabuk kendaraan, tapi ... ini jalannya saja yang terlalu parah.


"Kalian 'kan sudah bosan kalau kita lewat rute yang biasa! Jadi kita akan lewat rute ekstrim! Dengan melewati jalan ini selama 6 jam kedepan, maka kita akan sampai di negara Hyacinth!" jawab X bahagia. Aku langsung memegang perut dan kepalaku. Ini siksaan namanya.


Jalan yang kami lewati berada di bawah laut. Jalan ini memangkas waktu perjalanan yang harusnya memerlukan waktu puluhan hari, hanya menjadi hitungan jam. Bahkan awalnya aku tidak percaya, secara logika hal ini tidak mungkin bisa dilakukan. Kecepatan mobil ini juga tidak bertambah cepat, tapi kenapa kita bisa sampai lebih awal?


Kalau kata X tadi, jalan ini bergerak ke arah negara Hyacinth. Seperti elevator, tanah terowongan ini bergerak dengan kecepatan tinggi. Tapi jalan ini hanya bisa digunakan untuk pergi ke negara Hyacinth, karena jika pergi ke arah yang sebaliknya, maka kita tidak akan pernah sampai.


.


.


.


6 jam setelah itu.


"Sampai! Mobilnya kita buang saja di sini! Toh sudah rusak!" X keluar dari mobil dengan senyuman yang lebar. C terlihat biasa saja. Sedangkan Sky dan Valeria sudah lemah letih dan lesu. Lalu aku? Aku masih menahan rasa ingin muntah.


"... Sudah ... sampai?" tanya Valeria dengan suara yang lirih. Tiba-tiba aku merasakan perasaan yang tak tertahan lagi. Aku segera berlari ke belakang mobil, lalu muntah.


"HOOEEEKK! UHUK! UHUK!" Kasihan ayam bakar yang tadi, belum tercerna sempurna. Tapi untung saja aku bisa menahan rasa muntahku sampai sini. Jika aku terus muntah di jalan seperti Sky, mungkin aku sudah sama lemasnya dengan dia.


"Kau baik-baik saja? Perlu air hangat?" Suara C dari belakang mengejutkanku. Aku menatapnya sambil membersihan air liur di tepi mulut. "Tidak, aku baik-baik saja. Bagaimana dengan Sky?" tanyaku ganti.


X melirik ke arah Sky dan Valeria yang kini diseret oleh X.


"..." Entah mereka dibawa kemana.


"Sudahlah, ikuti saja. Aku jamin kau pasti suka." C berjalan lebih dulu, aku mulai mengikutinya dari belakang. Apanya yang akan kusuka?


"Memangnya kita akan kemana? Akan melakukan apa?" tanyaku dari belakang punggung C. Kami berdua berjalan masuk ke hutan lebat. Gelap, dan dingin seperti biasa.


"Hm, kau pasti sudah tau kalau ini adalah kota obat, kan? Tapi ... apa kau tau arti lain dari kota obat?" C melirik ke arahku dengan senyuman miringnya. Aku menggelengkan kepala.

__ADS_1


Tiba-tiba saja bau harum masakan tercium. Baru yang sangat lezat dan menggugah selera. Samar-samar aku mulai melihat cahaya terang dari ujung hutan. Cahaya ... apa itu?


Aku berlari mendahului C, ingin segera melihat asal cahaya itu.


Deg deg.


"... Luar biasa."


Aku terdiam, terpukau pada pemandangan di depanku. Di bawah tebing yang kini kuinjak, aku melihat kota yang bercahaya sangat terang. Bau masakan lezat yang terbawa angin, seolah mengundangku untuk turun ke sana.


"Indah bukan? Baunya juga sangat enak."


Aku menoleh ke arah C. Dia muncul dari balik bayangan pohon dengan senyuman yang tulus. "Nama lain kota ini, adalah kota kenikmatan. Surga dunia bisa kau rasakan di lidahmu, bagaimana? Apa kau sudah tertarik sekarang?".


"SUNGGUH?! WAAHHH! AKU MAU TURUN DULU!" Tanpa basa-basi lagi, aku langsung melompat turun dari atas tebing.


"WOY! SEAS BODOH! MEMANG KAU BAWA UANG?!" teriak C dari atas tebing. Aku langsung ingat. "LOH IYA! AKU TIDAK BAWAAAAAA!" Tapi aku sudah terlanjur melompat. Mau tidak mau aku jadi turun ke dasar tebing.


Siaaalll!


.


.


.


"Itu sekalian punya mereka berdua." X berbisik padaku sambil melirik ke arah Sky dan Valeria. Aku hanya berekspresi datar. Pantas saja kok banyak.


"Aku menyerahkan uang mereka padamu, karena kau yang paling rasional di sini. Jika aku memberinya pada Sky, rasanya uangnya akan habis untuk membeli obat kimia, sedangkan jika kuberi pada Valeria ... sepertinya dia akan pergi ke pasar gelap," ucap X letih. Aku mengangguk paham sambil menepuk pundaknya beberapa kali.


"Berarti, uang ini benar-benar hanya untuk makanan saja? Bagaimana dengan senjata dan yang lainnya?" tanyaku ganti. X tersenyum lalu mengacak-acak rambutku. "Benar, jangan gunakan uang ini untuk keperluan pembunuhan. Urusan itu, biar aku dan C yang mengurusnya," jawab X mantap. Aku memberikan jempol kiriku ke depan wajahnya.


"Baiklah! X! C! Kami pergi dulu!" Aku mulai berlari kecil, menghampiri Sky dan Valeria yang tampak tengah berunding.


"Jangan terlibat masalah!" ucap X dari kejauhan. Tapi aku tak menghiraukannya. Aku tetap berlari ke arah kedua temanku itu.


"Aku ingin coba biskuit peluru yang ada di sana!" Suara Valeria yang terlihat kukuh.


"Tidak enak itu! Aku dulu pernah mencobanya! Gigiku hampir patah! Lebih enak kue kulit bunglon!" bantah Sky sambil menunjuk ke arah toko warna-warni. Aku segera menyempil masuk ke antara mereka.


"Ssstttt! Kita beli bolu awan dulu!" ucapku serius. Sebenarnya aku memang mengincar bolu itu. Makanan berbentuk kotak warna putih yang melayang itu terlihat begitu imut.

__ADS_1


BUGH! BUGH!


"AWWW!" Kepalaku langsung berdenyut rasanya. Aku melihat ke arah Sky dan Valeria bergantian, bisa-bisanya mereka memukulku?!


"Enak saja mau ikut campur!" Valeria menarik kerah bajuku, matanya terlihat begitu berapi-api.


"Aku adalah mantan penduduk sini! Aku yang lebih tau makanan mana yang enak!" Sky ikut menarik telingaku. Aku sedikit merintih kesakitan. Sial! Mereka tidak mau mengalah!


"Aku yang bawa uang! Mau apa kalian?!" ucapku final. Valeria dan Sky langsung terdiam. Saat itu aku langsung melepaskan diri dari cengkraman mereka. Dengan kesal aku mengeluarkan lembaran uang dar sakuku.


"Kalau kalian tidak mau menurutiku, yasudah, kalian tidak akan kuberi jatah." Aku mengibaskan uang itu ke wajahku, menikmati bau yang segar yang tercium. Aku melirik ke arav Valeria lalu ke arah Sky.


Mereka berdua terlihat tidak terima.


"ARRRGHHHH! Padahal aku mau beli biskuit peluru!" Valeria berucap kesal.


"... Sial, kenapa aku tidak pernah kebagian membawa uang?!" gumam Sky lalu berdecak kesal. Aku tersenyum penuh kemenangan.


Setelah itu kami berdua akhirnya membeli bolu awan terlebih dahulu. Persegi panjang dengan balutan warna putih, dan bolunya mengambang sehingga harus diberi tali agar tidak terbang.


"... Woah ... ini keren sekali," ucapku seraya menatap bolu di depanku.


"... Kau kekanak-kanakan," ucap Sky dari belakang, tapi aku tidak memedulikannya. Aku mencoba memakan bolu itu.


"... WOAH!" Luar biasa! Rasanya begitu manis dan dingin! Teksturnya lembut dan seperti meleleh di mulut! Jika dibandingkan dengan gula kapas, tekstur bolu awan ini lebih kasar, namun saat dikunyah dia akan menghilang!


"Hmmm rasanya tidak buruk, aku bukan penggemar makanan manis sih," ucap Valeria lalu memakan bolunya lagi. Sedangkan Sky memakan bolu itu tanpa komentar. Tak butuh waktu lama bolu kami akhirnya habis.


"Nah sekarang! Ayo kita beli biskuit peluru!" seruku.


"YAAA! AYOOO!" Valeria langsung berteriak semangat. Sedangkan di belakang, telingaku bisa mendengar helaan nafas Sky. Aku melirik ke arah Sky. "Setelah Valeria, nanti kita beli yang kau inginkan," ucapku lirih padanya. Untungnya Sky terlihat paham omonganku, dia jadi tersenyum lagi.


"Baiklah! Ayo kita beli biskuit yuhuuu!" Valeria berlari mendahului kami berdua. Aku menyejajarkan diri dengan Sky. "Kasihan bocah itu jika tidak didahulukan," ucapku sambil tertawa.


"Iya juga sih," balas Sky sambil tersenyum. Saat kamu berdua merasa tenang-tenang saja, tiba-tiba sebuah perasaan tidak enak datang di hatiku.


Aku berhenti sejenak, melihat ke arah ujung sepatuku.


Rasanya ... ada yang mengawasi.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2