
Sky menjatuhkan satu botol mungil yang berisi cairan berwarna merah tua.
"Bloody blooming."
POV: Author
Botol itu pecah dan memuncratkat cairan di dalamnya. Sky melirik ke arah Rabbit yang sama sekali tidak menghiraukan cairan yang dia jatuhkan. "Jangan memegang Hades terlalu lama, Hades itu senjata yang agresif." Sky tersenyum licik.
BLARR!
Setelah Sky mengatakan hal itu, schytenya langsung berkobar, hal ini memaksa Rabbit untuk melompat menjauhi Sky agar tidak terkena ledakan api Hades. Sky memutar badannya pelan menghadap ke arah Rabbit, dia lalu memutar schyte miliknya sambil mengatakan sesuatu. "Nah, dengan begini, sudah tamat. Kembalilah, Hades."
BLARR! Fyutt!
Kobaran api yang besar itu kian menipis dan mengecil seolah memakan schyte milik Sky. Di akhir yang tersisa dari kobaran apinya, adalah sebuah kalung yang segera Sky kenakan di lehernya. Mata kuning Sky menatap ke arah Rabbit yang masih diam.
"Apa kau menyerah?" tanya Rabbit sambil memiringkan kepalanya. Mendengar pertanyaan Rabbit, Sky membuka matanya lebar lalu mengerjapkannya beberapa kali.
"Ha- ahahahahahhaa! Menyerah? Tidak tidak! Aku tidak menyerah!" Sky berkata sambil memegang perut serta mengusap matanya yang berair. Sky lalu menghirup nafas panjang dan mengeluarkannya secara tenang. Mata kuningnya kembali menatap ke arah Rabbit.
Sky mengangkat tangan kanannya, dan menunjuk ke arah bahu Rabbit.
"Bunga itu butuh sumber nutrisi untuk tumbuh. Dan darah manusia adalah nutrisi terbaik untuk mereka. Jangan sampai mati kehabisan darah ya," ucap Sky sambil menatap bunga berwarna merah muda yang tumbuh di bahu kanan Rabbit.
"Apa?" Rabbit menatap bunga di bahunya, dan menyentuhnya perlahan. Untuk sejenak dia terdiam, lalu kembali menoleh ke arah Sky.
Fyutt!
Pemandangan salju dan tanah yang licin kini mulai menghilang, dan kembali memunculkan pesisir pantai hitam dengan kabut beracun dan angin dingin yang berhembus. "Bunga ini ... akarnya menancap sampai ke sel tulang ya?" tanya Rabbit sambil berusaha mencabut bunga di bahunya.
CRATT!
Begitu bunganya tercabut, darah langsung mengucur deras dari sana, bahkan bahu Rabbit kini terlihat seperti berlubang. Tapi begitu setelah bunganya tercabut, bunga lain tumbuh di samping luka bunga tadi, dan bahkan dengan ukuran yang lebih besar dan banyak.
"Bloody blooming, jenis racun yang mengubah paksa sel darah menjadi sel tumbuhan. Karena mereka awalnya adalah sel darah, maka dari itu makanan utama mereka juga adalah darah, terlebih jika itu darah dari inang mereka.
Karena ... tidak ada larangan untuk membunuh agen yang bertugas bukan? Kau juga sudah melemparkan Seas ke dalam laut beracun, bukankah aku juga bebas untuk membunuhmu dengan racun?" Sky terkekeh pelan sambil berjalan mendekat ke arah Rabbit. Agen bertopeng kelinci itu melangkah mundur, tapi setiap langkah yang dia ambil, muncul 5 bunga darah di setiap tubuhnya dan semakin banyak.
"Percuma saja, semakin kau bergerak, maka racunnya akan semakin menyebar dan tumbuh lebih cepat." Sky semakin dekat dengan Rabbit, hingga kini telapak tangannya bisa menggapai Rabbit jika dia mau.
__ADS_1
Tep.
Rabbit berhenti berjalan mundur, dan memberikan sebuah tos tinju untuk Sky.
Pruk.
Topeng Rabbit lepas, dan menampilkan sesosok pria dengan wajah cantik yang terlihat begitu indah di mata Sky. "Baiklah baiklah, aku kalah. Kau yang menang, bocah. Aku lengah karena kau hanya maju sendiri. Tak kusangka kau mempersiapkannya hingga matang dalam waktu sesingkat ini.
Bisakah kau memberiku penawar racunnya?" Rabbit tersenyum dengan mulut yang mengeluarkan darah. Sky membalasnya sambil tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.
"Tunggu sebentar, aku juga ingin temanku lulus. Aku akan mengambilkan badannya padamu, karena dia sedang pingsan," ucap Sky lalu dia segera berlari ke arah rumah usang tempat dia menaruh Seas dan Valeria. Sky masuk ke dalam rumah dan menggendong Valeria di punggungnya, lalu kembali berlari ke arah Rabbit.
"Nah, sentuh anak ini dulu agar dia juga lulus ujian." Sky membalikkan badannya dan menunjukkan Valeria yang masih tertidur lelap, atau mungkin pingsan? Pokoknya Valeria masih tidak sadarkan diri. Rabbit terdiam sejenak menatap Valeria, lalu segera tersenyum dan menyentuh punggung tangan Valeria.
"Nah, sudah, kalian juga lulus."
Srat srat srat!
Beberapa lembar surat terlempar ke arah mereka, dan ada orang yang menerima surat yang berbeda warna. Sky emas, Valeria putih, Lili putih, Reksa ungu, Gio ungu. "Kalian buka saja sendiri nanti, nah sekarang, beri aku penawarnya bocah." Rabbit mengulurkan tangannya pada Sky dengan ekspresi yang datar. Sky merogoh sakunya dan melemparkan sebuah pil pada Rabbit. Tanpa basa basi, Rabbit langsung menelan pil itu sementara Sky langsung shock melihat Rabbit.
"Loh? Kau langsung menelannya? Bukankah aku belum menjelaskan efek sampingnya?" Setelah Sky berbicara seperti ini, Rabbit langsung mendelik kaget, dia menatap Sky dengan tatapan yang bimbang.
"Memangnya pil apa ini?" tanya Rabbit gelisah.
JDER!
Penjelasan Sky membuat Rabbit sangat shock, belum sempat dia ingin protes, tadi dia sudah merasa jantungnya sesak dan pikirannya menjadi berat. Ya ... obatnya sudah mulai bereaksi. Rabbit langsung terjatuh lemas dan terbaring di atas pantai hitam.
Sky masih terdiam untuk beberapa saat, hingga dia menoleh secara tiba-tiba ke arah Reksa.
"Hei! Angkat Rabbit dan taruh di dalam rumah itu!" perintah Sky tiba-tiba, Reksa yang tiba-tiba mendapat perintah dari orang asing tentu saja kaget, apalagi dia menganggap bahwa Sky lebih muda darinya.
"Apa? Sopan sedikit dengan yang lebih tua." Reksa mengernyitkan keningnya dan menatap tajam ke arah Sky, tapi Sky membalas tatapan tajam itu dengan senyuman.
"Kalian lihat sendiri tanganku penuh karena menggendong rekanku, dan jika kalian membiarkan Rabbit di sini, maka dia akan terlihat oleh murid lain dan hal itu akan membuat murid lain lulus lebih mudah. Apa kalian mau saingan kalian di ujian ke 4 jadi lebih banyak?" Sky berbicara dengan senyuman tapi nadanya tersengar sangat manipulatif dan mengancam. Reksa langsung terdiam, Lili masih bengong karena sepertinya dia tidak paham dengan apa yang terjadi.
"Gio ... angkat Rabbit." Gio yang diperintah tiba-tiba oleh Rabbit jadi kaget, tapi dia tidak menolak perkataan Reksa dan segera menggendong Rabbit.
"Ke rumah mana?" tanya Gio pada Sky.
__ADS_1
"Ikuti saja aku," ajak Sky sambil berjalan duluan. Ke empat sisanya segera mengekori Sky ke arah rumah yang Sky maksud. Karena jaraknya memang dekat, mereka sudah sampai di rumah tempat Seas beristirahat itu.
"Nah di sini." Sky membaringkan Valeria di ranjang tepi jendela, sedangkan Seas di tengah, dan Rabbit di ranjang sebelah lainnya. Gio membaringkan Rabbit dengan hati-hati, sedangkan Reksa mengamati tubuh Seas sedari tadi.
"Tunggu, ini rekanmu? Dia masih hidup?" tanya Reksa sambil menatap kulit Seas yang sudah berwarna abu-abu cerah. Sky menoleh ke arah Reksa, lalu menganggukkan kepalanya. "Dia kenapa? Sungguh dia masih hidup?" tanya Reksa lagi menatap tubuh Seas tidak percaya, luka racun yang parah itu kini terlihat cukup bersih, nadinya yang awalnya hitam legam kini mulai terlihat normal.
"Oh ... um, di-dia tadi tercebur ke laut beracun, jadi aku berusaha untuk mengobatinya ... dan sekarang dia sedang berjuang melawan racun di tubuhnya," ucap Sky yang tiba-tiba terdengar gugup. Lili yang menyadari bahwa nada suara Sky berubah, secara spontan malah langsung bertanya.
"Kenapa kau tiba-tiba gugup? Padahal kau memerintah Reksa dengan tegas seperti tadi," tanya Lili yang memberikan pukulan keras pada hati Sky.
Karena aku lupa bahwa kalian tadi adalah orang asing! Sekarang aku baru inget bahwa kalian adalah orang asing dan ini membuatku sangat gugup!,-batin Sky.
"Oh! Aku ingat wajah anak ini! Bukankah dia adalah Seas Veldaveol?! Rookie yang muncul beberapa bulan lalu! Bahkan dia sudah dimuat dalam berita mingguan!" Gio mendekatkan wajahnya ke wajah Seas yang masih terbaring tak sadarkan diri, mengamati setiap inci dari wajah Seas.
"Heh, apa dia belum lulus ujian?" tanya Reksa menatap Seas remeh. Sky yang tak terima Seas diremehkan, langsung mengernyitkan kening dan mengepalkan tangannya.
"Seas itu orang pertama yang lulus di ujian ke 3 ini. Kalian terlambat beberapa langkah, karena itu kalian tidak sadar siapa yang ada di depan kalian," sindir Sky sambil menatap Reksa benci. Reksa yang kaget bahwa Seas ternyata adalah orang yang pertama kali lulus, langsung terdiam dan kemudian tertawa kecil.
"Menarik, ternyata Seas memang sama kuatnya seperti yang kudengar. Baik itu Seas, maupun gadis itu, maupun kau," ucap Reksa sambil melirik ke arah Sky. Reksa segera berbalik dan berjalan pergi keluar dari rumah, tetapi sebelum dia melewati pintu, dia berkata pada Sky.
"Aku menantikan kalian di ujian pertarungan individu nanti. Mari kita buktikan siapa rookie terkuat di ujian kali ini," ucap Reksa sebelum akhirnya menghilang dari balik pintu, Lili dan Gio juga langsung pergi mengikuti jejak Reksa dari belakang.
***
POV: Sky
Anak sialan itu, mereka meninggalkanku untuk merawat 3 bocah ini sendirian?! Ya walaupun satunya sudah bukan bocah. Tapi aku jadi bosan karena sendirian di sini.
"Ugh ... air ... "
DEG!
Aku tersentak saat mendengar suara Seas. Suaranya masih sedikit serak dan sangat lemah, tapi aku yakin dia bersuara tadi. Dengan cepat aku langsung berdiri dan berlari ke arahnya, tangan kiriku mengeluarkan botol dengan ukuran sedang yang berisi air bersih, sedangkan tangan kananku sudah membuka mata Seas secara paksa dan melihatnya dengan teliti.
"Seas, apa kau mendengarku? Apa kau bisa melihatku?" tanyaku sambil beberapa kali menggoyangkan kepalanya. Aku melihat pupil matanya yang sudah merespon cahaya yang masuk, dengan hati-hati, aku mendudukkannya dan memberinya minum dari botol yang kupegang.
Gluk ... gluk.
"Bagaimana? Apa kau sudah bisa bicara?" tanyaku lagi tapi Seas tidak menjawabnya. Setelah kuberi minum, dia masih duduk termenung dengan mata terbuka, seolah nyawanya sedang tak ada di sini.
__ADS_1
TBC.
Jangan lupa likenya ya guys!