
POV: Seas
"Aku tidak mau makan buburnya, rasanya seperti asam babeklias."
"Bilang saja seperti kotoran ayam, aku juga tidak suka rasanya."
"... Kenapa rasanya tidak enak begini, ya?"
Kami bertiga terdiam menatap sup yang tidak jelas bentuknya ini. Jangankan rasanya, dari bau dan wujudnya saja sudah tidak enak. Katakan, bubur apa yang bentuknya seperti tanah lumpur. Ya bubur yang kami makan ini.
"... Apa Bloom membenci kita karena terlalu banyak masuk pusat perawatan?" gumam Sky sambil mengaduk buburnya tidak bernafsu. Aku melihat tubuh Sky yang kini dibalut sempurna oleh perban, kecuali bagian mata, hidung, mulut serta telinga.
Sedangkan untuk Valeria, dia hanya diperban bagian wajahnya saja. Kalian tau tadi aku hampir saja tertawa keras saat Bloom bilang wajah Valeria perlu diberi gips.
Dia tidak akan bisa membuka mulutnya untuk kurang lebih 3 bulan jika diberi itu. Namun Valeria menolak dengan keras, akhirnya dia diberi alternatif lain, yaitu perban.
Sedangkan aku? Aku cukup sulit untuk bergerak. Luka di bagian perutku ternyata lumayan dalam. Bahkan untuk duduk saja rasanya perutku seperti dihimpit oleh meja.
Tok tok tok!
BRAK!
"Yo~ aku datang! Kali ini aku datang bersama Spinx dan C!" Belum sempat kami menjawab 'silakan masuk', X sudah membanting pintu lebih dulu dengan wajah sumringahnya. Tapi aku tidak terlalu peduli, sekarang yang kupedulikan adalah bungkusan plastik yang dibawa oleh X.
"... Apa isinya?" tanya Valeria serius.
"Aku membawakan kalian burger! Aku tau pasti makanan buatan Bloom tidak enak, dia tidak pandai memasak tapi masih memaksa untuk masak," ucap X dilanjut helaan nafas singkat. Aku dan yang lainnya langsung senang. Akhirnya ada makanan yang bisa dimakan!
"Akhirnya ada makanan yang berbentuk makanan!" ucap Sky senang.
"Akhirnya ada makanan yang rasanya tidak seperti kotoran," ucap Valeria lega. X memberikan masing-masing burger itu satu biji kepada kami. Sebelum memakan burger, mataku melirik ke arah Agen Spinx dan C yang menaruh bungkusan lain di atas meja.
"Apa itu?" tanyaku ganti.
"Buah," jawab Spinx dan C bersamaan. Setelah itu mereka berjalan ke arah kami. Agen C duduk di tepi ranjangku, sedangkan Agen Spinx memilih untuk bersandar di dinding. Agen X mendatangi kasur Sky dan duduk di tepinya.
"Tch, kalian bocah-bocah beruntung. Bisa-bisanya kalian masih hidup," ucap Spinx tiba-tiba.
"Hei! Kami juga kesusahan untuk bertarung melawannya tau! Dia pengguna seni yang aneh!" ucap Valeria tidak terima. Aku mengangguk, jika saat bertarung melawan kami Cassio menggunakan seni itu lagi, maka kemungkinan kami menang akan semakin tipis, atau bahkan tidak ada.
Tapi pada akhirnya, dia tidak menggunakannya. Itu artinya, seni yang dia gunakan pada Valeria adalah seni istimewa yang membutuhkan syarat khusus dalam penggunaannya.
__ADS_1
"Tentu saja, dia adalah salah satu pengguna seni terlarang, seperti milik Seas. Hm, mungkin kalian memang belum pernah bertarung dengan pengguna seni terlarang sebelumnya, wajar saja kalian kaget," tambah Agen C yang ada di sampingku. Aku lebih terkejut lagi saat mengetahui fakta bahwa dia adalah pengguna seni terlarang.
Setahuku, seni terlarang adalah seni yang jika digunakan itu sangat membebani tubuh. Tapi apakah itu masuk akal menggunakan seni untuk mempengaruhi tubuh orang lain? Apakah itu mungkin? Bukankah ini sudah hampir sama dengan sihir? Atau ada rahasia khusus di baliknya?
"Seni terlarang? Seperti yang Seas gunakan? Tapi kenapa dia bisa sampai membuatku buta hanya dengan kalimat? Bukankah ini tidak masuk akal?" tanya Valeria dengan nada yang bingung. Sky yang memang tidak tau kejadiannya, hanya bisa menyimak dan melirik ke sekitar.
"Itu bukanlah sihir ataupun kekuatan aneh seperti yang kalian pikirkan. Memang ada trik khusus untuk melakukannya, dan tidak semua orang bisa. Dan juga ini hanya bisa digunakan di kondisi tertentu," ucap agen X yang ada di samping Sky. Setelah kulihat lagi, ternyata X daritadi membantu Sky makan. Tangan Sky yang dibalut perban tidak bisa memegang burger.
"Apa trik khususnya?" Aku bertanya kali ini. X kemudian melihatku, tatapan matanya tenang dan senyuman terukir di wajahnya.
"Kami tidak tau, Seas. Kami bukanlah pengguna seni terlarang. Jadi, kau harus menemukan jawabannya dengan kemampuanmu sendiri."
.
.
.
Sudah lebih dari 3 jam setelah para agen tingkat atas meninggalkan kami. Sky dan Valeria sedang tidur pulas, itu bagus untuk mereka. Aku masih belum bisa tertidur, dari tadi yang kulakukan hanyalah melihat plafon kayu dan langit hitam lewat jendela. Satu hal yang baru aku sadari, bahwa ternyata penggunaan listrik di Underworld School masih belum merata.
Hanya beberapa bangunan penting yang memakai listrik, dan yang lainnya masih menggunakan penerangan tradisional. Seperti ruangan ini, cahayanya ... bukan obor sih. Tapi semacam zat kimia yang dibuat oleh Bloom sehingga bisa menghasilkan cahaya tanpa listrik. Setiap 6 jam, zat kimia ini akan diperbarui.
Lupakan soal itu, ada yang lebih membuatku kepikiran. Baik itu C, X, maupun Spinx, mereka bertiga hanya datang menjenguk dan memang memberi sedikit informasi.
Rasanya dia bukan warga Underworld School. Aku belum pernah melihatnya dimanapun. Jika dia memang benar warga Underworld School, kenapa dia harus menyamar? Sosok samaran yang sangat berbeda dengan sosok aslinya. Hanya untuk mengincarku?
Sebenarnya apa yang mereka incar? Benarkah hanya karena aku adik Arma? Atau justru karena Arma itu kakakku? Atau malah karena hal lain?
Kalau benar dia itu penyusup, maka penyusupannya sempurna. Tidak ada satupun agen tingkat atas yang curiga, dia memalsukan semua data bahkan diantara para agen mata-mata.
Hal ini ... tidak bisa dilakukan seorang diri dari luar.
Ada pengkhianat di Underworld School? Tapi siapa?
Hari itu, entah untuk beberapa jam aku terjaga. Suara angin yang terdengar di keheningan, serta cahaya penerang yang kian meredup. Barulah setelah itu aku menutup mata, memutuskan untuk menghapus kegelisahan yang tak bisa dibuktikan ini.
.
.
.
__ADS_1
Diluar dugaan, kami sembuh lebih cepat. Mungkin ini karena tubuh kami sudah diberi oleh sel tumbuhan yang waktu itu diberikan oleh Ron. Harusnya kami pulih dalam waktu 3 atau 4 bulan, kami justru pulih hanya dalam waktu satu bulan. Bloom juga tampaknya lega karena tidak perlu merawat kami lebih lama lagi.
"Kalau kalian mau terluka, jangan parah-parah! Kalian tidak tau berapa merepotkannya merawat orang yang sekarat?!" ucap Bloom gemas ke arah kami. Kami bertiga hanya tertawa canggung, setelah itu kami menerima perintah untuk pergi menemui Rex. Tapi saat kami sampai di ruangan Rex ...
"Seas, Valeria, Sky. Kalian bertiga ditangkap. Masukkan mereka ke penjara."
Apa?
JGREEKK!
Kling.
Saking kagetnya. Kami bertiga hanya terdiam sampai di dalam penjara. Para penjaga sudah mengunci penjara ini. Kami semua berada di sel yang berbeda.
KLANG!
"TUNGGU! KENAPA KAMI DIPENJARAKAN?! APA SALAH KAMI? HEY!" Dari sel sebelahku, aku mendengar Valeria berteriak sambil mengguncang selnya.
"Itu benar! Kami tidak melakukan kejahatan apapun!" ucap Sky lalu dia terdiam.
"Kami hanya membunuh seseorang sih," tambah Sky lagi.
Tolong.
Aku jadi ikut bingung.
Bukankah di sini kami diajarkan cara menjadi pembunuh? Lalu kenapa kami ditangkap karena membunuh? Rasanya aku ingin jadi kipas angin saja.
"Apa maksud kalian? Kalian ditangkap karena sudah merusak satu distrik di Underworld School."
"APA?! KAPAN KAMI MERUSAKNYA?!" tanya Valeria tak terima oleh jawaban si penjaga penjara. Aku diam dan mengingat-ingat.
Saat aku bertarung dengan Van ... bukankah aku menghancurkan banyak rumah? Bahkan saat dengan Cassio juga, rasanya dia malah meledakkan bom yang radiusnya sangat besar ...
Mampus aku.
Aku dan Sky hanya terdiam. Sepertinya Sky paham kapan kita merusaknya. Kalau begitu, tidak ada gunanya menyangkal.
"Anu, kira-kira dipenjaranya berapa lama?" tanyaku pelan pada si penjaga. Dia melirik ke arahku, lalu berpikir sejenak.
"Terserah Rex."
__ADS_1
Loh anjing?
TBC.