Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Sky si Siput (4)


__ADS_3

POV: Author


Sky menatap makanan yang berisi pasir itu sambil termenung. Sorot matanya menatap dengan hampa. Ruangan itu begitu hening, hingga suara perut Sky yang kelaparan mulai berbunyi.


Kruukkk.


Sky menatap perutnya. "... Aku lapar," gumamnya. Sky kembali melihat ke arah jendela yang terbuka, menampakkan langit malam yang mendung hingga menutupi keindahan bulan maupun bintang. Hawa dingin mulai terasa, jelas bahwa malam ini akan hujan deras.


"... Aku sangat lapar, apa yang harus kulakukan?" ujarnya pada diri sendiri. Sempat terlintas di pikirannya bahwa dia akan meminta tolong Leonax, tapi dia segera menepis pemikiran itu karena Sky merasa sudah terlalu banyak merepotkannya. Sky termenung lagi, matanya menatap dengan dalam ke arah langit malam.


"... Tidak ada salahnya mencoba," ucap Sky lalu dia berdiri. Sky keluar dari kamarnya dan berlari pelan ke arah ruangan lain yang tak berpenghuni. Di dalam ruangan itu, Sky menarik kain gorden jendelanya hingga jatuh.


PRAANG!


Suara yang dihasilkan cukup keras, tapi karena ruangan Sky juga cukup jauh dari ruangan utama, para pelayan tidak akan repot-repot datang ke sini untuk memeriksa. Setelah menjatuhkan gorden yang cukup panjang itu, Sky melepaskan kain gordennya dari kayu yang mengikatnya, lalu dia membawa kain itu keluar dari ruangan ini.


Sky berjalan mengendap-endap, memeriksa apakah akan ada pelayan yang mengetahui tindakannya. Setelah dia merasa aman, Sky langsung berlari kencang keluar dari rumah, berlari ke arah danau yang tadi dia datangi. Walaupun danau itu sangat gelap saat malam karena tidak memiliki pencahayaan, tapi Sky masih bisa berjalan dengan baik.


Sesampainya di depan danau, Sky mengedarkan pandangannya, mencari benda selanjutnya.


Dimana ya? Seharusnya di sekitar sana.


Mata Sky berhenti saat melihat pohon yang kokoh dan tinggi. Sky mendekati pohon itu, lalu mulai mengusap batang pohonnya. "... Cukup licin, ini tidak bisa dipanjat," gumam Sky lalu dia mencari cara lain. Sky melihat batu dengan ukuran sedang, lalu dia memungutnya. Batu itu mempunyai ukuran setelapak tangan Sky, dan ujung yang agak runcing di bagian depan.


"... Sepertinya ini bisa digunakan." Sky menggenggam batu itu erat dan berjalan kembali ke arah pohon tadi. Di belakang pohon besar ini, menjulang dinding pagar yang cukup tinggi, namun tidak melebihi tinggi pohon.


Sky menarik nafas pelan, lalu dia hembuskan dengan cepat.


"Hyah!"


Sky mengangkat batu itu tinggi-tinggi, lalu dia memukulnya ke arah batang pohon.

__ADS_1


BUK!


BUK BUK!


Setelah beberapa kali pukulan, batang pohon itu cekung ke dalam. Sky mendekat dan menyentuh cekungan itu. "Bisa, aku bisa keluar dengan ini." Sky tersenyum tipis, dia melepaskan sepatunya, dan mulai memukul dengan lebih keras. Saat dia sudah memukul hingga beberapa cekungan, sekarang dia menghadapi masalah dimana dia harus membuat cekungan yang lebih tinggi dari tinggi badannya.


Sky melihat ke arah kain gorden yang dia bawa, Sky mulai menarik kain gorden itu dan mengikat batu tadi ke kain gordennya. Sky memutar-mutar kain gorden yang diberi pemberat batu itu, dan mulai memukul batang pohon yang lebih tinggi darinya.


BUK!


BUK!


BUK!


Beberapa menit kemudian, Sky sudah berhasil membuat cekungan sampai ranting pohon yang cukup tinggi. Nafas Sky terengah-engah, tapi dia tidak merasa ini terlalu menguras tenaga. Ternyata ada manfaatnya juga Leonax melatih Sky dengan ganas. Sky mengambil kedua sepatunya, dan menyembunyikannya di balik semak-semak. Sementara kain gorden yang tadi, dia ikatkan di salah satu tangannya, membiarkan ujung lainnya bergelantungan di tanah.


"... Semoga saja bisa," gumam Sky sambil melihat batang pohon yang setinggi kurang lebih 5 meter itu. Sky mulai mengatur nafasnya, matanya melihat lurus ke arah ranting yang dia tuju.


Sky mulai berlari, dia menaiki pohon itu dengan mengandalkan cekungan yang dia buat sebelumnya. Tidak perlu waktu lama, Sky akhirnya berhasil naik. Untuk pertama kalinya, dia merasakan jantungnya yang berdebar keras melihat pemandangan yang indah dari atas pohon.


"... Luar biasa," ucap Sky sambil melihat pemandangan kota malam ini. Gemerlap lampu yang selalu terang, serta udara malam yang dingin semerbak. Sky kembali ke kesadarannya, dia melepaskan kain gorden yang dia ikat di tangannya, lalu dia pindah untuk diikatkan ke batang pohon yang terlihat kokoh. Sky menarik ujung gorden satunya, dan melemparkannya sampai melewati pagar tembok.


Sky memantapkan hatinya terlebih dahulu sebelum melompat dan turun ke seberang tembok. Bermodalkan kain gorden dan penahan batang pohon, Sky berniat untuk keluar dari rumahnya malam ini dan mencari makanan di luar sana.


"... Satu ... dua ... tiga! AAAAA!" Sky melompat sambil terus memegang kain gordennya. Untungnya dia berhasil, kini Sky sudah berada di seberang tembok walaupun masih berada di bagian atas. Sky mengatur nafasnya terlebih dahulu, lalu perlahan-lahan dia mulai turun.


"Astaga ... kainnya kurang panjang!" geram Sky saat kain gordennya sudah tidak bisa digunakan lagi, padahal dia baru sampai setengah tembok.


Apakah aku harus kembali? Tapi sayang nanti, aku sudah berusaha sejauh ini.


...

__ADS_1


Aku lompat saja kali ya?


Sky masih diam dan bergelantungan di atas tembok. Sisa jarak dengan tanah sekitar 2 meter. Sky menutup matanya, dai dia melepaskan pegangannya pada kain gorden.


BRUK!


Sky terjatuh berlutut. Dia merasakan kedua kakinya yang nyeri dan lemas. "Aduh aduh ... ternyata 2 meter itu cukup tinggi," gumam Sky sambil berusaha berdiri dengan bersandar di tembok. Lokasi tempat Sky jatuh sekarang masih di area taman luar rumah Sky. Meskipun begitu, sudah tidak ada yang membatasinya dengan dunia luar. Sky segera berjalan pergi meninggalkan tempat itu sebelum ketahuan.


Walaupun Sky tidak tau tempat apa yang dia tuju, walaupun dia tidak mengerti apa yang harus dia lakukan di luar sini. Tetapi, Sky merasa bebas. Rantai pengekang yang membuat sesak nafas itu terasa menghilang, dia merasakan kebebasan yang luar biasa.


Dia akhirnya sampai di jalan raya, dimana cukup banyak mobil serta pejalan kaki yang berlalu-lalang. Karena tidak tau harus kemana Sky memutuskan untuk bertanya pada seseorang yang lewat.


Aku pernah membaca, katanya malu bertanya sesat di jalan. Jadi, lebih baik aku bertanya, kan?


Sky menghampiri seorang pria yang memakai topi aneh berwarna hitam dan jubah yang menutupi seluruh tubuhnya. "Permisi," ucap Sky sambil menarik pelan jubah pria itu. Ia tampak terkejut, namun segera tenang kembali setelah melihat bahwa yang menarik bajunya hanyalah anak kecil.


"Ada apa?" tanya pria itu. Sky tersenyum lega karena pria itu tampaknya ramah.


"A-apa anda tahu k-kemana jalan untuk pergi ke pasar malam?" tanya Sky yang kemudian merasa agak malu. Entah kenapa tiba-tiba penyakit gagapnya kambuh lagi. Pria itu diam sejenak, lalu berjongkok dan tersenyum menatap Sky.


"Kau mau ke pasar malam? Dimana orangtuamu?" tanya pria itu. Sky menggelengkan kepalanya.


"Aku sendirian," jawab Sky. Pria itu terdiam, dia menatap Sky dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Haha ... apa kau tau? Anak kecil tidak boleh berkeliaran sendirian." Pria itu berkata sambil tersenyum. Sky terlihat agak terkejut, dia kemudian panik dan melihat pria itu.


"Ke-kenapa tidak boleh?" tanya Sky heran. Pria itu menyentuh ujung kepala Sky, dan mengusapnya dengan lembut.


"Karena anak kecil itu, adalah investasi yang berharga," ucap pria itu dingin.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2