
"Karena selama ini, kita belum pernah mencoba bertarung di medan yang terang."
POV: Seas
"Apa?! Jangan-jangan ...," ucapan Sky tercekat karena dia sudah bisa menebak kelanjutannya. Aku mengangguk pelan sambil menghela nafas.
"Apakah tidak ada cara mengatasinya? Mungkin berlatih dengan lebih giat?" tanya Valeria dengan ekspresi yang sudah kebingungan. Melihat Valeria yang seperti, membuatku bertanya-tanya apakah dia benar-benar punya IQ yang tinggi atau tidak.
"Aku sudah mencobanya dan tidak membuahkan hasil, aku masih tidak tau dimana salahnya. Aku hampir saja menyerah karena lelah," ucapku dengan nada yang geram. Aku berjalan lalu duduk di tepi kasurku, berhadapan dengan Sky serta Valeria.
"Apakah kelemahannya separah itu?" tanya Sky.
"Ya. Kau tau? Aku bisa ditangkap saat menggunakan langkah bayangan," jawabku dengan ekspresi yang malas.
"Apa?! Bukankah langkah bayangan adalah teknik dasar dan juga teknik tertinggi di seni milikmu?" tanya Sky tidak percaya. Aku mengeluarkan dagger usang milikku yang sudah berkarat dan masih ada bercak darah dari dalam lemari.
"Langkah bayangan memang kuat, tapi ... itu bukanlah teknik yang terkuat. Kalau ingatanku tidak salah, harusnya teknik terkuat jatuh di teknik nomor 10, nomor 1, dan nomor 6. Dan aku baru menguasai nomor 1 saja." Aku berbicara sambil mengingat-ingat isi buku yang waktu itu aku pelajari. Memang benar bahwa ketiga teknik itu adalah yang terkuat, tapi jika itu diukur melalu dampak destruktif yang dikeluarkan.
Langkah bayangan itu teknik nomor 3, dan itu termasuk dalam teknik pertahanan, selain nomor 3 masih ada nomor 2, dan nomor 4.
Lalu ada teknik yang lebih diberatkan untuk menjadi teknik inisiatif sesuai kondisi. Itu adalah teknik nomor 5, nomor 8, nomor 9, dan nomor 11.
Teknik yang baru ku-kuasai adalah.
Nomor 1: Garis lurus.
Nomor 3: Langkah bayangan.
Nomor 4: Teknik istimewa, permata palsu.
Nomor 5: Batang pohon.
Dan nomor 11: Teknik istimewa, peniruan.
Masih ada banyak yang belum ku-kuasai, atau jangan-jangan ... teknik ini baru sempurna jika aku menguasai semuanya? Tapi ini sangat sulit, alasan yang pertama adalah karena aku sudah kehilangan buku.
Dan yang kedua ... tidak ada yang tau mengenai seni ini. Karena ini adalah seni terlarang.
Ah sial, sekarang aku merasa kesal karena memiliki seni yang merepotkan.
__ADS_1
"Seas!"
Deg!
"Astaga! Ada apa?" Aku terlonjak kaget karena Valeria yang tiba-tiba berteriak di depan wajahku.
"Itu karena kau tiba-tiba melamun! Kami sudah memanggilmu belasan kali dan kau hanya diam dan menatap tajam ke arah jendela!" jawab Valeria dengan ekspresi yang kesal. Aku tersenyum canggung dan mengangguk lalu meminta maaf.
"Jadi ... ada apa?" tanyaku lagi.
"Soal senimu itu ... aku juga tidak yakin apakah bisa membantu. Tapi! Kami akan melindungimu saat cahaya datang! Jangan khawatir! Karena itu, kami akan mengandalkanmu di saat kegelapan menyerang!" ucap Sky dengan nada yang sangat percaya diri. Aku dan Valeria langsung menatap haru ke arah Sky.
"Sky ... apa kau mau mencari racun? Mau kutemani?" tawarku sambil membersihkan air mata yang hendak menetes.
"Atau kau butuh jarum suntik baru? Mau kubelikan?" tawar Valeria sambil mengusap ingusnya yang hendak keluar.
Aku dan Valeria berpelukan ala dramatis yang membuat ekspresi Sky langsung jadi kesal.
"... Kalau kalian mau kubakar tidak perlu menungguku marah." Sky mengeluarkan botol kaca berwarna merah dan sial melemparkannya.
"JANGAN BAKAR RUMAH BARU KITA BODOH!" teriakku dan Valeria bersamaan.
"AKU TIDAK MAU JADI GELANDANGAN LAGI!!!"
-Hari terakhir ujian tahap ke-2.-
Aku, Valeria serta Sky. Kini sedang berkumpul di sebuah aula pertemuan di Underworld School. Pemberitahuannya begitu cepat, mereka menyampaikan suratnya melalui burung gagak dan kelelawar.
"Ini masih cukup banyak, sepertinya banyak yang berhasil?" tanya Sky sambil memegang lenganku.
"... Kenapa kau terus memegang lengan Seas, Sky? Kau jadi terlihat seperti pacar Seas. Ayolah kenapa kau jadi pemalu lagi?!" Valeria geram dan menarik-narik jubah Sky yang masih menempel padaku.
"Bukankah lebih baik aku jadi pemalu daripada kau yang membuat orang malu?!" Sky membela diri dengan beradu mulut. Valeria masih membalas perkataan Sky, begitu juga sebaliknya.
Oh astaga, aku agak menyesal kenapa otak mereka masih ada. Sepertinya aku lebih suka saat mereka depresi daripada saat tidak.
"Ekhem! Perhatian semuanya! Pertama-tama saya ucapkan selamat karena berhasil hadir di tempat ini!
Kalian adalah yang terpilih diantara yang terpilih untuk lolos ujian tahap ke-dua! Bukankah sudah seharusnya kalian memberi apresiasi untuk diri sendiri?!" Seorang pria dengan topeng kelinci tiba-tiba berdiri di tengah-tengah dan mulai berbicara, sepertinya dia adalah pemandu acara kali ini.
__ADS_1
"Saya adalah agen rabbit, dari kelas codename. Tidak perlu memberi sambutan atau apapun, karena saya yakin kalian tidak akan senang tentang maksud kehadiran saya~," ucap rabbit dengan nada yang menjengkelkan. Rabbit melompat ke sana kemari, memeriksa wajah satu persatu siswa yang berhasil lolos dari tahap ke-dua.
"Hm! Wajah kalian begitu segar dan terasa menggairahkan! Saya tidak sabar melihat tangisan di wajah kalian nanti!" ucapnya dengan suara yang dibuat-buat.
Ugh entahlah, aku benci agen ini. Dia lebih mengesalkan daripada X, setidaknya X selalu terus terang daripada berbicara berkelit-kelit seperti pria ini.
"Ujian yang selanjutnya itu sangat sederhana! Apa kalian mau tau?!" tanya rabbit dengan nada yang sok asik.
"Tidak huu!" Seorang murid bodoh malah menjawab dengan tidak sopan.
CRASH!
Seluruh ruangan ini langsung hening, kepala siswa tadi langsung meledak dan menyemburkan darah di ruangan ini. Aku dan Valeria tertawa kecil melihat akhir siswa tadi.
Padahal sudah pernah berhadapan dengan agen tingkat atas, masih banyak juga yang belum sadar bahwa mereka tidak waras hahaha.
"Nah~ sayang sekali orang tadi mati~ bagi kalian yang satu tim dengan orang tadi, saya persilakan keluar kalau tidak ingin kepalanya ikut meledak ya," ucap rabbit dengan nada yang dingin.
Dua orang mulai lari dari ruangan ini, dan pergi entah kemana.
"Nah~ apa kalian penasaran seperti apa ujiannya?" tanya Rabbit lagi.
"YAA!"
"BERITAHU KAMI APA UJIANNYA!"
"WOOHOO! INI BARU MENYENANGKAN!"
Banyak sorak-sorak yang mulai terdengar. Padahal seorang siswa baru saja terbunuh, tapi mereka malah makin semangat.
Hahaha, sepertinya siswanya juga sudah ikut tidak waras. Dan sepertinya ... aku akan bergabung dengan kegilaan ini juga.
Aku menatap ke arah Valeria serta Sky yang masih menempel di lenganku.
"Tidak apa-apa Sky. Kita akan lolos ujian kali ini juga," ucapku penuh keyakinan.
"Ujian ke-tiga adalah ... berikan tanda di tubuh rabbit!" ucap Rabbit dengan suara yang lantang.
"Hah?"
__ADS_1
TBC.
Jangan lupa likenya ya guys!