Underworld School: Learn To Kill

Underworld School: Learn To Kill
Mansion?


__ADS_3

POV: Author


Tap ... tap ... tap.


Sebuah langkah kaki terdengar di lorong gelap di mansion usang ini. Deru nafas yang berat membuat suasana lorong ini makin mencekam. Dari kejauhan, terlihat sesosok wanita berambut panjang, yang berjalan mendekat dengan langkah kaki yang begitu percaya diri. Rambut hijaunya yang bersinar indah saat muncul petir. Mata merah keruhnya yang terlihat menyala di dalam kegelapan.


Perempuan itu berhenti sejenak, mantap ke arah ruangan megah dengan bau darah yang menyerbak membengkak. Dia membuka pintu dengan bekas darah di bawahnya, lalu menatap ke tengah ruangan.


"Bekas darahnya tidak hilang ya? Sudah lama sejak aku terakhir ke sini. Padahal kupikir aku bisa menemukan sebuah jejak." Perempuan itu berjongkok dan menyentuh bercak darah hitam yang mengering di lantai.


Tok tok tok!


"Apa ada masalah? Venom?" Suara seorang pria membuat Venom menatap ke arahnya.


"Hm, tidak. Hanya saja aku kaget karena ruangan ini belum dibersihkan ya?" gumam Venom pelan sambil berdiri dan membersihkan tangannya.


"Aku juga tidak tau. Kenapa kita harus ke sini sih? Bukankah anak yang bernama Seas itu harusnya lebih tau daripada kita?" tanya pria itu dengan nada yang sudah kelelahan. Venom hanya menyeringai lalu berjalan pergi melewati pria tadi.


"Kau banyak mengeluh seperti biasa ya? Walker. Pantas saja kau tidak pernah naik ranking, dan hanya mempertahankan peringkatmu yang sekarang saja," ucap Venom sambil berjalan menjauh.


Walker hanya mengangkat bahunya, lalu melangkahkan kaki mengikuti jejak Venom dari belakang. Mereka terus berjalan, menyusuri mansion bersejarah milik keluarga Veldaveol ini. Mansion yang konon katanya pemilik terdahulunya adalah orang yang membuat perjanjian dengan iblis.


Atau bahkan mungkin keturunan iblis itu sendiri? Misteri mansion ini begitu besar, bahkan 100 lembar kertas tidak akan cukup untuk menulis semua sejarahnya.


Venom dan Walker berhenti pada sebuah lukisan seorang pria paruh baya dengan pakaian kuno.


Dia adalah kepala keluarga pertama dari generasi Veldaveol.


"Hm ... dia ... sangat mirip dengan Seas? Entahlah, tapi kelihatannya mereka mirip. Tapi mereka juga berbeda," ucap Walker sambil menyentuh lukisan usang yang tertutup kaca bening.


"Ada sebuah legenda, yang mengatakan sesuatu tentang keluarga Veldaveol." Venom tiba-tiba berbicara saat menatap lukisan itu. Walker melirik Venom tanpa menggerakkan kepalanya.

__ADS_1


"Benarkah? Apa isinya? Aku hampir tidak pernah dengar sedikitpun karena sejarah keluarga ini yang sudah terlalu lama," ucap Walker yang kini setengah tertarik pada ucapan Venom.


"Kepercayaan bukanlah kaca, kepercayaan bukanlah teman setia. Kepercayaan adalah nyawa, dan akan hilang jika pemiliknya sudah tiada.


Iblis, makhluk bawah tanah yang paling suka kegelapan. Makluk hina yang sangat suka pengkhianatan.


Selembar kertas tanda jiwa, dan setetes darah untuk setiap generasi. Kekuatan akan selalu diberikan, pada mereka yang tidak menyerah dan selalu serakah." Venom berbicara dengan tatapan datar sambil menatap mata ungu lukisan kepala keluarga pertama.


"Apaa? Darimana kau dengar hal semacam itu? Iblis? Kertas? Darah? Apa maksudnya itu?" Walker bertanya dengan tatapan kecewanya. Venom tidak membalas perkataan Walker, dan lebih memilih untuk pergi dan masuk ke area yang lebih dalam dari mansion Veldaveol.


Walker tak henti-hentinya menatap ratusan foto kepala keluarga dari generasi ke generasi. Tidak semua kepapa keluarga Veldaveol adalah pria, ada lumayan banyak juga yang merupakan seorang wanita.


Lorong yang panjang dan ratusan foto itu akhirnya berhenti, pada foto kepala keluarga yang dicoret-coret dengan darah dan bahkan ada kacanya yang pecah.


Itu adalah foto kepala keluarga terakhir.


"Sayang sekali fotonya dirusak. Apakah generasi Veldaveol akan berakhir di sini?" tanya Walker sambil menatap foto yang berlumuran darah itu. Venom tidak menjawab dan dia kembali lanjut untuk berjalan. Walker segera mengikuti dan mulai memasang beberapa tanda agar mereka tidak tersesat.


Venom dan Walker berhenti saat menatap pintu sederhana yang digembok dengan rantai besi. Venom mengeluarkan kipasnya dan menyibak gembok itu.


CRANGG!


Jangankan pecah, justru gembok itu malah terlihat baik-baik saja tanpa lecet sedikitpun. Venom mengamati gembok tadi dengan seksama.


"Ini tidak akan bisa dibuka. Jenis besi ini ... adalah besi roh. Mirip seperti senjata yang Seas dan rekannya gunakan. Artinya besi ini hanya akan mendengarkan perintah majikannya. Besi ini bahkan tidak akan hancur meski kita paksa," ucap Venom dengan tatapan datar. Walker yang mendengar penuturan Venom langsung merasa shock dan langsung bersandar ke dinding.


"Jadi ... kita sia-siaa sudah berjalan sejauh ini?!" gumam Walker sambil menghela nafasnya. Venom mengangguk lagi dan langsung berbalik badan.


"Kita lanjut ke lokasi yang selanjutnya," tutur Venom tegas. Walker langsung shock untuk kedua kalinya.


"Hei hei! Apakah tidak ada istirahat?!" tanya Walker sambil menghentak-hentakkan kakinya.

__ADS_1


"Kau cerewet! Apa kau tidak tau alasanku untuk memilih misi bersamamu?" Venom berbalik dan bertanya dengan nada yang tajam kali ini. Walker langsung diam dan menggeleng tanda tidak tahu.


"Karena kau itu Walker. Kau tidak bisa diam bukan? Makanya jangan mengeluh dan angkat kakimu! Kita masih ada banyak lokasi yang harus didatangi!" ucap Venom dengan kesal lalu akhirnya berbalik pergi, meninggalkan Walker yang termenung di saja.


"Harusnya aku tidak memilih nama Walker," ucap Walker menyesal.


***


POV: Seas


"Hmm, baiklah ... sebaiknya kita kemana ya?" Aku membolak-balikkan peta. Sky dan Valeria duduk manis sambil membicarakan sesuatu yang entah apa itu.


Hmmm, tujuan misi kali ini sebenarnya termasuk mudah. Maksudku tujuannya jelas, kita harus bisa menyentuh Rabbit, dan membuat sidik jari kita ada di tubuhnya. Tapi ... Underworld School itu luasnya tidak masuk akal. Bahkan membutuhkan beberapa hari perjalanan kalau ingin keluar dari sini.


Diantara tempat seluas ini, kira-kira dimana Rabbit akan singgah dalam seminggu ini? Aku benar-benar tidak punya petunjuk sama sekali, yang bisa kulakukan sekarang hanya menebak berdasarkan apa yang logika-ku hasilkan.


Ada 41 tim yang lolos tahap pertama, dan mungkin ada sekitar 39 tim yang lolos tahap kedua. Berarti ada 273 orang yang akan ikut berburu Rabbit selama satu minggu ini. Karena ini masih hari pertama, jika sampai satu minggu kedepan ... setidaknya Rabbit punya 7 lokasi yang berbeda untuk sembunyi.


Dan lokasi pertamanya, harusnya tidak jauh dari sini.


Srak.


Aku menutup petanya dan mulai menatap Valeria.


"Oh? Kita akan pergi?" tanya Valeria.


"Ya. Kita akan ke Death Garden."


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!

__ADS_1


__ADS_2