Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Perjuangan Sky!


__ADS_3

..."Nah ayo mulai lagi. Kali ini hasilnya tidak akan sama."...


POV: Sky


Aku langsung menerjang maju, tangan kananku terlilit benang dan getah pohon yang sengaja kuoleskan ke sana. Mataku menatap lurus ke arah sabit berantai milik Rodea.


Jika aku menerimanya langsung dengan tanganku, kurasa jariku akan putus. Aku harus mengambil langkah yang tidak merugikan.


"Kau langsung maju ya? Aku suka semangatmu!" Rodea memutar sabitnya beberapa kali, dia tersenyum bengis hingga menampilkan gigi taringnya.


CRANGG!


Akhirnya dia melemparkan sabitnya! Aku tidak boleh melewatkan kesempatan ini!


Dengan cepat aku memutar tubuhku ke samping, memposisikan dadaku sejajar dengan sabit Rodea. Waktu seperti berjalan dengan lambat, mataku bisa melihat setiap detail rinci dari sabit miliknya.


GREB! CRANGG!


Aku langsung memegang gagang sabit yang Rodea lempar.


NYES!


UKH! RASANYA MASIH LUMAYAN PANAS! Tapi tidak apa-apa, aku masih bisa menahannya. Di kesempatan kali ini, akan kupastikan rantainya putus!


SRAAT!


Aku menarik paksa sabit Rodea, bisa kulihat bahwa rantai yang terhubung ke tangannya juga mulai mengetat, perlahan tapi pasti, Rodea juga mulai terusik di tempatnya. Kulihat bahwa kakinya sedikit goyah karena tarikanku.


"Kau ...," ucap Rodea dingin. Matanya menatapku dengan tajam.


"Sangat lemah ya?" Rodea tersenyum licik.


SRAAT! BRUAK!


Rodea menarik ganti sabitnya. Dalam hitungan detik, kakiku sudah tidak menyentuh salju lagi.


Sial ... aku ikut terangkat?!


"Kau lemah," ucap Rodea lalu membantingku ke pohon besar.


BUAGH!


"AKH!"


Sial, aku merasa punggungku sangat perih!

__ADS_1


"Kau membosankan," ucapnya lagi sambil melemparkanku ke atas. Karena rasa sakit di punggung, aku jadi tidak bisa bergerak leluasa.


CRANG! CRANG!


Rodea memutar sabitnya, dan membuatku ikut terpelanting di udara. Bersamaan dengan itu, dia mengikat tubuhku dengan rantai panas miliknya.


"Aku tidak bilang bahwa senjataku hanya satu," ucap Rodea yang tiba-tiba ada di depanku.


Dia gila! Padahal saat ini aku berada 10 meter di atas tanah karena tarikannya! Dia bahkan bisa melompat ke sini dalam waktu sesingkat ini?!


BUAGH! BUAGH! BUAGH!


Rodea terus memukuli wajahku dari atas, bahkan gaya gravitasi seolah tak menarikku kembali ke dasar bumi.


Sial! Ini sangat menyiksa! Aku terlalu sombong, kenapa aku mengira bisa menang melawannya?! Ini lebih seperti pembantaian satu pihak!


BUAGH! KRAK!


"ARGHHH!" Aku jatuh ke tanah, bersamaan dengan lutut Rodea yang menekan perutku. Aku bisa merasakan beberapa tulang rusukku patah.


"Ukh ... hiks ... auh," rintihku sambil menangis. Aku bukan Valeria dengan daya tahan tubuh yang kuat, ataupun Seas dengan tekad sekuat baja. Aku hanya anak biasa dengan fisik lemah. Sejujurnya bisa satu tim dengan mereka saja adalah kebanggaan untukku.


"Wah~ kau menangis? Wajahmu sangat lucu~," ucap Rodea sambil mengarahkan sabitnya ke leherku.


NYESS!


Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Paru-paruku masih ditekan oleh lutut wanita sialan ini, dan dia juga sudah menggoreskan senjatanya ke leherku.


Krak.


"ARGHH!" Aku meronta kesakitan, dia menekan tepat di tulang rusukku yang patah.


"Bagus! Menangislah lebih keras! Sepertinya akan menyenangkan kalau lehermu kupotong pelan-pelan!" Rodea malah menikmati saat berada di atasku, dia menikmati setiap air mata yang kukeluarkan, dia juga menikmati setiap teriakan yang kulepaskan.


Tapi tetap saja, apakah aku akan mati hari ini? Secepat ini? Setelah banyaknya usaha yang kucurahkan agar aku keluar dari keluargaku?


Seas ...


Mereka bilang kau juga pernah mengalami masa ini, masa saat kau hampir mati beberapa kali. Aku penasaran, di saat seperti ini ... apa yang kau pikirkan?


Rasanya kepalaku mulai pusing, bahkan rasa sakit di dadaku juga mulai memudar. Apakah ini ajalku? Nafasku terasa berat, untuk membuka mata juga rasanya sulit.


"Kau mau mati? Jangan mati dulu dong!" Rodea menatapku dengan marah. Aku bahkan tidak punya tenaga untuk membalasnya.


PLAK! PLAK! PLAK!

__ADS_1


Dia menampar pipiku berkali-kali. Mungkin dia ingin aku tetap sadar.


Valeria ... kau adalah anak dengan tubuh yang kuat, bagaimana caramu menahan rasa sakit dan pusing ini? Bagaimana caramu bisa tetap bersikap normal padahal begitu banyak luka di tubuhmu?


Entahlah ... aku sudah tidak bisa bertahan lagi.


Selamat tinggal Seas, Valeria.


***


POV: Author


PLAK! PLAK!


"KENAPA KAU TIDAK BANGUN?! APA KAU SUDAH MATI?! KALAU KAU MATI, BAGAIMANA DENGAN TEMANMU? AKU BEBAS MEMBUNUH MEREKA, KAN? MEREKA JUGA SUDAH JADI MAYAT HIDUP HAHAHAHAHA!" Rodea berteriak di depan Sky yang sudah sepucat mayat. Matanya tertutup dengan tenang, bahkan Rodea saja sudah merasa bahwa Sky sudah mati.


"Cih, membosankan!" Rodea berdiri lalu berjalan menjauhi Sky. Dia bersandar di bawah batang pohon besar yang barusan Sky tinju. Tatapannya begitu kosong saat menatap Sky yang sudah kaku. Seperti orang yang kehilangan kesenangannya dalam bermain.


"Lalu apa yang harus kulakukan sekarang ya? Bahkan jika aku berkata akan membunuh temannya, tapi putra mahkota itu tidak selemah yang kupikirkan," ucap Rodea sambil membersihkan darah Sky di sabitnya.


"Ron Evagiria ... anak jenius yang hanya muncul 1000 tahun sekali. Sayang sekali jika aku harus membunuhnya, dia bisa membuat senjata dan menggabungkan darah pengguna ke dalam senjata mereka. Dan itu bisa memperkuat ikatan batin antar pengguna dan si senjata, apa ya namanya?" Rodea berhenti mengelap sabitnya, dia menutup matanya sambil berpikir sejenak.


"Senjata bernyawa? Ah, entahlah! Tapi misi tetaplah misi, aku harus membunuh mereka!" Rodea mulai menggulung senjatanya dan menaruhnya di pinggang. Tangannya menarik tudung hitam di belakang kepala agar menutupi kepalanya.


Saat hendak berjalan pergi, tiba-tiba Rodea merasa punggungnya seperti menempel di batang pohon.


CRAAT!


Matanya melotot, dia menatap ke arah tangan Sky yang mengontrol benang dengan posisi terbaring. Senyum iblis Rodea langsung keluar, dia jadi bersemangat lagi sekarang.


"Harusnya kau pura-pura mati saja tadi, dengan begitu kau bisa hidup," ucap Rodea denga senyum iblis miliknya. Sky mulai duduk secara perlahan, seluruh tubuhnya bergetar hebat. Tapi sorot matanya bagai ular yang menatap tikus buruannya.


"Kau ... benar, harusnya aku tidur saja jika ingin selamat. Tapi, apa gunanya aku hidup ... jika aku menjual nyawa temanku?" Sky menarik benang besi yang melilit di tangannya, dalam hitungan detik, benang itu meledak dan menyebar ke sekitar Sky dan Rodea.


"Trik yang sama tidak akan mempan dua kali sayang~ bahkan yang pertama saja tadi gagal bukan?" goda Rodea lagi. Wanita itu mulai mengeluarkan sabit yang bersih mengkilap, dia mulai mengayunkannya beberapa kali sambil mendekat ke arah Sky.


TRANG!


Brak!


"Apa?" Rodea melongo. Sabitnya putus saat dia mengayunkannya. Dengan kondisi dada yang remuk, Sky masih duduk sambil tersenyum. Lehernya yang berwarna merah kehitaman karena bekas penyiksaan Rodea masih terpampang jelas di sana.


..."Kau benar, ternyata aku bodoh. Kenapa aku harus mengikuti cara bermainmu?"...


TBC.

__ADS_1


Jangan lupa likenya ya guys! Doakan Sky selamat!


__ADS_2