Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Sampai di kekaisaran Evagiria!


__ADS_3

..."Orang-orang sialan itu. Sepertinya aku harus membunuh mereka semua."...


POV: X


Sepanjang jalan, aku terus berlari tanpa henti. Mataku menatap hampa pada hamparan langit dengan salju yang tak kunjung berhenti. Sambil memeluk Sky erat, aku berusaha menjaga suhu tubuhnya tetap hangat.


"Karena dia tidak sadar, dia tidak bisa memakan buah musim panas," gumamku pelan. Meskipun aku sudah berlari sekuat dan secepat yang kubisa. Tetap saja butuh sekitar 2 hingga 3 hari untuk sampai di rumah sakit.


"Aku juga tidak bisa menjamin apakah mereka tidak akan menyerang lagi selama perjalanan ini." Aku berhenti sejenak untuk mengambil perban yang kugunakan untuk membungkus senjata kesayanganku.


Tangan kananku memegang kepala Sky sementara aku menyandarkan tubuhnya ke batang pohon, sambil berhati-hati dalam menekan lukanya, aku membungkus tubuhnya dengan perban itu. Saat sudah terbungkus rapi, aku segera menggendong Sky lagi lalu berlari pergi.


Hingga mataku melihat sebuah gerbang yang berdiri kokoh di tengah hutan. Hanya gerbang itu saja. Tanpa rumah, tanpa halaman, tanpa penjaga. Seperti gerbang yang menyambungkan dengan dunia lain.


"X!"


Deg.


"Dev?" ucapku sambil melihat Dev yang keluar dari samping gerbang. Dia tersenyum saat melihatku, tapi segera memucat saat melihat Sky di gendonganku.


"Astaga?! Dia kenapa?!" tanya Dev khawatir sambil berlari ke arahku. Matanya menatap khawatir pada Sky yang terbungkus perban.


"Ini ... hampir separah keadaan Valeria," ucap Dev yang langsung membuatku jantungan.


DIA BILANG BAHWA KEADAAN VALERIA LEBIH PARAH DARI INI?!


"TUNGGU! LALU BAGAIMANA DENGAN SEAS?!" ucapku panik. Dev yang awalnya sibuk menatap Sky jadi langsung terperanjat kaget.


"Seas? Dia kehilangan cukup banyak darah ... dan sepertinya, dia mengaktifkan kutukan darah Veldaveol?" tanya Dev di akhir kalimat.


Deg.


Aku diam mematung.


Tunggu- apa? Kutukan darah Veldaveol? Aku tidak pernah mendengarnya. Apa itu? Seas punya hal semacam itu? Sebenarnya aku memimpin tim macam apa ini?


Ada anak dengan keahlian yang bahkan melebihi dokter, ada anak dengan stamina dan daya tahan yang melebihi kecoa, dan anak dengan kutukan?


"Sudahlah! Ayo kita bawa Sky ke rumah sakit!" Dev ganti menggendong Sky di lengannya. Aku hanya diam dan mengikuti Dev dari belakang. Kulihat Dev mulai menekan sebuah tombol di gerbang itu, seketika pintu gerbang itu meledak. Menciptakan Medan gravitasi dan angin yang kuat untuk mendorong seseorang masuk ke sana.

__ADS_1


"Ayo!" ucap Dev sambil melangkah maju. Aku segera mencekal pergelangan tangan Dev, mataku menatapnya dengan bingung.


"Apa-apaan ini?!" teriakku cukup keras karena angin yang berhembus.


"Ini adalah gerbang teleportasi yang dibuat oleh yang mulia Ron, karena hanya menggunakan bahan yang seadanya, jadi gerbang ini tidak sempurna. Ayo kita segera masuk! Aku akan menjelaskannya nanti padamu!" ucap Dev sambil sedikit berteriak. Setelah itu Dev langsung melompat masuk ke dalam gerbang, begitu juga denganku yang mengikuti Dev masuk ke sana.


PYAS!


Mataku terbuka dengan lebar, mungkin ini yang disebut dengan dimensi antar-ruang. Ini sangat indah, ada begitu banyak warna di sini. Bahkan rasanya ... tidak seperti berenang, ini seperti kita mengambang tanpa gravitasi. Tapi aliran dari lorong itu terus mendorong maju diriku dan Dev. Di ujung lorong dimensi ini, terlihat gerbang yang sama seperti yang aku masuki tadi.


"Kita sudah sampai!" ucap Dev sambil menoleh ke arahku. Aku dan Dev berhenti tepat di depan pintu itu, secara perlahan, Dev membuka pintu di depannya dengan kaki kanannya.


WUSH!


TAP!


Karena dorongan dari dalam lorong itu, untung saja aku dan Dev bisa mendarat dengan aman. Di depanku, sudah terpampang kota perbatasan dari negeri Evagiria. Dan tanpa aku sadari, Ron sudah ada di samping kami. Lengkap dengan pakaian khas pangeran miliknya.


"Selamat datang di negeraku! Aku akan mengantarkan kalian ke rumah sakit," ucap Ron sambil mengisyaratkan tangan kanannya pada pengawal di sampingnya. Pria dengan seragam pengawal itu langsung paham dan memanggil sebuah kendaraan.


"Baringkan Sky di dalam sana, para dokter dari kekaisaran yang akan merawatnya. Kalian ikut dulu denganmu," ucap Ron setelah melihat Sky dimasukkan ke dalam mobil tanpa roda itu. Entahlah, aku juga tidak paham cara kerjanya. Teknologi di negeri ini sudah diluar akal sehatku.


"X?"


Bruk.


***


Ini dimana?


Kenapa sangat gelap?


Oh ... aku belum membuka mataku.


Rasanya sangat empuk. Aku jadi enggan membuka mata.


Astaga! Bagaimana keadaan Seas dan yang lainnya?!


Aku langsung bangun dan terduduk di atas kasur. Mataku menatap ke sekeliling. Dinding yang berlapis emas, tirai yang bergantungan dengan permata, bahkan sprei dan selimut yang lebih lembut dari sutra.

__ADS_1


"Ack! Kepalaku!" ucapku saat merasakan perih yang tiba-tiba di pelipisku.


Loh? Diperban? Apa kepalaku terbentur saat aku pingsan tadi? Haah, lupakan. Aku harus mencari Seas dan yang lainnya!


Aku memaksakan diriku turun dari kasur, sambil berjalan sempoyongan, aku keluar dari kamar super mewah itu.


Cklak!


"Ada apa Tuan?"


Begitu aku membuka pintu, ada dua orang pengawal yang berjaga di depan sini. Berarti ini perbuatan Ron, untuk apa dia melakukan hal seperti ini?


"Apa kalian tau dimana teman-temanku?" tanyaku pada mereka. Kedua pengawal itu saling bertatapan, sampai akhirnya ada salah satu dari mereka yang berbicara.


"Mereka tidak ada di istana, Tuan. Mereka di rawat di rumah sakit di pusat kota. Karena mereka baru dipindahkan hari ini," ucapnya. Aku mengernyitkan keningku.


"Tunggu, apa maksudmu baru dipindahkan?" tanyaku penasaran.


"Mereka harus melewati masa kritis lebih dulu agar bisa dipindahkan. Kau tau? Mereka bertiga hampir mati di misi kali ini," ucap Ron yang tiba-tiba datang. Dia memakai jubah yang memanjang hingga ke lantai, jubah itu hanya terikat di pundaknya, menjadikannya terlihat semakin gagah. Apalagi gaya rambutnya yang sangat rapi, apa dia baru saja hadir di acara penting?


"Kami menghadap pada bintang kekaisaran," ucap kedua pelayan itu sambil membungkukkan badan. Ron hanya tersenyum sambil mengisyaratkan mereka untuk menjauh. Kedua pengawal itu patuh dan langsung pergi.


"Ayo masuk, kepalamu masih sakit, kan?" tanya Ron sambil memapahku masuk kembali ke kamar.


"Iya, kenapa kepalaku sakit ya?" gumamku pelan. Ron yang mendengar omonganku langsung memasang wajah terkejut.


"Apa kau tidak sadar? Justru aku yang heran bagaimana kau bisa bertahan dalam kondisi seperti saat itu!" ucap Ron lalu mendudukkanku di tepi kasur.


"Kondisi bagaimana?" tanyaku lagi.


"Ada peluru yang bersarang di pelipismu. Dan kau yang hanya fokus pada Sky, tidak merasakan rasa sakitnya dan terus berlari. Wajar saja kau langsung pingsan saat sampai di sini!" ucap Ron dengan setengah berteriak. Aku yang mendengar perkataan Ron, hanya diam dan dan melamun. Sepertinya aku memang merasa tertembak, tapi aku tidak terlalu peduli sih.


"Baiklah, cukup tentang kondisimu. Aku bersyukur kau baik-baik saja," ucap Ron.


..."Sekarang, kita bahas tentang kondisi Seas."...


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!:)

__ADS_1


__ADS_2